<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>beramal &#8211; Dr. Amir Faishol Fath</title>
	<atom:link href="https://amirfath.com/tag/beramal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://amirfath.com</link>
	<description>Pakar Tafsir Al-Quran &#38; CEO Fath Institute</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Dec 2020 04:38:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.4</generator>
	<item>
		<title>Keharusan Beramal</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/11/24/keharusan-beramal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2020 05:58:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[beramal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1</guid>

					<description><![CDATA[Keharusan Beramal amirfath.com, Artikel (09), Nov 2020 &#8211; Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamuakan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. At Taubah: 105) &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Ayat ini menurut Imam Ar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Keharusan Beramal</h1>



<figure class="wp-block-image size-full is-style-default"><img decoding="async" src="http://amirfath.com/wp-content/uploads/2020/12/hati-3-578079f85eafbdc20f18ab9d.jpg" alt="" class="wp-image-1653"/></figure>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel <strong>(09), Nov 2020 &#8211;</strong></span></strong> <em>Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamuakan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”</em></p>



<p>(QS. At Taubah: 105)</p>



<p class="has-text-align-left">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ayat ini menurut Imam Ar Razi mengandung seluruh yang dibutuhkan seorang mukmin baik yang mengenai agama, dunia, kehidupan dan akhiratnya. Dari susunan kata dalam ayat tergambar dua hal: Di satu sisi nampak nada <em>targhib</em> (dorongan) bagi orang-orang yang berbuat maksiat. Maksudnya: bersungguh-sungguhlah kamu untuk berbuat sesuatu demi masa depanmu, karena segala perbuatanmu akan mendapatkan haknya di dunia maupun di akhirat. Di dunia perbuatannya tersebut akan disaksikan Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin. Jika berupa ketaatan ia akan mendapatkan pujian dan pahala yang besar di dunia dan akhirat, namun jika berupa kemaksiatan ia akan mendapatkan hinaan di dunia dan siksaan yang pedih di akhirat. (Imam Ar Razi,<em>mafatihul ghaib, </em>(Bairut,Darul fikr 1994), vol. 16, h. 192).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Syeikh Rasyid Ridla dalam tafsirnya Al Manar menerangkan makna ayat tersebut : Wahai Nabi, katakan kepada mereka bekerjalah untuk dunia, akhirat, diri dan umatmu. Karena yang akan dinilai adalah pekerjaanmu bukan alasan yang dicari-cari, pun bukan pengakuan bahwa anda telah berusaha secara maksimal. Kebaikan dunia dan akhirat pada hakikatnya tergantung pada perbuatan anda, Allah mengetahui sekecil apapun menyaksikan apa yang kita lakukan dari kebaikan maupun keburukan, karenanya kita harus senantiasa&nbsp; waspada akan kesaksian Allah, baik itu berupa amal maupun berupa niat, tidak ada yang terlewatkan, semuanya nampak bagiNya. Oleh sebab itu kita harus seantiasa menyempurnakannya (itqan), ikhlash, dan mengikuti petunjukNya dalam menjalankan ketaatan sekecil apapun (lihat, Rasyid Ridla, Tafsir Al Manar, (tanpa tahun) vol. 11, h.33).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada intinya ayat di atas menegaskan pentingnya beramal. Bahwa yang akan menjadi tolak ukur keselamatan seseorang didunia maupun di akhirat bukan semata konsep yang ia hapal melainkan sejauh mana ia mampu mengamalkan teori yang telah diketahuinya. Al Qur’an malah mengecam seorang yang pandai ngomong tapi tidak mengerjakannya (lihat QS. 61: 2-3). Rasulullah SAW bukanlah sosok yang hanya pandai memberi nasihat, melainkan seluruh amalnya merupakan nasihat. Siti Aisyah ketika ditanya bagaimana akhlak Rasulullah SAW. Ia menjawab bahwa akhlaknya adalah Al Qur’an. (HR. Ahmad, no,216).</p>



