<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>akhlak &#8211; Dr. Amir Faishol Fath</title>
	<atom:link href="https://amirfath.com/tag/akhlak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://amirfath.com</link>
	<description>Pakar Tafsir Al-Quran &#38; CEO Fath Institute</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Sep 2022 05:49:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.3</generator>
	<item>
		<title>Pendidikan Tanpa Agama, Mau ke mana ?</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/20/pendidikan-tanpa-agama-mau-ke-mana/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 04:18:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2911</guid>

					<description><![CDATA[Pendidikan Tanpa Agama, Mau ke mana ? amirfath.com, Catatan (02), Des 2021 &#8211; Allah SWT. telah mendeklarasaikan di berbagai surah dalam al-Quran bahwa Dialah pemilik mutlak alam semesta. Di antaranya surah al-Baqarah, 109 : “ lillahi ma fis samawati wa ma fil ardh”.  Karena itu Allah yang langsung mengatur kehidupan di muka bumi. Bahwa semua [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Pendidikan Tanpa Agama, Mau ke mana ?</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Catatan <strong>(02), Des 2021 &#8211; </strong></span></strong>Allah SWT. telah mendeklarasaikan di berbagai surah dalam al-Quran bahwa Dialah pemilik mutlak alam semesta. Di antaranya surah al-Baqarah, 109 : “ <em>lillahi ma fis samawati wa ma fil ardh</em>”.  Karena itu Allah yang langsung mengatur kehidupan di muka bumi. Bahwa semua kekayaan alam ini adalah milikNya dan harus digunakan sesuai dengan tuntunanNya. Itulah mengapa Allah utus nabi-nabi. Di saat yang sama Allah turunkan kitab suci. Inilah yang disebutkan agama. Bahwa semua nabi yang Allah utus pasti membawa agama, yaitu Islam. Allah berfirman : “<em>innaddiina inddallahil islam</em>” (sesungguhnya agama yang Allah akui adalah Islam).  Jumlah para nabi sangat banyak. Sebagian dari mereka Allah sebutkan nama-namanya dalam al-Quran, itulah duapuluh lima nabi yang wajib kita kenal. Sebagian yang lain banyak yang tidal Allah sebutkan. “<em>minhum man qashshna alaika wa minhum man lam naqshushhum alaika</em>” (Sebagian dari para nabi itu ada yang Kami ceritakan dan Sebagian yang lain ada yang tidak Kami ceritakan) (QS. Ghafir : 74). Dalam hadits sahih Bukhari dan Muslim tentang peristiwa isra miraj, disebutkan bahwa jumlah para Nabi sebanyak seratus duapuluh empat ribu nabi dan tiga ratus lima belas rasul. Ini bukti bahwa Allah sendiri ingin pengelolaan alam semesta dan kehidupan manusia berdasarkan panduan agama yang Allah turunkan. Juga, secara fitrah manusia memang tidak akan bisa melepsakan diri dari agama. Sejak masih dalam kandungan sang ibu Allah sudah pastikan bahwa janin yang akan lahir membawa kayakinan kepada Allah SWT. Dalam surah al-Araf, 172, Allah berfirman kepada janin : <em>alastu birabbikum qaluu balaa</em> (bukankah Aku Tuhanmu, Janin menjawab : benar Engkau Tuhanku). Maka, adalah penyimpangan ketika ada manusia di muka bumi merasa dirinya tidak butuh agama. Apalagi menganggapa agama adalah ancaman.</p>



<p>Menarik di sini untuk menelusuri sejauh mana sebuah negara muncul karena semangat agama. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi intelektual muda Islam dalam artikelnya memastikan bahwa berdirinya sebuah negara tidak bisa dilepaskan dari para intelektual (ulama). Hamid, mengutip pernyataan Zia ul Haq Presiden Pakistan (1977-1989) yang mengakui hakikat tersebut. Pakistan sebagai negara merdeka dari India adalah karena sederet nama inteletual dan ulama seperti Mohammad Iqbal, Abul Ala al-Maududi, Amir Ali, SIR Syed Ahmad Khan dan sebagainya. Begitu juga sebelum Pakistan merdeka negara India ada karena para intektual negeri itu, yaitu Mahatma Ghandi, Rabindranat Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lainnya. Termasuk juga kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari para intektual dan ulama negeri ini seperti : Soekarno, Mohammad Hatta, Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Agus Salim, KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantoro, M. Natsir dan sejumlah ulama lainnya. Itulah mengapa dalam pembukaan UUD 45, dinyatakan pengakuan yang penuh nuansa agama yaitu bahwa kemerdekaan ini adalah berkat rahmat Allah SWT. Dan karena itu pula dalam &nbsp;UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 31 ayat 3, tentang pendidikan berbunyi : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem Pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.</p>



<p>Berdasarkan undang-undang tersebut jelas bahwa pendidikan agama adalah ruh sistem pendidikan negeri ini. Tidak bisa serta-merta sebuah kebijkan sebuah rezim lalu menolak amanah undang-undang tersebut. Bagimanapun para pendiri bangsa telah jauh memikirkan masa depan yang harus dijalani bangsa Indonesia ini. Mareka tahu bahwa tidak cukup bangsa ini hanya mempunyai keahlian dan kepintaran. Semenetara mereka tidak cerdas dan tidak bermoral. Perhatikan kara “mencerdaskan” dalam undang-undang di atas. Dalam surah Ali Imran 190-191, Allah SWT. menyebutkan manusia cerdas dengan istilah “<em>ulul albab</em>”, :<em> wama yadzdzakkaru illa ulul albab</em> (hanya ulul albab yang bisa mengambil peringatan). Lalu Allah menjelaskan bahwa manusia cerdas itu adalah yang selalu berzikir kepada Allah, baik dalam kadaan berdiri, duduk dan berbaring. Juga selalu betafakkur atas bukti-bukti kebesaran Allah SWT. di alam semesta. Bukankah tujuan pendidikan sebagaimana diamanhkan undang-undang di atas adalah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Inilah definisi cerdas menurut Al Quran. Dalam hadist nabi bersabda tentang orang cerdas “<em>al kayyis</em>” yaitu orang yang menundukkan hawa nafsunya dan menyiapkan amal salih untuk bekal hidup sesudah mati. Semua makna tersebut dalam Al Quran maupun dalam hadits telah diringkas dalam undang-undang dengan istilah iman, takwa dan akhlak. Tetang akhlak nabi bersabda “<em>innama buitstu liuatmmima makarimal akhlaq</em>”. (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia). &nbsp;</p>



<p>Sudah terlalu banyak keritik terhadap peta jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 yang digagas oleh Kemendikbud di mana nampak unsur agama dikesampingkan. Mau dibawa ke mana generasi bangsa ini tanpa agama? Allah memastikan bahwa manusia tanpa agama akan jadi seperti binatang : mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-Araf 179). Boleh jadi undang-undang Pendidikan tersebut digagas karena tuduhan bahwa agama sebagai sumber konflik. Justru manusia tanpa agama akan semakin tidak terkontrol. Saya melihat bahwa tuduhan yang selama ini digaungkan terhadap Islam dengan segala bentuk label stigmatisasi berupa terorisme, radikalisme, anarkisme dan sebagainya itu hanyalah kerasi politik akibat kesalahpahaman sebagain kecil oknom.&nbsp; Padahal sebenarnya ketika seorang muallaf misalnya masuk Islam lalu mengamalkan ajaran Islam dengan benar, ia pasti akan mengakui semua tuduhan itu tidak ada. Justru mereka menemukan kedamain dan kabahagiaan dalam Islam. Anehnya banyak orang yang mengaku muslim tidak mau melakukan pembelaan melainkan malah terjebak dalam stigematisasi tersebut. Sebaiknya saatnya Indonesia sebagai negeri umat Islam terbesar didunia menampilkan pribadi keislaman yang sebenarnya. Bukan malah menghilangkan unsur agama dalam peta pendidikan. Inilah Langkah yang salama ini terabaikan. Wallahu a’lam bishsshawab.</p>



<p> </p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fpendidikan-tanpa-agama-mau-ke-mana%2F&amp;linkname=Pendidikan%20Tanpa%20Agama%2C%20Mau%20ke%20mana%20%3F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fpendidikan-tanpa-agama-mau-ke-mana%2F&amp;linkname=Pendidikan%20Tanpa%20Agama%2C%20Mau%20ke%20mana%20%3F" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fpendidikan-tanpa-agama-mau-ke-mana%2F&amp;linkname=Pendidikan%20Tanpa%20Agama%2C%20Mau%20ke%20mana%20%3F" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fpendidikan-tanpa-agama-mau-ke-mana%2F&amp;linkname=Pendidikan%20Tanpa%20Agama%2C%20Mau%20ke%20mana%20%3F" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Miras</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/20/miras/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 04:11:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2908</guid>

					<description><![CDATA[Miras amirfath.com, Opini (33), Des 2021 &#8211; Miras singkatan dari minuman keras. Dikatakan keras karena dengannya seorang bisa hilang akal (mabok). Namanya banyak, bisa dikatakan minuman berlkohol atau khamer. Dalam Al-Quran minuman keras ini disebut khomer, dimbil dari kata khamara. Para ulama mengatakan ketika menjelaskan diharamkannya khamer “liannahuu khamaral aql” ( karena itu menghilangkan akal). [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Miras</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(33), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong> Miras singkatan dari minuman keras. Dikatakan keras karena dengannya seorang bisa hilang akal (mabok). Namanya banyak, bisa dikatakan minuman berlkohol atau khamer. Dalam Al-Quran minuman keras ini disebut <em>khomer</em>, dimbil dari kata <em>khamara</em>. Para ulama mengatakan ketika menjelaskan diharamkannya khamer “<em>liannahuu khamaral aql</em>” ( karena itu menghilangkan akal). Ada tiga ayat dalam Al Quran tentang miras masing-masing menegaskan kaidah penting : Pertama, surah al-Baqarah: 219, Allah berfirman :&nbsp; Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: &#8220;Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya&#8221;. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: &#8220;Yang lebih dari keperluan&#8221;. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. Dari ayat ini ada kaidah “dosa melegalkan miras lebih besar dari pada manfaatnya”. Dalam kata dosa ada makna <em>madaharat</em> (bahaya). Artinya sekalipun dari segi pemasukan menguntungkan tetapi kerusakan yang akan diakibatkan lebih besar dari keuntungan yang didapat. Boleh jadi karena miras jumlah pembunuhan semakin banyak, ini kerugian jiwa yang tidak bisa ditebus hanya dengan keuntungan materi. Atau rusaknya genearsi ke depan dengan merajalelanya miras, di mana mereka akan banyak melakukan tindakan yang membahayakan seperti perzinaan yang akan menyebabkan kehamilan di laur nikah, kekerasan yang dengannya banyak korban. Ini akan menambah beban biaya rumah sakit yang juga harus ditanggung oleh negara. Lebih dari itu dengan miras kecerdasan genarasi bangsa akan melemah, sehingga kelak akan lahir generasi yang bodoh. Akibatnya negara mudah diserahkan kepada penjajah. Ini kerugian yang lebih parah di mana tujuan dilegalkan miras untuk mengentaskan ekonomi malah negara secara keseluruhan menjadi ludes diserahkan kepada penjajah. Contoh dulu di masa jahiliah, <em>Darun Nadwah</em> sebagai pusat pemerintahan Quraisy yang paling bergengsi (kalau sekarang disebut parlemen) itu dijual dalam keadaan mabok hanya dengan sebotol khamer. Baru tahu bahwa pusat kekuasaan itu sudah pindah setelah sadar. Ya tidak mustahil di tengah generasi pemabok negara akan dijual dengan hanya segelas miras.</p>



