Tuesday, August 19

Adab Menjadi Hamba Allah

amirfath.com, Artikel (105), Februri 2022 Dalam surah al-Fatihah, terdapat adab untuk menjadi hamba Allah, yaitu mengagungkan-Nya dan bergantung kepada-Nya. Adab mengagungkan Allah tampak pada ayat 1-5, adapun adab bergantung kepada-Nya tampak pada ayat 6-7.

Mengagungkan Allah harus dibuktikan dengan sikap selalu menyertakan Allah dalam segala perbuatan, yaitu dengan membaca bismillahirahmaanirrahim. Lalu memperbanyak pujian kepada-Nya dengan mengucapkan alhamdulillahi rabbil `aalamiin.

Sikap kehambaan yang demikian akan melahirkan kesadaran bahwa semua yang datang dari Allah pasti merupakan pancaran rahmat-Nya arrahmaanirrahiim. Maka, ia akan yakin bahwa semua yang datang dari-Nya pasti baik, sebab semua milik-Nya, bukan hanya dunia tetapi juga akhirat, maaliki yaumiddin. Dari sinilah akan muncul sikap kehambaan sejati iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.

Seorang hamba yang kesibukannya mengagungkan Allah, ia tidak akan sempat mengagungkan dirinya. Maka, ia akan mengakui bahwa hanya Allah yang berhak dipuji. Sementara dirinya hanyalah makhluk yang tidak berdaya laa haula wa laa quwwata illaa billahi. Baginya semua kebaikan yang ia lakukan tidak lain hanyalah karunia-Nya. Maka, ia akan selalu ikhlas dan bersyukur atas semua nikmat yang didapatkannya.Pada saat yang sama ia akan selalu hati-hati dari perbuatan riya.

Contoh yang paling baik dalam mengagungkan Allah adalah Rasulullah SAW. Imam an-Nawawi berhasil mengumpulkan zikri-zikir Nabi dalam satu buku yang cukup tebal, namanya al-Azkaar.Para ulama sangat mengagumi buku tersebut, dan berlomba menghafalkannya. Dari kumpulan zikir ini, para ulama menyimpulkan bahwa Nabi tidak pernah melewati satu detik pun kecuali berzikir kepada-Nya.

Adab berikutnya adalah memohon hanya kepada-Nya. Doa yang paling baik adalah meminta hidayah ihdinashshiraathal mustaqiim. Sebab, hanya dengan hidayah seorang hamba akan istiqamah menaati-Nya. Cara mencapai istiqamah adalah dengan mencontoh para pendahulu yang saleh, seperti para nabi, wali-wali-Nya, dan para ulama: shirathalladziina an’amta `alaihim, sekaligus menolak ikut orang yang Allah murkai, dan orang yang sesat: ghairil maghdhuubi `alaihim wa ladh dhaalliin.

Sumber : Republika Senin, 21/02/2022. hal. 16

About Post Author