<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ruhani &#8211; Dr. Amir Faishol Fath</title>
	<atom:link href="https://amirfath.com/tag/ruhani/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://amirfath.com</link>
	<description>Pakar Tafsir Al-Quran &#38; CEO Fath Institute</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Dec 2020 04:57:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.3</generator>
	<item>
		<title>Kiat-kiat Pengokoh Ruhani</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/07/kiat-kiat-pengokoh-ruhani/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2020 11:25:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pengokoh ruhani]]></category>
		<category><![CDATA[ruhani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1401</guid>

					<description><![CDATA[Kiat-kiat Pengokoh Ruhani amirfath.com, Artikel (11), Nov 2020 &#8211; “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Kiat-kiat Pengokoh Ruhani</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel (11), Nov 2020 &#8211;</span></strong> <em>“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,(ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. “(QS. Al Mu’minuun 1-11).</em></p>



<p>Allah swt di pembukaan surat Al Mu’minuun ini menyebutkan beberapa kiat menuju kebahagiaan. Kata qad aflaha artinya pasti bahagia dan sukses orang-orang yang memenuhi kriteria yang Allah sebutkan dalam ayat di atas. Bila Allah yang menegaskannya, berarti semua kiat tersebut mutlak kebenarannya. Tidak perlu diragukan lagi, dan tidak perlu mencari-cari jalan lain yang belum pasti. Allah Sang Pencipta, Dialah yang mengetahui seluk beluk dan tabi’at makhluk-Nya. Maka Dialah yang paling berhak diikuti petunjukNya. Maka tidak ada pilihan bagi siapapun untuk menghindari dari petunjuk Allah. Siapa yang ikut tuntunanNya pasti bahagia, dan siapa yang menjauhi tuntunanNya pasti celaka.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lebih-lebih bagi pejuang dakwah di jalan Allah. Sebab merekalah yang harus menjadi contoh bagi yang lain. Bila mereka kokoh ruhani, maka para mad’unya akan mengikutinya. Sebaliknya bila mereka lemah ruhani, otomatis sang mad’u akan kehilangan panutan. Perhatikan betapa para pejuang dakwah adalah tameng utama penyelamat umat manusia. Tegak tidaknya kemanusiaan di muka bumi sangat tergantung kepada kuat tidaknya ruhani para pejuang dakwah. Dan ayat di atas adalah bekal utama untuk membangun kekuatan ruhani secara mumpuni.</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li><strong>Khusyu’ Dalam Shalat</strong></li></ol>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Allah berfirman: alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’uun. Di dalam Al Qur’an kata khusyu’ seringkali diartikan dengan makna takut. Banyak ayat yang menggambarkan bahwa kelak di hari kiamat orang-orang kafir akan khusyu’ (tunduk terhina).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam surat Al A’la: 2, : wujuhuyyawma idzin khaasyi’ah&nbsp; (Maksudnya wajah-wajah orang kafir pada hari itu tunduk terhina). Dalam surat Al Qalam: 43: khaasyi’atan abshaaruhum tarhaquhum dzillah (pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan). Ini menunjukkan bahwa hakikat khusyu’ adalah kesadaran bahwa seseorang benar-benar merasa hina dan takut&nbsp; di depan Allah. Maka shalat yang khusyu’ adalah shalat yang di dalamnya seorang hamba benar-benar sadar akan makna kehambaan dirinya di depan Allah. Bahwa dirinya tidak berdaya apa-apa, tidak pantas merasa tinggi dan sombong. Ia benar-benar merasa takut dan hina. Karenanya orang-orang yang benar khusyu’ di dunia ia tidak akan khusyu’ di akhirat. Sebaliknya orang-orang yang tidak pernah khusyu’ di dunia ia akan dibuat khusyu’ di akhirat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Orang yang shalat jumlahnya banyak, tetapi orang yang khusyu’ dalam shalatnya jumlahnya sangat sedikit. Allah swt. menekankan hakikat khusyu’ dalam ayat di atas karena pada kenyataannya memang sangat sedikit orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Karena itu kita sering menemukan kenyataan bahwa banyak orang yang shalat, sementara dalam hidupnya penuh dengan kemaksiatan kepada Allah. Mengapa? Karena ia tidak khusyu’ dalam shalatnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah berfirman: innashalaata tanha ‘anii fahsyaai wal munkar (Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar) (QS. Al Ankabut: 45). Ini suatu jaminan dari Allah bahwa orang yang benar-benar shalat tidak akan melakukan perbuatan keji dan munkar. Maksudnya benar-benar khusyu’ dalam shalatnya. Maka jika ternyata ada orang yang shalatnya rajin dan maksiatnya juga rajin, bisa dipastikan bahwa tidak khusyu’ dalam shalatnya.