<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dr. Amir Faishol Fath</title>
	<atom:link href="https://amirfath.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://amirfath.com</link>
	<description>Pakar Tafsir Al-Quran &#38; CEO Fath Institute</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jan 2026 23:52:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.4</generator>
	<item>
		<title>AL-QURAN SEBAGAI PEMANDU HIDUP (IMAM)</title>
		<link>https://amirfath.com/2026/01/01/al-quran-sebagai-pemandu-hidup-imam/</link>
					<comments>https://amirfath.com/2026/01/01/al-quran-sebagai-pemandu-hidup-imam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 23:51:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Imam]]></category>
		<category><![CDATA[Pemandu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3941</guid>

					<description><![CDATA[AL-QURAN SEBAGAI PEMANDU HIDUP (IMAM) amirfath.com, Artikel (293), Januari 2026 &#8211; Oleh: Dr. Amir Faishol Fath, Pakar Tafsir Al-Quran. Pengurus Pusat MUI Bidang Dakwah, dan CEO Fath Institute. Dalam doa yang kerap kita panjatkan setelah membaca Al-Quran terdapat permohonan: واجعله لنا إمامًا ونورًا وهدى ورحمة &#8220;Jadikanlah Al-Quran bagi kami sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat.” [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong><strong>AL-QURAN SEBAGAI PEMANDU HIDUP (IMAM)</strong></strong></strong></strong></h1>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel (293), Januari 20</mark>26 &#8211; Oleh: Dr. Amir Faishol Fath, Pakar Tafsir Al-Quran. Pengurus Pusat MUI Bidang Dakwah, dan CEO Fath Institute. Dalam doa yang kerap kita panjatkan setelah membaca Al-Quran terdapat permohonan:</p>



<p>واجعله لنا إمامًا ونورًا وهدى ورحمة</p>



<p>&#8220;Jadikanlah Al-Quran bagi kami sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat.”</p>



<p>Kata imam di sini bermakna pemandu yang menjadi rujukan dan mengantarkan kepada kebenaran. Al-Quran merupakan panduan dalam akidah, ibadah, dan akhlak. Surah Fushshilat ayat 42 menegaskan:</p>



<p>لَّا يَأْتِيهِٱلْبَٰطِلُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِۦ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ</p>



<p>“Kebatilan tidak akan datang kepadanya (Al-Quran) dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan dari (Tuhan) Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat: 42)</p>



<p>Ayat ini merupakan jaminan kebenaran Al-Quran. Allah telah menjaganya dari segala bentuk penyimpangan. Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setan, baik dari kalangan jin maupun manusia, tidak akan mampu menyusupkan kebatilan ke dalam Al-Quran, baik dengan mengurangi, menambah, atau memalsukan ayat-ayatnya.</p>



<p>Surah Fushshilat menekankan agar kita mengikuti petunjuk Al-Quran secara total, tanpa berlambat-lambat. Apa yang diperintahkan Al-Quran harus ditaati, dan apa yang diharamkannya harus dijauhi. Kecelakaan umat terdahulu terjadi karena mereka kerap mempertanyakan ketetapan Allah dan berusaha menghindar. Allah berfirman:</p>



<p>وَمَا كَانَلِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ</p>



<p>&#8220;Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)</p>



<p>Artinya, jika ketetapan Allah dan Rasul-Nya telah datang, tidak ada ruang untuk mencari jalan lain.</p>



<p>Dalam Surah Fushshilat ayat 44, Allah berfirman:</p>



<p>قُلْهُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هُدًى وَشِفَآءٌ</p>



<p>“Katakanlah, ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Fushshilat: 44)</p>



<p>Imam Az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa hudan berarti petunjuk yang mengantarkan kepada kebenaran, sedangkan syifā’ (kesembuhan) berkaitan dengan lanjutan ayat: limā fīṣ-ṣudūr – untuk (menyembuhkan) apa yang ada dalam dada. Maksudnya, kesembuhan dari penyakit hati seperti dengki, sombong, kebencian, dan keraguan terhadap kebenaran Al-Quran.</p>



<p>Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa ayat ini diperkuat oleh Surah Al-Isra’ ayat 82:</p>



<p>وَنُنَزِّلُمِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا</p>



<p>“Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82)</p>



<p>Dari penjelasan ini tampak bahwa Al-Quran adalah imam (pemimpin), bukan makmum yang mengikuti pemikiran manusia. Tugas ulama adalah mengikuti petunjuk Al-Quran, bukan menjadikannya pengikut pemikiran mereka. Kesuksesan para sahabat Rasulullah ﷺ disebabkan karena mereka mengikuti Al-Quran sepenuh hati, tanpa mencari alasan untuk menghindar. Ketika ayat tentang haramnya khamar turun, mereka segera membuang semua persediaannya. Begitu pula saat ayat tentang haramnya zina turun, mereka segera menjauhinya.</p>



<p>Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam kitab Kaifa Nata‘āmal ma‘al Qur‘ān mengatakan, ketika generasi awal menjadikan Al-Quran sebagai imam, mereka tampil sebagai pemimpin dunia yang mengagumkan. Mereka diangkat setinggi derajat Al-Quran yang tak tertandingi. Berbeda dengan sebagian muslim akhir-akhir ini yang menjadikan Al-Quran sebagai makmum—bukan rujukan utama, melainkan penguat pemikiran mereka sendiri. Mereka memaksa Al-Quran turun derajat mengikuti keinginan hawa nafsu. Akibatnya, mereka pun terjatuh ke derajat yang rendah (asfala sāfilīn).</p>



<p>Info:</p>



<p>· Umrah Kafilah Iman: 081584332101<br>· Infak Yayasan Fath Qurani Center / Bank Muamalat: 3820004191<br>Note:Bantu sebarkan tulisan ini, semoga menjadi sebab keberkahan.</p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2026%2F01%2F01%2Fal-quran-sebagai-pemandu-hidup-imam%2F&amp;linkname=AL-QURAN%20SEBAGAI%20PEMANDU%20HIDUP%20%28IMAM%29" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2026%2F01%2F01%2Fal-quran-sebagai-pemandu-hidup-imam%2F&amp;linkname=AL-QURAN%20SEBAGAI%20PEMANDU%20HIDUP%20%28IMAM%29" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2026%2F01%2F01%2Fal-quran-sebagai-pemandu-hidup-imam%2F&amp;linkname=AL-QURAN%20SEBAGAI%20PEMANDU%20HIDUP%20%28IMAM%29" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2026%2F01%2F01%2Fal-quran-sebagai-pemandu-hidup-imam%2F&amp;linkname=AL-QURAN%20SEBAGAI%20PEMANDU%20HIDUP%20%28IMAM%29" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://amirfath.com/2026/01/01/al-quran-sebagai-pemandu-hidup-imam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Taat kepada Nabi Muhammad SAW dan Jihad</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/09/25/taat-kepada-nabi-muhammad-saw-dan-jihad/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2025 00:15:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3935</guid>

					<description><![CDATA[Taat kepada Nabi Muhammad SAW dan Jihad amirfath.com, Artikel (292), September 2025 Taat paling berat untuk diikuti adalah urusan jihad dalam arti perang Sejak awal, surah Muhammad menekankan pentingnya ketaatan kepada Rasulullah SAW. Inti iman dan amal saleh yang disebutkan pada ayat kedua, maksudnya adalah taat (“Walladziina aamanuu wa amilush shaalihaati wa aamanuu bimaa nuzzila [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong><strong>Taat kepada Nabi Muhammad SAW dan Jihad</strong></strong></strong></strong></h1>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel (292), September 20</mark>25 Taat paling berat untuk diikuti adalah urusan jihad dalam arti perang</p>



<p>Sejak awal, surah Muhammad menekankan pentingnya ketaatan kepada Rasulullah SAW. Inti iman dan amal saleh yang disebutkan pada ayat kedua, maksudnya adalah taat (“<em>Walladziina aamanuu wa amilush shaalihaati wa aamanuu bimaa nuzzila alaa muhammadin</em>”).</p>



<p>Karena itu, ketika memberikan jalan keluar kepada orang-orang, Allah SWT berpesan bahwa yang paling utama bagi mereka adalah taat kepada Rasulullah SAW. “<em>Fa awlaa lahum thaaatuw wa qaulun ma’ruufun faidzaa azamal amru falaw shadaqulllaaha lakaana khairal lahum”</em>&nbsp;(QS Muhammad: 21).</p>



<p>Kata “<em>awlaa lahum</em>” (seharusnya mereka memilih ini) dan kata “<em>lakaan khairal lahum</em>” (yang demikian ini yang terbaik) dalam ayat tersebut memberikan pesan bahwa tidak ada pilihan untuk selamat dan mencapai kebahagiaan kecuali hanya dengan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.</p>



<p>Taat paling berat untuk diikuti adalah urusan jihad dalam arti perang. Sebab, tantangan dakwah yang pasti akan dihadapi adalah diperangi atau dizalimi.</p>



<p>Kondisi di Kota Makkah pada awal dakwah Rasulullah SAW adalah bukti nyata bahwa kelaliman yang diperbuat orang-orang kafir terhadap umat Islam benar-benar sangat kejam.</p>



