Sunday, July 20

Adab Menjadi Hamba Allah

amirfath.com, Artikel (41), Juni 2021 – Alquran hadir dengan mukadimah yang luar biasa, yaitu surah al-Fatihah. Inti diturunkannya Alquran adalah membimbing manusia agar menjadi hamba Allah, Wamaa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduni(Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menghambakan dirinya kepada-Ku) [QS adz- Dzariyat: 56].

Karena itu, target utama Alquran adalah manusia. Dari pembukaan sampai penutupan tidak pernah lepas dari pembicaraan mengenai manusia.

Kata al alamiindi pembukaan surah al-Fatihah maksudnya manusia. Demikian juga kata an naasdi penutup Alquran adalah manusia. Di setiap surah ada panggilan berulang-ulang untuk manusia: Ya ayyuhan naas(wahai manusia), Ya ayyuhalladziina aamanuu(wahai orang-orang yang beriman).

Nama-nama surah banyak sekali dari nama- nama manusia. Seperti nama-nama para nabi: surah Yusuf, Hud, Ibrahim, Muhammad, dan sebagainya.

Selain nama nabi, juga ada nama Maryam dan Lukman.

Betapa tingginya derajat manusia di sisi Allah SWT. Bukti paling jelas, perintah-Nya terhadap para malaikat agar bersujud kepada Nabi Adam usujuduu li aadam. Artinya, di atas manusia langsung Allah SWT.

Bahwa manusia tidak pantas menghambakan dirinya kepada makhluk sebab tidak ada makhluk yang mengungguli-Nya.

Dalam surah al- Fatihah kita diajarkan bagaimana menghambakan diri kepada Allah SWT. Dari ayat satu bismillah sampai ayat empat maaliki yaumiddinadalah pujian kepada Allah. Bahwa tugas seorang hamba hanya memuji, mengagungkan dan meninggikan-Nya.

Dalam ayat bismillah, ada komitmen melibatkan Allah dalam segala urusan. Nabi Muhammad SAW bersabda: Semua urusan tanpa bismillah akan terputus dari-Nya (HR Ibn Hibban).

Ayat berikutnya alhamdulillah, komitmen untuk selalu memberikan pujian hanya kepada-Nya.

Arrahmanirrahim, yakni komitmen berprasangka baik kepada-Nya. Bahwa semua yang datang dari Allah adalah bukti kasih sayang-Nya.

Malikiyaumiddin, yakni komitmen menjadikan akhirat sebagai tujuan.

Setelah semua itu terbukti, baru mengucapkan ikrar kehambaan iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien(hanya kapada-Mu aku menghamba dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan).

Dalam ikrar ini ada dua persaksian. Pertama, manusia tidak akan menghamba kecuali hanya kepada Allah SWT. Kedua, manusia tidak akan bergantung kecuali hanya kepada-Nya. Untuk menguatkan ini harus didukung dengan doa:Ihdinash shraathal mustaqim(tunjukilah kami ke jalan yang lurus).

Tidak cukup hanya dengan doa, lebih dari itu harus melakukan dua kewajiban.
Pertama, mengikuti jejak orang-orang saleh shirathalladziina an’amta alaihim (yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat) seperti para nabi, para wali, para ulama, dan orang-orang saleh. Kedua, tidak kompromi dengan orang-orang zalim dalam melakukan kerusakan Ghairil maghdhubi alaihim waldhd dhallin.


“Tugas seorang hamba hanya memuji, mengagungkan, dan mening gikan- Nya.”

Sumber : Republika, Senin 21/06/2021. hal. 16

About Post Author