Wednesday, August 13

Keagungan Akhlak Rasulullah SAW

amirfath.com, Artikel (187), November 2022

Ibn Abbas menyebutkan bahwa surah al-Qalam diturunkan pada urutan kedua setelah surah al- Alaq, yaitu perintah iqra(membaca).Suatu bukti bahwa ilmu dan pena sa tu kesatuan tak terpisahkan. Para ula ma mengatakan bahwa orang yang mencari ilmu tanpa menulisnya dengan kalam seperti pemburu yang tidak mengikat hasil buruannya.

Pesan pokok surah al-Qalam adalah pembekalan bagi kaum Muslimin agar selalu menunjukkan akhlak mulia. Inti utama diutusnya Rasulullah SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia, innamaa buitstu liutammima makaarimal akhlaaqi.

Dibuka dengan huruf al-muqthaah, nuun, surah al-Qalam merekam sumpah Allah dengan pena, wal qalami wa maa yasthuruun (QS 68: 1), ini untuk menunjukkan keagung an pena yang Allah cipta kan.Ibn Abbas berkata bahwa yang perta ma-tama Allah ciptakan ada lah pena, lalu ia diperintahkan untuk menulis semua ketetapan-Nya yang akan terjadi sampai hari kiamat. Dalam riwayat lain dise butkan bahwa Nabi Idris yang melanjutkan tugas risalah setelah wafatnya Nabi Adam adalah orang yang pertama-tama diajarkan oleh Allah ilmu menulis.Artinya, sejak awal kehidupan di bumi, ilmu dan pe na adalah hakikat yang tidak per nah terlepas dari perjalanan sejarah manusia.

Ketika menjelaskan, ayat tentang akhlak Nabi dalam surah al- Qa lam, ulama tafsir mengatakan bah wa akhlak mulia adalah apa yang membawa kemaslahatan bagi dunia, agama, dan akhirat, wa makaarimul akhlaaqi hiya shalaahud dunya wad diin wal ma’aad. Inilah kemaslahatan yang menjadi misi utama risalah Rasulullah SAW.

Juga inilah makna rahmat dalam ayat: Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin (QS 21:
107). Karena itu Allah memuji Rasulullah SAW: Wa innaka la’alaa khluqin azhiim(Sesungguhnya engkau Muhammad berada pada akhlak mulia). (QS 68: 4). Artinya, kebaikan akhlak Nabi sebagai teladan bagi kaum Muslimin telah mencapai puncak kemuliaannya.

Cukuplah persaksian Allah ini sebagai bukti keagungan akhlak Rasulullah SAW. Tidak ada persaksian yang lebih objektif daripada persaksian-Nya. Sebab, Allah Maha Tahu atas segala sesuatu. Bila ada seseorang bersaksi atas kebaikan orang lain, itu pasti hanya berdasarkan apa yang dia ketahui secara subjketif. Namun, persaksian Allah adalah Maha Objektif.

Ibunda `Aisyah bersaksi bahwa akhlak Nabi adalah Alquran. Seorang sahabat yang berkhidmah kepada Nabi selama sepuluh tahun, namanya Anas bin Malik, bersaksi bahwa Nabi tidak pernah membentak nya dan tidak pernah menegur atau mempertanyakan apa yang ia perbuat (HR Bukhari-Muslim).

Supaya bisa meniru akhlak Rasulullah SAW, surah al-Qalam ayat 8-13 mengajarkan agar menghindari orang-orang yang berperilaku buruk sebagaimana berikut, yaitu:para pendusta (al mukazzibuun), orang yang banyak bersumpah (hallaf), orang yang suka mencela (hammaz), orang yang selalu mengadu domba (masysyaain binamiim), kikir dan mencegah kebaikan bagi orang lain (mannaa’in lilkhair), suka melampaui batas (mu’tadin), selalu berbuat dosa (atsiim), berperilaku kasar (utullin), dan dikenal dengan keburukannya (zaniim).

sumber : Republika, jumat 25 november 2022 Hal. 10

About Post Author