Tuesday, July 22

Kesombongan akan Menghalangi Ilmu

amirfath.com, Artikel (197), Desember 2022

Setelah membahas tentang pentingnya mencari ilmu dengan perintah iqra’, surah al-Alaq menegaskan bahwa kesombongan dengan harta adalah penghalang untuk mendapatkan ilmu. Alasannya, orang yang kaya biasanya merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Allah berfirman, Kalla innal insaana layathgha, arra aahustaghnaa” (QS 96: 6-7).

Kata al-insaansekalipun berben tuk umum, tetapi maksudnya definitif, yaitu orang kafir. Artinya, dengan harta seorang bisa jadi jatuh da lam kekafiran. Ditambah dengan ka ta istaghnaayang menggambarkan bahwa dengan kekayaan seseorang cenderung merasa cukup tanpa Allah. Dari sini ia akan mudah menyimpang layatgha. Huruf innadan lammenguatkan hakikat tersebut.

Lalu surah al-Alaq, mencontohkan seorang Abu Jahal yang karena kesombongannya ia tidak hanya menolak ilmu yang dibawa Nabi, tetapi lebih dari itu ia menginjak kepala Rasulullah SAW saat menegakkan shalat. Seakan dikatakan kepadanya, apa salahnya dengan shalat tersebut? Bukankah Nabi datang untuk mengajarkan ilmu yang benar. Berkali-kali Allah menggunakan redaksi araitayang maksudnya litta’ajjub. Seakan dikatakan sungguh aneh jika ada orang memusuhi kebenaran. Apalagi, yang ia musuhi seorang yang benar- benar nabi. Mengapa ia merasa terganggu dengan shalat tersebut sehingga menyiksanya.

Bukankah sikap melawan kebe naran akan mengakibatkan bencana baginya: Araitalladzii yanhaa, abdan idzaa shallaa, araita in kaana `alal hu daa au amara bit taqwaa (QS 96: 9-12).

Kata alal hudamenggambarkan bahwa nabi tersebut memang datang membawa hidayah dan untuk membimbing kepada ketakwaan.

Artinya, tidak ada alasan untuk memusuhinya dan menolak kebenaran yang dibawanya. Namun, Abu Jahal tetap melakukan tindakan yang berlebihan tersebut.

Redaksi ayat seakan mengatakan: Sungguh keterlaluan apa yang diperbuat Abu Jahal. Bayang kan ia mencegah orang yang sedang shalat, itu pun yang ia cegah adalah seorang nabi, lalu ia sendiri men dus takannya dan berpaling dari iman kepadanya, araita in kadzdzba wa tawalla (QS 96: 13). Pada saat yang sama ia tidak sadar bahwa Allah menyaksikan apa yang ia laku kan itu, alam ya’lam biannallaha yaraa (QS 96: 14).

Karena itu, Allah sangat murka atas perilaku durhaka tersebut. Allah menegaskan akan me nyeret jambulnya yang penuh de ngan pemikiran jahat dan dusta, lanasfa’an binnaashiyah, naa shi yatin kazdibatin khaathiah (QS 96: 15-16).

Abu Jahal memang sesumbar akan mendatangkan para pen dukungnya sepenuh lembah. Bagi Allah untuk menghadapi kekuatan tersebut tidak perlu Allah turun tangan sendiri. Di sini Allah menantang, falyad’u naadiyah(silakan kamu panggil para pendukungmu itu)” (QS 96: 17). Aku hanya akan menurunkan satu malaikat saja, yaitu malaikat Zabaniah, “sadanduz zabaniah (QS 96: 18). Ada riwayat yang mengatakan seandainya para pendukung itu benar-benar ada, Allah akan menghancurkan mereka dengan malaikat Zabaniah. Lalu, Allah menutup dengan pesan-Nya yang sangat tegas kepada Nabi agar jangan sekali-kali mengikuti kemau an Abu Jahal itu, tetapi teruskanlah bersujud dan mendekatkan diri hanya kepada- Nya, kallaa laa tuthi’hu wasjud waqtarib” (QS 96: 19).

sumber : Republika, jumat 30 desember 2022 Hal. 10

About Post Author