Hadiah
amirfath.com, Cerpen (06), Des 2020 – Sepulangnya dari Cina, kawan istri saya itu ternyata diam-diam telah menyiapkan hadiah. Dan ketika ia bertemu dengan istri saya di kampus, hadiah itu ia berikan dengan sembunyi-sembunyi. Tapi ternyata gelagat itu juga ketahuan, salah seornag kawan istri saya mengajar pingin tahu apa isi hadiah itu. Istri saya pura-pura tidak menghiraukan, namun si kawan itu terus saja mendesak. Istri saya kemudian memberitahukan.
“Biasa, hadiah untuk suami saya” kata istri saya “kamu kenapa sih kok pengen tahu aja rahasia roang?”
“Orang kan pengen tahu kan wajar Cik Diah” kawan istri saya mengalah, ia tersenyum.
“Dasar perempuan” kata istri saya sambil bergurau “kerjanya hanya selalu menyelidiki rizqi orang lain”
“Ah, itu wajar Cik Diah”
“Lho, wajar sih wajar. Tapi jangan dibiasakan”
“Memang kenapa Cik Diah”
“Ya, timbul lah fitnah, kan seringkali dari sini. Kan nanti saja buktikan kalau sudah menjadi istri, kalau kan tetap saja tidak bisa merubah kebiasaan seperti ini, kau pasti akan selalu merayu-rayu suamimu utuk melakukan sesuatu diluar kemampuannya”
“Maksudnya gimana sih Cik Diah?”
“Ya katakanlah kalau melihat suatu nikmat yang dicapai oleh tetanggamu, sebut saja suatu hari tetanggamu itu bisa membeli televisi, sementara suamimu belum mampu untuk membeli barang bergambar itu. Dan kamu mempunyai kebiasaan mengintip, akhirnya muncul dihatimu perasaan iri. Di sini pikiranmu mulai bermain, jalan satu-satunya yang menggoda suami, digoda sekali dau kali mungkin suamimu itu masih belum terpengaruh, tapi kalau godaan semacem it uterus menerus menyerang otaknya. Akhirnya ia akan berpikir juga, dan bahayanya kalau ia seorang pegawai negara. Jalan keluarnya tiada lain, kecuali mencari tambahan uang gaji dari mana itu akan didapat? Disini suamimu itu akan berpikir jahat. Apa itu na’udzubillah? Itulah yang sering kita dengar sebutan korupsi “
“Wah, bener juga ya Cik Diah”
“Makanya, hati-hati”
Setelah itu istri saya pergi, hadaih itu ia masukkan keadalam tasnya yang sempit. Ia pulang meninggalkan kampus, karena kuliahnya telah usai.
Sesampainya dirumah, ia tidak menemui saya. Karena waktu itu saya masih diluar, saya sedang menyelesaikan urusan tesis di perpustakaan jadi saya pulang agak terlambat. Namun, diotak saya sudah terdetik perkiraan bahwa istri saya sudahsampai dirumah. Barang kali ia menunggu saya hanya saja saya tidak tahu kalau ternyata istri saya itu menunggu saya untuk menyampaikan sebuah hadiah.
Saya melihat jam menunjukkan angka tiga, keyakinan saya semakin kuat bahwa istri saya sudah pulang, sayapun segera bergegas meninggalkan perpustakaan dengan sejuta persoalan yang belum selesai. Tapi apa boleh buat, perasaan seakan diayun-ayunkan oleh suasana membuat saya tidak bisa duduk tenang melihat tumpukkan buku-buku dan berbagai jduul yang masih belum sempat dibaca.
Saya siang itu tiba dirumah, seketika istri saya menyambut dengan senyum ceria.
“Ada apa mama?” kata saya “kok seakan-akan hari ini ada yang lebih istimewa dari hari yang lain”
“Mama datang membawa hadiah untuk papa” sahut istri saya
“Hadiah apaan itu ma?”
“Ya, pokoknya papa pasti gembira”
“Ah, gembira sih gembira, tapi hadiah nya dulu dong”
“Enggak ahdiah itu tidak akan mama berikan, kalau papa tidak rapih-rapih dulu”
“Wah hadiah apaan, kok rapih-rapih segala?”
“Ayodong papa rapih-rapih dulu”
“Lho ini papakan masih rapih ma”
“Ah, masa rapi pakai sarung”
“Munsabahnya apa sih ma?”
“Munasabahnya, papa tadi ngurut mama. Dan sekarang mama sudah sembuh”
“Wah kalau begitu saya harus rapi-rapi dulu dong, untuk menerima hadiah dari permaisuri tercinta”
Saya segera mandi, lalu memakan celana. Istri saya menyemprotkan parfum dari segala arah, saya gembira sekali . terlintas bayangan saat saya hendak melaksanakan pernikahan, di hostel kawan-kawan saya pda menyemprotkan harum-haruman dan ketika bayangan itu masih belum selesai, tiba-tiba istir saya menyerahkan hadiah itu. Isinya sangat menyenangkan hati saya, sebuah celana dan jaket berwarna hitam untuk persiapan musim dingin dan memangnya musim dingin sudah tinggal beberapa bulan lagi, belum saya mencoba pakaian itu. Istri saya kemudian memberitahukan, bahwa hadiah itu dari kawannya yang baru saja tiba dari Cina.
“Ah, pantesan pakaian itu kebesaran” kata saya sambil menunjukkan lengan abjunya yang beberapa senti melewati lengan saya.
Istri saya tersenyum