Alquran dan Palestina (Bag.2)
amirfath.com, Artikel (111), Maret 2022 Perjalanan dagang ke Syam yang Nabi Muhammad SAW lakukan adalah cara Allah untuk menyambungkan Nabi dengan keberkahan negeri itu sekaligus untuk menunjukkan bahwa risalah kenabian telah Allah turunkan kepada nabi- nabi sebelumnya di wilayah tersebut.
Maka, tidak mustahil maklumat tentang datangnya nabi terakhir minimal sudah sampai kepada sebagian penduduk di negeri Syam tersebut. Terutama kaum Yahudi yang masih memegang kitab Taurat, sekalipun dengan segala cara mereka berusaha menutupi kebenaran yang terkandung di dalamnya:minalladziina haaduu yuharrifuunal kalima `an mawadhi’ihii(di antara orang-orang Yahudi ada yang mengubah firman-Nya dari tempatnya yang asli) (QS an-Nisa:46).
Pertemuan Nabi Muhammad kecil dengan Pendeta Buhaira saat perjalanan pertama ke Syam bersama pamannya Abu Thalib adalah bukti hakikat tersebut. Buhaira menemukan dari Rasulullah– yang ketika itu masih berumur 12 tahun–tanda-tanda yang sangat meng agumkan. Di antaranya, awan yang selalu mengikutinya di mana Rasulullah berjalan dan berhenti.
Bagi Buhaira, itu hanya terjadi kepada seorang nabi. Lalu Buhaira menemukan di punggung Nabi Muhammad ada stempel kenabian yang persis sama seperti apa yang disebutkan dalam kitab Taurat. Buhaira meminta kepada paman Nabi, yakni Abu Thalib, agar segera kembali, khawatir ada perlakuan tidak baik kepadanya dari orang Yahudi. Itulah mengapa seusai perniagaannya, Abu Thalib langsung kembali ke Makkah.
Jadi, sejak dini wawasan tentang negeri Syam sudah Allah buka kepada Rasulullah SAW. Semakin kuat ketika perjalanan Isra Mi’raj, Rasulullah SAW dimampirkan terlebih dahulu di Masjid al-Aqsha sebelum naik ke langit. Hal itu untuk menegaskan hubungan sejarah antara Masjid al-Aqsha dan umat Islam.
Ditambah lagi, pada malam isra tersebut, Rasulullah SAW dipertemukan dengan semua nabi dan rasul untuk penyerahan estafet risalah dari nabi-nabi sebelumnya.Menariknya, mengapa itu terjadi di Masjid al- Aqsha? Lagi-lagi kita harus paham bahwa itu untuk menegaskan keagungan Masjid al- Aqsha yang harus dijaga oleh umat Islam.
Semua itu telah direkam dalam surah al- Isra’. Karena itu, pembahasan pokok surah al- Isra’ adalah tentang peralihan risalah dari nabi-nabi sebelumnya kepada Rasululah SAW.
