Kembali ke Fitrah
amirfath.com, Artikel (136), Mei 2022
Kata fitrah digunakan untuk kondisi suci, seperti bayi yang baru lahir. Asalnya dari kata fathara-yafthuru (menciptakan).
Allah berfirman: Faathirus samaawaati wal ardh (Allah pencipta langit dan bumi) (QS al- Anam: 14).
Dalam Alquran ada surah Fathir (Pencipta). Bahwa asal mula penciptaan manusia adalah suci beriman kepada Allah SWT. Kisahnya disebutkan dalam surah al-Araf: 172 berupa dialog antara Allah sang pencipta dengan janin dalam rahim seorang ibu: Alastu birabbikum, qaaluu balaa syahidna (bukankah Aku Tuhanmu, mereka menjawab: benar, kami bersaksi).
Inilah `stempel’ keimanan bagi setiap janin pada saat menjelang kelahirannya. Bahwa Allah telah memastikan terinstalnya iman sejak awal sang janin diciptakan. Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda untuk bayi yang baru lahir: Kullu mauluudin yuuladu alal fithrah(setiap anak yang baru lahir adalah dalam kondisi fitrah) (HR Bukhari). Maksudnya ia lahir dalam kondisi membawa iman kepada Allah SWT.Namun, sayang, kata Nabi, setelah ia bersosialisasi dengan orang tuanya, fitrah tersebut menjadi tertutup. Dalam istilah Alquran, upaya menutup iman itu disebut kafara-yakfuru(menutup), adapun pelakunya disebut kafir.
Akibat dari tertutupnya iman, janin tersebut setelah kemudian berinteraksi dengan kedua orang tuanya maka ia membawa agama lain.Inilah yang kata Nabi: Fa abwaahu yuahwwidaanihi, awa yuanshshiraanihi aw yumajisaanihi (maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api). Dari sini kita memahami mengapa bulan puasa disebut Ramadhan dan ujungnya disebut Idul fitri. Bahwa hakikat Ramadhan adalah pembakaran dosa lalu Idul Fitri adalah kembali ke titik suci tanpa dosa seperti awal diciptakannya.
Istilah Ramadhan artinya pembakaran.Maksudnya sang hamba selama Ramadhan benar-benar dibakar dengan ibadah puasa, shalat malam, membaca Alquran, dan sebagainya sehingga tidak ada sedikit pun dalam dirinya dosa. Seperti emas akan tampak bahwa itu emas setelah dibakar. Begitu juga iman akan tampak setelah dibakar: Ahasiban naasu ayy yutrakuu ayyaquulu aamanna wahum laa yuftanuun (apakah manusia mengira setelah ia beriman tidak akan diperoses melalui berbagai ujian) (QS al-Ankabut: 1). Kata yuftanunmaksudnya dibakar dengan berbagai ujian.
Dengan penjelasan di atas, kita mengerti mengapa Nabi Muhammad menghubungkan setiap ibadah Ramadhan dengan ampunan dosa (ghufira lahuu maa taqaddama min dzambihi).Itu artinya bahwa proses pembakaran selama Ramadhan untuk pencucian dosa agar sang hamba benar-benar bersih seperti dalam kondisi asal penciptaannya: Ka yaumin waladathu ummuhu. Maka tidak pantas jika kemudian pada hari pertama bulan Syawal langsung berbuat dosa. Tiba-tiba masjid-masjid menjadi kosong tidak ada yang shalat berjamaah. Apalah arti Ramadhan jika kemudian diikuti dengan dosa- dosa. Sebuah kepalsuan yang sangat mengerikan.