Thursday, August 21

Mendaki Kelezatan Iman

amirfath.com, Artikel (121), April 2022 Allah SWT memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa: Ya ayyuhalladziina aamanuu kutiba `alaikumush shiyaam, (Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa,) (QS al- Baqarah ayat 183). Ini adalah cara Allah SWT supaya sang hamba naik tingkat dalam merasakan kelezatan iman. Sebab, puasa adalah ibadah mengendalikan nafsu.

Bila nafsu terkendali, setan tidak akan berdaya untuk menggodanya. Sebaliknya, ketika nafsu merajalela, setan merasa berkuasa. Dalam kondisi ini, seorang hamba akan selalu terputus dengan Allah SWT.

Ibarat handphone yang sering kehilangan sinyal maka keterputusan jaringan komunikasi akan selalu terjadi. Bila komunikasi tidak lancar, otomatis akan muncul berbagai gangguan psikologis, ketidaktenangan, perasaan emosional, sampai terjadinya kesalahpahaman yang akan menyebabkan percekcokan bahkan permusuhan.

Bayangkan apa yang akan terjadi ketika manusia terputus dari Allah SWT? Inilah sebenarnya yang akan dicapai melalui ibadah puasa. Bahwa selama sang hamba dalam keadaan berpuasa, selama itu pula hawa nafsu akan terjaga.

Ketika hawa nafsu aman, otomatis keindahan hubungan dengan Allah SWT akan terjalin. Dari sini iman akan terasa indah, ketenangan akan menyebar dalam jiwa, lebih dari itu kebahagiaan akan tercapai.

Allah SWT mencontohkan bagaimana seorang hamba mencapai kelezatan iman dengan kisah tukang sihirnya Fir’aun. Ketika mereka melihat dengan mata kepala bahwa apa yang diperbuat Nabi Musa adalah mukjizat, bukan sihir. Di situ mereka langsung beriman dan bersujud: Wa ulqiyas sharatu saajidiin, qaaluu aamanaa birabbil `aalamiin, rabbi muusaa wa haaru.” (Para penyihir itu seketika langsung bersujud. Mereka berkata kami beriman kepada Tuhan pemilik alam semesta. Tuhan yang disembah Musa dan Harun,) (QS al-Araf ayat 120- 122).

“Ketika hawa nafsu aman, otomatis keindahan hubungan dengan Allah SWT akan terjalin. Dari sini iman akan terasa indah, ketenangan akan menyebar dalam jiwa, lebih dari itu kebahagiaan akan tercapai.”

Sumber : Republika Jumat, 08/04/2022. hal. 09

About Post Author