Thursday, July 17

Mulia Bersama Dakwah

amirfath.com, Opini (15), Des 2020 –

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ(آل عمران 110)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Ayat ini menegaskan hakikat umat Islam sebagai umat paling baik dan paling mulia. Kata kuntum khaira ummatin  menunjukkan makna bahwa hakikat umat ini memang disedasin oleh Allah untuk menjadi umat yang membawa manusia kepada kebaikan dan kemulian. Karena itu umat ini harus tetap mempertahankan tabiatnya: (a) Tabiat mentaati Allah secara jujur dan murni. (b) tabiat menyelamatkan manusia dari perbuatan dzalim dan dosa-dosa. Inilah makna ayat ukhrijat linnaas, maksdunya umat ini dipilih oleh Allah untuk menjadi pioner sejarah dalam menjadikan manusia sebagai manusia. Sebab tidak mungkin manusia tampil sebagai manusia bila perbuatannya melanggar ajaranNya.

Perhatikan perjalanan Nabi saw. dan sahabat-sahabatnya, bagiamana mereka berjuang siang dan malam untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kukungan zaman jahiliah. Kaum wanita yang tadinya dihinakan, bagitu datang Islam kedudukan mereka menjadi mulia. Tidak sedikit kisah yang menggambarkan pembunuhan terhadap kaum wanita semasih zaman jahiliah, namun setelah Islam datang, pembunuhan itu diharmkan, bahkan dianggap sebagai dosa besar. Kejahilihan juga telah membuat mereka dalam peperangan tanpa akhir demi fanatisme kesukuan, namun Islam kemudian membangun persaudaraan di antara mereka sehingga mereka bersatu dalam kemuliaan. Dalam hal ini Allah berfirman: “…dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Benar, umat Islam dipilih oleh Allah untuk menyemalamatkan kemanusiaan. Karena itu –berdasarkan ayat di atas – ia harus melakukan langkah-langkah berikut: (a) lakukan amar ma’ruf, (b) lakukan nahi munkar, (c) beriman kepada Allah. Para ulama tafsir mengatakan bahwa langkah-langkah ini adalah syarat untuk menunjukkan eksistensi keumatannya. Mari kita simak penjelasan masing-masing langkah tersebut:

1. Lakukan Amar Ma’ruf

            Pada ayat berikutnya Allah berfirman: watanhawna ‘anil munkar (dan hendaklah kau cegah segala yang munkar). Kalimat ta’muruuna bil ma’ruuf, kata ma’ruf diambil dari kata arafa artinya tahu atau mengenal. Dalam Al Qur’an kita sering temukan kata ma’ruf untuk makna kebaikan. Dalam surah An Nisa’ 19 mengenai kewajiban suami dalam menyikapi para istri Allah berfirman: wa aasyiruuhunna bil ma’ruuf (dan hendaklah kamu gauli mereka dengan cara yang baik). Perhatikan gambaran ini, betapa kata ma’ruf sangat mewakili segala bentuk kebaikan. Sebab sikap suami terhadap istri adalah sikap yang mencakup segala keseharian dengan segala tetek bengiknya yang sangat detil. Itu semua harus dilakukan dalam kontek ma’ruf tanpa sedikitpun mendzaliminya. Ini dipertegas lagi dalam surah Al Baqarah 233, Allah berfirman: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Dalam surah An Nisa’: 25, mengenai maskawain, Allah berfirman: wa aatuuhunna ujuurahunna bil ma’ruuf (dan berikanlah maskawin yang patut kepada mereka). Artinya bahwa maskawin yang baik adalah maskawin yang tidak menghinakan mereka. Bahwa mereka adalah manusia seperti juga laki-laki. Karena itu para suami hendaklah menyikapi istri-istri mereka dengan baik. Masih dalam surah An Nisa’:6 mengenai para wali anak yatim yang miskin, Alah berfriman: wa man kaana faqiiran fal ya’kul bil ma’ruuf  (artinya siapa yang miskin di antara para wali itu, dinolehkan makan harta anak yatim tersebut dengan cara yang patut), artinya tidak dengan cara mendzalimi mereka. Sampaipun para istri yang telah dicerai, Allah masih mengajarkan agar itu diperlakukan dengan cara yang baik (ma’ruuf) Allah berfirman dalam surah Al Baqarah: 241: Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang ma`ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.

            Jelasnya bahwa amar ma’ruf artinya tidak lain kecuali mengajak orang dalam berbuat baik dalam segala lapangan kehidupan. Tidak hanya baik di masjid tetapi juga di pasar-pasar dan kantor-kantor. Sehingga semua manusia benar-benar menjadi hamba Allah yang sempurna. Sebab pada kenyataannya sekarang masih banyak orang yang hanya baik di masjid, semnatara di luar masjid, tidak ada bedanya dengan orang-orang yang tidak beriman. Di luar masjid mereka berani melnaggar apa-apa yang Allah haramkan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang telah melaksanakan ibadah shalat dan haji, berani melakukan korupsi dan bermain judi. Di sinilah hakikat amar ma’ruf harus diperankan secara seksama, sehingga umat ini benar-benar menjadi umat mulia dan terbaik.  