<p>Bandingkan dengan kondisi umat Islam di Gaza yang akhir-akhir ini digenosida oleh penjajah Zionis. Adalah keharusan bahwa umat Islam hendaklah mempersiapkan sungguh-sungguh dengan semangat jihad untuk membela diri.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://static.republika.co.id/uploads/infografis/ilustrasi-sahabat-nabi-saw-khalid-bin-walid-merupakan-jenderal_210717195503-970.jpg" alt="photo"/></figure>



<p>Karena itu, pada ayat keempat langsung digambarkan bagaimana cara berperang, “<em>Faidzaa laqiitulladziina kafaruu fadharbar riqaabi hattaa idzaa atskhantumuuhum fa syuddul watsaaq faimmaa mannam ba’du wa immaa fidaaan hattaa tadhal harbu awzaarahaa</em>” (Apabila kamu bertemu di medan perang dengan orang-orang kafir tebaslah batang leher mereka. Selanjutnya apabila kamu menang, tawanlah mereka. Setelah itu kamu boleh membebsakan mereka atau menerima tebusan. Itu berlaku sampai perang selesai) (QS Muhammad: 4).</p>



<p>Allah SWT tidak ingin hamba-Nya terus dalam ketertindasan. Karena itu, untuk menjaga bumi ini dari kalaliman orang-orang kafir dan agar ajaran-Nya menyebar di muka bumi, diajarkanlah konsep jihad sebagai solusi.</p>



<p>Kata jihad dalam bahasa Alquran sebenarnya mengandung banyak makna, tetapi jihad dalam arti perang hanya berlaku jika diajak perang, atau diperangi, atau untuk membela diri pada saat dizalimi.</p>



<p>Dalam surah al-Hajj: 39, Allah SWT menegaskan bahwa mereka diizinkan berperang karena diperangi atau dizalimi (“<em>Udzina lilladziina yuqataluun biannahum dzulimuu</em>”).</p>



<p>Sebenarnya bagi Allah SWT sangat mudah untuk menghancurkan musuh-musuh-Nya (“<em>Wa innallaha alaa nashrihim laqadiir</em>”) (QS al-Hajj: 39), tetapi Allah SWT ingin agar iman yang dimiliki hamba-hamba-Nya teruji (&#8220;<em>Wa law yasyaallah lantashara minhum wa laakil liyabluwa ba’dhakum biba’dh&#8221;</em>).</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Sebenarnya bagi Allah SWT sangat mudah untuk menghancurkan musuh-musuh-Nya,tetapi Allah SWT ingin agar iman yang dimiliki hamba-hamba-Nya teruji.</p>
</blockquote>



<p>Lalu pastikan bahwa yang terbunuh karena membela agama-Nya, ia termasuk mati syahid dan amalnya tidak sia-sia. Bahkan, ia termasuk yang mendapatkan hidayah-Nya dan akan dimasukkan surga (&#8220;<em>Walladziina qutiluu fii sabiilillahi falya yaudhilla a’maalahum, syahdiihim wa yushlihu baalahaum, wayudkhiluhumul jannata arrafahaa lahum&#8221;</em>) (QS Muhammad: 4-6).</p>



<p>Dalam konteks jihad ini, Allah SWT memberikan kaidah kepada orang-orang beriman bahwa siapa dari mereka yang menolong agama-Nya, Allah SWT akan menolongnya dan meneguhkan pendiriannya sehingga ia tidak mudah menyerah dalam membela kebenaran (“<em>Ya ayyuhalladziina aamanuu in tanshurullaha yanshurkum wa yutasbbit aqdaamakum</em>”) (QS Muhammad: 7).</p>



<p>Maka siapa pun yang mempunyai iman, tidak akan pernah gentar dengan disyariatkannya jihad di jalan Allah SWT. Sebab, dengan ruh jihad tersebut, mereka akan mempunyai izzah dan tidak akan mudah dipermainkan oleh musuh-musuh Allah SWT.</p>



<p>Itulah mengapa mereka justru berharap agar segera diturunkan surah yang di dalamnya ada perintah berjihad (<em>Wa yaquulul ladziina aamanuu lawlaa nizzilat suuratun</em>”) (QS Muhammad: 20).</p>



<p>Sebaliknya, orang-orang munafik akan tampak bahwa di hati mereka ada penyakit. Setiap kali turun ayat tentang jihad, mereka langsung pingsan karena takut mati (“<em>Faidzaa unzilat suuratun muhkamatuw wadzukira fiihal qital raaitalladziina fii quluubihim maradhuw yanzhuruuna ilaika nazhral maghsyiya alaihi minal maut fa awlaa lahum”</em>) (QS Muhammad: 20).</p>



<p>Sebenarnya, perintah jihad diturunkan sebagai ujian agar tampak siapayang benar-banar beriman dan siapa yang masih munafik. Orang-orang beriman akan sabar menjalankan jihad, sementara orang-orang munafik akan mencari-cari alasan untuk menghindar (“<em>Wa lanabluwannakum hattaa na’lamal mujaahidiin minkum wash shaabiriin wa nabluwa akhbaarakum”</em>) (QS Muhammad: 31).</p>



<p>Seharusnya, orang-orang beriman tidak takut untuk menjalankan jihad. Sebab, Allah SWT telah memberikan kabar gembira bahwa sehebat apapun permusuhan orang-orang kafir itu tidak akan pernah membahayakan Allah SWT (“<em>Innalladziina kafaruu wa shadduu an sabiilillahi wa syaaqur rasuula mim ba’di maa tabayyana lahumul hudaa lay yadhurrullaha syaiaa”</em>) (QS Muhammad: 32).</p>



<p>Karena itu, pesan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar jangan segera merasa lemah di hadapan musuh-musuhnya lalu ingin segera mengajak berdamai. Sebab, bagaimanapun &#8211;kata Allah&#8211; orang-orang beriman tetap unggul.</p>



<p>Allah SWT akan tetap menyertai mereka yang beriman dan tidak akan mengurangi pahala mereka sedikit pun (“Falaa tahinuu wa tadúu ilassalmi wa antumul a’lawna wallahu maákum walay yatirakum a’maalkum”) (QS Muhammad: 35).</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F25%2Ftaat-kepada-nabi-muhammad-saw-dan-jihad%2F&amp;linkname=Taat%20kepada%20Nabi%20Muhammad%20SAW%20dan%20Jihad" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F25%2Ftaat-kepada-nabi-muhammad-saw-dan-jihad%2F&amp;linkname=Taat%20kepada%20Nabi%20Muhammad%20SAW%20dan%20Jihad" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F25%2Ftaat-kepada-nabi-muhammad-saw-dan-jihad%2F&amp;linkname=Taat%20kepada%20Nabi%20Muhammad%20SAW%20dan%20Jihad" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F25%2Ftaat-kepada-nabi-muhammad-saw-dan-jihad%2F&amp;linkname=Taat%20kepada%20Nabi%20Muhammad%20SAW%20dan%20Jihad" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Keikhlasan Sangat Penting dalam Ibadah?</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/09/11/mengapa-keikhlasan-sangat-penting-dalam-ibadah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2025 08:39:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3932</guid>

					<description><![CDATA[Mengapa Keikhlasan Sangat Penting dalam Ibadah? amirfath.com, Artikel (291), September 2025 Dalam menjalankan setiap perbuatan baik, terutama dalam konteks ibadah, sering kali kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apakah perbuatan ini murni karena Allah atau ada motif lain yang terselip di dalamnya? Mari sama-sama kita pahami bahwa niat yang tulus (ikhlas) adalah kunci utama agar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong><strong>Mengapa Keikhlasan Sangat Penting dalam Ibadah?</strong></strong></strong></strong></h1>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel (291), September 2025 </mark>Dalam menjalankan setiap perbuatan baik, terutama dalam konteks ibadah, sering kali kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apakah perbuatan ini murni karena Allah atau ada motif lain yang terselip di dalamnya? Mari sama-sama kita pahami bahwa niat yang tulus (ikhlas) adalah kunci utama agar amal kita diterima dan berbuah pahala. Tanpa niat yang ikhlas, perbuatan baik sekalipun bisa menjadi sia-sia di mata Allah.</p>



<p><strong>Bahaya Riya: Perusak Keikhlasan</strong></p>



<p>Salah satu perusak utama keikhlasan adalah <strong>riya</strong>, yaitu melakukan suatu perbuatan baik dengan tujuan agar dilihat atau dipuji oleh orang lain. Riya dapat mengubah niat suci menjadi sekadar pencarian pengakuan dari manusia.</p>



<p>Sebagai contoh, seseorang yang melaksanakan salat Tahajud di malam hari, sebuah ibadah yang seharusnya bersifat sangat personal dan rahasia antara hamba dan Tuhannya, dapat kehilangan pahalanya jika ia memamerkannya di media sosial. Meski niat awal mungkin baik, seperti untuk menginspirasi orang lain, ketika hati lebih condong pada pujian, keikhlasan itu akan hilang.</p>



<p><strong>Pengetahuan dan Niat yang Murni</strong></p>



<p>Untuk mencapai keikhlasan, seseorang harus terus mencari ilmu agama. Semakin dalam pemahaman seseorang tentang kewajibannya kepada Allah, semakin tulus pula niatnya dalam beribadah. Ilmu membantu kita memahami bahwa setiap amal perbuatan adalah investasi akhirat, bukan ajang untuk mencari popularitas di dunia.</p>