<p>Kedua, surah al-Maidah : 90, Allah berfirman : &nbsp;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Dari ayat ini jelas ada kaidah “ khamer (miras) adalah najis dan termasuk perbuatan setan”. Jika miras merupakan perbuatan setan, tentu akal sehat menolaknya dalam bentuk apapun. Sebab setiap perbuatan setan pasti akan mencelakakan. Bukankah kita manusia yang dibekali akal oleh Allah SWT. Di antara tujuan syariat “<em>maqashidu al-syariah</em>” adalah untuk menjaga akal. Dengan miras gerakan hilang akal akan menyebar. Bila manusia bangsa ini hilang akal maka yang akan bekerja bukan manusia tetapi binatang yang berupa manusia. Inilah yang kata Allah “<em>ulaaika kal an’am balhum adhal </em>“ (mereka menjadi seperti binatang bahkan lebih sesat lagi). Benar, dengan hilangnya akal manusia tidak saja berperilaku seperti binatang melainkan akan malakukan tindakan yang melebihi binatang. Misalnya, belum pernah dalam dunia binatang ada pernikahan sesama jenis, tetapi kenyataannya dalam hidup manusia banyak yang menikah sesama jenis. Artinya dengan miras kerugian negara tidak saja berupa meterial melainkan juga kerugian kemanusiaan.</p>



<p>Ketiga, surah al Maidah : 91, Allah berfirman : &nbsp;Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dari ayat ini ada kaidah bahwa “tujuan setan memilih jalan miras adalah untuk membangun permusuhan antara manusia”. Artinya tidak ada setan yang bermaksud baik melainkan kerusakan. Kata “<em>yuridu</em>” berbetuk mudhare’ yang mengandung makna terus menerus berkehendak. Maka selama manusia di negeri tersebut pemabok selama itu pula setan mempermainkannya. Dalam ilmu tafsir kata <em>yuridu</em> disebut <em>takhshishul mumkin </em>(kehendak khusus untuk yang mungkin bisa dilakukan). Ini menunjukkan bahwa sebenarnya setan tidak mampu memaksa manusia melakukan dosa minum miras. Sebab kemampuan setan hanya berbisik “<em>alladzi yuwaswisu fii shudurinnas</em>”. Itu akan terjadi ketika manusia menyambut bisikan itu dengan menfasilitisi dan melegalkannya dalam bentuk undang-undang serta membebaskan siapa saja untuk mengkonsumsi miras di mana-mana. Dari sini secara bertahap manusia akan hilang akalnya. Ketika manusia hilang akal, maka segala kemungkinan kejahatan bisa terjadi termasuk melakukan permusuhan satu sama lain, sampai ke tingkat saling membunuh. Bila permusuhan seperti ini terjadi di sebuah negeri berapa kerugian yang harus ditanggung negara. Bukan untung yang didapat maliankan malah buntung. (wallahu alam bishshawab). &nbsp;&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmiras%2F&amp;linkname=Miras" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmiras%2F&amp;linkname=Miras" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmiras%2F&amp;linkname=Miras" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmiras%2F&amp;linkname=Miras" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelamatkan Demokrasi Indonesia</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/20/menyelamatkan-demokrasi-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 04:01:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2905</guid>

					<description><![CDATA[Menyelamatkan Demokrasi Indonesia amirfath.com, Opini (32), Des 2021 &#8211; Kata demokrasi selalu kita dengar setiap saat. Intinya bahwa negeri ini harus dikelola sesuai dengan keinginan rakyat. Bahwa rakyat ingin aman, damai dan sejahtera, itu pasti. Tugas pemimpin bukan sibuk dengan hawa nafsunya sendiri melainkan harus memikirkan bagiamana supaya rakyat cerdas dan sejahtera. Semakin rakyat cerdas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Menyelamatkan Demokrasi Indonesia</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(32), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong> Kata demokrasi selalu kita dengar setiap saat. Intinya bahwa negeri ini harus dikelola sesuai dengan keinginan rakyat. Bahwa rakyat ingin aman, damai dan sejahtera, itu pasti. Tugas pemimpin bukan sibuk dengan hawa nafsunya sendiri melainkan harus memikirkan bagiamana supaya rakyat cerdas dan sejahtera. Semakin rakyat cerdas dan sejahtera semakin sebuah negara menjadi <em>gemah ripah loh jinawi tata tentram kerta raharja</em>. Tidak ada negara di manapun yang dibangun untuk membuat rakyatnya sengsara. Ketika kata demokrasi dicetuskan pertama kali di Athena Yunai pada abada ke 5 SM, itu tidak lain untuk kepentingan rakyat. Bahwa rakyatlah pemilik negara bukan penguasa. Bahwa dipilihnya wakil rakyat sebagai petugas negara bukan untuk berkuasa melainkan untuk melayani rakyat. Karena itu muncul dalam pepatah Arab “<em>raisul qaum khadimuhum</em>” (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Kata <em>khadim</em> sebenarnya sangat tepat disadari oleh setiap pemimpin. Sebab dengan kesadaran fungsional sebagai “<em>khadim</em>” akan tertanam dalam dirinya sikap berkhidmah bukan sikap sombong merasa berkuasa.</p>



<p>Kesadaran <em>khidmah</em> nampak sekali pada kepemimpinan Islam pertama yang dicontohkan Rasulullah SAW. dan dilanjutkan oleh para <em>khulafaur rasyidin</em>.&nbsp; Nabi SAW. hadir di kota Madinah bukan saja sebagai nabi melainkan juga sebagai pemimpin. Keberagaman masyarakat Madinah yang terdiri dari berbagai suku dan agama sangat nabi sadari sejak dini. Karena itu dibuatlah piagam Madinah sebagai konsitusi hidup bermasyarakat. Sebagai pemimpin, nabi tidak menampilkan diri layaknya seorang raja atau penguasa, melainkan hadir di tengah mereka sebagai solusi semua permasalahan rakyatanya. Pernah suatu hari Nabi keliling di pasar di kota Madinah. Nabi menemukan banyak penipuan di antaranya barang yang rusak disembunyikan dalam tumpukan barang yang baik. Selain itu ketidak jujuran dalam timbangan. Di sini Allah turunkan surah al-Muthaffifin yang di dalamnya ada ancaman neraka bagi para penipu. Ini contoh bagaimana hadirnya seorang pemimpin untuk memberikan solusi bukan menambah beban bagi rakyat. Setelah Nabi wafat baru diketahui bahwa semasa hidunya setiap pagi Nabi selalu membantu seorang Yahudi yang buta dengan memberikan makan secara langsung. Ini contoh bahwa seorang pemimpin pelayan rakyat.</p>



<p>Abu Bakar al-Shidiq sebagai khalifah pertama telah mengikuti jejak Nabi. Begitu dibaiat jadi khalifah Abu Bakar langsung melanjutkan apa yang pernah Nabi kerjakan dalam melayani rakyat. &nbsp;Termasuk memberi makan kepada seorang yahudi buta tersebut. Dalam khutbah penobatannya Abu Bakar menyampaikan agar diluruskan jika ada perbuatan yang menyimpang dari al-Quran dan al-Sunnah. Demikian juga Umar bin Khaththab yang melanjutkan tugas kepemimpinan setelah Abu bakar. Umar selalu memastikan bahwa tidak ada satupun dari rakyatanya yang kelaparan. Umar sampai turun tangan sendiri menggendong gandum dari Baitul Mal &nbsp;untuk seorang ibu yang kelaparan bersama anaknya di sebuah gubuk di tengah padang pasir. Umar pernah berkata pada perutnya yang berbunyi karena kelaparan, silahkan wahai perut engkau berbunyi, aku tidak akan memberimu makan sampai semua rakyatku makan. Umar mengontrol langsung melalui petugas Baitul Mal bahwa tidak ada seorangpun dari rakyatnya yang membutuhkan zakat. Inilah tugas pengabdian seorang pemimpin yang lahir dari kesadaran “pemimpin adalah pelayan rakyat”. Bila rasulullah SAW, dipilih oleh Allah sebagai Rasul, maka Abu Bakar dan Umar dipilih secara musyawarah yang dalam istilah politik sekarang disebut pemilihan secara demokratis.</p>



<p>Benarkah musyawarah sama dengan demokrasi ? Bila Kembali kepada filosofi awal lahirnya demokrasi sebenarnya masyarakat Yunani dulu memaksudkan agar rakyat bermusyawarah dalam menentukan pemimpin mereka. Terlepas dari perdebatan mengenai sejarah dan ideologi yang melatar belakangi istilah demokrasi, namun sekarang kita memahami bahwa demokrasi sebenarnya adalah musyawarah rakyat dalam memilih siapakah yang akan memimpin mereka. Kata musywarah dalam al-Quran memang diperintahkan. Allah SWT. berfirman : <em>wa amruhum syuraa bainahum </em>(hendaklah mereka bermusyawarah dalam menyelesaikan urusan mereka). Sebab dengan musyawarah akan lebih berkah. Dalam hadits Nabi SAW. bersabda : <em>ma khaaba ma istsyara</em> (tidak akan menyesal atau rugi orang yang bermusywarah). Nabi sendiri telah menjadi contoh seorang pemimpin yang paling banyak bermusyawarah. Sampai-sampai nabi dalam urusan negara kadang minta pendapat istrinya seperti yang pernah terjadi dalam perjanjian Hudaibiyah. Dari sini kita tahu mengapa para ulama dan intelektual Islam pada saat mendirikan negara Indonesia menjadikan asas musyawarah sebagai sila keempat, yaitu “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Sila inilah yang kemudian menjadi dasar demokrasi di Indonesia.&nbsp;</p>



