Sunday, August 17

Hakikat Komitmen Terhadap Manhajullah

amirfath.com, Artikel (15), Des 2020 – Alif, laam miim shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan didalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya) (Al A’raf: 3)

Manhajullah Itu Al Qur’an

                Manhaj adalah sebuah jalan. Manhajullah adalah jalan yang Allah tentukan dan harus diikuti menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tanpa manhajullah seseorang tidak akan sampai kepada tujuan. Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah menurunkan Al Qur’an sebagai manhaj bagi setiap yang beriman. tidak ada pilihan bagi hamba Allah kecuali harus menjadikan Al Qur’an sebagai manhaj. Sebab Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi. Dialah yang maha tahu. Maka tidak mungkin ilmu pengetahuan manusia yang sangat terbatas independen dari ilmu Allah. Manusia harus belajar dari Allah. Manusia harus ikut tuntunanNya. Siapapun yang tidak ikut tuntunan Allah pasti celaka di dunia maupun di akhirat. Silahkan seseorang bekerja keras dengan segala kehebatan dan kemampuannya untuk mencapai kebahagiaan. Tetapi itu semua akan sia-sia bila tanpa tuntunan Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

                Ayat di atas adalah pembukaan surat Al A’raf yang menegaskan keharusan manusia berkomitmen terhadap Al Qur’an. Sebab dengan mengikuti Al Qur’an manusia pasti bahagia. Dan dengan mengikuti Al Qur’an ketenangan jiwa yang menjadi dambaan setiap insan pasti akan tercapai. Mengapa? Sebab Allah yang menciptakan manusia tahu benar apa kebutuhan pokok manusia baik secara fisik maupun rohani, karena itu dalam memenuhi kebutuhan tersebut manusia harus senantiasa komitmen terhadap apa yang Allah perintahkan dan menjauhki segala yang Allah haramkan.

                Banyak orang salah paham terhadap dirinya, sehingga ia dengan serta merta selalu menyikapi sebagai hamba hawa nafsu belaka. Apa kata nafsu ia penuhi. Rambu-rambu halal-haram diabaikan, akibatnya tidak sedikit dari mereka yang terjatuh dalam kemaksiatan. Lebih parah lagi ia menganggap kemaksiatan tersebut sebagai hal yang biasa. Padahal sebenarnya di saat yang sama ia sedang sakit. Di sinilah fenomena yang sangat menyedihkan kita saksikan. Dimana banyak orang merasa sakit dan segera ke dokter bila kepalanya pusing, atau giginya nyeri dan lain sebagainya. Tetapi jarang orang merasa sakit dan tidak mau segera berobat bila hidupnya bergelimang dosa. Sungguh tidak mungkin manusia keluar dari cekaman penderitaannya di dunia maupun di akhirat bila tidak ikut aturan yang Allah letakkan.

Al Qur’an Adalah Wahyu

                Allah Subhanallahu wa Ta’ala memulai ayat di atas dengan firmannya alif laam miim shaad, untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an yang Allah turunkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah wahyu. Pun untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an tersebut adalah mu’jizat. Maksudnya sekalipun ayat-ayat Al Qur’an terdiri dari huruf yang dikenal orang-orang Arab, tetapi mereka tidak akan pernah bisa mendatangkan susunan yang sama dengan Al Qur’an. Dari sini nampak bahwa Al Qur’an adalah kitab yang sangat agung. Dalam surat Abasa 11-16 Allah menceritakan keagungan tersebut: Sekali-kali tidak, sesungguhnya Al Qur’an itu adalah suatu peringatan, siapa yang mau silahkan ia mengambil peringatan darinya, (ia tertulis) dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan, ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti,

                Lebih jelas, hakikat kewahyuan ini nampak dari firman Allah selanjutnya: Kitaabun unzilaa ilaika ini adalah kitab yang diturunkan kepadamu Muhammad. Perhatikan kata diturunkan kepadamu (Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam) dari sini ada dua kesimpulan yang bisa kita ambil: Pertama, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dari sini ada dua kesimpulan yang bisa kita ambil: Pertama, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Nabi, sebab tidak mungkin seseorang selain nabi menerima wahyu. Kedua, bahwa Al Qur’an adalah al kitab yang diwahyukan dari Allah, bukan karangan Muhammad. Sebagai wahyu maka Al Qur’an dan Sunnah Rasul adalah tuntunan yang harus dijadikan manhaj. Sebab itulah manhaj yang mempunyai kebenaran mutlak. Bila sebuah tuntunan pasti benar, tentu semua orang yang mengikutinya pasti tenang. Lain halnya dengan tuntunan yang dikarang otak manusia. Ia bukan tuntunan yang pasti benar. Karena itu orang-orang yang ikut manhaj karangan manusia pasti akan sengsara dan tidak akan sampai kepada kebahagiaan hakiki yang Allah janjikan.