<p><strong>Amal Sebagai Inti Keimanan</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kalimat <em>wa quli’malu </em>adalah perintah, yang berarti keharusan untuk beramal. Akidah tanpa amal akan menjadi kering, karena amal bagi akidah ibarat air bagi sebuah pohon. Pernyataan para ulama bahwa iman naik turun (<em>yaziidu wayanqus</em>) maksudnya ia naik dengan amal shaleh dan turun dengan kemaksiatan. Dalam diri seseorang cerminan akidahnya adalah amal yang ia lakukan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang selalu menggabung antara iman dan amal: “<em>Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dala kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” </em>&nbsp;(QS. 103:2-3, lihat juga QS. 2:62, 5:69).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam Surat Al Mu’minun, Allah menyebutkan tanda-tanda seorang yang beriman dengan amalnya: “<em>Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, kecual iterhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, serta memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang mewarisi” </em>&nbsp;(QS. 23:1-10).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rasulullah SAW. Seringkali menyebutkan tanda-tanda keimanan dengan amal: Anas RA. Meriwayatkan Rasulullah bersabda: Seorang tidak disebut beriman&nbsp; sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari, no.13). Imam Bukhari dalam buku Shahihnya menulis judul khusus: <em>Bab man qaala innal iman huwal amal </em>(orang yang mengatakan iman adalah amal), di dalamnya ia menyebutkan ayat: (QS. 43:72), dan hadits riwayat Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah SAW. Pernah ditanya, perbuatan apa yang paling utama: Beliau berkata: Iman kepada Allah dan RasulNya, kemudian apa? Haji mabrur (HR. Bukhari, no.26).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika menjelaskan mengenai bagaimana seharusnya seorang muslim, Rasulullah tidak hanya menggambarkan hal-hal yang berkenaan dengan ibadah mahdlah (ritual), melainkan banyak hal yang berkaitan langsung dengan amal sosial: Ibn Amr meriwayatkan Rasulullah SAW. Bersabda: Seorang muslim adalah yang tidak pernah menyakiti orang muslim lainnya dengan lidah dan tangannya, dan seorang muhajir adalah yang hijrah dari larangan Allah SWT. (HR Bukhari,no. 10).Dalam sebuah peristiwa diceritakan bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai apa yang terbaik dalam ber-Islam? Rasulullah menjawab: Kau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang lain, baik kamu kenal maupun tidak (HR Bukhari, no. 12).</p>