<p>Jadi, hakikat demokrasi di Indonesia sebenarnya berangkat dari sila keempat dari dasar negara Pancasila. Maka tidak cukup dalam memaknai demokrasi yang kita gelar hanya sebatas formalitas yang identik dengan mayoritas. Demokrasi Indonesia harus dijiwai asas musyawarah, yang dipimpin oleh hikmah melalui wakil-wakil rakyat. Dalam hal ini para wakil rakyat tidak boleh hanya sibuk mewakili kepentingan peribadi atau kepentingan partainya melainkan harus benar-benar berjiwa jujur mewakili kepentingan negara. Kata hikmah dalam sila keempat tersebut maksudnya kebenaran yang murni. Dalam Al-Quran Allah SWT, menyebutkan banyak sekali kata hikmah di antaranya dalam surah al-Baqarah, 129 : bahwa tugas seorang Nabi di antaranya mengajarakan hikmah. Para ulama tafsir menyebutkan maksud kata hikmah adalah hadits Nabi. Berkali-kali kata hikmah dalam al-Quran disandingkan dengan kata “al kitab” maksudnya al-Quran. &nbsp;Berdasarkan pengertian ini jelas bahwa hikmah yang dimaksud adalah kebenaran yang tidak dicampuri sedikitpun kepentingan sesaat. Maka apapun namanya “musyawarah” atau “demokrasi” harus tetap mengutamakan kebenaran yang membawa kemsalahatan bangsa dan negara.</p>



<p>Pertanyaannya adalah mengapa demokrasi Indonesia jika memang berdasarkan sila keempat dari Pancasila, mengapa sering melahirkan kekisruhan politik. Contoh yang paling hangat akhir-akhir ini kekisruhan di Partai Demokrat, periode sebelumnya Golkar dan sebagainya? Jawabanya adalah karena demokrasi yang sedang berlangsung bukan demokrasi yang sebenarnya, seperti yang diinginkan dalam Pancasila. Melainkan demokrasi kepentingan sehingga suara rakyat dibeli dengan uang. Partai-partai politik bekerja bukan berdasarkan kepentingan rakyat melainkan kepentingan oligarki. Dari sinilah kita melihat perebutan suara akan terus berlangsung dengan segala cara yang penting tujuan tercapai seperti yang dikatakan Macheaveli. Demokrasi dan musyawarah kini tidak lagi dipimpin oleh hikmah melainkan dipimpin oleh kepentingan dan hawa nafsu. Bila seperti ini wajah demokrasi kita maka tidak akan pernah mungkin melahirkan kebenaran sejati. Secara otomatis tidak akan pernah melahirkan pemimpin yang jujur dan benar-benar memikirkan keselamatan bangsa dan negara. Kekisruhan politik seperti ini dan yang selalu kita saksikan setiap pemilu atau pilkada adalah bukti bahwa kondisi demokrasi kita dalam keadaan sekarat. Saatnya para intektual dan ulama hadir untuk menyelamatkan demokrisai kita.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyelamatkan-demokrasi-indonesia%2F&amp;linkname=Menyelamatkan%20Demokrasi%20Indonesia" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyelamatkan-demokrasi-indonesia%2F&amp;linkname=Menyelamatkan%20Demokrasi%20Indonesia" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyelamatkan-demokrasi-indonesia%2F&amp;linkname=Menyelamatkan%20Demokrasi%20Indonesia" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyelamatkan-demokrasi-indonesia%2F&amp;linkname=Menyelamatkan%20Demokrasi%20Indonesia" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyadari Hakikat Kemanusiaan Kita</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/20/menyadari-hakikat-kemanusiaan-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 03:41:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2896</guid>

					<description><![CDATA[Menyadari Hakikat Kemanusiaan Kita amirfath.com, Catatan (01), Des 2021 &#8211; Saudaraku, perjalan kita menuju Allah adalah perjalan yang panjang. Banyak liku-liku di dalamnya. Kadang berupa tanjakan atau turunan terjal. Pada saat menanjak kita harus ngegas. Memang akan terasa berat tetapi jangalah sekali-kali menyerah. Juga jangalah setengah hati. Sebab ketika kita setengah hati, kita akan jatuh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Menyadari Hakikat Kemanusiaan Kita</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Catatan <strong>(01), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong> Saudaraku, perjalan kita menuju Allah adalah perjalan yang panjang. Banyak liku-liku di dalamnya. Kadang berupa tanjakan atau turunan terjal. Pada saat menanjak kita harus ngegas. Memang akan terasa berat tetapi jangalah sekali-kali menyerah. Juga jangalah setengah hati. Sebab ketika kita setengah hati, kita akan jatuh terjungkal, akibatnya fatal. Teruskan maju semaksimal kemapuan. Tidak apa-apa jika langkah kita pelan-pelan. Sebab memang seperti itu tabiat tanjakan. Allah SWT. berfirman:</p>



<p class="has-text-align-right">لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ [٨٤:١٩]</p>



<p>sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),</p>



<p>Ayat ini menunjukkan bahwa kita diciptakan secara bertahap. Penuh keterbatasan dan kekurangan. Tidak ada makhluk yang lahir dalam keadaan sempurna. Kita diproses dari air mani, menjadi nuthfah, lalu menjadi ‘alaqah, setelah itu menjadi mudghah lalu menjadi manusia. Allah SWT berfirman:</p>



<p class="has-text-align-right">&nbsp;ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ&nbsp;ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ [٢٣:١٤]</p>



<p>Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.</p>



<p>Betapa Allah telah mengurus kita. Dari tidak ada menjadi ada. Dari air mani yang hina sampai menjadi manusia. Benar, air mani itu hina. Allah mengingatkan kita tentang hal ini.<br><br></p>



<p class="has-text-align-right">أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ [٧٧:٢٠]</p>



<p>Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?</p>



<p class="has-text-align-right">&nbsp;فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ [٧٧:٢١]</p>



<p>kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim),</p>



<p>Mengapa Allah tekankah tentang air mani ini dengan sifatnya yang hina? Itu supaya kita sadar bahwa kita tidak mempunyai apa-apa, “<em>laa hawla walaa quwata illa billahil ‘aliyyil azhiim</em>” (tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah yang maha agung). Apa yang akan kita banggakan? Bukanlah kita semua dariNya? Pantaskah kita di muka bumi bersombong-sombong, merasa hebat karena secul jabatan atau harta yang kita miliki, lalu bertindak zalim dan menyakiti orang lain, padahal semua yang kita dapatkan tidak lain adalah karuniaNya. Mau ke mana kita pergi? Bukanlah kita pasti akan kembali kepadaNya?</p>



<p class="has-text-align-right">إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ [٨٨:٢٥]</p>



<p>Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,</p>



<p class="has-text-align-right">ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم [٨٨:٢٦]</p>



<p>kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.</p>



<p>Saudaraku, kita pasti akan kembali kepada Allah dan kita pasti akan dihisab. Janganlah sekali-kali melawanNya, karena kita milikNya. Tidak mungkin kita bisa menghindar dariNya. Ingat kebesaran Allah dan keagungan nikmat-nikmatNya. Bayangkan pemandangan yang sangat menakutkan kelak ketika kita dihisab. Semua yang kita perbuat sekecil apapun pasti nampak. Allah SWT. maha kuasa untuk menghadirkannya.</p>



<p class="has-text-align-right">فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ [٩٩:٧]</p>



<p>Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.</p>



<p class="has-text-align-right">&nbsp;وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ [٩٩:٨]</p>



<p>Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.</p>



<p>Kata “zarrah” artinya partikel terkecil di alam semesta ini. Jika ada wujud yang lebih kecil lagi dari atom, itulah zarrah. Artinya tidak mungkin ada dosa sekecil apapun terlewatkan begitu saja tanpa perhitunganNya. Sebagaimana juga tidak ada kebaikan sekecil apapun diabaikan tanpa ada pahalanya. Allah Maha Adil. Semua amal yang kita perbuat pasti ada balasannya baik atau buruk. Wahai saudaraku yang selama ini tenggelam dalam dosa-dosa segeralah kembali kepada Allah, mumpung masih dibuka pintu taubat. Jangan menunggu turunnya azab sehingga anda menyesal atas perbuatan yang anda lakukan.</p>



<p>Wahai saudaraku yang selama ini dalam kebaikan, jangan khawatir Allah tidak menghitung kebaikan anda. Teruskanlah beramal, seklipun tidak ada orang yang tahu. Sebab anda beramal karena Allah bukan karena manusia. Tidak ada artinya amal yang dilakukan karena manusia. Sebab manusia hanya makhluk yang tidak berdaya. Tidak perlu anda menjilat atau megambil muka pada seseorang karena kekuasaanya. Sebab siapapun yang anda anggap berkuasa itu sebenarnya lemah di hadapan Allah SWT. Masihkan anda ingat Fir’un yang dengan sombongnya mengaku tuhan. Allah merekam pernyataannya dalam Al-Quran:</p>



<p class="has-text-align-right">فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ [٧٩:٢٤]</p>



