Jagung
amirfath.com, Cerpen (11), Des 2020 – Setiap kali membaca buku, atau mengerjakan sesuatu istri saya sukanya ngemil. Hari ini, saat ia sejenak santai dengan buku-buku hadits ia mendengar di luar ada penjual jagung rebus seketika ia berteriak untuk menikmati jagung itu.
“Pa” katanya “tolong deh pa, belikan jagung itu”
“Memangnya mama suka jagung?” tanya saya
“Wah, suka sekali pa, Mama memang hobinya makan jagung, waktu di Indonesia mama sering deh makan jagung. Sekarang sejak di Islamabad, amam jarang sekali menemukan jagung itu, dan ini baru kali ini mama tahu ada penjual jagung di Pakistan”
“Wah kalau begitu mama ketinggalan zaman dong, papa sudah sejak dulu tahu bahwa di Pakistan ada penjual jagung, dan kayanya orang-orang Pakistan suka sekali seperti orang-orang kita”
“Lho, memangnya banyak juga orang-orang Pakistan yang beli?”
“Itu lihat ma” saya menunjuk keluar jendela “mama bisa menyaksikan mereka lagi berkurumunan, membeli jagung rabus itu”
Istri saya meliha tkerumunan itu daari balik jendela, pandangannya melotot tajam dipenusi rasa kaget.
“O, Iya ya pa” katanya “mama kira hanya di Indonesia orang suka jagung”
“Ya, engga lho ma, jagung itu nikmat Allah, yang diberikan kepada hamoir semua makhluk alamm dimana-mana Allah tumbuhkan pohon jagung, tak terkecuali mukmin atau kafir. Sama menikmati buahan ini, disini kita meyaksiakan dengan mata telanjang, bagaimana keagunan” Rahman dan rahimnya Allah
“O, iya pa. ternyata Allah tidak membedakan antara hamba dan mahkluknya, dalam masalah pembagian nikmat ini”
“Memang demikian ma, Allah sendiir telah menagaskan dalam Al-Qur’an, bahawa tak satu binatang melatapu Allah biarkan kecuali tersedia baginya rizqi[1] karenanya dalam masalah anak Allah sangat tegas menjelaskannya. Bahwa kita tidak boleh membunuh anak karena takut lapar, didalam Al-Qur’am Allah berjanji, bahwa yang akan mengasih anak rizqi adalah Allah sendiri [2]
“Tapi mengapa ya pa, masih saja banyak orang yang singkar terhadap nikmat Allah? Padahal mereka tahu, bahwa diri mereka sebenarnya penuh keterbatasan, dan tidak mungkin mampu mewujudkan dirinya serta nikmat apa saja yang ia miliki ?”
“Persoalannya disini ma, bukan masalah merak tahu atau tidak ma, tetapi persoalannya merak mau beriman atau tidak, sebab sudah bergitu tak teerhingga Allah memanja mahklukNya dengan nikmat-nikmat yang terus mengalir. Dan mereka sudah meyaksika semuanya itu dengan mata kepala mereka bahawa itu bukan hasil tenaga dan keringat merak. Tapi masih saja merak tidak mau mengakui keterbatasan merak, dan masih saja mereka sombong sambil melangagr pernyataan bahwa itu semata hasil kerja keras mereka. Akhirnya apa yang terjadi? Merka beritikad, bawha akal adalah tuhan meraka. Dan karena akal adalah tuhan mereka, merka kemudian tidak suka terhadap apa yang namanya wahyu. Disebutnya bahwa waktu itu hanya berlaku pada zaman tertentu. Dan sekarang sduah habis, masa berlakunya nah dari sinilah kemudian mereka menggembar gemborkan ide bahwa akal sama denagn wahyu kedudukannya. Jadi kita tidak perlu lagi sibuk-sibuk mencari dalil dari wahyu, cukuplah kita memetic dari apa yang dinyatakan akal, lalu kemduain kuta jadikan pedoman sebagai jalan hidup. Akhirnya apa yang kita saksikan sekarang? Dimana-mana kita mendengar orang-orang dibarat pada bingung, merka tidak tahu bagaimana menyikapi kemanusiaan mereka sendiri. system sosialisme yang mereka yakini sebagai jalan hidup menuju kebahagiaan, ternyata seakrang sudah hancur. Kini tinggal kapitalisme, yang tak lama lagi bakal mengalami nasib yang sama, apalagi yang ingin mereka banggakan dengan akal. Bukankah dibarat sudah banyak bukti-bukti yang menujukukkan bahwa akal itu sudah tidak mampu lagi memberikan jalan keluar, disana-sini merka melihat orang-orang pada melempar dirinya kesungai dan kelaut mati. Ujuannya untuk bunuh diir, alasannya karena mereka sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan dengan petunjuk akalnya “
“Lho kalau begitu apa fungsi akal ya?”
“Ya, akal diciptaka untuk memahami wahyu”
“Dan kalau di wahyu tidak ada?”
“Ya, berijtihad dengan akal, tetapi dengan syarat yaitu akal yang sudah dibekali dengan cahaya wahyu. Jadi dengan demikian akal tersebut akan selalu berjalan seirama dengan bimbingan wahyu. Nah disini ma, letak sulitnya untuk mencapai derajat ijtihad, jadi tidak mudah tidak seperti yang dikatakan orang sekarang, asal sudahpintar menulis artikel. Itu sudah cukup untuk menjadi pemikir, dan nunggu apakah ia sampai ke derajat ketakwaan seperti yang dicapai Umar atau Imam Syafi’i. alasannya apa coba ma? Merak mengatakan ya, kalau kita harus menjadi seperti Umar dulu, atau Imam Syafi’I dulu, kita tidak jadi berijtihad domg? Dan kalau kita tidak jadi berijtihad, kita tidak pernah maju. Coba lihat ma alasan seperti ini, sungguh mereka trlalu gegabah memahami kemajuan, dan sungguh mereka terlalu memandang remeh terhadap persoalan-perosalan agama yang justru sangat mendasar. Memangnya memahamii nash-nash Al-Qur’an itu, seperti enaknya kita makan jagung, yang sekali makan langusung selesai, heem “
Istri saya tertegun, pandangannya serius sekali. Terpaku pada sebuah sudut, ia agaknya tidak mengira kalau ternyata masalah jagung ini, bisa menghantarkannya pada persoalan-persoalan yang cukup serius.
[1] Nyatanya : “ Wama min daabbatin fiil ardhi illan ‘allaihi rizquha “ ( Q.s Hud : 6)
[2] Ayatnya “walaa taqtuluu awlaadakum khasyyata imlaq, nahnu narzuquhum waiyyakum “ ( Q.S Al-Israa’ : 31 )