<p><strong>Amal Sebagai Bukti Kepribadian</strong></p>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Pada kalimat berikutnya Allah berfirman: fasayarallahu ‘amalakum, tidak ada sekecil apapun dari yang kita lakukan kecuali akan mendapatkan balasannya. Tidak ada kata yang terucap dari lidah, kecuali terekam secara lengkap: <em>mayalfidzu minqaulin illa ladaihi raqibun atiid </em>(QS.). Lebih kecil dari atom pun amal kita akan tetepmenjadi kredit poin dari perjalanan hidup kita. Bila perbuatan itu baik, simpanan amal baik kita di akhirat akan bertambah, dan bila perbuatan kita jelek, simpanan amal kita kan jelek. <em>Famayya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah, wamayya’mal mistqaala dzarratin syarrayyarah</em>. Jadi pribadi kita hanya ditentukan oleh kedua pilihan ini: Bila kita salah memilih kita akan sengsara selama-lamanya. Tapi bila pilihan kita benar, kita akan selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Itulah makna do’a yang selalu kita panjatkan: “<em>rabbana aatina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar</em>”(QS. 2:201).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dengan menyadari hakikat ini, bila kita melakukan kebaikan, kita tidak akan risau,sekalipun tidak ada orang yang memuji kita. Bagi kita berbuat baik adalah cicilan membangun kebahagiaan akhirat. Apapun bentuk kebaikan tersebut. Kecil maupun besar, nampak hina di mata manusia atau tidak, dalam kesunyian maupun di tengah keramaian, menghasilkan uang atau tidak. Pribadi kita slalu nampak istiqamah, tidak beerwarna-warni. Popularitas bukan ukuran, karena hakikat <em>fasayarallah amalakum </em>telah terpatri sedemikian kuat dalam keyakinan kita. Bila jalan ini yang kita pilih, kita kan slalu produktif. Simpanan pahala kita akan selalu bertambah. Dan hidup kita akan selalu tenang, karena tabiat pahala tidak akan pernah mengantarkan kita kecuali kepada ketenangan hidup. Dari sisi ini nampak apa yang dikatakan Imam Ar Razi. Bahwa ayat ini merupakan <em>taghriib</em> (pendorong) bagi orang-orang yang taat kepada Allah untuk senantiasa beramal dan terus beramal .</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun bila kita melakukan keburukan, Allah juga akan menyaksikannya <em>fasayarallahu amalakum. </em>Perlu digaris bawahi di sini bahwa keburukan dalam terminologi Islam tidak hanya identik dengan perzinaan, mabuk-mabukkan, pencurian, korupsi, dan lain sebaginya. Melainkan wudhu’ kita yang tidak sempurna, shalat yang asal-asalan itu juga kemaksiatan. Di hari kiamat kaki yang tidak dibasuh secara lengkap ketika berwudhu’ akan masuk neraka (HR Bukhari, no. 165). Shalat yang tidak sempurna bacaan dan gerakannya, tidak dianggap shalat. Rasulullah SAW.&nbsp; pernah menyuruh sahabatnya untuk shalat lagi karena sebagian gerakannya tidak sempurna (HR. Bukhari, no. 757). Dalam berdakwahpun jika kita tidak melakukannya dengan penuh kesungguhan (baca: asal-asalan) itu juga kemaksiatan. Mengapa kita berbuat untuk Allah asal-asalan. Perhatikan, Allah senantiasa mengingatkan dalam Al Qur’an bahwa tidak ada di bumi dan langit dari ciptaanNya yang main-main. Semua Allah tegakkan dengan penuh kesempurnaan: Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu&nbsp; cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah(QS. 67:3-4). Dari sini nampak bahwa ayat ini mengandung <em>tarhiib</em> (ancaman) bagi orang-orang yang tidak mentaati Allah sebagaimana mestinya.Az Zamakhsyari berkata: ayat ini merupakan ancaman sekaligus peringatan akan akibat yang harus mereka jalani jika terus menerus bergelimang dalam kemaksiatan (lihat Az Zamakhsyari, al kasysyaaf (Mansyratul balaghah) vol. 2, h.308).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu mengapa Allah menambahkan setelahnya kalimat <em>Warasulu wal mu’minun? </em>Bukankah sudah cukup dengan kesaksian Allah? Imam Ar Razi mengutip jawaban Abu Muslim bahwa Rasulullah dan orang-orang mukmin adalah saksi yang Allah pilih. <em>Wakadzalika jaalnakum ummatan wasathan </em>(QS. 2:143).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam ayat lain: <em>fakaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahiidin wji’na bika alaa haaulaai syahiida </em>(QS. 4:41) (lihat. Imam Ar Razi, mafatiihul ghaib: vol. 16, h.194). dalam riwayat Anas RA.&nbsp; Diceritakan: Pernah suatu hari sebuah jenazah dibawa melewati sekelompok para sahabat Rasulullah SAW, mereka itu menyebutkan kebaikan si mayyit, Nabi menjawab: wajib. Setelah itu mayyit yang lain lagi dibawa, para sahabat yang melihatnya tidak memujinya, bahkan penilaiannya tidak baik, Nabi menjawab: wajib. Umar lalu bertanya: Apa maksud dari pernyataan wajib yang diucapkan Nabi? Nabi menjawab: Mayyit pertama yang kamu sebut kebaikannya wajib masuk surga, sementara mayyit kedua yang kamu sebut keburukannya wajib masuk neraka. Kamu semua adalah saksi Allah dibumi (HR. Bukhari, no, 181, Muslim, no. 949).</p>