<p>(Seraya) berkata: &#8220;Akulah tuhanmu yang paling tinggi&#8221;.</p>



<p>Perhatikan makhluk yang tidak tahu diri ini. Mengaku tuhan padahal ia sendiri tidak mampu menghadapi berbagai azab dari Allah SWT. pada saat datang badai yang dahsyat berupa banjir bandang, ia tidak berdaya kecuali minta tolong kepada Nabi Musa agar minta kepada Allah supaya dicabut azab tersebut. Firun sendiri tidak bisa apa-apa. Tetapi mengapa masih banyak manusia yang menjilat ke Firun karena kepentingan pribadi dan hawa nafsunya. Padahal jelas Firun sangat lemah. Namun para pendukungnya masih saja membantunya. Demikain juga ketika datang bencana belalang yang memusnahkan pohon-pohonan yang berbuah sehingga mengalami kekurangan makanan, lalu datang katak yang jumlahnya sangat banyak memenuhi barang-barang di istananya, sehingga tidak ada benda dan ruangan di istana Firun kecuali penuh dengan katak. Setelah itu datang darah yang memenuhi air di istana. Semua air yang akan diminum atau digunakan untuk memasah mejelma jadi darah. Firun ketika itu hanya terdiam tidak berdaya. Tidak bisa berbuat apa-apa &nbsp;kecuali hanya minta tolong kepada Nabi Musa agar memohon kepada Allah supaya dibebsakan dari semua azab tersebut. Namun setelah bebas dari azab, tahukan anda apa yang diperbuat Firrun. Seketika ia berbuat ingkar dan kembali menjadi sombong. Karena itulah pada puncaknya, Allah meneggelamkannya di laut. Sungguh celaka manusia seperti Firun. Masihkan wahai sauadaku kita terpedaya dengan secuil kekayaan atau jabatan lalu kita bertindak zalim. Ini semua diceritakan dalam Al-Quran:</p>



<p class="has-text-align-right">فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُّفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُّجْرِمِينَ [٧:١٣٣]</p>



<p>Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.</p>



<p class="has-text-align-right">وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَ&nbsp;ۖ لَئِن كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ [٧:١٣٤]</p>



<p>Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: &#8220;Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu&#8221;.</p>



<p class="has-text-align-right">فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَىٰ أَجَلٍ هُم بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنكُثُونَ [٧:١٣٥]</p>



<p>Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.</p>



<p class="has-text-align-right">فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ [٧:١٣٦]</p>



<p>Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.</p>



<p>Lihatlah bagaimana Allah menenggelamkannya di lau Merah dengan sehina-hinanya. Sipakah anda dibanding dengan kekuasaan Firun? Sehebat Firun saja masih tidak berdaya, lalu anda ingin megikuti jejak Firun? Masihkan anda mendukung kezaliman seperti yang diperbuat Firun hanya untuk kepentingan sesaat? Apa yang masih akan anda harapkan dari makhluk? &nbsp;Sungguh rugi orang yang menuhankan makhluk.</p>



<p class="has-text-align-right">فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ [٨٤:٢٠]</p>



<p>Mengapa mereka tidak mau beriman?</p>



<p class="has-text-align-right">وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ [٨٤:٢١]</p>



<p>dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud,</p>



<p>Ya, kita harus beriman kepada Allah. Dialah Allah pemilik mutlak alam semesta. Semua sudah jelas dalam Al-Quran. Tundukkanlah diri anda hanya kepada Allah dan bersujudlah hanya kepadaNya. Tidak ada keselamatan kecuali hanya ikut Allah. Semua iming-iming yang dijanjikan manusia tidak lain hanyalah tipu daya agar kita terlena lalu lupa kepada Allah.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyadari-hakikat-kemanusiaan-kita%2F&amp;linkname=Menyadari%20Hakikat%20Kemanusiaan%20Kita" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyadari-hakikat-kemanusiaan-kita%2F&amp;linkname=Menyadari%20Hakikat%20Kemanusiaan%20Kita" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyadari-hakikat-kemanusiaan-kita%2F&amp;linkname=Menyadari%20Hakikat%20Kemanusiaan%20Kita" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyadari-hakikat-kemanusiaan-kita%2F&amp;linkname=Menyadari%20Hakikat%20Kemanusiaan%20Kita" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahalnya Sebuah Keadilan</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/20/mahalnya-sebuah-keadilan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 03:31:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2893</guid>

					<description><![CDATA[Mahalnya Sebuah Keadilan amirfath.com, Opini (32), Des 2021 &#8211; Banyak masalah di dunia yang sulit dibuktikan kasusnya. Padahal kasusnya jelas. Ada peristiwanya dan ada korbannya. Lalu karena pelakunya adalah pemegang kekuasaan atau mempunyai becking yang kuat, maka semua fakta dihilangkan. Setelah itu terjadi rekayasa pemutarbalikan fakta. Namun karena korban adalah pihak yang dianggap berlawanan maka [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Mahalnya Sebuah Keadilan</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(32), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong> Banyak masalah di dunia yang sulit dibuktikan kasusnya. Padahal kasusnya jelas. Ada peristiwanya dan ada korbannya. Lalu karena pelakunya adalah pemegang kekuasaan atau mempunyai becking yang kuat, maka semua fakta dihilangkan. Setelah itu terjadi rekayasa pemutarbalikan fakta. Namun karena korban adalah pihak yang dianggap berlawanan maka tidak ada kejujuran untuk menyelesaikan masalah. Lalu memberikan penjelasan bahwa kejahatan tidak terjadi. Setelah itu ia berkata bahwa jika memang ada kejahatan silahkan tunjukkan faktanya. Padahal semua fakta sudah ditutupi bahkan dihilangkan. Ibarat kawanan kambing melapor kepada singa bahwa saudaranya dimakan oleh sekelompok singa. Tentu yang terjadi buka solusi melainkan korban berikutnya. Kambing itu seketika dimakan juga. Hanya bedanya di alam manusia adalah mencari pembenaran dengan segala cara. Misalnya ia pura-pura tampil gagah dengan mengatakan kami akan tegakkan hukum jika ada buktinya, lalu pura-pura menantang dengan mengatakan silahkan cari faktanya, Jika ada kami akan tegakkan hukum seadil-adilnya. Padahal semua fakta telah dimusnahkan.</p>



<p>Inilah hukum dunia. Persoalannya bukan masalah fakta, melainkan masalah hati. Pada hakikatnya ia memang tidak mau memihak kepada kebenaran. Akibatnya ia tidak berniat untuk menyelesaikan masalah dengan seadil-adilnya. Coba katakanlah yang terkena kasus adalah anaknya sendiri, maka ia akan berusaha melakukan pembalaan dengan segala cara. Sebaliknya ketika memang niatnya untuk menjerumuskan lawan politiknya ke dalam kubangan kasus maka ia akan melakukan apa saja untuk supaya lawannya terjerat hukum. Jika tidak ada faktanya, maka dibuatlah fakta-fakta palsu. Begitulah perilaku pihak yang kuat ketika bertindak zalim. Supaya borok yang busuk itu tidak tercium maka digunakanlah segala kepintaran untuk membungkusnya. Berbagai dalih diucapkan padahal semua orang sudah tahu bahwa itu kebohongan belaka.</p>



<p>Di dunia memang sering berlaku hukum rimba, ketika tidak ada keadilan. Yang kuat makan yang lemah. Itulah mengapa Allah SWT. dalam Al-Quran selalu berbicara tentang keperkasaan diriNya. Itu supaya manusia takut kepadaNya. Namun karena tidak ada iman, atau imannya tersumbat oleh jabatan dan bayaran, akibatnya keperkesaan Allah dianggap sepele. Nasihat apapun tidak akan masuk ke dalam hatinya. Bahkan ia akan membalas dengan cemoohan. Lebih dari itu ia akan menggunakan bazer untuk melecehkan pemberi nasihat tersebut. Inilah yang kata Allah SWT. “ <em>wa idzaa khalaw ilaa syayaathinihim qaaluu innaa maakum innamaa nahnu mustahziuun</em>” (ketika mereka kembali berkumpul sesama setan mereka, mereka berkata kami tetap bersama kamu, kami hanya memperolok-olok mereka). Jadi memang sulit menyikapi manusia yang bermuka dua. Di satu sisi mereka seakan memihak kepada kebenaran di sisi lain mereka dengan terang-terangan merancang dan menggencarkan kezaliman. Ingat kezaliman itu tidak perlu ditutupi. Sebab semakin ditutupi semakin tercium bahu busuknya. Apapun pembelaan kezaliman tetap akan menyeruak bahunya.</p>



<p>Dalam hal ini memang tidak ada solusinya kecuali hanya takut kepada Allah SWT. bahwa Allah maha tahu. “ya’lamu khainatal a’yuni wa maa taukhfish shudur” (Allah mengetahui khianat mata dan apa yang tersembunyi dalam dada). &nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmahalnya-sebuah-keadilan%2F&amp;linkname=Mahalnya%20Sebuah%20Keadilan" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmahalnya-sebuah-keadilan%2F&amp;linkname=Mahalnya%20Sebuah%20Keadilan" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmahalnya-sebuah-keadilan%2F&amp;linkname=Mahalnya%20Sebuah%20Keadilan" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmahalnya-sebuah-keadilan%2F&amp;linkname=Mahalnya%20Sebuah%20Keadilan" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Korupsi</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/16/korupsi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2021 01:44:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2885</guid>

					<description><![CDATA[Korupsi amirfath.com, Opini (31), Des 2021 &#8211;“The Power tend to corrupt” (kekuasaan cendrung berbuat korupsi), inilah ungkapan yang sangat popular tentang korupsi. Bahwa ketika seorang berkuasa, ditangannya segala kemampuan untuk berbuat apa saja. Termasuk menyembunyikan data kesalahan yang ia perbuat. Tinggal ia berhadapan dengan Yang maha kuasa yaitu Allah SWT. Dialah Allah penguasa yang sebenarnya. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Korupsi</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(31), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong>“<em>The Power tend to corrupt</em>” (kekuasaan cendrung berbuat korupsi), inilah ungkapan yang sangat popular tentang korupsi. Bahwa ketika seorang berkuasa, ditangannya segala kemampuan untuk berbuat apa saja. Termasuk menyembunyikan data kesalahan yang ia perbuat. Tinggal ia berhadapan dengan Yang maha kuasa yaitu Allah SWT. Dialah Allah penguasa yang sebenarnya. Dalam surah al-Mulk, 1 : “<em>biyadihil mulk wahuwa ala kulli syai in qadir</em>” (di tangaNya segala kerajaan, Dia bisa berbuat segala sesuatu). Dalam surah al-Buruj, 16 :&nbsp; “<em>fa’alun limaa yurid</em>” (Dia bisa berbuat apa saja). Dalam surah Ali Imran, 26 : “<em>tu’til mulka man tasyaa wa tanzi’ul mulka min man tasyaa</em>” (Engkau yang memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki). Dengan ayat-ayat ini seharusnya manusia sadar bahwa dirinya bukan penguasa yang sebenarnya. Bahwa sekecil apapaun dosa yang ia perbuat kelak pasti akan dihisab oleh Allah SWT. “<em>inna ilaina iyabahum tsumma inna alaina hisabahum</em>” (kepada Kami mereka pasti Kembali, dan Kami pasti akan menghisab mereka) (QS. Al-Ghasyiah : 25-26).</p>