<p>Kisah seorang jaksa yang menghindari korupsi karena takut karier dan reputasinya rusak, bukan karena takut kepada Allah, menjadi ilustrasi yang sangat jelas. Perbuatan jaksa ini secara lahiriah terlihat baik, tetapi karena niatnya bukan untuk Allah, ia tidak akan mendapatkan pahala spiritual.</p>



<p><strong>Peran Media Sosial</strong></p>



<p>Di era digital, tantangan untuk menjaga keikhlasan semakin besar. Media sosial menjadi wadah yang mudah untuk memamerkan amal kebaikan, dan tanpa disadari, hati bisa tergelincir pada keinginan untuk mendapatkan pengakuan.</p>



<p>Marilah kita selalu mengevaluasi kembali niat di balik setiap unggahan, terutama yang berkaitan dengan ibadah atau dakwah. Tanyakan pada diri sendiri, apakah tujuan utama kita adalah untuk menyebarkan kebaikan atau sekadar mendapatkan &#8220;like&#8221; dan komentar? Keikhlasan, pada akhirnya, adalah urusan hati yang hanya diketahui oleh kita dan Allah.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F11%2Fmengapa-keikhlasan-sangat-penting-dalam-ibadah%2F&amp;linkname=Mengapa%20Keikhlasan%20Sangat%20Penting%20dalam%20Ibadah%3F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F11%2Fmengapa-keikhlasan-sangat-penting-dalam-ibadah%2F&amp;linkname=Mengapa%20Keikhlasan%20Sangat%20Penting%20dalam%20Ibadah%3F" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F11%2Fmengapa-keikhlasan-sangat-penting-dalam-ibadah%2F&amp;linkname=Mengapa%20Keikhlasan%20Sangat%20Penting%20dalam%20Ibadah%3F" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F11%2Fmengapa-keikhlasan-sangat-penting-dalam-ibadah%2F&amp;linkname=Mengapa%20Keikhlasan%20Sangat%20Penting%20dalam%20Ibadah%3F" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Zaid bin Haritsah: Cahaya Loyalitas dan Pelajaran Abadi tentang Cinta Sejati kepada Rasulullah</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/09/11/zaid-bin-haritsah-cahaya-loyalitas-dan-pelajaran-abadi-tentang-cinta-sejati-kepada-rasulullah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2025 08:13:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3930</guid>

					<description><![CDATA[Zaid bin Haritsah: Cahaya Loyalitas dan Pelajaran Abadi tentang Cinta Sejati kepada Rasulullah amirfath.com, Artikel (290), September 2025 &#8211;Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut setianya hingga akhir zaman. Dalam lembaran sirah Nabawiyah yang penuh cahaya, terdapat nama-nama mulia [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>Zaid bin Haritsah: Cahaya Loyalitas dan Pelajaran Abadi tentang Cinta Sejati kepada Rasulullah</strong></strong></strong></h1>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel (290), September 2025 &#8211;</mark>Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut setianya hingga akhir zaman.</p>



<p>Dalam lembaran sirah Nabawiyah yang penuh cahaya, terdapat nama-nama mulia para sahabat yang kisah hidupnya bagai mutiara yang senantiasa memancarkan hikmah. Salah satunya adalah Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu, seorang sahabat yang bukan hanya pemberani di medan jihad, tetapi juga teladan dalam keteguhan hati dan loyalitas yang luar biasa kepada Rasulullah ﷺ.</p>



<p>Kisah Zaid adalah bukti nyata bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan dan memilih hamba-hamba-Nya untuk menjadi pembawa cahaya Islam. Cahaya yang bermula dari Baitullah, memancar melalui generasi terbaik umat ini, yaitu generasi sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga sampai kepada kita hari ini melalui para ulama yang menjaga kemurnian agama.</p>



<p>Allah berfirman:</p>



<p>مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</p>



<p>“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)</p>



<p>Zaid bin Haritsah adalah bagian dari generasi emas tersebut. Takdir Allah telah menyiapkannya melalui jalan yang berliku. Diambil oleh penyamun saat masih kecil, dijual sebagai budak, hingga akhirnya dihadiahkan kepada Khadijah radhiallahu ‘anha dan kemudian menjadi milik Rasulullah ﷺ. Saat ayah dan pamannya datang untuk menebusnya, Rasulullah ﷺ dengan bijaksana memberikan pilihan kepada Zaid yang masih belia: kembali dengan keluarganya atau tetap bersama Rasulullah.</p>



<p>Dengan keteguhan yang luar biasa, Zaid kecil berkata, &#8220;Balqimu maaka&#8221; (Aku tetap bersamamu, wahai Muhammad). Bahkan ketika ayahnya mengingatkan bahwa pilihannya itu berarti ia memilih status sebagai hamba sahaya, Zaid dengan mantap menjawab, &#8220;Inni roitu minza rjulaian&#8221; (Aku melihat dari orang ini [Muhammad] sesuatu yang membuatku ingin selalu bersamanya). Subhanallah! Ini adalah firasat iman yang Allah tanamkan dalam hatinya, jauh sebelum kenabian Muhammad ﷺ.</p>



<p>Rasulullah ﷺ pun begitu tersentuh. Beliau segera membawa Zaid ke sekitar Ka’bah dan berseru, &#8220;Wahai penduduk Quraisy! Saksikanlah bahwa ini adalah anakku. Dia dapat waris dariku dan aku dapat waris darinya.&#8221; Sejak saat itulah ia dipanggil Zaid bin Muhammad, hingga turun ayat yang melarang pengangkatan anak dengan menyandarkan nasab kepada orang tua angkatnya.</p>



<p>Allah berfirman:</p>



<p>ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ</p>



<p>&#8220;Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.&#8221; (QS. Al-Ahzab: 5)</p>



<p>Ayat ini menjadi pelajaran berharga bagi kita hingga hari ini. Islam mengatur hubungan kekeluargaan dengan sangat jelas dan adil. Seorang anak angkat tetap harus dipanggil dengan nama ayah kandungnya, dan hubungan mahramnya tidak menjadi hilang. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar tidak terjadi penyimpangan dalam hukum waris dan pernikahan.</p>



<p>Pilihan Zaid untuk Rasulullah ﷺ adalah pilihan cinta sejati yang didasarkan pada firasat ilahiyah. Ia belum tahu bahwa Muhammad ﷺ akan diangkat menjadi Nabi, belum tahu bahwa ia akan menjadi batu bata pertama fondasi dakwah Islam, dan belum tahu bahwa namanya akan dikenang sepanjang masa. Inilah bukti bahwa ketika Allah yang memilih, maka Dia akan menuntun hamba-Nya kepada kemuliaan yang tidak terduga.</p>



<p>Kedudukan Zaid di sisi Rasulullah ﷺ pun sangat istimewa. Ia adalah orang pertama dari kalangan laki-laki yang beriman kepada Rasulullah ﷺ. Ia menjadi penyimpan rahasia Rasul, pemimpin pasukan, dan bahkan menggantikan Nabi memimpin Madinah saat Rasulullah keluar kota. Kecintaan Rasulullah ﷺ padanya begitu besar. Diceritakan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha, suatu saat Zaid pulang dari perjalanan jauh. Begitu mendengar suaranya, Rasulullah ﷺ yang saat itu hanya menutup aurat antara pusar dan lutut, langsung keluar memeluknya erat. Aisyah berkata, &#8220;Aku belum pernah melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan seperti itu, saking rindunya pada Zaid.&#8221;</p>



<p>Rasulullah ﷺ bersabda:</p>



<p>أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ عَائِشَةُ، وَمِنَ الرِّجَالِ أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَزَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ</p>



<p>&#8220;Manusia yang paling aku cintai adalah Aisyah. Dan dari kalangan laki-laki adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Zaid bin Haritsah.&#8221; (HR. Ahmad)</p>



<p>Zaid bahkan dijuluki &#8220;Hibbu Rasulillah&#8221; (kekasih Rasulullah). Putranya, Usamah, juga mewarisi kemuliaan ini dengan julukan &#8220;Hibbu Rasulillah ibnu Hibbi Rasulillah&#8221; (kekasih Rasulullah, anak dari kekasih Rasulullah).</p>



<p>Dari kisah Zaid bin Haritsah, kita dapat memetik banyak hikmah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Loyalitas dan Cinta Sejati kepada Rasulullah ﷺ. Zaid mengajarkan kita bahwa cinta kepada Rasulullah harus di atas segalanya, bahkan melebihi cinta kepada orang tua dan diri sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda, &#8220;Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</li>



<li>Ketaatan pada Syariat dalam Pengangkatan Anak. Kisah Zaid menjadi dasar yang jelas tentang bagaimana Islam mengatur hubungan anak angkat dengan orang tua angkatnya, menjaga nasab, dan menghindari hal-hal yang terlarang.</li>



<li>Kepasrahan pada Takdir Allah. Perjalanan hidup Zaid yang berliku menunjukkan bahwa Allah memiliki rencana terbaik untuk hamba-Nya. Apa yang tampak sebagai kesulitan, bisa jadi adalah jalan menuju kemuliaan.</li>



<li>Pentingnya Memilih Guru dan Lingkungan yang Baik. Pilihan Zaid untuk tetap bersama Rasulullah adalah pilihan untuk berada dalam lingkungan yang akan membawanya pada cahaya iman dan takwa.</li>



<li>Keadilan dan Kasih Sayang dalam Keluarga. Seorang anak angkat atau anak tiri harus diperlakukan dengan adil dan penuh kasih sayang, sebagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan Zaid.</li>
</ol>



