<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tafsir Al Baqarah &#8211; Dr. Amir Faishol Fath</title>
	<atom:link href="https://amirfath.com/category/tafsir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://amirfath.com</link>
	<description>Pakar Tafsir Al-Quran &#38; CEO Fath Institute</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Sep 2022 05:32:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.3</generator>
	<item>
		<title>Al Baqarah : 31 &#8211; 33</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-31-33/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:54:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3433</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 31 &#8211; 33 Urgensi Ilmu Dr. Amir Faishol Fath وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْماءَ كُلَّها ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْماءِ هؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صادِقِينَ (31) قالُوا سُبْحانَكَ لا عِلْمَ لَنا إِلاَّ ما عَلَّمْتَنا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) قالَ يا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمائِهِمْ قالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 31 &#8211; 33</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Urgensi Ilmu</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr. Amir Faishol Fath</strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْماءَ كُلَّها ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْماءِ هؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صادِقِينَ (31) قالُوا سُبْحانَكَ لا عِلْمَ لَنا إِلاَّ ما عَلَّمْتَنا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) قالَ يا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمائِهِمْ قالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ ما تُبْدُونَ وَما كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (33)</strong></p>



<p>Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: &#8220;Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: &#8220;Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini&#8221;. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: &#8220;Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?&#8221; (QS. Al baqarah : 31-33)</p>



<p><em>Rahasia Urutan Ayat</em></p>



<p>Setelah menjelaskan fungsi diciptakannya manusia, bahwa ia sebagai khalifah di muka bumi, pun setelah menjelaskan alasan mengapa manusia yang terpilih sebagai khlifah, kok bukan jin dan malaikat, padahal mereka telah diciptakan lebih dahulu dari pada manusia. Di sini Allah swt. menjelaskan alasan utama bahwa dipilihnya manusia sebagai khalifah adalah karena Allah swt. membekali manusia ilmu yang dengannya manusia bisa berinnovasi. Benar, malaikat patuh kepada Allah tetapi mereka tidak bisa berinnovasi. Malaikat selalu menunggu perintah Allah swt. dan tidak mampu berkreasi. Sebab desain penciptaan malaikat semata untuk melalakukan tugas yang diperintahkan olehNya, bukan untuk berinnovasi. Karena itu malaikat tidak punya alternatif untuk melanggar. Semua yang dikerjakan hanyalah pelaksanaan dari apa yang Allah perintahkan. Inilah makna ayat : “ (malaikat-malaikat itu) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim : 6). Berdasarkan ini jelas bahwa malaikat selalu menunggu perintah Allah swt. Tidak sedikitpun berinnovasi atau berkreasi. Itulah alasan mengapa sampai sekarang belum ada produk teknologi made in malaikat.</p>



<p>Adapun mahluk jin sekalipun mempunyai kemampuan melakukan alternatif tetapi tidak mempunyai kecerdasan setinggi kecerdasan manusia. Dalam sebuah riwayat disebutkan oleh Imam Ibnu Katisr, bahwa paling ceredsanya jin, itu selevel dengan akal anak manusia berusia sepuluh tahun. Karena itu makhluk jin tidak pernah berpikir melakukan sebuah innovasi, melainkan hanya berpikir untuk bermain-main dan mengganggu makhluk lain. Dari sini kita paham mengapa masyarakat jin samapai sekarang tidak mampu membangun tehnologi dan peradaban. Padahal secara usia Jin jauh lebih yua dari usia manusia. Imam Ibn Katsir menyebutkan bahwa makhluk jin diciptakan dua ribu tahun sebelum diciptakannya manusia. Berdsarkan ini jelas mengapa pada ayat di atas Allah swt. menjelaskan urgensi ilmu sebagai landasan dipilhnya manusia sebagai khalifah.</p>