<p>Korupsi tidak akan terjadi ketika seorang penguasa menyadari makna kekuasaan Allah tersebut. Bahwa dirinya dalam genggamanNya. Bahwa dirinya kelak di akhirat akan dihisab. Bahwa sekecil apapun dosa ada hitungannya, “<em>faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarahu, wa man ya’mal mitsqaala dzarrtin syarran yarahu</em>” (siapa berbuat baik sebesar atompun pasti akan diperhitungkan dan siapa berbuat buruk sebesar atompun pasti akan diperhitungkan) (QS. Al-Zalzalah : 7-8). Diceritakan dalam Riwayat yang masyhur bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz sempat didatangi seorang tamu. Lalu ia bertanya kepada tamunya : urusan apa gerangan yang membuat kamu datang ke sini. Urusan pribadi atau urusan negara? Tamu menjawab : urusan pribadi. Seketika Umar memadamkan semua lampu yang menyala, sehingga ruangan menjadi gelap gulita. Tamu bertanya, mengapa dipadamkan lampunya ? Umar menjawab, kita sedang akan membicarakan urusan pribadi, sementara lampu-lampu ini milik negara. Aku takut kelak dihisab oleh Allah SWT. Wahai Umar mengapa kamu menggunakan lampu milik negara padahal yang kamu urus adalah adalah kepentingan pribadi.</p>



<p>Umar bin Abdil Aziz adalah contoh seorang penguasa yang sangat berhati-hati dari korupsi. Sebagai khalifah ke delapan dari dinasti Umayah, Umar tidak mewariskan kekuasaan kepada anaknya. Tidak seperti khalifah sebelumnya yang cendrung memberikan kekayaannya kepada anak-anaknya. Umar tidak melakukan itu. Anak-anaknya dibiarkan menjadi pengusaha. Itulah yang terjadi, ketika kerajaan mengalami kebangkrutan ekonomi, anak-anak khalifah yang lain menjadi pengemis di pasar-pasar sementara anak-anak khalifah Umar hadir membackup ekonomi negara. Di sini ada pelajaran bahwa “korupsi mumpung berkuasa” tidak akan pernah membawa keberkahan melainkan justru kesengsaraan, tidak saja bagi kehidupan bernegara melainkan juga kehidupan keluarga. &nbsp;&nbsp;</p>



<p>Di tengah masyarakat yang korup pasti akan lahir penguasa yang korup. Bila masyarakat suka disogok, senang suaranya dibeli pada saat pemilu atau pilkada bisa dipastikan penguasanya akan cendrung korup. Jadi penguasa itu lahir dari lingkungan yang membentuknya. Dulu, Firun hadir sebagai penguasa karena di dukung oleh masyarakat yang zalim. Karena itu Firun sempat bertahan lama dalam kekuasaanya. Seorang ahli tafsir mengatakan : Tidak mungkin Firun bertahan dengan kezalimannya jika masyarakatnya adil.&nbsp; Namun di saat yang sama masyarakat cendrung ikut penguasanya. Jika penguasanya baik maka masyarakat akan baik. Dulu, Abu Bakar Ash Shidiq berkhurbah pada saat dilantik sebagai khalifah : “<em>athiunii ma atha’thullaha wa rasulahu, faiza ashaitullahha wa rasulahu fala tahaata lii alaikum</em>” (taatilah aku selama aku mentaati Allah dan RasulNya, sebaliknya jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tidak boleh kamu mentaati aku). Inilah <em>mindset</em> seorang pemimpimn yang anti korupsi. Abu Bakar sejak awal telah memastikan dirinya akan berlaku adil. Ia tidak akan berbuat maksiat. Ia takut kepada Allah. Lihatlah, di hari-hari pertama sebagai khalifah pada saat gajinya kurang, Abu Bakar pagi-pagi berangkat ke pasar untuk berdagang. Umar bin Khaththab menegur, wahai Abu Bakar, jika kamu sibuk di pasar kapan kamu akan mengurus rakyatmu. Abu Bajar menjawab, gaji saya tidak cukup. Umar langsung memutuskan agar gaji khalifah dicukupkan supaya fokus pada tugasnya mengurus rakyat. Inilah cara negara mencegah terjadinya korupsi, yaitu gaji petugas harus mencukupi kebutuhan pokok keluarganya. Namun jika gaji sudah dicukupkan, tetapi masih juga berbuat korupsi itu namanya penyakit. <em>Nauzu billah min zaalika</em>. &nbsp;Wallahu a’lam bishshawab.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fkorupsi%2F&amp;linkname=Korupsi" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fkorupsi%2F&amp;linkname=Korupsi" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fkorupsi%2F&amp;linkname=Korupsi" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fkorupsi%2F&amp;linkname=Korupsi" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahaya Hoaks</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/16/bahaya-hoaks/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2021 01:18:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2882</guid>

					<description><![CDATA[Bahaya Hoaks amirfath.com, Opini (30), Des 2021 &#8211; Hoaks artinta berita bohong. Di zaman sosial media ini hoaks mudah menyebar berseleweran siang dan malam. Orang-orang beropreasi duapuluh empat jam hanya untuk memperoduksi hoaks. Tidak sedikit yang menjadikan hoaks sebagai sumber penghasilannya. Berbagai kepentingan bermain di dalamnya.  Ada kepentingan politik, ada pula kepentingan ekonomi, ada juga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Bahaya Hoaks</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(30), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong> Hoaks artinta berita bohong. Di zaman sosial media ini hoaks mudah menyebar berseleweran siang dan malam. Orang-orang beropreasi duapuluh empat jam hanya untuk memperoduksi hoaks. Tidak sedikit yang menjadikan hoaks sebagai sumber penghasilannya. Berbagai kepentingan bermain di dalamnya.  Ada kepentingan politik, ada pula kepentingan ekonomi, ada juga yang tidak punya kepentingan tetapi ikut-ikutan menyebarkannya. Banyak yang jatuh dalam permusuhan karena hoaks, banyak juga yang terjerat hukum karena ikutan ngeshare. Apakah mereka tidak punya iman? Tidak, mereka adalah orang-orang beriman. Apakah mereka tidak takut kepada Allah ? Inilah pertanyaan yang harus dipastikan jawabannya. Sebab tidak mungkin orang yang takut kepada Allah ikut menyebarkan hoaks. “ <em>Ala yazhunnu ulaaika annahum mab’utusun, liyaumin azhim, yauma yaqumunnasi lirabbil alamiin</em>” (apakah mereka tidak yakin bahwa kelak pasti akan Allah bangkitkan kembali, di hari yang agung, pada hari di mana mereka pasti akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah pemilik alam semesta) (QS. Al-Muthaffifin: 4-7). Sungguh seandainya mereka mempunyai iman, niscaya mereka tidak akan melakukannya.</p>



<p>Ketika Nabi SAW. menyebutkan ciri-ciri pelaku hoaks istilah yang disebut adalah <em>munafiqun</em>. Nabi bersabda <a>“<em>ayatul munafiqi</em> <em>tsalats</em>” </a>(ciri orang munafik ada tiga). Dalam Al Quran ada surah khusus bernama “<em>al-Munafiqun</em>”. Suatu istilah yang diambil dari kata Arab “<em>nafaqal yarbu</em>”. Yarbu adalah nama binatang yang selalu membuat lubang dengan dua pintu. Bila ia masuk dari satu lubang, ia keluar dari lubang yang lain. Karena itu Imam Ibn Manzhur dalam kitabnya <em>lisan al-Arab</em> menyebutkan bahwa yarbu adalah binatang yang munafik “<em>nafaqal yarbu</em>”. Nabi SAW. menyebutkan munafik sebagai pelaku hoaks dengan tiga tanda “<em>ayatul munafiqi</em> <em>tsalats</em>”: (a) <em>iza haddatsa kazaba</em> (bila ia berbicara berdusta). Jadi setiap pembicaraan dusta apapun bentuknya, seperti membuli kebaikan saudaranya dengan menjelek-jelekkannya padahal itu tidak sesuai dengan fakta, itu termasuk hoaks. (b)<em> iza wa’ada akhlafa </em>(bila berjanji mengingkari). Termasuk hoaks adalah mengingkari janji. Jadi janji-janji yang diumbar ketika pilkada lalu diingkari setelah menjabat adalah perbuatan hoaks. (c) <em>iza’tumina khaana</em> (bila diberi amanah berkhianat). Artinya bila dipercaya untuk memegang suatu jabatan malah ia korupsi dan menipu jutaan rakyat ini juga termasuk bagian perbuatan hoaks.&nbsp;</p>



<p>Dalam surah al-Nur: 11, hoaks disebut dengan istilah “ifk”. Secara khusus istilah “ifk” ini terkait dengan berita bohong yang menimpa ibunda Aisya ra. Istri Rasulullah SAW. Abdullah bin Ubay bin&nbsp; Salul “<em>ra’sul munafiqin</em>” (kepala kaum munafik) adalah pembuat haoks tersebut. Sekalipun secara redaksi ungkapan yang ia ucapkan Bin Salul nampak tidak menuduh, namun dari situlah nyala api hoaks bermula. Bin Salul berkata : “<em>zaujatu shiahibika ma’a Sofwan</em>” (istri Nabimu berduaan bersama Sofwan)? Peristiwa ini terjadi ketika Aisyah ra. ikut Nabi dalam perang Bani Musthaliq.&nbsp; Sekembalinya, Aisyah tertinggal karena suatu hajat. Kebiasaan Nabi menugaskan sebagian sahabat berjalan paling belakang sebagai petugas swiping, untuk menyelamatkan barang tercecer atau membantu orang yang tertinggal. &nbsp;Saat itu petugas swiping adalah Sofwan bin Mu’athal. Ketepatan yang tertinggal adalah Aisyah ra. Ketika masuk kota Madinah terlihatlah Sofwan bersama Aisyah. Dari sini Bin Salul menggunakan kesempatan untuk membuat hoaks tersebut. &nbsp;Dari mulut ke mulut hoaks bin Salul itu berubah menjadi “ Aisya berzina dengan Sofwan”. Semakin meluas sehingga sebagian sahabat ada yang ikut menyebarkannya. Di antara mereka adalah Mushtih ra. yang hidupnya di bawah tanggungan Abu Bakar Ash Shidiq. Aisyah ketika itu sedang sakit. Ia tidak tahu apap-apa. Baru tahu ketika Ummu Mustih menemaninya buang air. Di tengah jalan kaki Ummu Mustih kesandung lalu terucap, “laknat Mustih”. Aisyah kaget, mengapa Ummu Mustih melaknat anaknya sendiri. Maka diceritakanlah tentang hoaks mengenai Aisyah yang sedang beredar dan Mustih termasuk yang menyebarkannya. Aisyah semakin kaget. Sebab dirinya memang benar-benar bersih. Nabi SAW. ketika itu masih menunggu wahyu yang akan mengklarifikasi hoaks tersebut. Maka turunlah ayat surah al-nur :11, yang menegaskan bahwa itu adalah hoaks “<em>ifk</em>” dan Aisyah adalah bersih dari perbuatan keji tersebut. Di sini Allah memberikan keterangan bahwa berbuat hoaks jangan dianggap ringan, tetapi adalah dosa besar, “<em>wa tahsabunahu hayyinan wahuwa indallahi azhim</em>” &nbsp;(kamu menganggap itu suatu yang ringan tetapi bagi Allah itu adalah besar) (QS. Al-Nur : 15).</p>



