Wednesday, August 20

Dari Sya’ban ke Ramadhan

amirfath.com, Artikel (114), Maret 2022 Tujuan ibadah adalah untuk membuktikan iman. Karena itu, mereka yang diundang oleh Allah untuk menjalankan ibadah puasa Rama dhan adalah orang-orang yang beriman. Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba `alaikumush shiyaam. Artinya, Wahai orang- orang yang beriman, diwa jibkan atas kalian berpuasa (QS al- Baqarah: 183).

Iman adalah syarat mutlak dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Tanpa iman, amalan tersebut pasti tertolak. Dalam Alquran, ditegaskan bahwa iman berhubungan dengan keyakinan pada yang gaib, yakni wujud yang secara pengamatan indrawi tidak tampak. Alladziina yu’minuuna bilghaib (QS al-Baqarah: 3).

Bukan iman namanya bila tidak mengarah kepada yang gaib.Puasa pun adalah pembuktian hakikat iman tersebut.

Ketika berpuasa, seorang hamba sedang menyadari bahwa yang menge ta hui puasanya hanyalah Allah Ta’ala dan dirinya sendiri. Secara hori zontal, ia bisa berpura-pura puasa. Sebab, amalan itu tidak tampak secara lahir. Itu berbeda dengan ibadah- ibadah lainnya, seperti shalat, zakat, haji, dan sebagainya.

Semua itu bisa dilihat orang.Seseorang boleh jadi kelihatan makan sahur, tetapi pada siang ha ri dirinya bisa makan secara diam-diam, untuk kemudian pada sore ikut berbuka puasa. Maka tepatnya jika dikatakan bahwa puasa merupakan ibadah pembuktian iman.

Ketika berpuasa, seorang muk min tidak mengharapkan apa-apa kecuali karena dirinya ber iman kepada Allah serta ikhlas kepada-Nya. Itulah mengapa, Allah ber firman dalam sebuah ha dis qudsi, yang artinya, Semua amalnya anak Adam adalah miliknya kecuali puasa. Puasa itu milik-Ku dan Aku langsung yang akan memberikan balasan kepadanya.

Nabi Muhammad SAW sejak sebelum Ramadhan, yakni termasuk bulan Sya’ban, telah mem persiapkan diri. Misalnya, dengan memperbanyak amalan puasa sunah selama Sya’ban. `Aisyah menuturkan, Aku tidak pernah melihat Nabi mem per banyak ber puasa sunah melebihi pua sanya pada bulan Sya’ban. Nabi hampir-hampir selalu ber puasa semua hari pada bulan itu atau sebagian besarnya (HR Muslim).

Hal itu tidak hanya meng isyaratkan semua ibadah yang dila kukan tatkala mendekati Ra madhan adalah sangat mulia. Semua amalan itu juga sebagai persiapan sehingga ketika diri memasuki Ramadhan, puasa semakin terasa indah–bukan justru beban.

Memperbanyak puasa pada Sya’ban adalah bukti kegembiraan dengan datangnya Ramadhan. Sangat bergembira menyambut bulan suci, Rasulullah SAW pun berdoa sejak bulan Rajab agar dirinya dimudahkan sampai ke Ramadhan.Allahumma baarik lana fii Rajaba wa Sya’ban wa ballighnaa Ramadhaan. Ya Allah, berkahi kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Ramadhan.

Sumber : Republika Senin, 28/03/2022. hal. 16

About Post Author