<p>Semoga kita dapat meneladani keteguhan, loyalitas, dan kecintaan Zaid bin Haritsah kepada Rasulullah ﷺ. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang mencintai Rasul-Nya dan senantiasa berjalan di atas cahaya-Nya.</p>



<p>رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>



<p>&#8220;Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 201)</p>



<p>سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ . وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ . وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</p>



<p>&#8220;Mahasuci Tuhanmu, Tuhan yang Maha Perkasa dari apa yang mereka katakan. Dan salam sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.&#8221; (QS. Ash-Shaffat: 180-182)</p>



<p>وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F11%2Fzaid-bin-haritsah-cahaya-loyalitas-dan-pelajaran-abadi-tentang-cinta-sejati-kepada-rasulullah%2F&amp;linkname=Zaid%20bin%20Haritsah%3A%20Cahaya%20Loyalitas%20dan%20Pelajaran%20Abadi%20tentang%20Cinta%20Sejati%20kepada%20Rasulullah" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F11%2Fzaid-bin-haritsah-cahaya-loyalitas-dan-pelajaran-abadi-tentang-cinta-sejati-kepada-rasulullah%2F&amp;linkname=Zaid%20bin%20Haritsah%3A%20Cahaya%20Loyalitas%20dan%20Pelajaran%20Abadi%20tentang%20Cinta%20Sejati%20kepada%20Rasulullah" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F11%2Fzaid-bin-haritsah-cahaya-loyalitas-dan-pelajaran-abadi-tentang-cinta-sejati-kepada-rasulullah%2F&amp;linkname=Zaid%20bin%20Haritsah%3A%20Cahaya%20Loyalitas%20dan%20Pelajaran%20Abadi%20tentang%20Cinta%20Sejati%20kepada%20Rasulullah" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F11%2Fzaid-bin-haritsah-cahaya-loyalitas-dan-pelajaran-abadi-tentang-cinta-sejati-kepada-rasulullah%2F&amp;linkname=Zaid%20bin%20Haritsah%3A%20Cahaya%20Loyalitas%20dan%20Pelajaran%20Abadi%20tentang%20Cinta%20Sejati%20kepada%20Rasulullah" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Menjadi Keluarga Penjaga Kitab Allah</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/09/05/kemuliaan-menjadi-keluarga-penjaga-kitab-allah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2025 03:35:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3923</guid>

					<description><![CDATA[Kemuliaan Menjadi Keluarga Penjaga Kitab Allah amirfath.com, Artikel (289), September 2025 &#8211;Bismillahirrahmanirrahim.Dalam sebuah ruangan yang dipenuhi keteduhan dan kekhusyukan, terpancar cahaya kemuliaan. Mereka yang hadir bukanlah para pejabat atau selebritas, melainkan para penghafal Al-Qur’an beserta orang tua dan pendukung mereka. Inilah acara yang sesungguhnya Allah banggakan di langit, sebuah peristiwa agung yang sering kali dianggap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>Kemuliaan Menjadi Keluarga Penjaga Kitab Allah</strong></strong></strong></h1>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel (289), September 2025 &#8211;</mark>Bismillahirrahmanirrahim.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Dalam sebuah ruangan yang dipenuhi keteduhan dan kekhusyukan, terpancar cahaya kemuliaan. Mereka yang hadir bukanlah para pejabat atau selebritas, melainkan para penghafal Al-Qur’an beserta orang tua dan pendukung mereka. Inilah acara yang sesungguhnya Allah banggakan di langit, sebuah peristiwa agung yang sering kali dianggap remeh oleh banyak orang.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Acara seperti ini seharusnya lebih diprioritaskan daripada segala acara kenegaraan sekalipun. Mengapa? Karena hakikat penciptaan langit, bumi, dan manusia adalah untuk menurunkan Al-Qur’an. Manusia hanya bermakna ketika hidupnya bersama Al-Qur’an. Tanpanya, kehidupan ini tidak lebih dari rutinitas hewani: tidur, makan, dan berkembang biak. Kucing dan tikus pun bisa melakukan itu. Keistimewaan manusia terletak pada kemampuannya untuk membawa firman Allah dalam hatinya.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Di tengah gempuran zaman yang mengatakan bahwa menghafal Al-Qur’an sudah tidak relevan karena semua ayat sudah tersedia di gawai, kita harus kembali pada hakikatnya. Al-Qur’an bukanlah buku biasa atau aplikasi digital. Ia adalah Kalamullah, firman Allah yang hidup. Aplikasi Al-Qur’an di HP tidak akan bisa memberi syafaat di hari kiamat. Yang akan memberi syafaat adalah interaksi kita yang tulus dengan Al-Qur’an: membacanya, menghafalnya, memahaminya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Menjadi penghafal Al-Qur’an adalah sebuah kehormatan dan pilihan dari Allah (istifa), sebagaimana firman-Nya dalam Surat Fathir ayat 32. <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>_&#8221;Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.&#8221;_<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Ini adalah anugerah terbesar yang menandakan bahwa seseorang telah terpilih menjadi keluarga Allah. Proses menghafal memang berat, tetapi yang lebih berat adalah menjaga hafalan itu seumur hidup. Itulah jihad sebenarnya.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Bagi yang belum atau hanya mampu menghafal sedikit, jangan berputus asa. Mulailah dengan satu ayat yang diulang-ulang. Sekali lagi, menghafal Al-Qur’an pada hakikatnya adalah zikir, dan zikir tertinggi adalah membaca Al-Qur’an. Lidah yang diciptakan Allah akan bermakna ketika digunakan untuk berzikir, bukan untuk perkataan sia-sia.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Setidaknya ada sembilan hikmah agung mengapa kita harus bersemangat bersama Al-Qur’an:<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Karena Ini Pilihan Allah (Al-Istifa): Menjadi penghafal Quran berarti terpilih menjadi keluarga Allah.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Menguatkan Iman (Li Taqwimil Iman): Setiap huruf yang dibaca menguatkan keimanan dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Bentuk Zikir Paling Mulia (Lidzikr): Tidak ada zikir yang lebih utama dari membaca dan mengulang-ulang Kalamullah. إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>&#8220;Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur&#8217;an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya&#8221; (QS Al-Hijr ayat 9)<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Mendekatkan Diri kepada Allah (Litaqarrub Ilallah): Interaksi dengan Quran adalah cara terbaik untuk mendekat kepada-Nya. Kata para ulama, مَنْ أَرَادَ أَنْ يُكَلِّمَ اللهَ فَلْيَقْرَأِ الْقُرْآنَ&#8221; (Barangsiapa yang ingin berbicara dengan Allah, maka hendaklah dia membaca Al-Qur&#8217;an). Ini adalah atsar (perkataan) yang diriwayatkan dari seorang ulama dari kalangan Tabi&#8217;in, yaitu Imam Sufyan bin &#8216;Uyainah.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Untuk Ibadah (Lita&#8217;abbud): Bacaan dalam salat adalah Al-Qur’an. Semakin banyak hafalan, semakin indah dan khusyuk ibadah kita.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Bentuk Syukur (Lisyukr): Mensyukuri nikmat kesehatan, waktu, dan indra dengan digunakan untuk membaca Quran.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Mendatangkan Keberkahan (Lil Barakah fil &#8216;Umr): Setiap hurufnya dilipatgandakan pahalanya, membuat waktu dan hidup menjadi berkah.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Meninggikan Derajat di Surga (Litarqi fid Darajat): Setiap ayat yang dihafal dan dijaga akan meninggikan kedudukan di surga. Penghafal Quran yang mahir akan bersama para malaikat. Rasulallah SAW bersabda: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Rasulullāh shallallāhu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Akan dikatakan kepada ahli Al-Qur&#8217;an (pada hari Kiamat): &#8216;Bacalah dan naiklah serta tartilkanlah (bacaanmu) sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu (di Surga) adalah pada akhir ayat yang kamu baca.'&#8221; (HR Tirmidzi)<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Menjadi Manusia Terbaik (Al-Khairiyah): Sebagaimana sabda Nabi, sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Dari Utsman radhiyallahu &#8216;anhu, dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau bersabda: &#8220;Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.&#8221; (HR Bukhari) <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan acara seperti wisuda hafiz Quran. Jangan pernah rendah diri terhadap anak-anak yang menghafal Quran dibandingkan dengan mereka yang sukses secara materi. Rumah Nabi hanya 4 meter persegi, tetapi kemuliaannya abadi hingga akhir zaman. Keberhasilan sejati bukan diukur oleh kemewahan dunia, tetapi oleh kedekatan dengan Allah melalui kitab-Nya. Rasulallah SAW menegaskan dalam haditsnya:<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>مَالِي وَلِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>&#8220;Dunia ini bukanlah milikku. Permisalanku di dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.&#8221; (Imam At-Tirmidzi dalam kitab Sunan At-Tirmidzi, Kitab: Kitab Sifatul Qiyāmah war-Raqā&#8217;iq wal-Wara&#8217;: Hadits Hasan (Bagus). Imam At-Tirmidzi sendiri mengatakan, &#8220;Hadits ini hasan gharib.&#8221;)<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Mari jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia. Lihatlah Al-Qur’an seperti kita melihat gawai kita. Niscaya, kita akan khatam berkali-kali. Untuk para orang tua, banggalah memiliki anak penghafal Quran. Dukunglah mereka, bukan dengan menjadi ‘calo’ yang hanya menonton, tetapi dengan ikut serta memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Semoga kita semua dikumpulkan Allah di surga-Nya yang tertinggi, Surga Firdaus, bersama para penghafal Al-Qur’an dan orang-orang yang mencintainya.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Wallahu a’lam bish-shawab.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )</p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F05%2Fkemuliaan-menjadi-keluarga-penjaga-kitab-allah%2F&amp;linkname=Kemuliaan%20Menjadi%20Keluarga%20Penjaga%20Kitab%20Allah" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F05%2Fkemuliaan-menjadi-keluarga-penjaga-kitab-allah%2F&amp;linkname=Kemuliaan%20Menjadi%20Keluarga%20Penjaga%20Kitab%20Allah" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F05%2Fkemuliaan-menjadi-keluarga-penjaga-kitab-allah%2F&amp;linkname=Kemuliaan%20Menjadi%20Keluarga%20Penjaga%20Kitab%20Allah" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F05%2Fkemuliaan-menjadi-keluarga-penjaga-kitab-allah%2F&amp;linkname=Kemuliaan%20Menjadi%20Keluarga%20Penjaga%20Kitab%20Allah" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merancang Hidup Bermakna dengan Kompas Ilahi</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/09/01/merancang-hidup-bermakna-dengan-kompas-ilahi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2025 13:48:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3921</guid>