<p><em>Allah Mengajarkan Nama-nama</em></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah berfirman : <em>Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: &#8220;Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar</em><em>!&#8221;</em><em> &nbsp;</em>Inilah alasan mengapa Allah swt. memilih manusia sebagai khalifah. Yaitu karena manusia mempunyia kelebihan dari pada malaikat dan jin. Ilmu itu berupa nama-nama yang tidak diketahui oleh malaikat. Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa maksud nama-nama tersebut dalah kemampuannya menyebutkan nama segala wujud yang Allah ciptakan : ini laut, ini sungai, ini pohon dan lain sebagainya. Kemampuan ini ditampakkan dihadapan malaikat. Dan memang benar Nabi Adam sebagai manusia pertama telah berhasil mendemonstrasikan hafalan dan ilmunya mengenai nama-nama benda tersebut dihadapan malaikat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun dalam pemahaman saya –setelah sekian lama melakukan penelitian dan perenungan memgenai ayat tersebut- ada maksud lain dari nama-nama yang telah dijelaskan dalam tafsir-tafsir klasik. Saya berpendapat bahwa maksud nama-nama tersebut adalah kemampuan memnciptakan nama-nama. Sebab dari sini kelak ilmu pengetahuan manusia berkembang. Perhatikan dialog ketika pertama kali Nabi Adam bertemu dengan Hawwa sebagai istrinya di surga. Nabi Adam bertanya : siapa kamu? Hawwa menjawab : Aku seorang wanita. Lalu Nabi Adam bertanya : dari mana asal penciptaanmu? Hawwa menjawab : dari kamu. Lalu berdsarkan jawaban ini Nabi Adam memberi nama : Jadi namamu Hawwa. Hawwa bertanya : mengapa? Nabi Adam menjawab : sebab kamu diciptakan dari makhluk yang hidup (hay). Maka namamu Hawwa. Perhatiakn dialog ini menjelaskan kemampuan Nabi Adam berkreasi meciptakan nama-nama. Dan tentu ini berdasarkan ilmu yangAllah ajarkan kepadanya. Inilah makna ayat : “<em>Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama”.</em></p>



<p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em>Dari kemampuan memberikan nama-nama ini ilmu pengetahuan manusia berkembang. Dan benar dalam setiap pencapaian ilmu pengetahuan dan tehnology manusia selalu membuat nama-nama. Dulu ada mobil, motor, pesawat terbang, komputer, telephon, televisi dan lain sebagainya . Kini setelah muncul produk-produk baru dalam dunia tehnologu kiya menemukan nama-nama baru seperti: LCD, laptop, handphone, I phone, tablet, note book dan lain sebagainya. Belum lagi nama dalam setiap komponen tehnologi tersebut. Dalam komputer mesalnya kita akan menemukan nama-nama partikel seperti: motherboard, USB, VGA, mouse dan lain sebagainya. Perhatikan bagaimana kemampuan membuat nama-nama ini telah membantu peradaban manusia menjadi berkembang dan maju dengan pesatnya. Kemampuan inilah yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Maka benar jika kemudian mengakui kelebihan yang diberikan Allah swt, kepada manusia, di mana dengan kelebihan tersebut manusia pantas menjadi khalifah.</p>



<p><em>Malaikatpun Mengakui</em></p>



<p>Allah berfriman : <em>Malaikat menjawab: &#8220;Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.</em><em> </em>Dari ayat ini kita paham beberapa hal penting : (a) bahwa malaikat mengakui kelebihan manusia atas dirinya yang karena keleibihan itu malaikat dipilih sebagai khalifah. Tapi bentuk pengakuan malaikat bukan kepada kehebatan manusia, tetapi kepada Allah swt. yang telah mengajarkan ilmu kepada manusia. Karena itu malaikat berkata : “<em>Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”.</em></p>



<p>(b) Malaikat mengakui bahwa ia tidak tahu yang ghaib kecuali apa yang telah Allah beritahukan kepadanya. Inilah makna ayat : <em>&#8220;Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. </em>Dari sini jelas bahwa malaikat tidak tahu kapan hari Kiamat sebab itu termasuk yang dirahasiakan oleh Allah swt. Malaikat pun tidak tahu semua tempat di alam ini. Dalam sautu riwayat Rasulullah saw. pernah bertanya kepada malaikat mengenai tempat yang paling buruk di muka bumi. Malaikat menjawab tidak tahu. Lalu malaikat bertanya kepada Allah swt. mengenai hal tersebut. Allah menjawab : pasar dan pusat perbelanjaan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sauatu hari malaikat mendengar bacaan tasbih di bumi. Tapi tidak tahu siapa itu yang membacakannya juga tidak tahu di mana tempatnya. Lalu malaikat bertanya kepada Allah swt. Allah menjawab : Dia hambaku Yunus dalam perut ikan.&nbsp;</p>



