Thursday, July 17

Semua Urusan di Tangan Allah

amirfath.com, Artikel (155), Juli 2022

Salah satu pesan Allah dalam surah Yunus adalah meyakini sedalam-dalamnya bahwa semua urusan di tangan Allah:Inna rabbakumullahul ladzii khalqas samaawaati wal ardh, fii sittati ayyaamin tsummas tawaa alal arsy yudabbirul amra. (QS Yunus: 3).

Kata yudabbirul amra(mengatur semua urusan) disebutkan berkali-kali supaya setiap hamba yang membaca surah ini langsung bergantung kepada- Nya, dan membebaskan diri dari ketergantungan kepada makhluk dalam menjalani berbagai macam ujian yang dihadapi.

Para nabi adalah hamba Allah yang paling berat ujiannya. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami ancaman sampai ke level pembunuhan. Nabi Yahya dibunuh oleh kaumnya saat beribadah di mihrab. Nabi Nuh diperolok-olok dengan berbagai macam cercaan.

Dalam surah Yunus, Allah mencuplik kisah sebagian para nabi untuk menunjuk kan sisi ketawakalan mereka kepada Allah saat menjalani takdir. Tentang Nabi Nuh direkam pernyataannya: Ya qaumi in kaana kabura alaikum maqaamii wa tadzkiirii biayaatillahi faalallahi tawakkaltu (Wahai kaumku jika kamu merasa berat dengan keberadaanku dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah maka kepada Allahlah aku bertawakal). (QS Yunus: 71).

Begitu juga tentang Nabi Musa direkam pesannya: Yaa qaumi in kuntum aamantum billaahi faalaihi tawakkaluu (Wahai kaumku jika kamu beriman kepada Allah maka bertawakallah kepada- Nya). Kaumnya menjawab: Qaaluu alallahi tawakkalnaa rabbanaa laa taj’alnaa fitnatan lilqaumizh zhaalimiin (Mereka berkata, kepada Allah-lah kami bertawakal, ya Tuhan kami janganlah jadikan kami sebagai sasaran fitnah bagi kaum yang lalim). (QS Yunus: 84).

Kata tawakkaltu, tawakkaluu, tawakkalnaaini memberikan pesan bahwa tugas seorang hamba dalam menjalani ujian sebagai takdir Allah hanyalah bertawakal. Maksud tawakal adalah melakukan ikhtiar secara maksimal lalu setelah itu serahkanlah kepada Allah SWT.

Kisah Nabi Yunus dalam surah ini tidak banyak diceritakan. Kecuali hanya tentang kaumnya yang bertaubat pada saat tanda-tanda azab sudah nampak dengan jelas di depan mata mereka.Seketika Allah mencabut azab tersebut dan menerima iman mereka sekalipun tidak ada Nabi Yunus di tengah-tengah mereka: Falaulaa kanat qaryatun aamanat fanaahaa iimaanuhaa illaa qauma yuunus(Tidak ada kaum yang diterima imannya menjelang azab kecuali kaum Nabi Yunus). (QS Yunus: 98).

Sementara kepada Fir’aun saat mengatakan beriman dalam kondisi mau tenggelam, Allah menjawab: Al aana wa qad ashaita qablu(Baru sekarang kamu mau beriman, setelah sebelumnya kamu durhaka?!). (QS Yunus: 91).

Sebuah pertanyaan muncul, mengapa kaum Nabi Yunus diberi kesempatan untuk bertobat sementara Fir’aun tidak mendapatkannya? Dalam hal ini kita sebagai hamba-Nya hanya bisa meyakini bahwa Allah tidak pernah berbuat lalim.Ia Mahatahu tentang siapa yang berhak mendapatkan karunia-Nya dan siapa yang tidak. Ini pelajaran bahwa dalam menyikapi takdir-Nya kita hanya bisa bertawakal dan mengambil hikmahnya.

sumber : Republika, Jumat 29 Juli 2022 Hal. 10

About Post Author