<p>Cara terbaik agar tidak jatuh dalam hoaks, adalah dengan merasa takut kepada Allah. Sadari bahwa itu adalah perbuatan dosa yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Maka semua penghasilan yang didapat dari profesi sebagai penyebar hoaks itu bukan hanya haram melainkan juga dosa besar. &nbsp;Dalam surah al-Hujurat: 6, Allah SWT. mengajarkan cara agar tidak terperangkap hoaks yaitu dengan “<em>tabayyun</em>”. Allah berfirman : “<em>in ja akum fasiqun binabain fatabayyanu</em>” (bila datang kepadamu berita dari orang fasik maka periksalah dengan teliti). Tabbayun artinya periksa, serta <em>cek and recek</em>.&nbsp; Sebab boleh jadi berita itu memang hoaks. Disebut secara khusus istilah “<em>fasiqun</em>” (fasik) sebab merekalah yang mudah menjadi pelaku hoaks. Berdasarkan ayat ini nampak bahwa pelaku hoaks dalam Islam tidak saja tergolong <em>munafiqun</em> tetapi juga <em>fasiqun</em>. Cerita turunnya ayat ini disebutkan oleh Ibn Katsir bahwa ketika itu Rasulullah SAW. mengutus Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith untuk menagih zakat kepada kaum Bani Musthaliq. Lalu dari jauh Uqbah melihat mereka sedang mengasah pedang. Serta merta Uqbah kembali dan membawa berita bahwa kaum Bani Musthaliq menolak bayar zakat dan bahkan mereka bersiap-siap untuk perang. Seketika Nabi SAW mengutus Khalid bin Al Walid agar mengecek (bertabayyun) kebenaran berita tersebut. Ternyata setelah dicek nampak bahwa mereka masih termasuk muslim sejati dan siap membayar zakat. Dari sini Allah menurunkan ayat al-Hujurat, 6 tersebut. Di antara pesannya adalah teguran seandainya tidak ditabayyun terlebih dahulu boleh jadi akan terjadi bahaya yang tidak kamu inginkan “<em>antushibu qauman bijahalatin fatushbihu ala ma faaltum nadimin</em>” Berdasarkan ayat ini jelas bahwa jalan keluar dari hoaks adalah “<em>tabayyun</em>”.&nbsp;&nbsp; Wallahu alam bisshawab.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fbahaya-hoaks%2F&amp;linkname=Bahaya%20Hoaks" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fbahaya-hoaks%2F&amp;linkname=Bahaya%20Hoaks" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fbahaya-hoaks%2F&amp;linkname=Bahaya%20Hoaks" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fbahaya-hoaks%2F&amp;linkname=Bahaya%20Hoaks" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kunci Menghafal Alquran</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/04/26/kunci-menghafal-alquran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2021 01:34:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=2640</guid>

					<description><![CDATA[Kunci Menghafal Alquran amirfath.com, Artikel (30), April 2021 &#8211; Banyak pertanyaan bagaimana cara menghafal Alquran. Nabi Muhammad SAW telah memberikan satu kunci, yaitu&#160;almu’ahadah&#160;(komitmen menjaga hafalan). Dari Abu Musa RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ta’ahaduu hadzal Quran&#8221;&#160;(berkomitmenlah untuk terus menjaga hafalan Alquran). Mengapa? Nabi Muhammad SAW bersabda: “Demi Allah yang Muhammad di tangan-Nya, Alquran itu lebih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Kunci Menghafal Alquran</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel <strong>(30), April 2021 &#8211;</strong></span></strong>  Banyak pertanyaan bagaimana cara menghafal Alquran. Nabi Muhammad SAW telah memberikan satu kunci, yaitu&nbsp;<em>almu’ahadah&nbsp;</em>(komitmen menjaga hafalan).</p>



<p>Dari Abu Musa RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “<em>Ta’ahaduu hadzal Quran&#8221;&nbsp;</em>(berkomitmenlah untuk terus menjaga hafalan Alquran). Mengapa? Nabi Muhammad SAW bersabda: “Demi Allah yang Muhammad di tangan-Nya, Alquran itu lebih cepat hilang daripada unta yang terikat (HR Bukhari-Muslim).</p>



<p>Dalam hadis lain, Nabi Muhammad SAW memberikan perumpamaan yang mirip, tetapi dengan redaksi yang berbeda bahwa penghafal Alquran bagaikan seorang penjaga unta yang terikat. Bila ia menjaganya, unta itu bertahan, sebaliknya bila ia melepaskan talinya unta itu akan pergi (HR Bukhari Muslim).&nbsp;</p>



<p>Kata&nbsp;<em>mu’hadah&nbsp;</em>sangat penting bagi penghafal Alquran sebab di dalamnya ada makna berjanji.&nbsp;<strong>Pertama</strong>, janji memulai menghafal dengan sungguh-sungguh dan tidak akan menyerah di tengah jalan. Di sini harus mempunyai niat yang kuat.</p>



<p>Nabi Muhammad SAW bersbada: “<em>Innamal a’maalu bin niyat wa innama likullim riin ma nawa&#8221;&nbsp;</em>(sesungguhnya semua perbuatan bergantung niat dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang ia niatkan).</p>



<p>Hadis ini berlaku umum, termasuk dalam urusan menghafal Alquran. Bahwa Anda bisa menghafal Alquran bukan hanya karena Anda cerdas, melainkan karena niat Anda kuat untuk komitmen memulai hafalan Aquran dari awal.</p>



<p>Bahwa Anda bisa menghafal Alquran bukan hanya karena Anda cerdas, melainkan karena niat Anda kuat untuk komitmen memulai hafalan Aquran dari awal.</p>



<p>entu dalam hal ini tidak bisa dilepaskan dari keikhlasan sebagai motor penggerak keistiqamahan. Sebab siapa pun yang tidak ikhlas tidak akan bisa istiqamah.</p>



<p><strong>Kedua</strong>, janji untuk menjaga ayat, surah, dan juz yang sudah dihafal, serta terus menambah hafalan baru sekalipun sedikit. Pepatah mengatakan “Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit”.</p>



<p>Jadi, dalam menghafal sebaiknya tidak dibuat tegang, melainkan rileks. Sebab dengan rileks hafalan baru akan mudah masuk ke&nbsp; memori kita. Ini berlaku umum bagi siapa saja. Orang yang tertekan tidak akan bisa menghafal.&nbsp;</p>



<p>Target hafalan memang harus ada, tetapi tidak harus banyak. Kecuali dalam program khusus seperti karantina hafalan Alquran. Itu pun harus sesuai dengan level kemampuan masing-masing.</p>



<p>Dalam hal ini berlaku yang namanya kecerdasan. Makin cerdas seseorang makin cepat mencapai target.</p>



<p><strong>Ketiga</strong>, janji komitmen murajaah seumur hidup setelah tamat hafalan 30 juz. Tentu semakin banyak jumlah hafalan makin banyak beban murajaahnya. Sebuah kaidah murajaah berkata: <em>man raaja’al khams lam yans </em>(siapa yang melakukan murajaah lima juz minimal setiap hari tidak akan lupa hafalannya seumur hidup).</p>



<p>Sumber : Republika, 26 April 2021 https://www.republika.id/posts/16193/kunci-menghafal-alquran</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F04%2F26%2Fkunci-menghafal-alquran%2F&amp;linkname=Kunci%20Menghafal%20Alquran" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F04%2F26%2Fkunci-menghafal-alquran%2F&amp;linkname=Kunci%20Menghafal%20Alquran" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F04%2F26%2Fkunci-menghafal-alquran%2F&amp;linkname=Kunci%20Menghafal%20Alquran" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F04%2F26%2Fkunci-menghafal-alquran%2F&amp;linkname=Kunci%20Menghafal%20Alquran" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perempuan dan Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/01/07/perempuan-dan-ilmu-pengetahuan-dalam-al-quran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2021 21:42:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=2422</guid>

					<description><![CDATA[Perempuan dan Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an amirfath.com, Artikel (29), Jan 2021 &#8211; Islam datang memuliakan perempuan setelah pada zaman jahiliyah mereka direndahkan. Kini, masyarakat yang tidak mengenal Islam ternyata lebih parah dalam merendahkan perempuan. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Jhons Hopkins, seorang peneliti dar Meryland, berhasil mengumpulkan data tentang dua juta perempuan yang diperjual belikan setiap tahun. 120 ribu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Perempuan dan Ilmu Pengetahuan <strong>dalam Al-Qur’an</strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel <strong>(29), Jan 2021 &#8211;</strong></span></strong> Islam datang memuliakan perempuan setelah pada zaman jahiliyah mereka direndahkan. Kini, masyarakat yang tidak mengenal Islam ternyata lebih parah dalam merendahkan perempuan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jhons Hopkins, seorang peneliti dar Meryland, berhasil mengumpulkan data tentang dua juta perempuan yang diperjual belikan setiap tahun. 120 ribu perempuan dari Eropa Timur telah dikirim ke wilayah Eropa Barat untuk tujuan tersebut. 15 ribu perempuan telah diperjual-belikan sebagai budak seks di beberapa kota di Amerika dengan hara 10 ribu dollar. Lebih dari 200 ribu gadis Nepal dengan usia empat belass tahunan, telah diperjual belikan di India setiap tahun. Sekitar 10 ribu gadis-gadis Rusia juga telah diseludupkan ke Israel untuk menjadi budak seks dan wanita penghibur.</p>