<p>(c) Malaikat menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya sangat terbatas. Dan masoh banyak lagi yang tidak ia ketahui. Semua semua ilmu yang ia dapatkan hanyalah dari Allah swt. Dan kalau Allah swt. tidak mengajarkan ilmu kepadanya maka ia tidak tahu apa-apa. Inilah makan ayat : “<em>tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kam”. </em>Ini diakui oleh malaikat setelah Nambi menunjukkan ilmu yang telah diajarkan kepadanya.</p>



<p>(d) Malaikat mengakui bahwa sumber segala ilmu dan segala kebenaran adalah Allah swt. Simklah pengakuan malaikat pada penutupan ayat ini : “<em>sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.</em> Allah mahaq mengetahui karena semua wujud –baik yang tersembunyi atau kelihatan- nampak bagiNya. Allah Maha Bijaksan, karena semua yang Allah perbuat mengnadung hikmah.</p>



<p>&nbsp;<em>Ilmu Adalah Fondasi Kepemimpinan</em></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah berfirman: &#8220;Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini&#8221;. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: &#8220;Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?&#8221; Dalam ayat ini ada beberapa penegasan :</p>



<p>(1) Bahwa Nabi Adam benar-benar mendemonstrasikan ilmu yang telah Allah ajarkan kepadanya, sebagai bukti bahwa ia memang benar-benar layak sebagai khalifah. Inilah makna ayat : “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini&#8221;. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu”. Di sini p-elajarn bahwa seorang calon pemimpin sebelum dinobatkan sebagi pemimpin hendaklah benar-benar diuji terlebih dahulu kemampuannya, terutama yang paling pokok adalah keilmuannya. Sebab dari keluasan ilmu amanah akan terlaksana dengan baik.</p>



<p>(b) Bahwa Allah swt. maha luas ilmuNya. Tidak ada yang tersembunyi baginya. Semua nampak bagi Allah swt. yang tidak terlihat oleh mata maupun yang terlihat. Bukan hanya yang terdapat di bumi tetapi juga yang terdapat di langit. Semua terlihat oelha Allah swt. Karenanya dalam surah Ar Rahman : 33 Allah swt. menegaskan silahkan bersembunyi di langit atau di bumi, engkau tidak akan bisa bersembunyi, karena semua tergantung kekuatan Allah swt. Inilah makna ayat : &#8220;Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?&#8221;.&nbsp; Kareena itu mengakui keluasan ilmu Allah adalah bagian dari pembuktian iman. Dan semakin kuat keimanan seseorang terhadap hakikat ini, akan semakin berhati-hati seoarng hamba dari perbuatan dosa. <em>Wallahu a’lam bishshawab. </em><em></em></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-31-33%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2031%20%E2%80%93%2033" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-31-33%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2031%20%E2%80%93%2033" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-31-33%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2031%20%E2%80%93%2033" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-31-33%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2031%20%E2%80%93%2033" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al Baqarah : 47 &#8211; 53</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-47-53/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:52:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3431</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 47 &#8211; 53 Teguran dan Ancaman Kepada Kaum Yahudi Dr. Amir Faishol Fath يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ . وَاتَّقُوا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ . وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 47 &#8211; 53</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Teguran dan Ancaman Kepada Kaum Yahudi</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr. Amir Faishol Fath</strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ . وَاتَّقُوا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ . وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ&nbsp;ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ . وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ . وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ . ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ . وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ</strong></p>



<p>Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa&#8217;at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir&#8217;aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir&#8217;aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur. Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk &nbsp;&nbsp;(QS. 2: 47- 53)</p>



<p>Rahasia Urutan Ayat</p>



<p>Pada ayat sebelumnya Allah swt. telah menggambarkan keburukan akhlak Bani Israil, bahwa mereka telah menyembunyikan kebenaran Rasulullah saw. sebagai utusan Allah swt. dan telah menjadi orang yang pertama kali kafir, pun mereka menolak untuk ikut shalat seperti shalatnya orang Islam, padahal itu perintah Allah swt. dan bahkan itu semua telah tertera dalam kitab suci mereka. Perhatikan bagaimana mereka benar-benar berani kepada Allah dan RasulNya. Bahkan mereka berani mengubah kandungan kitab suci yang Allah swt. turunkan. Ini sungguh kebejatan morah kaum yang Yahudi yang tak terhingga.</p>