<p><strong>Ikhlash Dasar Segala Amal</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kalimat berikutnya berbunyi : <em>Wasaturadduuna ilaa ‘aalimil ghaib wasy syahadah, </em>Ibn Abbas mengatakan, <em>al ghaib </em>yang dirahasiakan, dikerjakan secara sembunyi-sembunyi, dan <em>asy syahadah</em> yang dikerjakan secara terang-terangan. Imam Ar Razi berkata: <em>al ghaib</em> bisa dimaksudkan segala yang terdetik dalam hati berupa niat baik atau buruk, dan<em> asy syahadah </em>adalah segala perbuatan yang diragakan (lihat Imam Ar Razi, <em>mafaatihul ghaib, </em>vol. 16 h.194). dari sini nampak bahwa setiap perbuatan harus senantiasa serasi antara niat dan tingkah laku. Hilangnya keserasian ini akan melahirkan ketimpangan, kalau tidak dikatakan sia-sia sama sekali. Bila direnungkan secara mendalam panduan utuh antara <em>fasayaraallahu amalakum, wasaturadduuna ilaa ‘aalimilghaibi wasy syahadah </em>maka akan tergambar bahwa niat sebagai pengantar setiap perbuatan harus karena Allah dan untuk semata mencapai ridlaNya, karena Dialah yang akan menilainya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dengan demikian nampak bahwa setiap perbuatan terdiri dari dua unsur: niat yang mengantarkan dan perbuatan yang diragakan. Niat saja tidak cukup melainkan harus tercermin dalam perbuatan. Perbuatan pun harus sesuai dengan petunjukNya bukan karangan akal sendiri. Perbuatan apa pun yang tidak sesuai dengan petunjukNya (baca: kemaksiatan) sekalipun dihantarkan dengan niat yang ikhlash juga tidak akan diterima di sisiNya. Sebaliknya perbuatan yang benar-benar syariah, tapi niat yang menghantarkannya tidak ikhlash juga akan menggiring pada kecelakaan. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyebutkan tiga orang yang bersama-sama melakukan perbuatan baik secara dzahir,tetepi karena niatnya salah akhirnya ketiga-tiganya sama-sama masuk neraka: pertama seorang berperang di jalan Allah dengan niat supaya dibilang pemberani, kedua, seorang mengajarkan Al Qur’an supaya dibilang alim, ketiga, seorang menginfakkan hartanya supaya dibilang dermawan (lihat Sahih Muslim, no. 1514). Ustadz Sayid Quthub mengatakan: Islam adalah manhaj yang realistis,gelora niat dan semangat tidak akan berdampak apa-apa sepanjang tidak diterjemahkan dalam gerakan nyata,memang diakui bahwa niat yang baik mempunyai posisi tertentu dalam Islam, tetapi niat saja belum cukup untuk membangun pahala, sebab ia akan dihitung setelah tercermin dalam bentuk perbuatan, begiti perbuatan muncul di sini peranan niat menentukan kwalitasnya, inilah makna hadits: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantujng niatnya” perhatikan dalam hadits ini perbuatan digabung dengan niat bukan niat saja. (Sayid Quthub, fii dzilail Qur’an, (Bairut, Darusy syuruq, 1985),vol. 3, h.1709).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keikhlashan (<em>sihhatun niyah</em>) dan benarnya perbuatan (<em>sihhatul amal</em>) adalah inti utama yang sangat menentukan. Keduanya adalah cerminan dari seluruh rangkaian kata dan kalimat dalam ayat di atas. Ibarat dua sayap bagi seekor burung ikhlash dan kebenaran amal akan mengantarkan pelakunya kepada tujuan yang didambakan. Sudah barang tentu seekor burung tidak akan bisa terbang hanya dengan satu sayap. Perhatikan bagaimana Allah mengencam seorang yang tidak shalat, padahal shalat adalah ibadah yang sangat mulia dan utama dalam Islam hanya karena niatnya salah, Allah berfirman: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan)barang berguna (QS. 107: 4-7).</p>



<p><strong>Amal Yang Terus Menerus</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kalimat demi kalimat dari ayat di atas, bila dipahami secara utuh dan benar akan melahirkan sikap sebagai berikut:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Kesadaran akan makna hidup yang Allah jatahkan hanya untuk beramal saleh. Bila orang mengatakan “waktu adalah uang” bagi seorang muslim “waktu adalah amal saleh”. Karena hidup akan menjadi hampa dan sia-sia bila tidak diisi dengan amal saleh.</li><li>Amal saleh maksudnya adalah amal yang dilakukan dengan niat yang ikhlas sesuai dengan petunjuk Allah dan RasulNya. Inilah prinsip yang dibangun dari ayat: fasayarallahu amalakum warasuluhu wal mukminuun.</li><li>Dari prinsip tersebut akan tercermin amal yang terus mengalir,tidak pernah berhenti, karena ia tahu tidak ada sekecil apapun dari perbuatannya kecuali terekam secara utuh dan dikembalikan kepada Allah alimul ghaibi way syahadah sesuai dengan bentuk dan kwalitasnya. Tidak ada yang tertinggal, semuanya kan mendapatkan hal yang setimpal.</li><li>Inilah makna dari ayat penutup fayunabbiukum bimaa kuntum ta’lamuun, artinya Allah tahu segala apa yang kau lakukan maka Ia akan memberikan balasan sesuai dengan haknya tidak ada yang didzalimi.</li></ul>



<p><em>Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.</em></p>



<p>(Asy syu’araa’: 132)</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F24%2Fkeharusan-beramal%2F&amp;linkname=Keharusan%20Beramal" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F24%2Fkeharusan-beramal%2F&amp;linkname=Keharusan%20Beramal" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F24%2Fkeharusan-beramal%2F&amp;linkname=Keharusan%20Beramal" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F24%2Fkeharusan-beramal%2F&amp;linkname=Keharusan%20Beramal" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 21/48 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 4/13 queries in 0.007 seconds using Redis

Served from: amirfath.com @ 2025-11-24 04:46:34 by W3 Total Cache
-->