<p><strong>Islam Memuliakan Perempuan</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Islam tidak merendahkan perempuan. Lebih dari itu, Islam memposisikan perempuan sebagai partner laki-laki. Perempuan berperan sebagai istri yang akan mengandung, melahirkan, serta membina anak-anak. Karena tugas yang berat ini, Allah tidak mewajibkan perempuan mencari nafkah tapi mereka harus menjadi tempat berteduh bagi para para suami setelah mereka ellah mencari nafkah. Inilah makna ayat <em>litaskunuu ilaihaa</em> (agar engkau para suami yang berteduh kepada istri). jadi, pereintah agar ibu harus selalu <em>standbay</em> dirumah adalah sebuah kemuliaan karena yang ditunggu adalah suami. Dalam konteks inilah ayat <em>waqarna fii buyutikunna</em> (dan hendaklah engkau kaum ibu beridam dirumahmu) bisa kita pahami. Jadi tidak ada maksud menghina perempuan, tetapi justru memuliakan.</p>



<p><strong>Perempuan Harus Berilmu</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tidak ada beda dalam islam antara perempuan dan laki-laki dalam mencari ilmu. Surah Al-Mujadilah (580 11: “<em>Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”</em></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kalimat orang-orang yang beriman, disini mencakup Mukmin laki-laki dan Mukmin perempuan. Derajat seseorang laki-laki atau perempuan, jika ia beriman dan berilmu akan jauh lebih tinggi di atas laki-laki atau perempuan yang beriman tapi tidak berusaha menuntut ilmu.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam ayat-ayat Al-Qur’an kita banyak menemukan teks yang mendorong perempuan agar belajar ilmu. Tidak saja ilmu akhirat tetapi juga ilmu dunia. Diantara ilmu dunia itu yang ahrus dimiliki oleh oara wanita antara lain ilmu tentang seks, kandungan, dan menyusui anak.</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li><strong>Larangan hubungan seks dalam kondisi haid</strong></li></ol>



<p>Allah berfirman dalam surah Al Baqarah (2) 222 : “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah : “<em>Haidh itu adalah kotoran”</em>. <em>oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”</em></p>



<p>Ternyata penemuan ilmuwan dalam hal ini menguatkan betapa Allah memang menurunkan larangan tersebut agar manusia selamat dari akibat yang sangat mengancam.</p>



<p>Gesekan yang terjadi pada vagina akan memperbesar peluang terjadinya infeksi karena kemungkinan terjadinya luka lecet. Jika hubungan seks dilakukan akan mempermudah peradangan dan infeksi merambah ke dalam Rahim. Hubungan saat haid juga mengakibatkan pembekuan darah kotor dan semakin menambah jumlah darah yang harus keluar. Ini akan berdampak buruk bagi Rahim. Tidak saja menimbulkan kemandulan dan penyakit kanker.</p>



<p>Bagi laki-laki kondisi ini bisa menimbulkan infeksi saluran kencing. Dari sini bisa berkembang ke wilayah saluran pembuangan dan reproduksi. Ini baru sebagian dampak yang ditemukan, Allah swt. Tentu lebih tahu apa maksud dari bahaya yang disebutkan dalam ayat di atas.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Kandungan, Rahim yang sangat kokoh (<em>fii qaarin makiin)</em></strong></li></ul>



<p>Dalam surah Al Mursalaat (77) 20-24 Allah berfirman : “<em>Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (Rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan”</em></p>



<p>Di sini perempuan, khususnya para ibu, harus mengerti apa maksud ‘tempat yang kokoh’ ini (<em>fii qaraarim makiin)</em>, inilah Rahim. Mari kita lihat penjelasan dokter mengenai Rahim. Pertama, Rahim terletak di dalam rongga tulang punggul bagian depan bawah di balik kandung kemih, dan terdiri dari tiga dimensi : badan Rahim, leher Rahim, dan bagian sempat yang menghubungkan keduanya.</p>



<p>Kedua, Rahim dikelilingi oleh tulang panggul yang terdiri dari kumpulan tulang-tulang keras. Dibelakang ada tulang ekor dan tulang tungging, lalu disamping kanan dan kiri ada tulang pinggang. Ada lagi pelindung dari depan yaitu tulang yang berada di atas kemaluan.</p>



<p>Ketiga, adanya tali Rahim yang berfungsi menahan kandungan agar tidak berubah posisi. Pergeseran Rahim ke belakang sebelum terjadi kehamilan akan menyebabkan kemandulan, karena air mani menjadi terhalang untuk sampai kesana. Apabila ini terjadi setelah pembuahan akan menyebabkan keguruan. Ini semua menunjukkan betapa ayat <em>fii qaraariim makiin </em>telah menunjukkan hakikan sebenarnya.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Perintah Menyusui Anak (Radha’ah)</strong></li></ul>



<p>Dalam surah Al Baqarah 233, Allah berfirman “<em>Dan Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”</em></p>



<p>Apa rahasia ASI? Penemuan ilmiah menunjukkan bahwa ASI tidak bisa dibandingkan dengan air susu lainnya. Pertama, struktur ASI setiap saat berkembang sesuai dengan kebutuhan bayi. Di dalamnya terkandung gizi yang sangat membantu pertumbuhan bayi. Berbeda dengan susu buatan yang strukturnya statis.</p>



<p>Kedua, ASI sangat mudah dicerna. Ia mengandung ragi penghancuran dan snagat membantu ragi yang ada dalam lambung bayi. Karenanya dengan mudah lambung dapat mengosongkan isinya setelah 1.5 jam. Sementara susu buatan membuat pencernaan bayi berjalan lambat sampai tiga atau empat jam. Strilisasi ASI lebih terjamin. Sementara susu buatan tidak terjamin dari pencernaan.</p>



<p>Ketiga, tingkat kehangatan ASI lebih stabil, daan ini tidak bisa ditemukan dalam susu buatan. ASI juga mengandung antigen yang beragam yang bisa membantu bayi untuk melawan penyakit, sementara ini tidak ada susu buatan. Dan banyak kebaikan lainnya.</p>



<p>Dari oembahasan di atas jelas bahwa seorang perempuan dalam Islam sangat didprpng dalam meningkatkan ilmu pengetahuannya. Di atas belum dibahas mengenai kewajiban seorang ibu pada anak-anaknya serta bagaimana mendidik mereka secara baik. Semua ini membutuhkan ilmu dan ini tugas seorang ibu. <em>Wallahu a’lam bishawwab.</em></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F07%2Fperempuan-dan-ilmu-pengetahuan-dalam-al-quran%2F&amp;linkname=Perempuan%20dan%20Ilmu%20Pengetahuan%20dalam%20Al-Qur%E2%80%99an" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F07%2Fperempuan-dan-ilmu-pengetahuan-dalam-al-quran%2F&amp;linkname=Perempuan%20dan%20Ilmu%20Pengetahuan%20dalam%20Al-Qur%E2%80%99an" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F07%2Fperempuan-dan-ilmu-pengetahuan-dalam-al-quran%2F&amp;linkname=Perempuan%20dan%20Ilmu%20Pengetahuan%20dalam%20Al-Qur%E2%80%99an" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F07%2Fperempuan-dan-ilmu-pengetahuan-dalam-al-quran%2F&amp;linkname=Perempuan%20dan%20Ilmu%20Pengetahuan%20dalam%20Al-Qur%E2%80%99an" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gelisah Karena Kurang Ibadah</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/01/04/gelisah-karena-kurang-ibadah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2021 12:29:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=2328</guid>