					<description><![CDATA[Merancang Hidup Bermakna dengan Kompas Ilahi amirfath.com, Artikel (288), Agustus 2025 &#8211;Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebuah pertanyaan fundamental seringkali menggema dalam benak manusia, terutama di tengah gelombang ujian dan kesulitan hidup: “Mengapa aku hidup? Untuk apa semua jerih payah dan penderitaan ini?” Pertanyaan eksistensial ini bukanlah hal sepele. Ia adalah pangkal dari segala pencarian makna [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>Merancang Hidup Bermakna dengan Kompas Ilahi</strong></strong></strong></h1>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel (288), Agustus 2025 &#8211;</mark>Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</p>



<p>Sebuah pertanyaan fundamental seringkali menggema dalam benak manusia, terutama di tengah gelombang ujian dan kesulitan hidup: “Mengapa aku hidup? Untuk apa semua jerih payah dan penderitaan ini?” Pertanyaan eksistensial ini bukanlah hal sepele. Ia adalah pangkal dari segala pencarian makna dan tujuan hidup manusia. Sebuah penelitian di Amerika Serikat bahkan mengungkapkan fakta yang mencengangkan: sekitar 80% dari kasus ketergantungan alkohol berawal dari kegelisahan eksistensial dan ketidakmampuan menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar tentang hakikat kehidupan.</p>



<p>Fenomena ini menunjukkan betapa manusia modern, dengan segala kecanggihan teknologinya, justru mengalami krisis makna yang parah. Mereka yang tidak memiliki pegangan iman yang kokoh seringkali menjalani hidup seperti musafir yang tersesat di padang luas tanpa kompas atau GPS. Mereka berjalan tanpa arah yang jelas, tanpa tahu dari mana datangnya, untuk apa berada di sini, dan ke mana tujuan akhir perjalanan hidup. Hidup pun direduksi menjadi sekadar rutinitas biologis dan materi belaka: makan, minum, tidur, bekerja, dan menghasilkan keturunan. Dalam keadaan seperti ini, kehidupan kehilangan dimensi spiritualnya dan menjadi datar tanpa roh.</p>



<p>Di sinilah letak keutamaan dan keberkahan menjadi seorang Muslim. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena dikaruniai iman dan diberikan pedoman hidup yang jelas berupa Al-Qur’anul Karim. Kitab suci ini bukanlah sekadar kitab yang dibacakan untuk orang yang telah meninggal, meskipun memang terdapat keutamaan dalam membacakannya untuk mayit dan dapat meringankan siksa kubur. Namun, hakikat utama diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk hidup (hudan lin-nas) bagi orang-orang yang masih hidup. Ia berfungsi sebagai GPS ilahi yang menunjukkan jalan lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.</p>



<p>Allah SWT berfirman:<br>إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ</p>



<p>“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)</p>



<p>Ayat ini mengingatkan kita bahwa sumber petunjuk kita berasal dari Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Seolah-olah Allah berkata, “Wahai manusia, Akulah yang menciptakanmu. Maka hanya Aku-lah yang paling tahu untuk apa engkau diciptakan dan bagaimana seharusnya engkau menjalani hidup.”</p>



<p>Esensi dari kehidupan ini sesungguhnya terletak pada upaya kita untuk senantiasa menjaga dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta (hablum minallah). Sedikit saja hubungan ini terputus atau melemah, kehidupan bisa kehilangan maknanya dan menjadi sia-sia. Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya bahwa ketika manusia tidak lagi menggunakan akal dan hati nuraninya untuk mengenal dan menyembah Penciptanya, derajat mereka bisa jatuh lebih rendah daripada binatang.</p>



<p>وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَـٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَـٰفِلُونَ</p>



<p>“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)</p>



<p>Karena kasih sayang-Nya yang tak terbatas, Allah tidak membiarkan manusia tersesat tanpa petunjuk. Di setiap zaman, Allah mengutus nabi dan rasul dari kalangan manusia sendiri untuk membimbing umatnya kembali ke jalan yang lurus. Dalam peristiwa agung Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj, Nabi Muhammad SAW shalat mengimami semua nabi di Masjidil Aqsa. Ini adalah simbol nyata dari kesinambungan risalah langit yang bertujuan mengawal perjalanan hidup manusia agar tidak menyimpang dari rel yang telah ditetapkan Allah.</p>



<p>Masjidil Aqsa, yang saat ini masih dalam cengkeraman penjajahan, memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda:<br>لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَ</p>



<p>&#8220;Tidak boleh melakukan perjalanan (untuk ibadah) kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasulullah SAW, dan Masjidil Aqsa.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p>



<p>Keutamaan ini menunjukkan betapa Allah menjaga tempat-tempat suci tersebut sebagai pusat spiritualitas umat manusia. Doa kita senantiasa menyertai saudara-saudara kita di Palestina yang dengan heroik mempertahankan kesucian Masjidil Aqsa.</p>



<p>Pada hakikatnya, kehidupan dunia ini adalah ujian (ibtila&#8217;) sebagaimana firman Allah:</p>



<p>ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ</p>



<p>&#8220;Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.&#8221; (QS. Al-Mulk: 2)</p>



<p>Ujian hidup bukanlah bentuk hukuman atau kesia-siaan. Sebaliknya, ia adalah mekanisme untuk meninggikan derajat hamba di sisi Allah. Analoginya seperti pohon yang semakin tinggi maka akan semakin kencang angin yang menerpanya. Semakin tinggi derajat yang Allah kehendaki untuk seorang hamba, semakin besar pula ujian yang akan dihadapinya. Kunci untuk lulus dari ujian ini adalah kesabaran, ketakwaan, keteguhan hati, dan konsistensi dalam menuntut ilmu melalui majelis-majelis kajian keislaman.</p>



<p>Marilah kita senantiasa bersyukur telah dikaruniai kompas hidup yang jelas berupa Al-Qur&#8217;an dan Sunnah. Jangan sia-siakan anugerah agung ini dengan menjalani hidup tanpa arah dan tujuan. Hadirilah majelis-majelis ilmu, perdalam pemahaman agama, dan praktikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan demikian kita dapat menjalani hidup dengan penuh makna, karena kita tahu dengan pasti untuk apa kita diciptakan dan ke mana tujuan akhir perjalanan hidup kita. Wallahu a&#8217;lam bish-shawwab.</p>



<p>Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">  </mark>(Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )</p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F01%2Fmerancang-hidup-bermakna-dengan-kompas-ilahi%2F&amp;linkname=Merancang%20Hidup%20Bermakna%20dengan%20Kompas%20Ilahi" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F01%2Fmerancang-hidup-bermakna-dengan-kompas-ilahi%2F&amp;linkname=Merancang%20Hidup%20Bermakna%20dengan%20Kompas%20Ilahi" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F01%2Fmerancang-hidup-bermakna-dengan-kompas-ilahi%2F&amp;linkname=Merancang%20Hidup%20Bermakna%20dengan%20Kompas%20Ilahi" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F09%2F01%2Fmerancang-hidup-bermakna-dengan-kompas-ilahi%2F&amp;linkname=Merancang%20Hidup%20Bermakna%20dengan%20Kompas%20Ilahi" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Akhir Kesombongan Materialisme</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/08/25/akhir-kesombongan-materialisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2025 03:59:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3918</guid>

					<description><![CDATA[Akhir Kesombongan Materialisme amirfath.com, Artikel (287), Agustus 2025 &#8211; Surah al-Fiil adalah personifikasi kekuatan materialisme. Allah SWT menurunkan surah khusus untuk merekam kesombongan seorang raja yang tertipu dengan kekuasannya. Seakan kerajaan yang diraihnya melalui jalan pintas di Yaman adalah keabadian.Padahal, dunia dengan segala gemerlapnya hanyalah tipu daya belaka (wamal hayatud dunyaa illal mataaul ghurur) (QS [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>Akhir Kesombongan Materialisme</strong></strong></strong></h1>



