Thursday, August 7

Buku

amirfath.com, Cerpen (02), Des 2020 – Istri saya minta buku. Setiap kali saya datang dari luar, ia selalu menanyakan buku yang ia minta. Buku itu tentang hal-hal yang berkenaan dengan kehamilan, tentang bagaimana menjaga kesehatan dan lain sebagainya yang erat hubungannya dengan masalah wanita. Saya sendiri kurang banyak tahu mengenai buku tersebut. Jalan keluarnya saya harus selalu nongkrong di pusat-pusat “ Old Book “. Karena di sana menurut sya tempat segala macam buku tua dijual.

            Sya pertama kali tidak habis piker. Mengapa istri saya akhir-akhir ini menyukai buku-buku semacam itu. Di otak saya sudah bermunculan berbagai macam pikiran. Mungkin istri saya ingin jadi “ Gynecologist “. Atau boleh jadi ia mendapat pertanyaan dari kawan-kawannya tentang masalah wanita. Dan ia merasa malu kalau tidak bisa menjawb. Atau mungkin ia mendapat tugas dari dosennya untuk membuat paper masalah seluk-buluk wanita ketika hamil.

            “ Ah, itu hanya perkiraan saja, “ tepis saya, “ Yang penting sekarang adalah bagaimana saya mendapatkan buku-buku ini. Soal apa keinginan istri sya, nanti saya tanyakan langsung saja kepada istri saya “

            Saya terus mencari buku itu. Setiap saya keluar dari rumah, saya niatkan untuk mampir ke Super Market barang sejenak. Terutama di pusat-pusat old book. Sebab siapa tahu kalau ternyata buku-buku itu ada di sana. Namun sampai sekarang saya masih baru mendapatkan dua buku. Pertama, tentang “ Understanding Pragnacy “. Kedua, tentang bagaimana menjaga kesehatan anak dari sejak lahir sampai besar.

            Tapi agaknya istri saya sudah bahagia sekali. Saya melihatnya selalu membaca buku itu. Sambil duduk atau sambil tiduran ia nampaknya asyik sekali menggerayangi halaman demi halaman, judul demi judul hingga selesai. Selesai satunya, ia pindah ke buku yang lain. Dans ebelum ia menyelesaikan buku satunya itu, saya segera melemparkan pertanyaan yang sudah lama menggedor-gedor di otak saya.

            “ Mama, “ kata saya, “ mama apa sih maunya membaca buku gituan ? “

            “ Ya, biasa sebagai seorang ibu muda, “ katanya sambil meneruskan bacannya.

            “ Maksudnya ? “

            “ Ya, mama kan ingin membahagiakan papa. Mama untuk ini harus tahu benar diri mama. Mama harus tahu bagaimana menjaga kondisi mama saat hamil. Mam harus tahu bagaimana menjaga kesehatan anak dan lain sebagainya.”

             Saya seketika, bahagia sekali mendengar jawaban itu. Sebab ternyata istri saya mempunyai tujuan yang jauh dari perkiraan saya. Secara sepintas, sebenarnya sederhana sekali tujuan tersebut. Namun sungguh mempunyai sentuhan yang cukup dalam bagi saya. Saya sejak itu benar-benar memahami bagaimana kesungguhan istri saya untuk bertanggung jawab atas kewajibannya. Dan pertanyaan bahwa ia ingin membahagiakan saya, sungguh selalu terngiang dalam ingatan saya.

            “ Mama, “ saya menyeletuk, “ mama pingin buku apa lagi ? “

            Ia tidak menjawab. Ia hanya memandang wajah saya dengan ceria.

Saya juga menatapnya dengan senyum. Sesekali saya usap keningnya yang basah karena keringat.

            “ Ayo ma, “ kata saya lagi, “ Kalau mama pindah buku lagi, papa belikan. “

            “ Papa, “ sahut istri saya, “ papa bisa enggak mencarikan buku – Women Bpdy. “

            “ Women Body? Buku apa itu ma ? “

            “ Itu, buku tentang bagaimana seluk buluk kondisi Rahim seorang wanita. Di buku itu bagus deh, penjelasannya. Mama perta membaca punya kawan mama dulu. Tapi kemudian buku itu sudah mama kembalikan. Sekarang mama pingin baca lagi. “

            “ Insya Allah deh ma, papa ceriakn “

            Saya sekarang kembali mengulangi kebiasaan seperti dulu-dulunya. Setiap keluar rumah, saya hampir selalu turun di pusat old book. Di sana saya nongkrong. Kadang sampai satu jam. Keasyikan. Hingga tak terasa. Pernah suatu hari, syaa terdampar di old book itu sampai larut malam. Sementara saya tidak tahu bahwa istri saya di rumah sedang menunggu saya untuk makan malam. Namun ternyata buku itu masih juga belum saya dapatkan.

            “ Assalamu’alaikum mama. “ Saya membuka pintu.

            “ Wa’alaikumsalam papa. “ Istri saya menyambut segera dengan pakaian yang sudah rapih.

            Saya langsung masuk ke kamar. Di pikiran saya terbawa seribu kesan yang sulit diungkapkan. Saya hanya terdiam. Kepala saya hanya sanggup mengangguk-angguk. Dipenuhi rasa kagum dan bangga. Saya benar-benar kagum, karena ternyata istri saya tidak hanya omong kosong untuk memnuhi niatnya. Untuk membahagiakan saya. Buktinya ia selalu rapi dan harum setiap menyambut saya datang dari luar. Buktinya lagi ternyata tidak suka seperti model wanita-wanita lain-lainnya. Wanita yang sellau rapid an harum saat keluar rumah. Namun dihadapan suaminya ia hanya menawarkan bahu dapur dan cucian kotor. Sungguh istri saya tidak demikian. Saya pun bangga dengan sikap istri yang demikian. Karena ternyata ia bukan istri sembarangan. Ia adalah istri yang shalillah. Ia adalah istri yang menyadari bahwa segala kecantikannya hanya untuk suaminya.

            Saya terus saja terdiam. Sementara istri saya dia-diam segera meyiapkan makan malam. Dan mengusap keringat yang terus menetes dari bawah dagu.

            “ Mama, “ kata saya dengan penuh kecewa, “ maafkan papa ya ma. Papa belum bisa mendapatkan buku itu. “

            Istri saya tersenyum. Ia rupanya telah memahami saya.

About Post Author