<p>Karenanya Allah swt. pada ayat ini dan ayat-ayat berikutnya menyebutkan beberapa nikmat yang pernah Allah berikan kepada mereka. Agar mereka sadar bahwa mereka tidak pantas berbuat maksiat kepada Allah yang telah memberikan nikmat-nikmat yang banyak kepada mereka. Bahwa tidak benar mereka membalas nikmat-nikmat Allah yang sangat agung itu dengan perbuatan dosa. Dan di antara nikmat-nikmat itu adalah datangnya Nabi terakhir sebagai nabi yang harus mereka ikuti. Dan Nabi tekahir ini telah dijelaskan oleh Allah swt. sifat-sifatnya dalam kitab suci mereka. Di sini seakan Allah mengatakan: wahai Bani Israil ingatlah nikmat-nikmatKu yang telah Aku berikan kepadamu, sungguh telah Aku utus kepadamu rasul-rasul, dan di antara nikmat itu adalah bahwa Aku telah menjelaskan dalam kitab suci yang Aku turunkan kepadamu tentang nabi terakhir yaitu Rasulullah saw. Pun ingatlah bahwa Aku telah menjelaskan sifat-sifatnya dalam kitab Taurat dan dan Injil. Maka jika kamu mengingkari kerasulannnya berbarti kamu telah mengikari kitab Taurat dan Injil.</p>



<p>Dengan ini jelas bahwa kaum Yahudi sebenarnya telah tidak beriman kepada kitab suci mereka sendiri: Taurat dan Injil, dengan mengingkari kerasulan Rasulullah saw. Lebih dari itu mereka otomatis telah menolak kedua kitab suci tersebut setelah mengubah sebagian isinya, yaitu dengan menghilangkan sifat-sifat Rasulullah saw. Inilah maksud firman Allah swt. :&nbsp; Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: &#8220;Kami mendengar&#8221;, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): &#8220;Dengarlah&#8221; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): &#8220;Raa&#8217;ina&#8221;, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: &#8220;Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami&#8221;, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. 4: 46)</p>



<p>Pun dengan penjelasan di atas nampak bahwa kaum Yahudi sebenarnya harus juga beriman kepada Rasulullah saw. Beriman bahwa ia adalah nabi terakhir yang datang untuk meluruskan apa yang telah mereka ubah dalam kitab suci mereka. Dan dengan beriman ini mereka akan terus mendapatkan nikmat Allah swt., sebab tidak mungkin nikmat akan diberikan jika mereka terus menerus dalam kekafiran. Maka dengan menolak beriman kepadanya, otomatis mereka menjadi kafir dan otomatis akan dicabut dari mereka nikmat-nikmat yang pernah Allah berikan kepada mereka.</p>



<p>Jagalah Dirimu Dari Adzab</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah swt. berfirman : “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa&#8217;at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong”. Dalam ayat ini Allah swt. memanggil kaum Yahudi dengan sebutan Bani Israil, untuk mengingatkan mereka kepada ayah mereka Israil (yaitu nabi Ya’qub alaihissalam). Pun untuk menarik hati mereka agar segera kembali kepada kebenaran yang telah mereka ketahui yaitu ikut Rasulullah saw.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Adapun maksud dari “nikmat” adalah nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada pendahulu mereka, yaitu dengan diutusnya nabi-nabi kepada mereka yang jumlahnya sangat banyak dan ini tidak diberikan kepada umat-umat yang lain. Inilah yang dimaksud dengan kata “tafdhiil” dalam ayat berikutnya : “dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat”. Selain makna tersebut bisa juga kata “tafdhiil” dipahami bahwa Allah melebihkan mereka atas umat lainnya selama mereka patuh kepada Allah swt. dan beriman kepada semua rasulNya, tanpa membeda-bedakan di atara mereka, termasuk juga beriman kepada Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir. Tetapi jika mereka tidak patuh kepada Allah dan RasulNya maka keistimewaan tersebut dicabut dan tidak akan mereka mendapatkannya. Sungguh salah apa yang mereka pahami selama ini, bahwa kata “tafdhiil” tersebut maksudnya adalah bahwa hanya mereka sebagai “bangsa pilihan Allah” (sya’bullahil mukhtaar). Lalu mereka menganggap selain mereka sebagai binatang yang tidak ada harganya dan boleh dibunuh kapan saja.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu setelah itu Allah swt. memberikan pesan pemungkas sekaligus ancaman, agar mereka tidak mengulangi lagi akhlak yang buruk seperti pendahulu mereka. Lebih dari itu dalam pesan tersebut tersirat&nbsp; penolakan terhadap paham bahwa mereka adalah bangsa yang disitimewakan oleh Allah swt.. Allah berfirman :&nbsp; “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa&#8217;at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong”. Di sini seakan Allah swt. mengatakan kepada mereka dan kepada semua manusia: “Bahwa tidak ada umat yang distimewakan, dan tidak ada seorangpun yang aman dari adzabKu –kata Allah- kecuali yang benar-benar patuh kepadaKu, dan rasulKu, maka pada hari Kiamat nanti semua akan mempertanggungjawabkan amal mereka sendiri-sendiri. Semua relasi, keturunan dan perantara tidak ada gunanya. Yang berguna pada waktu itu hanya amal salih.</p>



