Tabiat Hidup Adalah Ujian
amirfath.com, Artikel (62), November 2021 Semakin tinggi sebuah pohon, akan semakin kencang angin menerpa.Demikian juga iman, semakin tinggi levelkeimanan seorang hamba, semakin kuat ujian yang akan dihadapi.
Rasulullah SAW bersabda:asyaddun naasi balaan al anbiyaa’ tsummal amtsal fal amtsal(manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, lalu yang sederajat di bawahnya, lalu di bawahnya lagi)”. (HR Tirmidzi) Nabi Ibrahim as diuji dengan dibakar dalam api.
Nabi Ayyub as diuji dengan penyakit yang sangat berat. Nabi Ismail diuji dengan kesiapan untuk disembelih. Rasulullah SAW diuji dengan diambilnya sang ayah sejak sebelum lahir, lalu diambilnya sang ibu pada saat masih umur enam tahun.
Belum lagi ujian di jalan dakwah yang harus Rasulullah SAW jalani. Di Kota Makkah, Nabi SAW dilempari kotoran pada saat menegakkan shalat di depan Ka’bah. Abu Lahab sering menghalang-halangi dakwah Nabi dengan ancaman dan cercaan.
Ketika Nabi berdiri di bukit Shafa, Abu Lahab mengancam:tabban laka ya Muhammad (celaka engkau Muhammad)”.Seketika Allah menjawab:tabbat yadaa abilahabiw watab.Maksudnya, engkau yang celaka wahai Abu Lahab. Di jalan-jalan tempat Nabi lewat, Ummu Jamil, istri Abu Lahab menebarkan duri.Allah merekamnya: wam ra’atuhu hammaalatal hathab(QS al-Masad: 1-5)
Dalam surah al-Mulk: 2, ditegaskan: alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluakum ayyukum ahsanu `amalaa(Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya)”. Bahwa hidup dan mati adalah ujian.
Kemudahan maupun kesulitan, kenyamanan maupun penderitaan semuanya adalah ujian. Apakah dengan ujian tersebut sang hamba akan berbuat baik atau sebaliknya.Siapa yang tetap konsisten berbuat baik dalam ujian tersebut, maka ia sukses. Inilah makna ayat ayyukum ahsanu `amalaa. Sebaliknya siapa yang terlena sehingga jatuh dalam dosa, maka ia gagal.
Jadi, seorang dikatakan lulus dari ujian ketika ia tetap beriman dan beramal saleh. Allah berfirman: innal inssana lafii khusrin, illalladziina amanu wa `amilushs shaalihati(sesungguhnya semua manusia celaka kecuali yang beriman dan beramal saleh)”. (QS al-Ashr: 2-3).
Maka, siapapun dan dalam kon disi apapun tidak boleh menye rah untuk tetap istiqamah di jalan iman dan amal saleh. Emas dikatakan emas setelah dibakar.Tetaplah anda dalam ketaatan kepada Allah, dalam keadaan sehat maupun sakit, kaya maupun miskin. Jalanilah semua situasi dengan penuh keteguhan iman.