2. Lakukan Nahi Munkar

            Pada ayat berikutnya Allah berfirman: wa tanhawna ‘anil munkar (dan kau cegah segala yang munkar). Kata munkar artinya segala pelanggaran terhadap ajaran Allah swt. Sebab semua yang datang dari Allah pasti benar. Karena itu tidak ada pilihan bagi manusia kecuali harus bersungguh-sungguh ikut ajaranNya. Dan perjuangan syetan adalah bagaimana membuat manausia melakukan segala yang munkar. Dengan kata lain tidak ada syetan yang menyuruh ikut Allah. Itulah makna firman Allah mengenai pernyataan iblis: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya (QS. Shaad:82). Dari ayat ini jelas bahwa syetan bekerja keras untuk menyesatkan manusia agar selalu melakukan yang munkar. Bila syetan kerja keras dalam menyebarkan kemunkaran, maka tidak bisa tidak kita harus bekerja keras untuk mencegah segala yang munkar. Inilah rahasia mengapa setelah Allah memerintahkan untuk menyebarkanyang ma’ruuf lalu memerintahkan agar mencegah yang munkar.   

Dalam banyak ayat Allah selalu menyandingkan antara kalimat amar ma’ruf dan kalimat nahi munkar. Dalam surah Ali Imran: 104 Allah berfirman:  Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dalam surah Al A’raf 157 Allah berfirman: (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. Ini menunjukkan bahwa kata amar ma’ruf perintah untuk membangun, sementara nahi munkar adalah perintah untuk menjaga. Maka tidak mungkin bangunan itu bertahan lama tanpa adanya penjagaan. Karena itu dalam banyak ayat dalam Al Qur’an Allah selalu menyandingkan kata amar ma’ruuf dengan kata nahi munkar.

3. Beriman Kepada Allah.

            Lalu Allah berfirman: watu’minuuna billaahi (dan kau beriman kepada Allah). Ini menunjukkan bahwa umat ini tidak akan menjadi umat terbaik tanpa bekal iman yang jujur. Bahwa sekedar melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar saja tanpa bekal iman yang kuat tidak munkin mencapai tujuan sebenarnya. Dari sini nampak mengapa penyebutan iman di akhirkan, padahal seharusnya disebutkan lebih dahulu: (a) Untuk menjelaskan bahwa iman adalah syarat utama untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dalam Al Qur’an bentuk ungkapan seperti ini mudah kita temui. Dalam surah Al Balad Allah swt. menerangkan bahwa untuk mencapai kemuliaan harus menempuh kewajiban di antaranya: melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Lalu Allah berfirman: Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

            (b) Untuk mengkaitkan dengan ayat sesudahnya yang menjelaskan menganai imannya ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani). Bahwa ahlul kitab tidak mempunyai iman yang benar. Karenanya Allah berfirman:  Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Dari sini nampak bahwa iman yang benar adalah dengan bersungguh-sungguh mentaati Allah dan rasulNya, tanpa membedakan antara rasul yang satu dengan lainnya. Lebih dari itu, iman tersebut harus dibuktikan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Itulah kepribadian umat terbaik (khairu ummah).

            (c) Untuk menunjukkan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar. Bahwa kemuliaan umat ini –untuk mencapai kemuliaannya dan mengembalikan kejayaannya- tidak cukup hanya dengan mengaku beriman, melainkan harus selalu melakukan dakwah (baca amar ma’ruf nahi munkar). Tanpa dakwah kemuliaan itu tidak akan pernah teraih. Karena itu dalam surah Al Ashr, Allah menegaskan bahwa semua  manusia yang selamat tidak hanya beriman dan beramal saleh, tetapi juga harus melakukan tawashi dalam kebenaran dan tawashi dalam kesabaran (wa tawaashau bil haqqi wa tawaashau bish shbri). Dari sini jelas bahwa berdakwah adalah jalan kemuliaan. Dalam surah Al A’raaf: 163-166 Allah menjelaskan bahwa dulu Bani Israil pernah dihinakan karena tidak mau menjalankan perintahNya. Di hari Sabtu yang seharusnya mereka beribadah, malah mengisinya dengan menangkap ikan. Salah seorang dari mereka ada yang berdakwah atau mengingatkan agar pelanggaran tersebut jangan dilanjutkan. Tapi pesan-pesannya tidak dihiraukan. Akibatnya semua yang melanggar tersebut seketika diubah mukanya oleh Allah menjadi kera. Kecuali yang berakwah, ia diselamatkan olehNya. Perhatikan betapa dengan jalan dakwah seseorang akan menjadi mulia dan selamat dari adzabNya. Dengan demikian tidak ada jalan untuk menuju kemuliaan kecuali dengan bersungguh-sungguh berdakwah di jalan Allah swt. Wallahu a’lam bishshwab.         

About Post Author