Wednesday, July 30

Ramadhan, Al-Quran dan Ekstensifikasi Dakwah

amirfath.com, Artikel (07), Nov 2020 – Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). QS. Al Baqarah 2:185.

Ramadhan Bulan Al Qur’an

Diantara ayat yang menunjukkan eratnya Ramadhan dengan Al Qur’an adalah ayat di atas. Ayat tersebut mendefinisikan bahwa Ramadhan adalah bulan di turunkannya Al Qur’an: ia duturunkan sekaligus dari al lauhul mahfudzh ke langit ke dunia pada malam lailatul qadar. Dan lailatul qadar adalah salah satu malam diantara malam-malam Ramadhan.

Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (lailatul qadar) (QS. Al Qadar, 97:1)

Setelah itu ia diturunkan secara berangsur-angsur dari langit dunia kepada Rasulullah SAW, dimulai dengan ayat iqra’ pada tanggal 17 Ramadhan. Tidak hanya itu, Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Abbas: Bahwa Malaikat Jibril menemui Rasulullah SAW. setiap malam Ramadhan, untuk melakukan murajaah Al Qur’an (HR. Bukhari, no: 4997).

                Dari sini nampak betapa Ramadhan dan Al Qur’an satu kesatuan tak terpisahkan. Artinya setiap muslim yang memahami hakikat Ramadhan dalam prespektif ayat di atas, ia tidak akan mencukupkan kegiatannya selama Ramadhan dengan hanya menahan lapar dan haus, melainkan lebih dari itu ia akan menyibukkan diri membaca Al Qur’an. Membaca Al Qur’an dalam banyak hadits adalah merupakan ibadah tersendiri: Abu Umamah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Bacalah Al Qur’an, di Hari Kiamat kelak Al Qur’an akan menjadi penolong bagi orang yang membacanya (HR. Muslim, no:804).

                Dalam hadits lain Aisyah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama Malaikat yang mulia, sedang orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata dan menemukan kesulitan, ia mendapatkan dua pahala (HR. Bukhari Muslim). Lebih-lebih di bulan Ramadhan, dimana segala amal saleh dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Ibn Masud meriwayatkan hadits, Rasulullah bersabda: Orang  yang membaca satu huruf dari Al Qur’an akan mendapatkan satu kebaikan, lalu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan, saya tidak mengatakan alif laam miim sebagai satu huruf, melainkan alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf. (HR. Turmudzi, no:2919).

                Tidak sedikit dari ulama terdahulu yang telah memahami hakikat ini. Sebagai contoh: Ar Rabii’ meriwayatkan bahwa Imam Syafi’ie biasanya setiap bulan mengkhatamkan Al Qur’an tiga puluh kali, tapi khusus di bulan Ramadhan mengkhatamkannya enam puluh kali, itu selain yang ia khatamkan dalam shalatnya (Sifatus Safwah, karya Ibnul Jawzy vol.2, hal. 145).

                Perhatikan bagaimana para pendahulu kita sedemikian sungguh-sungguh membaca Al Qur’an. Itu bukan berarti bahwa Imam Syafi’ie tidak punya pekerjaan kecuali hanya membaca Al Qur’an,tidak. Ia seorang fakih terkemuka yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam bidang fikih. Bukunya Ar Risalah menjadi induk utama dalam kajian usul fikih. Belum lagi karya fikihnya bernama Al Um. Disini saya teringat dengan pernyataan Syeikh Muhammad Al Ghazali dalam bukunya kaifa nata ‘amal maal Qur’an: “Perbedaan mencolok antara kita dan ulama terdahulu adalah, bahwa bila ulama terdahulu berinteraksi dengan Al Qur’an mereka berusaha secara maksimal untuk mengikuti kehendak Al Qur’an sehingga mereka naik tingkat bersamanya, sementara kita berusaha agar Al Qur’an mengikuti kehendak kita, akibatnya kita tidak pernah naik tingkat, karena Al Qur’an tidak berperan sebagai imam, melainkan sebagai makmum atas pikiran kita. Ini suatu tindak ke dzaliman terhadap Al Qur’an.