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Menjauhi Hal-hal Yang tidak ada Gunanya</strong></li></ul>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Seorang mukmin sejati, lebih-lebih seorang pejuang dakwah, ia sadar akan mahalnya waktu yang ia punya. Baginya waktu adalah kehidupan. Karenanya ia selalu mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Ia tahu bahwa kewajiban yang harus dilakukan lebih banyak dari waktu yang tersedia. Satu detik baginya sangat mahal. Karenanya ia tidak punya waktu untuk main-main. Allah berfirman: walladziina hum ‘anillaghwi mu’ridhuun. Allaghwu artinya segala hal yang tidak ada gunanya, dan ia bisa berupa perkataan dan perbuatan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Banyak orang yang selalu berbicara, tetapi, pembicaraannya tidak ada gunanya. Begitu juga banyak orang yang selalu berbuat, tetapi perbuatannya tidak ada manfaatnya. Orang seperti ini adalah model manusia yang tidak ada artinya. Bahkan wujudnya di muka bumi –meminjam istilah Ibnul Qayyim Al Jauziyah- menghilangkan keberkahan. Sebab keberadaannya bukan malah menambah kebaikan, melainkan menggrogoti kebaikan yang ada. Seorang pejuang dakwah adalah pribadi yang selalu berbuat baik dan menebar kebaikan. Seluruh hidupnya bermanfaat bukan hanya bagi dirinya tetapi lebih dari itu. Ia bermanfaat bagi orang lain.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Membayar&nbsp; Zakat</strong></li></ul>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Setiap harta yang dimiki seseorang adalah karunia Allah. Karenanya Allah memerintahkan agar setiap orang yang beriman membayar zakat. Sebab dengan zakat seseorang mencuci hartanya dari harta haram yang tanpa disengaja tercampur didalamnya dan mencuci jiwanya dari kerakusan, sifat-sifat kikir, cinta dunia. Pun dengan zakat seseorang telah melawan bisikan syetan yang setiap saat menakut-nakuti dengan kefakiran.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berapa banyak orang yang telah terjebak bisikan tersebut. Sehingga mereka tidak mau membayar zakat dengan berbagai alasan, padahal ujung-ujungnya adalah karena takut berkurang hartanya. Allah menyebutkan masalah zakat ini secara khusus dalam rangkaian ayat di atas, sebab sebenarnya semua umat Islam tahu akan kewajiban berzakat, tetapi sangat sedikit dari mereka yang benar-benar berzakat.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Menghindari Zina</strong></li></ul>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Langkah ini adalah penyucian jiwa dan spiritualitas masyarakat. Tidak akan tegak dengan kokoh masyarakat yang dibangun di atas kebebasan seks. Allah pernah menghancurkan kaum Luth alaihissalam karena mereka telah melampau batas dalam masalah seks. Mereka telah keluar dari fitrah kemanusiaan yang hakiki. Akal yang Allah berikan tidak meraka pergunakan. Akibatnya mereka terlempar jauh dari shirathal mustaqiim. Sungguh tidak sedikit dari orang-orang yang beriman, telah terjerembab ke dalam jurang kebebasan seks ini. Zaman materialisme telah menghantarkan mereka kepada pola hidup yang serba seks dan mengumbar aurat. Benar apa kata seorang pemikir seorang pemikir dari India Asy Syaiekh Abul Hasan An Nadawi bahwa semakin jahiliyah suatu kaum, ia akan semakin dekat dengan budaya telanjang dan kebebasan seks.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam ayat di atasa Allah swt. membatasi agar masalah seks ini dilakukan hanya kepada isteri dan budak-budak yang mereka miliki. Sebab dengan melampaui batas, seseorang atau suatu kaum cepat atau lambat akan terseret pada kehancuran. Sungguh masyarakat yang didalamnya hidup kebebasan seks adalah masyarakat yang kotor. Ia tidak pantas dikatakan masyarakat manusia, melainkan –dalam istilah Al Qur’an-: ulaaika kal an’aam bal hum adhallu ulaaika humul ghaafiluun (Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai) (QS. Al A’raaf: 179).