                Sebagi wahyu yang pasti benar, Allah lalu menegaskan: falaa yakun fii shadrika harun minhu, artinya tidak usah ragu wahai Muhammad, dalam menyampaikannya. Pun tidak usah takut akan cercaan dan hinaan orang-orang kafir. Sebab Allah pasti bersamamu. Karena itu segeralah kau bergerak menyampaikan supaya jumlah orang-orang sesat tidak semakin banyak. Sebab tidak ada jalan hidup (manhaj) yang lain lagi, kecuali hanya Al Qur’an dan As Sunnah bagi manusia. Bila mereka tidak mengikuti manhaj tersebut mereka pasti celaka. Sebaliknya bila mereka patuh dan taat terhadap tuntunan manhaj tersebut mereka pasti menemukan apa yang mereka cita-citakan.

Tujuan Diturunkannya Al Qur’an

                Dari firman Allah diatas: litundzira bihii wa dzikraa lil mu’miniin nampak ada dua tujuan dari diturunkannya Al Qur’an sebagai manhajullah: Pertama, litundzira bihii, artinya sebagai indzaar (kabar penakut), dengannya manusia menjadi takut kepada Allah. Pun  dengannya manusia bersungguh menjalankan kewajibannya kepada Allah Subahanallahu wa Ta’ala. Dan memang benar bahwa masalah indzar ini adalah masalah pokok Al Qur’an. Bila kita teliti secara seksama, dari ayat dan surat ke surat, akan kita temukan bahwa intinya adalah untuk membangun takwa/khasyyah (takut) kepada Allah. Sebab semakin kuat rasa takut kepada Allah, tentu akan semakin sungguh mentaati aturanNya. Banyaknya manusia berani berbuat maksiat adalah karena rasa takutnya lemah kepada Allah. Di sinilah fungsi indzar dari Al Qur’an hendaknya selalu ditonjolkan sebagaimana mestinya.

Kedua, wadzikra lil mu’miniin, maksudnya sebagai peringatan bagi orang-orang beriman, agar mereka senantiasa istiqamah di atas jalan iman. Sebab dengan peringatan tersebut iman yang telah tertanam dalam dada akan semakin kokoh. Bila iman semakin kokoh otomatis kebahagiaan hidup pasti akan dicapai. ibarat HP, baterainya akan lemah jika tidak di charge. Iman juga demikian, ia akan semakin lemah bila tidak diberi peringatan. Al Qur’an adalah peringatan yang bisa menguatkan iman tersebut.

Keharusan Komitmen Terhadap Al Qur’an

                Pada ayat selanjutnya Allah berfirman: “ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya”. Ini menunjukkan betapa Allah sangat tegas, bahwa untuk mencapai apa yang kita inginkan, tidak ada jalan lain kecuali hanya ikut tuntunan-Nya (Al Qur’an). Kata ittabi’uu dan walaa tat tabi’uu menggambarkan keharusan yang tidak menerima pilihan lain. Keharusan ikut Al Qur’an secara benar dan jujur. Sebab hanya dengan bersungguh-sungguh ikut Al Qur’an keindahan hidup di alam ini akan benar-benar bisa dicapai.

                Perhatikan bagaimana matahari, bintang-bintang diangkasa, pohonan dan seluuh makhluk lainnya semuanya tunduk kepada Alla. Sungguh seandainya satu unsur saja dari alam semesta ini sebut saja misalnya matahari, melanggar aturanNya (sunnatullah), bisa dipastikan akan terjadi malapetaka besar-besaran di alam ini. Sungguh semua keteraturan yang membuat manusia merasa aman di muka bumi adalah karena ketundukan unsur-unsur alam semesta terhadap sunnatullah. Karena itu untuk membangun keindahan dan kedamaian dalam hidup manusia jalan satu-satunya adalah dengan mengikuti manhajullah.

                Untuk membuktikan hakikat komitmen terhadap manhajullah ini adalah dengan merealisasikan makna ittabu’uu dan walaa tat tabi’uu secara bersamaan. Sebab ternyata masih banyak umat Islam yang melakukan makna ittabi’ uu tetapi walaa tat tabi’uunya dilanggar. Contohnya banyak umat Islam yang rajin shalat tetapi korupsi juga rajin. Rajin puasa tetapi berzina juga rajin dan lain sebagainya. Dengan kata lain bahwa masih banyak umat Islam yang mengaku ikut tuntunan Allah, tetapi tuntunan syetan juga dijalani. Dualisme seperti inilah yang menyebabkan munculnya berbagai benturan dalam diri umat Islam sendiri. Karena itu kembali kepada manhajullah secara utuh adalah sebuah keniscayaan. Tetapi sayangnya sangat sedikit dari manusia –lebih khusus lagi dari umat Islam- yang mau bersungguh-sungguh menjalani tuntunan Allah dan rasulNya secara benar. Inilah rahasia firman Allah mengapa pada ayat di atas ditutup dengan kalimat: qaliilan maa tadzakkaruun. Maksudnya sungguh sangat sedikit orang-orang beriman secara jujur kepada Allah. Dalam surat Yusuf 103 Allah menegaskan hal ini: “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya”.

Wallahu a’lam bish shawab.

About Post Author