Hanya Allah Tempat Berlindung
amirfath.com, Artikel (47), Agustus 2021 Alquran telah merekam dua kisah yang sangat menakjub kan. Salah satunya meng gambarkan sosok manusia yang paling lemah. Namun, ia menjadi selamat dan aman karena pertolongan Allah SWT. Kisah lainnya menunjukkan seorang manusia yang adidaya, tetapi sangat sombong. Karena kekuasaan Allah yang Mahaperkasa, ia akhirnya menjadi musnah dalam kehinaan.
Kisah pertama digambarkan da lam surah Thaha ayat 38-39. Itulah kisah tentang Nabi Musa AS yang sewaktu masih bayi dihanyutkan oleh ibunya ke Sungai Nil. Sang ibu melakukannya karena saking takutnya dengan keputusan Firaun.Raja yang zalim itu memerintahkan, setiap bayi lelaki yang baru lahir dari kalangan Bani Israil harus dibunuh.
Perhatikan bagaimana cara Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Justru Allah menakdirkan Sungai Nil mengalir sedemikian rupa sehingga Musa saat itu ter dampar di istana Firaun. Allah menetapkan, siapa pun yang melihat bayi tersebut pasti akan jatuh hati. Wa alqaitu `alaika muhabbatamminni.
Benar saja, di istana tidak seorang pun membencinya. Allah juga menentukan, bayi ini tetap dalam pengawasan langsung dari- Nya secara ketat. Walitushna’a `alaa `ainii.
Syekh as-Sa’di menjelaskan mak na ayat tersebut. Dia menyebut, Tidak ada pengawasan apa pun yang melebihi pengawasan Allah. Sungguh, pengawasan-Nya penuh kasih sayang sangat sempurna.
Tatkala Musa sedang di dalam istana Firaun, Allah menenangkan hati ibu kandung bayi itu. Wa ashbaha fu`aa du ummi Musa faarighaa. Kata farighaberarti `hatinya plong’, tidak ada rasa khawatir sama sekali.
Dalam kondisi demikian, Allah membuat Musa kecil tidak mau me nyu su kepada siapa pun. Ternyata itu cara-Nya agar pihak istana mencari seorang ibu yang dapat menyusuinya. Akhirnya, menyusulah Musa kepada ibu kandungnya sendiri dengan aman tenteram dalam kediaman Firaun.
Kisah kedua termaktub dalam surah an-Nazi’at ayat 24-25. Digam barkan di sana bahwa Firaun berada pada puncak kesombongan nya. Dirinya merasa paling berkuasa di muka bumi sampai- sampai mengaku sebagai Tuhan:Ana rabbukumul a’la. Tidak lama setelah itu, Allah menenggelamkan Firaun di Laut Merah bersama de ngan pasukannya. Fa- akha zahul laahu nakalal aakhirati wal-uula.
Dari sini, kita belajar, betapa makhluk sehebat apa pun tetap lemah. Allah telah menunjukkan, Musa saat bayi tidak tenggelam di Sungai Nil.
Firaun yang merasa dirinya perkasa justru tenggelam di Laut Merah. Masihkah kita ragu mendekatkan diri dan meminta perlindungan kepada-Nya?
