Tuesday, July 22

Bersungguh-sungguh Mencari Ilmu

amirfath.com, Santriana (01), April 2021 – Imam Al-Ghazali menyebutkan dalam Kitabnya Bidayatul Hidayah agar kita bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Caranya, pertama, al-hirsh artinya care terhadap ilmu. Agungkanlah ilmu yang dipelajari. Apalagi ilmu tersbut berkaitan dengan iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Sebab hanya itu bekal menuju surga. Nabi SAW. bersabda : man salaka thariqan yaltamisu fiihi ilman sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah (siapa berjalan mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga). Di antara bukti bahwa kita care dalam mencari ilmu adalah : Pertama, Niat yang kuat, Nabi SAW, brsabda: innamal a’maalu bin niyat, wa innama likullimriim maa nawa (sesunguhnya setiap amal tergantung kuat tidaknya niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan). Imam Al-Ghazali menyebutkan dengan istilah shidqur raghbah (kemauna yang jujur). Bahwa yang paling menentukan dalam pembentukan pribadi bukan lembaga, tetapi diri sendiri. Tidak ada lembaga yang bisa menjamin bisa mencetak orang sukses. Lembaga hanya berusaha membantu peserta didik agar secara bertahap bisa mencapai titik kesempurnaan.

Kedua, fokus pada target, Imam Al-Ghazali menybutkan dengan istilah “al-muqbil”, artinya fokus kepada tujuan. Seorang penuntut ilmu harus menghindari hal-hal yang sia-sia. Nabi SAW. bersabda : min husni islamil mar’i, tarkuhu maa la yakniihi (ciri seorang muslim yang baik adalah meninggalkan hal-hal yang sia-sia). Dalam Al-Quran ketika Allah SWT. menjelaskan ciri ahli surge menyebutkan bahwa mereka berpaling dari hal yang sia-sia “walladzinhum ‘anil laghwi mu’ridhun”. Tidak pantas seorang penunutut ilmu sibuk dengan sia-sia. Sebab tidak akan bertemu antara cahaya ilmu dan kesia-siaan. Saya pernah menumukan seorang anak yang sudah hafal Al-Quran tiga puluh juz, tetapi karena dimudahkan oleh orang tuanya ia bermain game sampai kecanduan akibatnya semua hafalannya hilang seketika. Kita hidup di zaman akhir, di mana godaan yang paling menyenangkan adalah kesia-siaan. Maka sangat penting hadirnya seorang anak didik yang mempunyai semangat mencari ilmu “al muqbil ala iqtibasil ilm” (fokus pada target ilmu yang harus dicapai). Sebab tanpa fokus maka akan sulit menunjukkan hasil.  

Ketiga, senang membaca buku pelajaran. Imam Al-Ghazali menyebutkan istilah “farthut ta’attush” (sangat haus kepada ilmu). Caranya, sebelum masuk kelas seorang pelajar membaca buku terlebih dahulu pada judul yang akan dipelajari di kelas.Baca berkali-kali sampai paham. Jika menemukan poin yang belum dipaham, beri tanda untuk mengkonfirmasi pada penjelasan guru di kelas. Jika ada tambahan penjelasan dari guru dicatat dengan baik. Sebab itu akan menambah wawasan. Dalam pepatah dikatakan : al ilmu shidun wal kitabatu qiduhu. Qayyid shuyudaka bil hibalil watsiqah. Faminal hamaqati an tashida ghazalatan wa tatrukaha bainal khalaiqi thakiqah (Ilmu itu buruan, dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah hasil burunmu setelah mendapatkannya. Termasuk orang bodoh yang berangkat memburu, lalu setelah dapat, buruannya dilepas lagi). Lalu ulangi baca buku pelajaran dan buatah ringkasan di luar kelas. Tujuannya untuk mengikat pemahaman sehingga tidak perlu lagi mengulangi baca teks aslinya. Setiap malam sebelum tidur sempatkan selalu melihat ringkasan sehingga semua poin dihafal dengan baik. Setelah itu buatlah berapa pertanyaan untuk menguji kemampuan mejawab soal. Begitulah seterusnya sampai tiba masa ujian. Ingat, kita belajar bukan untuk ujian. Tetapi ujian untuk belajar.Namun jangan remihkan ujian, sebab dikatakan : bil imthani yukramul awa yuhan (dengan ujian seseorang dimuliakan atau terhina).

About Post Author