</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Menjaga Amanat</strong></li></ul>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Ustadz Sayyid Quthub ketika menafsirkan ayat: walladziina hum li maanaatihim wa’ ahdihim raa’uun mengatakan bahwa amanat terbesar bagi manusia adalah amanat fitrah, di terbesar bagi manusia adalah amanat fitrah, dimana Allah telah membekali masing-masing dengan fitrah yang lurus, beriman kepada Allah dan tunduk kepadaNya. Berbagai kecelakaan telah menimpa manusia secara besar-besaran dari segala sisi: moral, sosial ekonomi, politik dan lain sebagainya adalah karena penyimpangan dari amanat ini. Akibatnya kedzaliman di sana-sini terjadi, bagaikan mata rantai yang tidak kunjung berhenti.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setiap orang yang beriman wajib menjaga amanat ini. Lebih-lebih seorang pejuang di jalan dakwah. Sebab di era komunikasi dan informasi ini kesadaran terhadap amanat ini telah tergerogoti secara habis-habisan. Sehingga banyak orang-orang Islam hanya tinggal namanya, tetapi ia tidak tahu menahu terhadap kewajibannya. Akibatnya banyak dari orang Islam yang tidak serius mengamalkan Islamnya, bahkan lebih dari itu menyerang Islam itu sendiri. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk menghancurkan Islam&nbsp; dari dalam.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Menjaga Shalat</strong></li></ul>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Shalat adalah kunci segala kebaikan. Allah berfirman: innash shalaata tanhaa ‘anil fahsyaai wal mungkar (Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar) (QS. Al Ankabuut: 45). Maka dengan shalat seseorang akan menjadi baik atau tidak. Bila shalatnya baik, maka hidupnya pasti baik. Tetapi bila shalatnya buruk, maka kehidupannya pun buruk. Lebih-lebih jika tidak shalat. Sungguh tidak mungkin bahagia seseorang yang tidak pernah shalat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ayat di atas walladziina hum ‘alaa shalaatihim yuhaafidzuun maksudnya adalah bahwa seorang yang beriman hendaknya menjaga kualitas shalatnya, jangan sampai terlambat waktunya, sebab Allah berfirman: innash shalaatihim kaanat ‘alal mu’miniina kitabam mawquuta (QS. An Nisaa’ 103). Pun jangan sampai tidak sungguh-sungguh menegakkannya (baca: asal-asalan dan tidak mengharapkan pahala dari Allah). Sungguh betapa banyak orang yang shalat asal shalat. Shalatnya sekadar formalitas saja. Mereka merasa tidak butuh shalat, bahkan shalat bagi mereka terasa beban berat yang mengganggu pekerjaan sehari-hari. Dari sinilah muncul fenomena dimana banyak orang shalat tetapi kemungkaran jalan terus.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena itu, Allah mengulang dua kali pada ayat di atas mengenai shalat. Perhatikan Allah membuka rangkaian ayat-ayat di atas dengan masalah shalat lalu menutupnya dengan shalat lagi, mengapa? Sebab dari shalat, hidup seseorang atau suatu bangsa akan ditentukan baik buruknya. Pun dari sini nampak betapa agungnya shalat dalam pembinaan iman dan akhlak mulia, artinya bahwa iman dan akhlak tidak akan terbentuk secara sempurna tanpa disempurnakan shalatnya,</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lebih jauh, perhatikan Allah menutup ayat di atas dengan surga firdaus: ulaaika humul waaritsuun. Alladziina yaritsuunal firdausa hum fiiha khaliduun. Artinya bahwa shalat sangat menentukan dalam meraih surga firdaus. Maka bila shalat seseorang tidak sungguh-sungguh, jangan di harap ia akan mendapatkan surga firdaus. Wallahu a’lam bishshawab.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F07%2Fkiat-kiat-pengokoh-ruhani%2F&amp;linkname=Kiat-kiat%20Pengokoh%20Ruhani" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F07%2Fkiat-kiat-pengokoh-ruhani%2F&amp;linkname=Kiat-kiat%20Pengokoh%20Ruhani" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F07%2Fkiat-kiat-pengokoh-ruhani%2F&amp;linkname=Kiat-kiat%20Pengokoh%20Ruhani" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F07%2Fkiat-kiat-pengokoh-ruhani%2F&amp;linkname=Kiat-kiat%20Pengokoh%20Ruhani" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 14/52 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/18 queries in 0.077 seconds using Redis

Served from: amirfath.com @ 2025-09-05 16:56:11 by W3 Total Cache
-->