<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Artikel (287), Agustus 2025 &#8211; Surah al-Fiil adalah personifikasi kekuatan materialisme. Allah SWT menurunkan surah khusus untuk merekam kesombongan seorang raja yang tertipu dengan kekuasannya. Seakan kerajaan yang diraihnya melalui jalan pintas di Yaman adalah keabadian.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Padahal, dunia dengan segala gemerlapnya hanyalah tipu daya belaka (wamal hayatud dunyaa illal mataaul ghurur) (QS Ali Imran: 185). Raja itu dikenal dengan nama Abrahah.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Seorang komandan tempur bersama teman satunya yang bernama Ariyadh yang diutus untuk menaklukkan Yaman oleh Najasyi, seorang raja di Habsyah. Tiba-tiba setelah kemenangan dicapai, Abrahah mengumumkan bahwa dirinyalah raja Yaman.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Ariyadh tidak mau menerima pengumuman tersebut. Terjadilah kemudian perang tanding antara Abrarah dan Ariyadh dengan kesepakatan siapa yang menang dialah yang berhak menobatkan dirinya jadi raja. Singkat cerita, pada putaran pertama, hidung Abrahah terkena pedang dan menjadi gompal. Tetapi pada putaran kedua, Abrahah berhasil membunuh Ariyadh. Maka dialah yang kemudian menjadi raja.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Mendengar kejadian itu, Raja Najasyi murka. Ia bersumpah tidak akan duduk sampai berhasil menginjak kepala Abrahah. Untuk membatalkan sumpahnya, Abrahah mengirim rambutnya kepada Najasyi, lalu ia diminta untuk menginjaknya. Setelah itu raja bisa duduk kembali.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Namun, tidak hanya itu usaha Abrahah untuk membuat Raja Najasyi senang. Abrahah bertekad untuk membuat gereja terbesar di Yaman dengan nama al-Qullaish sebagai hadiah untuk Raja Najasyi. Lalu, ia sesumbar akan menggerakkan semua manusia di muka bumi agar berdatangan ke gereja tersebut untuk beribadah.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Mendengar sesumbarnya itu, seorang datang memberitahukan kepadanya bahwa ambisinya tidak akan tercapai sampai berhasil menghancurkan Ka&#8217;bah. Abrahah baru mendengar pertama kali kata Ka&#8217;bah. Dijelaskan kepadanya bahwa itu adalah rumah Allah yang menjadi pusat ibadah semua manusia di muka bumi. Karena itulah kemudian Abrahah bertekad untuk menghancurkan Ka&#8217;bah yang berada di Kota Makkah.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Supaya keinginannya tercapai dan tidak ada kekuatan apapun yang bisa menhalanginya, Abrahah menyiapkan pasukan paling kuat dengan mengendarai gajah. Terhitung ada seribu gajah yang dia bawan dipimpin oleh seekor gajah namanya Mahmud. Maka ke mana Mahmud melangkah, semua gajah mengikutinya.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Ketika sampai di sebuah tempat disebut Wadi Muhashshir, Abrahah dan pasukannya istirahat sejenak. Di sana, bantal unta-unta dan domba-domba gembalaan dirampas. Di antaranya adalah unta-unta milik Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Untuk menuntut balik unta-untanya, Abdul Muthalib datang untuk menemui Abrahah. Dari kejauhan, di atas singgasananya, Abrahah melihat wajah Abdul Muthalib penuh wibawa. Dalam benaknya Abarahah berkata bahwa dialah pemilik Kota Makkah.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark> Allah mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan kerikil yang panas, sehingga mereka menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat.QS AL FIIL Seketika Abrahah turun dari singgasananya untuk menyambut kehadiran Abdul Muthalib. Sebelumnya, Abrarah tidak pernah turun berhadapan dengan siapapun. Ini dilakukan karena dalam pikirannya, Abdul Muthalib sangat agung, wibawanya menimbulkan rasa segan dalam diri Abrahah. Dia berharap agar Kota Makkah diserahkan segera kepadanya.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Ketika bertemu Abrahah, Abdul Muthalib mengatakan bahwa ia datang untuk meminta unta-untanya. Seketika Abrahah kecewa, karena ternyata orang yang sangat ia hormati, datang bukan untuk menyerahkan Kota Makkah melainkan untuk menuntut unta-untanya.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Abdul Muthalib berkata, “Aku pemilik unta-unta itu. Maka akulah yang berhak mengambilnya kembali. Adapun Ka’bah yang akan kau hancurkan itu ada pemiliknya. Silakan kamu berhadapan langsung dengan pemilik Ka’bah tersebut.”<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Setelah unta-unta itu dikembalikan, Abrahah langsung bergegas menyiapkan pasukan untuk menghancurkan Ka’bah. Pasukan gajah diarahkan ke Kota Makkah.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Tiba-tiba ada seseorang datang kepada Mahmud, pimpinan gajah, dan berbisik di telinganya bahwa Ka’bah itu milik Tuhannya. Sejak itu, Mahmud setiap kali diarahkan ke Kota Makkah tidak mau melangkah. Sebaliknya, ketika diarahkan ke Yaman, Mahmud bersemangat  dan semua gajah ikut di belakangnya. Berkali-kali ini dilakukan, tetapi tidak berhasil.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Ketika semua pasukan gajah terhenti, datanglah tiba-tiba sebuah warna gelap di angkasa dari arah Yaman. Tadinya mereka menyangka bahwa itu mendung untuk mengirimkan hujan. Tetapi lama kelamaan warna hitam itu semakin melebar bagaikan hamparan tikar yang pekat menutup langit secara perlahan.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Anehnya, hamparan hitam itu semakin mendekat ke arah pasukan Abrahah. Ternyata itu adalah pasukan burung kecil yang berbaris rapi. Tidak ada celah di antara mereka.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Masing-masing burung membawa tiga kerikil kecil sebesar biji sawi. Di setiap kerikil itu tertulis nama-nama semua pasukan Abrarah. Begitu kerikil tersebut dilempar, maka semua pasukan terkena dan tidak ada seorang pun yang terlewatkan.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Begitu kerikil itu menimpa mereka, terjadilan pemandangan yang sangat mengenaskan. Seketika semua pasukan terbakar, tubuh mereka menjadi lepuh. Lalu satu persatu anggota tubuh mereka terputus antara satu dengan lainnya. Menumpuk menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Pemandangan itu direkam dalam surah al-Fil dengan singkat, tetapi sangat mewakili semua apa yang terjadi. Siapapun yang membacanya akan mengalami suasana seperti hadir pada saat kejadian.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Suatu pelajaran bahwa kekuatan materialisme sehebat apapaun ketika digunakan untuk berbuat lalim pasti akan dihancurkan.<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"></mark>Allah SWT berfirman, “Tidakkah engkau melihat bagaimana Allah memperlakukan pasukan gajah? Bukanlah Allah telah membuat tipu daya, mereka memakan diri mereka sendiri? Allah mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan kerikil yang panas, sehingga mereka menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat.” </mark>(Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )</p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F08%2F25%2Fakhir-kesombongan-materialisme%2F&amp;linkname=Akhir%20Kesombongan%20Materialisme" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F08%2F25%2Fakhir-kesombongan-materialisme%2F&amp;linkname=Akhir%20Kesombongan%20Materialisme" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F08%2F25%2Fakhir-kesombongan-materialisme%2F&amp;linkname=Akhir%20Kesombongan%20Materialisme" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F08%2F25%2Fakhir-kesombongan-materialisme%2F&amp;linkname=Akhir%20Kesombongan%20Materialisme" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>APAKAH MEMPERINGATI TAHUN BARU HIJRIAH BID&#8217;AH</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/07/27/apakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2025 03:29:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3915</guid>

