Thursday, July 24

Kumpulan Puisi Horison

amirfath.com, Puisi (18), Jan 2021 – PUISI DIBAWAH INI TELAH DI MUAT DI HORISON

Cemara di Pelipis Margala

Amir Faishol Fath

Seperti biasanya, suara adzan itu hinggap pada dedaunan, membangunkan angin yang lepas dari rintihan musim. Cemara melambaikan tangis, meraih matahari yang baru terbit, orang-orang berdatangan bagai menyambut seorang tamu, tapi ternayat tak ada yang memberikan apa-apa. Seketika dari atas margala memancarkan pecahan cahaya, mengucap salam.

Aku berteriak, tapi tak ada seorangpun yang mendengar, terlintas pada rerumoutan bacaan yang diruntuhkan peradaban. Aku mencoba membaca huruf-huruf yang masih tersisa, semuanya melukiskan baying-bayang cemara yang tak pernah letih menuliskan makna keimanan.

Islamabad, 1991

*Margala nama sebuah bukit yang membelah kota Islamabad, di kakinya tegak sebuah masjid megah : Masjid Faisal.

Bayang-bayang yang meneteskan Darah

Amir Faishol Fath

Di musim dingin yang luka, tak terdengar lagi derai kemanusiaan, yang nampak di depan cermin hanyalah batu-batu yang dungu. Langit seketika runtuh dalam lipatan darah. Tidak ada persinggahan lagi buat menatap matahari. Kegelapan tekonologi telah begitu jauh membimbing ruhani zaman. Semua yang diperebutlan hanyalah asap eprih yang bertiup dari kegelisahan.

Pagi itu aku berdiri pada ketinggian salju yang panas. Kaki ku berhamburan bagi debu kemarau. Ku teriakkan pada awan tentang anak kecil yang kehilangan ayahnya. Namun ternyata suaraku hangus menjadi semata banyang-banyang yang terus meneteskan darah.

Islamabad, 1991

Kubiarkan Salju itu Berderai

Amir Faishol Fath

Salju itu terus berderai, menyambut do’a-do’a yang pucat. Cemara mendongak menancapkan teduh pada tenda-tenda mujahidin. Tak kurasa langit singgah melambaikan keindahan bunga musim semi. Namun jalan-jalan menuju perbatasan masih tertutup.

Sehelai kain di atas pecahan batu kutemukan memancarkan air ke maura. Tapi air itu masih keruh, dan belum terlihat dari maan sumbernya. Di gang-gang pengungsian masih kudengar anak kecil bermain, melemparkan bola salju pada atap-atap nurani yang hampir tertimbun.

Islamabad, 1992

Donwload

About Post Author