Ramadhan Bukan Hanya Bulan Puasa

                Ayat di atas sangat tegas memperlihatkan bahwa bulan Ramadhan bukan hanya bulan puasa, melainkan di dalamnya ada serangkaian ibadah yang saling mendukung, untuk kemudian mencetak pribadi takwa. Benar, ibadah puasa diwajibkan di bulan Ramadhan (lihat QS. Al Baqarah 2: 183), tetapi iatidak berdiri sendirian, kesempurnaannya akan menjadi lebih maksimal bila di kuatkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Ada tiga hadits semuanya dari Abu Hurairah ra. Yang redaksinya hampir sama tetapi masing-masing mempunyai titik tekan tersendiri:

  • Rasulullah SAW bersabda: Orang yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan akan ridhaNya, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat (HR. Bukhari-Muslim).
  • Rasulullah SAW bersabda: Orang yang menegakkan sembahyang malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan akan RidhaNya, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat (HR. Bukhari-Muslim)
  • Rasulullah SAW bersabda: Orang yang menegakkan shalat malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan harapan akan ridhaNya, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat (HR. Bukhari Muslim).

Ketiga hadits ini menggambarkan betapa Ramadhan mengandung potensi besar dalam proses bagaimana memperoleh ampunan dosa. Tidak hanya dari sisi shalat malam Ramadhan (baca: tarawih) dan shalat malam lailatul qadar.

                Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda: Puasa adalah tameng, apabilah salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah berkata kotor (rafats) dan janganlah berkata kertas (shakhab), bila seorang memakinya atau mengajaknya bertengkar, katakanlah kepadanya: aku sedang berpuasa (HR. Bukhari Muslim, Al Lu’ lu’ wal marjan, no. 706, 707). Imam Hakim meriwayatkan hadits lain, Rasulullah SAW bersabda: Puasa itu bukan hanya menahan lapar dan haus, namun juga menahan dari omongan sia-sia dan kotor (HR. Hakim, Imam Adz Dzahabi melihat hadits ini sahih).

Imam An Nasa’i meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh apa-apa dari puasanya selain hanya rasa lapar. (HR. Nasa’i). Perhatikan betapa bulan Ramadhan bukan hanya bulan puasa dalam arti yang sangat sempit (baca: menahan lapar dan haus), melainkan ada dimensi lain yang harus dijuga ditegakkan dan itu sangat mendukung kesempurnaan puasa itu sendiri.

                Ayat  di atas, menggambarkan dimensi lain dari ibadah Ramadhan yang juga tidak kalah pentingnya dibanding dengan ibadah-ibadah lainnya. Bila ayat sebelumnya menekankan wajibnya berpuasa, maka pada ayat ini Allah menekankan pentingnya berinteraksi secara sungguh-sungguh dengan Al Qur’an dibulan Ramadhan. Dengan kata lain, bila Ramadhan adalah terminal tarbiyah menuju tercapainya pribadi takwa, maka seluruh komponen dan dimensinya yang baru saja disebutkan harus juga ditegakkan secara sempurna. Jika tidak, puasa Ramadhan akan menjadi semata ritual yang tidak akan membuahkan dampak apa-apa bagi pelakunya.

Al Qur’an Sebagai Hidayah

                Sisi berikutnya dari ayat di atas, berupa penegasan bahwa Al Qur’an yang Allah turunkan di bulan Ramadhan bukan semata untuk dibaca, melainkan juga sebagai hidayah (petunjuk) jalan hidup manusia. Ia adalah pedoman bagaimana manusia menggunakan fasilitas kemanusiaannya, seringkali manusia ketika hanya bersandar kepada akalnya, terjatuh pada kesesatan. Halal-haram tidak lagi diperhatikan. Semua tuntutan hawa nafsunya dipenuhi. Tidak sedikit mereka yang celaka akibat jauhnya dari petunjuk Allah SWT. Allah yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia, Dialah yang paling tahu bagaimana seharusnya manusia menjalani hidupnya. Akal yang Allah bekalkan kepada manusia bukan untuk menandingi wahyu, melainkan untuk memahami tuntunanNya. Dari sini mengapa Allah menegaskan bahwa Al Qur’an sebagai hidayah: ia adalah petunjuk jalan agar manusia tidak lagi terombang-ambing dalam kebingungan. Masih berkaitan dengan ini, dalam ayat lain Allah menggambarkan Al Qur’an sebagai cahaya (nuur): Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti ke ridhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka  jalan yang lurus. (QS. Al Maidah, 5:16-16).