					<description><![CDATA[APAKAH MEMPERINGATI TAHUN BARU HIJRIAH BID&#8217;AH amirfath.com, Fiqih (27), Juli 2025 &#8211; pertanyaan :Pak Ustadz setiap tahun kami selalu mengadakan acara besar Tabligh Akbar untuk memperingati tahun baru Hijriah. Tiba-tiba akhir-akhir ini muncul pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa itu bidáh, apa pendapat Ustadz ? Jawaban:Mengatakan bahwa perayaan tahun baru Hijriah adalah bid’ah secara mutlak perlu diluruskan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>APAKAH MEMPERINGATI TAHUN BARU HIJRIAH BID&#8217;AH </strong></strong></strong><div><span style="background-color: rgba(0, 0, 0, 0.2);"></span></div></h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"><strong>Fiqih</strong></mark> <strong>(27), Juli 2025 &#8211;</strong></mark></strong> pertanyaan :Pak Ustadz setiap tahun kami selalu mengadakan acara besar Tabligh Akbar untuk memperingati tahun baru Hijriah. Tiba-tiba akhir-akhir ini muncul pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa itu bidáh, apa pendapat Ustadz ?  Jawaban:Mengatakan bahwa perayaan tahun baru Hijriah adalah bid’ah secara mutlak perlu diluruskan agar tidak terjebak pada pemahaman yang sempit terhadap konsep bid’ah dalam Islam. Mari kita bahas secara ilmiah dan berimbang. Pertama, apa Itu Bid’ah? Secara bahasa, bid’ah artinya sesuatu yang baru yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Adapun secara istilah, para ulama membaginya menjadi dua: (a). Bid’ah Hasanah (baik) yaitu hal baru yang tidak bertentangan dengan syariat dan memiliki manfaat. (b). Bid’ah Sayyi’ah (buruk) yaitu hal baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Imam An-Nawawi dalam kitbanya A; Majmu’Syarah Al Muhadzdzab, 1/24, mengatakan:“Al-bid’ah terbagi menjadi lima hukum: wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Dan ini tergantung pada bentuk dan tujuannya.” Artinya jika suatu hal yang baru brhubungan dengan wajib maka itu menjadi wajib, Misalnya mengumpulkan Al-Quran menjadi satu mushaf. Di zaman nabi Al-Quran secara tulisan masih terperncar-pencar dalam tupukan kayu, pelepah kurma, tulang belulang dan lain sebagainya. Tetapi dengan dikumpulkannya menjadi satu kitab yang utuh maka Al-Quran sekarang mudah dibaca. Bayangkan seandainya pengumpulan itu tidak terjadi, bisa jadi Al-Quran hilang. Memang itu tidak pernah dikerjakan nabi, dengan kata lain itu bidáh tetapi demi untuk menjaga agama ini maka itu harus dilakukan. Inilah yang disebut bidá yang hukumnya wajib. Demikian juga hukum lainnya sesuai dengan tingkat kebutuhan yang ada untuk menjaga tujuan syariah, bisa jadi bidáh itu hukumnya sunnah, mubah. Tetapi jika jelas bertentangan dengan syariah itu jelas hukumnya haram. Jadi tidak selamanya bidah itu dihukumi sesat. Adapun maksud hadits yang berbunyi : kullu bidátin dhalalah (semua bidáh adalah sesat) maka berdasarkan apa yang dinyatakan Imam An Nawawi di atas, jelas baksudnya adalah sebagian bidáh bukan semuanya. Sebab dalam kaidah bahasa Al Quran kata kuluu bisa bermkana ba’dh (sebagian).  Dalam surah Al Ahqaf : 25, Allah berfriman: udammiru kulla syaiin biamri rabbihaa (Ia menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya) Auat ini konteksnya adalah kaum Ad  yang diadzab, tetapi kenyataannya yang dihancurkan bukan semua alam semesta. Ini bukti bahwa kata kullu dalam ayat di atas maksudnya sebagian. Jika maksudnya adalah seluruhnya maka kita tidak akan menyaksikan lagi alam semesta ini.  Kedua, mengenai penetapan Tahun Hijriah Tahun Hijriah itu memang asalnya tidak ditetapkan oleh Nabi Muhammad, tetapi oleh Khalifah Umar bin Khattab bersama para sahabat di masa kekhalifahannya. Artinya, penetapan kalender Hijriah adalah ijtihad sahabat, bukan syariat yang baku sejak zaman Nabi. Namun demikian, ini adalah ijtihad yang disepakati karena memiliki kemaslahatan besar untuk umat Islam, seperti dalam administrasi, pengaturan zakat, ibadah puasa, dan haji. Kalapun mau dikategorikan bidáh penetapan tahun hijriah ini bisa dikatakan hukumnya wajib atau sunnah karena besarnya maslahat bagi umta Islam terutama dalam menjalan ibadah mereka sepanjang tahun. Ini jelas meperkuat pemahaman di atas bahwa tidak selamanya bidah itu haram dan menyebabkan masuk neraka tetapi ada juga bida’h yang hukumnya sunnah bahkan wajib. Sebab keberadaanya -sekalipun nabi sendiri tidak pernah mengadakannya- tidak saja sejalan dengan syariah, melainkan justru menguatkan syaraiah itu sendiri. Ketiga, Adapun perayaan Tahun Baru Hijriah sebut saja itu sekedar tradisi, sebab memang itu diadakan sebagai acara biasa seperti kita mengadakan hari ulang tahun kemerdekaan negara. Selam di dalam acara tersebut tidak ada program yang bertentangan dengan Syariat maka tidak bisa dihukumi bid;ah karena itu bukan ibadah mahdhah. Apalagi dalam perayaan yang dilakukan oleh umat Islam pada momen pergantian tahun Hijriah bukanlah bentuk ibadah ritual baru, tetapi lebih kepada momen refleksi, muhasabah, dan dakwah, seperti: Mengadakan tausiyah/kajian Islam, menyemarakkan masjid, mengingatkan pentingnya hijrah nilai, bukan hanya hijrah fisik, membangkitkan motivasi agar tahun berikutnya lebih baik dan produktif tentu ini memabawa kemaslahatan yang dalam Islam sangat dianjurkan. Ini sejalan dengan kaidah fikih : al ashlu fil aadaati al ibahatu maa lam yarid dalilun yadullu álat tahriim (Asal dari suatu adat (tradisi) adalah mubah (dibolehkan) selama tidak ada dalil yang melarangnya).  Dengan ini jelas bahwa perayaan tahun baru Hijriah adalah adat kebiasaan yang bisa menjadi sarana untuk berdakwah dan muhasabah, bukan ibadah yang ditetapkan secara khusus oleh syariat. Maka tidak tepat jika langsung dihukumi sebagai bidah dhalâlah (bid’ah yang sesat). Berdasrkan ini qiyaskan semua tradisi yang lain seperti Maulid Nabi, Nuzulul Qur’an, dan Isra’ Mi’raj— semua itu tidak tergolong bidáh yang terlarang selama tidak ada penyimpangan yang bertetangan dengan syriat. Kesimpulan, berdasrkan penjelasan di atas maka perayaan tahun baru Hijriah ada yang serupa tidak termasuk bidáah sayyi’ah, karena: tidak bertentangan dengan prinsip Islam tidak dimaksudkan sebagai ibadah baru melainkan sebagai budaya dan tradisi yang bisa menjadi sarana kebaikan dan pengingat hijrah Rasulullah saw. Apalagi memang tidak ada dalil khusus yang menunjukkan keharamannya. Maka, sikap yang tepat adalah membimbing umat agar mengisinya dengan hal-hal positif, bukan malah mengharamkan sesuatu yang tidak ada dalil pengharamannya secara tegas. (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )Wallâhu a’lam bish-shawâb.</p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F07%2F27%2Fapakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah%2F&amp;linkname=APAKAH%20MEMPERINGATI%20TAHUN%20BARU%20HIJRIAH%20BID%E2%80%99AH" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F07%2F27%2Fapakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah%2F&amp;linkname=APAKAH%20MEMPERINGATI%20TAHUN%20BARU%20HIJRIAH%20BID%E2%80%99AH" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F07%2F27%2Fapakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah%2F&amp;linkname=APAKAH%20MEMPERINGATI%20TAHUN%20BARU%20HIJRIAH%20BID%E2%80%99AH" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F07%2F27%2Fapakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah%2F&amp;linkname=APAKAH%20MEMPERINGATI%20TAHUN%20BARU%20HIJRIAH%20BID%E2%80%99AH" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>HUKUM BERMADZHAB</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/06/18/hukum-bermadzhab/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2025 04:27:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3912</guid>