					<description><![CDATA[Gelisah Karena Kurang Ibadah amirfath.com, Opini (29), Jan 2021 &#8211; Setiap manusia menginginkan ketenangan jiwa. Berbagai cara mereka lakukan. Ada yang berusaha meraihnya dengan menumpuk-numpuk harta. Tapi setelah harta menumpuk ternyata ketenangan itu tak kunjung datang. Malah sebaliknya, uang yang disimpan ternyata membuatnya serba khawatir. Khawatir banknya bangkrut, atau dirampok, dan lain sebagainya. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Hasil [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Gelisah Karena Kurang Ibadah</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(29), Jan 2021 &#8211;</strong></span></strong> Setiap manusia menginginkan ketenangan jiwa. Berbagai cara mereka lakukan. Ada yang berusaha meraihnya dengan menumpuk-numpuk harta. Tapi setelah harta menumpuk ternyata ketenangan itu tak kunjung datang. Malah sebaliknya, uang yang disimpan ternyata membuatnya serba khawatir. Khawatir banknya bangkrut, atau dirampok, dan lain sebagainya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil penelitian ilmiah membuktikan, bahwa penyakit yang justru sering dialami masyarakat yang hidup di negara-negara kaya adalah depresi dan kegelisahan. Ed. Diener, psikolog dan University of Illionis, pernah menenliti seratus orang Amerika Serikat terkaya. Ditemukan, mereka sebagian besar menderita secara kejiwaan. Kegelisahan selalu menjadi ancaman setiap saat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ada juga sebagian orang berusaha meraih ketenangan jiwa di balik karir atau jabatan yang gemilang. Kerja keras pun mereka lakukan dengan segala cara. Karena mereka yakin, bila sukses tercapai, mereka akan dipuja-puja dan banyak dikenal orang dan akan banyak kawan. Dalam presepsi mereka, popularitas, karir atau jabatan adalah suatu keniscayaan untuk membuatnya bahagia.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tapi kenyataan tak semudah yang mereka bayangkan. Dr. Paul Pearsail dalam penelitiannya bertahun-tahun menemukan, banyak orang justru menderita setelah mereka sukses. Dalam sebuah karyanya, cerpenis Sapardi Joko Damono, pernah melukiskan wajah sebuah rumah tangga modern yang bisa dikatakan sukses secara karir. Ia menuliskan: Seorang suami berkata, “Saya melihat rumah tangga saya bisa dikatakan sukses secara ekonomi. Saya seorang pegawai negri. Istri saya pengusaha. Ia sangat sibuk, sampai tak sempat memperhatikan saya. Akhirnya saya selalu tersinggung. Lalu saya pendam keinginan saya untuk membunuhnya. Biar ia mati di tangan saya, dan saya dijatuhi hukuman mati pula.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lain lagi ada sebagian orang berusaha menghabiskan waktu di balik rumah-rumah megah atau vila-vila yang indah, untuk mereih ketenangan jiwa. Rutinitas mereka berpindah-pindah dari satu negri ke negri lain, mencari pantai-pantai yang mempesona. Di sana mereka lepaskan kegelisahan sambil memandang luasnya lautan dan langit yang tak bertepi.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tapi ternyata usaha ini juga tak mampu menyelesaikan masalah. Banyak orang yang tidak bisa bertahan lama dalam kehidupan yang monoton seperti itu. Mereka ingin mencari tantangan. Sementara suasana yang mapan cenderung hanya memberikan rasa istirahat sejenak, setelah itu jenuh datang kembali.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pernah saya tawarkan kepada beberapa orang yang biasa merasakan hiruk pikuk kota Jakarta. Siapa yang mau digaji secara cukup, kerjanya hanya makan dan tidur di villa megah dikawasan Puncak? Semua menjawab, “Tidak mau!” Ini menunjukkan bahwa secara fitrah manusia mudah merasa jenuh dan bosan bila tak mempunyai aktivitas.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebuah kasus pernah terjadi seorang lelaki baya yang hampir pensiun. Dan ini bisa juga menimpa Anda yang mempunyai persepsi serupa. Lelaki itu berkata, “Setelah aku pensiun nanti, aku mau istirahat. Pagi-pagi aku bangun, minum kopi, baca koran, nonton TV dan lain sebagainya. Siang hari aku istirahat. Sore hari aku menonton TV lagi sambil tidur-tiduran, lalu istiahat.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana itu ia ciptakan sebagai kompensasi rasa lelahnya yang selama ini telah bekerja setiap hari, dari pagi hingga sore. Namun setelah pensiun, ternyata ia malah sering jenuh dengan suasana yang monoton. Ia merasa harus segera mencari kegiatan lain. Terbukti, di masyarakat kita, kini tak sedikit para pensiunan yang bekerja lagi, mengisi hari tua mereka.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ini menunjukkan, manusia selalu membayangkan ingin mendapatkan ketenangan hakiki. Tapi bayangan ketenangan itu seringkali lebih berupa kesenangan duniawi. Akibatnya, hampir setiap kesenangan yang mereka bayangkan tak sesuai dengan harapan mereka.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sementara, ada sebagian orang berusaha meraih ketenangan jiwa dengan car menyibukkan diri. Bila sedikit ada waktu kosong selepas kerja rutin di kantor, ia segera mencari kegiatan lain. Entah main golf, futsal, atau lainnya. Tapi ini juga tak selamanya menjadi solusi. Sebab, dengan terus bekerja, seseorang telah menjadikan tubuhnya sama dengan mesin. Lama kelamaan ia akan melemah dan loyo.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena itu, banyak sekali kasus bunuh diri terjadi di jepang, dengan alasan ketercekaman jiwa. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, angka bunuh diri di Jepang setiap tahun mencapai sedikitnya 30.000 jiwa. Bahkan, karena terlalu banyaknya kasus bunuh diri yang dilakukan manusia modern, di banyak situs internet, bisa kita temukan ada yang mengajarkan cara melakukan bunuh diri dengan cepat.</p>



<p><strong>Kebutuhan Jiwa</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari gambaranringkas di atas, tersimpulkan bahwa untuk mengurus jiwa, kita tak bisa melakukannya dengan sederhana. Yang perlu diingat, jiwa kita ini ada yang menciptakannya. Maka tak mungkin kita isi jiwa kita seenak nafsu. Kita harus belajar kepada Sang Pencipta. Upaya apapun untuk mengisi jiwa, jika tak sejalan dengan tuntunan Sang Pencipta, manusia pasti akan menderita.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam urusan sederhana saja, sebut misalnya, kita membeli mobil. Kita tentunya butuh buku panduan (<em>guidebook</em>) cara menjalankan kendaraan itu dengan baik. Sangat tidak mungkin jika buku panduan itu kita ambil dari pabrik mobil berbeda. Begitu pula dengan jiwa. Sangat takmungkin kita memberi kebutuhan jiwa kita seenak hati.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk itu, Allah SWT Sang Pencipta telah menurunkan buku bimbingan, yaitu Al Qur’an. Tak cukup dengan Kitab itu, Allah utus pula seorang Rasul atau Nabi sebagai instruktur dan panutan bagaimana seharusnya melaksanakan kandungan buku suci tersebut.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Itulah makna ayat dalam surah ‘Abasa [80] ayat 20. “<em>Kemudian Dia memudahkan jalannya.” </em>Para ulama tafsir menilai, maksud “mempermudah jalan” adalah bahwa Allah tak hanya menyediakan segala kebutuhan fisik manusia. Baik berupa air, udara, maupun makanan, tapi lebih dari itu, Allah telah sediakan kebutuhan jiwa mereka. Diutusnya para Nabi dan Rasul adalah untuk mengajarkan cara memberi makan kepada jiwa.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebab, kebutuhan jiwa mereka. Diutusnya para Nabi dan Rasul adalah untuk mengajarkan cara memberi makan kepada jiwa. Sebab, kebutuhan jiwa tidak bisa dibuat sesuka hati. Kebutuhan jiwa harus diperoleh secara talaqqi dari Sang Pencipta secara harfiah. Jangan diubah-ubah, ditambah-tambahi, atau dikurangi. Nabi SAW menegaskan, “<em>Barangsiapa melakukan hal yang baru dalam urusan agama (ibadah) dan tak mempunyai dasar hukum, maka ia ditolak.” </em>&nbsp;(HR. Bukhari Muslim)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Begitilah tegasnya Islam dalam urusan menjaga jiwa. Sebab, jiwa adalah inti manusia. Dan manusia hanya menjadi rangka mati tanpa jiwa. Karena itu, mengurus jiwa harus dilakukan sungguh-sungguh dan srius. Lebih dari itu, lakukan langkah-langkah efektif dengan mengikuti tuntunan Allah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perlu diingat, makanan jiwa bukanlah materi. Sebab jiwa bersifat spiritual, dan ia butuh makanan yang spiritual pula. Untuk mendapatkan hakikat spiritual, manusia tak bisa mereka-reka dengan otaknya yang sangat terbatas dan serba relatif. Tapi harus kembali kepada Sang Pencipta Yang Maha Benar.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mereka-reka kebutuhan jiwa, akan membuat manusia terjebak dalam kelelehan tanpa akhir. Akibatnya ia akan putus asa. Itulah sebab utama mengapa manusia modern banyak yang melakukan bunuh diri.</p>



<p><strong>Dzikrullah</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak mungkin manusia menipu jiwanya. Silahkan cari cara-cara untuk menghindar dari kebutuhan jiwa yang hakiki. Pasti, jiwa akan meronta-ronta. Jiwa tak membutuhkan apa-apa, selain ibadah. Dan inti setiap ibadah adalah dzikrullah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karenanya, ketika menjelaskan rahasia shalat. Allah berfirman, “<em>Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tiada Tuhan (yang haq) selain Aku. Maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” </em>&nbsp;(QS. Thaha [20]: 14)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengapa shalat disyariatkan untuk mengingat Allah? Imam Ibn Asyur dalam tafsirnya menjawab, sebab dengan shalat seeorang akan menyadari hakikat kehambaannya di depan Sang Pencipta. Kesadaran semacam ini, dalam istilah hadits Nabi SAW disebut sebagai <em>ihsan</em>. “<em>Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan melihat-Nya. Bila tak melihat-Nya, sadari bahwa Dia melihatmu</em>.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam surah Al-Mu’minun [23] ayat 2, disebutkan ciri seorang mukmin hakiki. Di antaranya, menegakkan shalat dengan khusyu’. Terlihat, shalat bukan semata dikerjakan oleh fisik, tapi harus juga melibatkan jiwa, agar khusyu’.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ibn Taimiah dalam <em>Majmu’ al-Fatawa</em> menjelaskan, tanpa khusyu’, shalat akan kehilangan kualitasnya. Karena itu, Ibn Taimiah menilai, khusyu’ merupakan syarat diterimanya shalat. Alasannya, Allah telah menjelaskan bahwa untuk mencapai kebahagiaan, seorang mukmin harus mengerjakan shalat dengan khusyu’. Artinya, bila shalatnya tidak khusyu’, maka kebahagiaan tak akan dicapai.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Itulah rahasia mengapa dalam surah al-Ma’un [107] ayat 4 Allah berfirman, “<em>Maka celakalah orang-orang yang shalat</em>. <em>Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya.” </em>Dari sini terjawab, mengapa banyak orang shalat tapi masih saja berbuat maksiat. Itu karena shalatnya baru fisik, sementara jiwanya kosong.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jelas, jiwa membutuhkan ibadah. Dan hakikat ibadah adalah <em>dzikrullah</em>. Bila seorang muslim menegakkan ibadah dengan sungguh-sungguh, penuh penjiwaan dan khusyu’, maka ia akan mencapai ketenangan. Inilah makna ayat “<em>Ingatlah, bahwa hanya dengan dzikrullah hati akan tenang.”</em> (Qs. Ar-Ra’d [13]: 28)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam surah Thaha [20] ayat 124, Allah berfirman, “<em>Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”</em></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jelaslah sudah, betapa <em>dzikirullah</em> merupakan jalan satu-satunya menuju ketenangan jiwa. Bila ketenangan dicapai, maka ia akan terjaga dari dosa-dosa. Inilah maknanya firman Allah, “<em>Sesungguhnya shalat pasti mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” Wallahu a’lam bishshawwab.</em></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fgelisah-karena-kurang-ibadah%2F&amp;linkname=Gelisah%20Karena%20Kurang%20Ibadah" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fgelisah-karena-kurang-ibadah%2F&amp;linkname=Gelisah%20Karena%20Kurang%20Ibadah" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fgelisah-karena-kurang-ibadah%2F&amp;linkname=Gelisah%20Karena%20Kurang%20Ibadah" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fgelisah-karena-kurang-ibadah%2F&amp;linkname=Gelisah%20Karena%20Kurang%20Ibadah" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 34/125 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 4/11 queries in 0.007 seconds using Redis

Served from: amirfath.com @ 2025-09-06 21:55:12 by W3 Total Cache
-->