                Bila Al Qur’an adalah cahaya, berarti manusia tanpa Al Qur’an akan berjalan dalam kegelapan. Pun berarti bahwa akal yang dimiliki manusia akan bercahaya secara sempurna bila mendapatkan pancaran cahaya dari Al Qur’an. Karenanya kita perhatikan orang-orang yang hidup jauh dari bimbingan Al Qur’an mereka tak ubahnya –pinjam istilah Ustadz Sayyid Quthub- seperti anak kecil, seluruh kegiatannya tidak ada yang bermakna, penuh dengan permainan, dan hanya berputar di sekitar urusan dunia. Lebih jauh lagi, mereka seringkali menjalani kehidupannya atas dominasi prilaku kebinatangannya bukan kemanusiaannya.  Tetapi untuk memahami petunjuk Al Qur’an seseorang harus mempunyai sifat takwa kepada Allah. Tanpa takwa seorang muslim –apapun kapasitas ilmiyahnya- tidak akan pernah memahami maksud wahyu. Karenanya dalam surat Al Baqarah Allah berfirman: hudan lilmuttaqiin (petunjuk bagi orang-orang bertakwa). Ketika menafsirkan ayat ini Ustadz Sayyid Qutub berkata: orang yang ingin mendapatkan petunjuk Al Qur’an harus mempunyai hati yang bersih, selalu waspada dan hati-hati dari maksiat dan kesesatan. Bila demikian, akan terbuka baginya rahasia dan cahaya Al Qur’an. Sebab cahaya Al Qur’an hanya tertuang pada hati yang penuh takwa (lihat fi dzilail Qur’an, oleh Sayyad Qurthub, vol. 1, h.39)

                Dari sini nampak bertemu antara tujuan puasa dan keharusan memahami Al Qur’an. Bila puasa Ramadhan bertujuan untuk membangun pribadi takwa (laallakum tattaquun), dan Al Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan hanya bisa menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Maka tidak ada pilihan bagi siapapun yang masuk ke dalam bulan Ramadhan kecuali ia harus berusaha menjadi pribadi Qur’ani yang menyandang sifat takwa. Sebab hanya pribadi takwa inilah yang sangat Allah muliakan: inna akramakum indallahi atqaakum. (QS. Al Hujurat, 49:13) Dan hanya untuk mereka yang bertakwalah surga dipersiapkan uiddat lilmuttaqiin. (QS. Al Imran, 3:133).

TUGAS AKTIFIS DAKWAH

                Penggalan lebih lanjut dari ayat di atas, menerangkan bahwa Al Qur’an mengandung penjelasan yang mutlak kebenarannya, petunjuk yang harus diikuti, dan pembeda antara alhaq dan al bathil (wabayyinatin minal hudaa wal furqaan). Untuk menerangkan hakikat ini dibutuhkan pribadi-pribadi takwa. Sebab selain pribadi takwa tidak akan pernah mampu mengemban amanah ini. Suatu hari Umar pernah bertanya kepada Ubay bin Kaab mengenai apa itu takwa: Ubay menjawab pernahkah kau wahai Umar melewati jalanan yang sempit berduri? Pernah, kata Umar. Apa yang kau lakukan saat itu? Tanya Ubay. Umar menjawab: saya berhati-hati (jangan sampai duri itu menusuki tubuhku). Ubay menjawab: itulah takwa (lihat tafsir Ibn Katsir, vol.1, hal 64).

Pribadi takwa adalah pribadi yang selalu hati-hati dari berbagai kemaksiatan seperti ia hati-hati dari duri yang harus ia lewati. Ibarat dari kemaksiatan memang akan selalu menusuk dan merusak tubuh pelakunya.seorang aktifis dakwah adalah pribadi yang harus mempunyai kesadaran takwa seperti ini. Bila tidak, dakwah yang ia serukan akan menjadi sekedar nama, tanpa ruh. Dakwah bukan semata menyampaikan, melainkan lebih dari itu ia harus memulai dari dirinya sendiri.

                Seorang da’i yang tidak memulai dari dirinya akan terpukul dengan ayat: kabura maqtan inddallahi antaquuluu maalaa taf’aluun (QS. Ghafir, 40:35). Karena itu seorang aktifis dakwah harus mempunyai sifat takwa kepada Allah.

                Bila ini benar-benar ia jalankan, maka Ramadhan nantinya akan menjadi titik tolak (munthalaq) menuju langkah-langkah yang leih strategis, sehingga dakwah yang selama ini ia lakukan akan menyebar secara luas.

                Wallahu alam bishshawab.

About Post Author