					<description><![CDATA[HUKUM BERMADZHAB amirfath.com, Fiqih (22), Juni 2025 &#8211; Pertanyaan:Sebagian orang menolak bermadzhab dengan alasan bahwa kita cukup langsung merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah tanpa melalui pendapat para ulama mazhab. Bagaimana kita menyikapi perndapat ini? Jawaban:Pernyataan ini tampak benar secara lahiriah, namun keliru secara metodologi, historis, dan keilmuan. Berikut ini jawaban atas penolakan tersebut: (1). Bermadzhab [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>HUKUM BERMADZHAB </strong></strong></strong><div><span style="background-color: rgba(0, 0, 0, 0.2);"></span></div></h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"><strong>Fiqih</strong></mark> <strong>(22), Juni 2025 &#8211; </strong></mark></strong>  Pertanyaan:Sebagian orang menolak bermadzhab dengan alasan bahwa kita cukup langsung merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah tanpa melalui pendapat para ulama mazhab. Bagaimana kita menyikapi perndapat ini?  Jawaban:Pernyataan ini tampak benar secara lahiriah, namun keliru secara metodologi, historis, dan keilmuan. Berikut ini jawaban atas penolakan tersebut: (1). Bermadzhab bukan berarti mendewakan ulama. Bermadzhab adalah mengikuti metode dan ijtihad ulama mujtahid, bukan menganggap mereka maksum. Imam Syafi’i sendiri berkata: qawlii shawab yahtamilul khatha’wa qawlu ghairii hkatha’yahtamilish shawab (Pendapatku benar namun mungkin salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar).        (2). Bermadzhab adalah kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Mayoritas umat Islam sejak generasi salaf mengikuti salah satu dari madzhab yang mu’tabarah (diakui): Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Ini karena mereka tidak mampu berijtihad sendiri, sehingga mereka butuh taqlid (mengikuti) kepada yang lebih alim. Imam al-Nawawi berkata: “Orang awam tidak mempunyai mazhab. Mazhabnya adalah mazhab mufti yang memberikan fatwa kepadanya. Maka dia wajib mengikutinya”(al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 1/93) (3). Dalil bahwa mengikuti ulama adalah perintah Allah. Sebagimana dalam firman-Nya: fasaluu ahldz dzikri in kuntum laa ta’lamuun (Tanyakanlah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui) (QS. An-Nahl: 43). Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak tahu tidak boleh berijtihad sendiri, tetapi harus bertanya dan mengikuti ulama. Maka, mengikuti madzhab adalah aplikasi nyata dari ayat ini. (4). Realita keilmuan menunjukkan perlunya bermadzhab. Tidak semua orang mampu memahami bahasa Arab, ushul fikih, qawaid fiqhiyah, dan hadits-hadits yang saling tampak bertentangan. Bermadzhab membantu kita menghindari kesalahan dalam memahami dalil, sebab para imam mazhab sudah menjelaskannya dengan ijtihad ilmiah yang mendalam. (5). Menolak bermadzhab berarti membuka pintu kerusakan. Jika setiap orang bebas memahami dan mengamalkan agama langsung dari Al-Qur’an dan Hadis tanpa metode dan bimbingan, maka: Akan terjadi kekacauan hukum. Muncul seribu “madzhab” sendiri-sendiri yang saling bertentangan. Ini bertentangan dengan praktik umat Islam sepanjang sejarah. (6). Ulama Salaf dan Khalaf pun mengikuti Madzhab. Mayoritas ulama besar – baik ahli tafsir, ahli hadits, sufi, atau mutakallimin – mengikuti madzhab tertentu, karena mereka tahu pentingnya sistematika pemahaman hukum syariat.Kesimpulan dari apa yang telah dijelaskan di atas bahwa bermadzhab bukanlah keharusan mutlak dalam arti wajib secara individual, tetapi ia adalah kewajiban fungsional dan praktikal bagi setiap Muslim yang tidak mampu berijtihad sendiri. Menolak bermadzhab dengan semangat anti-ulama adalah bentuk kesombongan ilmiah dan kesesatan metodologis. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim:“Ilmu itu ada tiga tingkatan. Siapa yang masuk pada tingkatan pertama, ia akan sombong. Siapa yang masuk tingkatan kedua, ia akan tawadhu’. Siapa yang masuk tingkatan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak tahu apa-apa.”(Madarijus Salikin, 2/342). Karena itu banyak ulama yang sekalipun secara keilmuan mereka mampu beritihad tetapi mereka masih bermazhab, seperti Imam Bukhari bermazhab Syafii, Imam Ibn Taymiayh bermazhab Hanbali dan sebagainya.  (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran ).</p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F18%2Fhukum-bermadzhab%2F&amp;linkname=HUKUM%20BERMADZHAB" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F18%2Fhukum-bermadzhab%2F&amp;linkname=HUKUM%20BERMADZHAB" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F18%2Fhukum-bermadzhab%2F&amp;linkname=HUKUM%20BERMADZHAB" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F18%2Fhukum-bermadzhab%2F&amp;linkname=HUKUM%20BERMADZHAB" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MASALAH WANITA HAIDH MEMBACA AL-QURAN</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/06/17/masalah-wanita-haidh-membaca-al-quran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2025 00:21:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3909</guid>

					<description><![CDATA[MASALAH WANITA HAIDH MEMBACA AL-QURAN amirfath.com, Fiqih (21), Juni 2025 &#8211; Pertanyaan: Apa hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh dan orang junub?Jawaban: Diharamkan membaca Al-Qur;an bagi orang yang junub. Mayoritas ulama (jumhūr al-ulamā’) dari mazhab Hanafī, Mālikī, Syāfi’ī, dan Hanbalī sepakat bahwa orang yang junub tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an sampai ia mandi janabah. Ini berdasrkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>MASALAH WANITA HAIDH MEMBACA AL-QURAN</strong></strong></strong></h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"><strong>Fiqih</strong></mark> <strong>(21), Juni 2025 &#8211; </strong></mark></strong>  Pertanyaan: Apa hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh dan orang junub?Jawaban: Diharamkan membaca Al-Qur;an bagi orang yang junub. Mayoritas ulama (jumhūr al-ulamā’) dari mazhab Hanafī, Mālikī, Syāfi’ī, dan Hanbalī sepakat bahwa orang yang junub tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an sampai ia mandi janabah. Ini berdasrkan dalil-dalil berikut: Pertama, hadis dari Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Nabi saw. tidak terhalangi dari Al-Quran kecuali dalam keadaan Junub (kanan nabiyyu shallahu alaihi wa sallama laa yahjubuhuu ánil quran syaiun illal janaabatu) (HR. Abu Dawud no. 229, Ibnu Majah, Ahmad; hadits hasan menurut sebagian ulama). Kedua, kaidah umum yang mengatakan: Orang junub adalah dalam keadaan hadas besar, sehingga tidak boleh melaksanakan ibadah yang membutuhkan kesucian, termasuk tilawah Al-Qur’an. Perlu dicatat di sini bahwa yang dilarang adalah membaca secara lisan. Adapun mengingat (tilawah dalam hati) atau mendengarkan bacaan Qur’an tidak dilarang bagi orang junub. Adapun membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh hukumnya dua pendapat: Pertama. Menurut mayoritas Ulama hukumnya haram membaca Al-Qur’an, menurut Mazhab Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah melarang wanita haidh membaca Al-Qur’an secara lisan dengan dalil Hadis dari Ibnu Umar ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda: laa taqraul haaidh wa lal junubu syaian minal quraan (Wanita haidh dan orang junub tidak boleh membaca sedikit pun dari Al-Qur’an). (HR. Tirmidzi no. 131). Dalil berikutnya adalah qiyas kepada orang junub: Jika orang junub tidak boleh membaca Qur’an, maka wanita haidh — dalam hadas besar— juga dilarang. Alasannya bahwa haidh adalah hadas besar yang mengharuskan wanita mandi untuk bisa kembali beribadah. Alasan lebih lanjut untuk menjaga kemuliaan Al-Quran agar tidak dibaca oleh orang yang dalam kondisi tidak suci. Pendapat Kedua (Mazhab Hanafiyah dan sebagian Malikiyah): membolehkan wanita haidh membaca Al-Quran dengan syarat tidak menyentuhnya dan dalam kondisi darurat. Dalilnya sebagai berikut: (a) Hadis pelarangan wanita haidh membaca Al-Qur’an adalah dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan dasar hukum yang kuat. (b) Tidak adanya dalil qath’i (tegas) yang melarang secara langsung wanita haidh membaca Al-Qur’an. (c) Berbeda dengan junub, haidh tidak bisa dihindari dan berlangsung lama (5–15 hari), sehingga jika dilarang membaca Qur’an, wanita bisa kehilangan hafalan atau tidak bisa belajar, maka tidak bisa diqiyaskan kepada orang junub. (d) Dalam kondisi darurat (seperti ujian, pengajaran), wanita haidh boleh membaca Qur’an dari hafalan atau perangkat digital (tanpa menyentuh mushaf).Adapun hukum menyentuh Mushaf, mayoritas ulama melarang menyentuhnya tanpa wudhu, berdasarkan ayat: laa yamassuhuu illal muthahharuun (Tidak menyentuhnya kecuali yang disucikan) (QS. Al-Wāqi’ah: 79). Menurut jumhur, ayat ini menunjukkan bahwa mushaf hanya boleh disentuh oleh orang yang dalam keadaan suci. Maka wanita haidh dan orang junub tidak boleh menyentuh mushaf secara langsung. Namun, boleh membaca dari aplikasi HP, tablet, atau dari hafalan. Ringkasnya bahwa membaca Al Quran dengan menyentuh mushaf bagi orang junub haram berdasarkan hadits sahih, adapun bagi wanita haidh dibolehkan menurut sebagian pendapat dengan sayarat tidak menyentuh mushaf dan dalan kondisi darurat, sebagian yang lain membolehkan membaca dengan HP karena bukan mushaf, tetapi pendapat yang lain mengatakan bahwa ketika dibuka Al Quran dalam HP otomatis menjadi mushaf, adapaun mengingat dalam hati tidak tergolong membaca secara lafazh. Sebagai rekemendasi bagi yang junub: sebaiknya segara mandi agar bisa membaca Al-Qur’an. Bagi wanita haidh: sebaiknya tidak membacanya kecuali dalam kondisi darurat atau kebutuhan atau hajat syaríyah seperti menghafal, mengajar atau ujian. Jika ingin membacanya sebaiknya gunakan HP untuk hindari menyentuh mushaf secara langsung. Itupun lakukan sekedarnya kerana ada kaidah fikih ädh dharuratu tubiihul mahzhuraat”(kondisi darurat membuat boleh apa yang terlarang), tetapi pengertiannya tidak serta merta bebas melakukan itu secara terus menerus melainkan lakukanlah itu sekedarnya karena ada kaidah fikih “adh dharuratu tqaddar boqadariha”(darurat itu dibolehkan sekedarnya sesuia dengan hajat syariah). (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran). </p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-wanita-haidh-membaca-al-quran%2F&amp;linkname=MASALAH%20WANITA%20HAIDH%20MEMBACA%20AL-QURAN" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-wanita-haidh-membaca-al-quran%2F&amp;linkname=MASALAH%20WANITA%20HAIDH%20MEMBACA%20AL-QURAN" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-wanita-haidh-membaca-al-quran%2F&amp;linkname=MASALAH%20WANITA%20HAIDH%20MEMBACA%20AL-QURAN" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-wanita-haidh-membaca-al-quran%2F&amp;linkname=MASALAH%20WANITA%20HAIDH%20MEMBACA%20AL-QURAN" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 76/93 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/8 queries in 0.007 seconds using Redis

Served from: amirfath.com @ 2026-01-02 00:39:49 by W3 Total Cache
-->