<p>Ingatlah Nikmat-nikmat Allah</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu pada ayat berikutnya, Allah swt. mengingatkan kaum Yahudi akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka. Supaya mereka tahu diri dan tersadar dari kesalahan yang telah mereka perbuat. Kesalahan menyembunyikan kebenaran, kesalahan menolak beriman kepada Rasulullah saw. dan lain sebagainya. Dalam pembahasan ini disebutkan empat nikmat lalu sisanya akan disebutkan pada pembahasan yang akan datang.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Pertama</em></strong>, nikmat diselamatkannya mereka&nbsp; dari kekejaman Fir’un, di mana waktu itu Fir’un bertekad akan membunuh setiap anak laki-laki mereka yang baru lahir dan membiarkan hidup anak bayi perempuan. Dan Fir’un benar-benar melaksanakan tekadnya ini. Sebagian ada yang tertimpa adzab ini dan sebagian ada yang selamat. Tekad ini berasal dari sebuah mimpi. Bahwa suatu malam Fir’un bermimpi ada titik api menyala lalu menyebar dan masuk ke rumah-rumah penduduk Mesir kecuali rumah-rumah Bani Israil. Lalu mimpi itu ditafsirkn bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari kalangan Bani Israil yang kelak akan menghancurkan kerajaan Fir’un. Berangkat dari penafsiran ini Fir’un langsung melakukan tindakan, yaitu membunuh setiap anak bayi laki-laki dari Bani Israil dan membiarkan anak-anak bayi perempuan mereka hidup. Namun Allah swt. menyelamatkan mereka dari kekejaman ini. Inilah makna firman Allah : “Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir&#8217;aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu”. Maksudnya, bahwa dalam peristiwa ini ada cobaan dari Allah swt. Cobaan bagi yang selamat apakah mereka akan bersyukur? Dan cobaan bagi yang tertimpa musibah apakah mereka akan bersabar?. Dan cobaan bisa berupa kebaikan atau kenikmatan pun juga berupa keburukan atau bencana. Allah swt. berfirman : Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. 21: 35) dan dalam ayat lain Allah swt. berfirman : Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. 7: 168)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Kedua</em></strong>, nikmat diselamatkannya mereka dari pengejaran Fir’un. Yaitu dengan dibelahnya laut Merah, setelah dipukul dengan tongkat Nabi Musa as. Sebagai mukjizat yang Allah berikan kepadanya, sebagaimana mukijazat-mukijzat yang diberikan kepada nabi-nabi lainnya. Ketika lau nampak seketika membelah dirinya seperti terdapat sebuah dinding yang menghalanginya. Sehingga Bani israil bisa menyembrangi laut tersebut di atas hamparan dasar laut. Lau di saat yang sama ketika Fir’un dan pasukannya ikut menyebrangi belahan tersebut, seketika air laut menyatu dan menenggelamkan Fir’un beserta pasukannya. Inilah maksud ayat dalam firman Allah pada ayat di atas : Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir&#8217;aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Ketiga</em></strong>, nikmat diterimanya taubat setelah mereka berbuat dosa. Yaitu pada saat Nabi Musa as. Dipanggil menghadap Allah swt. ke bukit Tursina untuk meneriman wahyu, selama empat puluh hari, tiba-tiba mereka membuat patung sapi dari emas lalu menymebahnya sebagai tuhan. Ini sungguh suatu kedzaliman yang nyata. Tetapi Allah swt. masih mengampuni mereka mereka. Inilah maksud firman Allah swt. : Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Keempat</em></strong>, nikmat diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa as. Sebagai panduan bagi Bani Israil agar mereka hidup di jalan yang benar, dengan memahami kandungannya dan mengambil tuntunannya. Makan dengan panduan ini mereka tahu apa yang halal dan apa yang haram, pun dengannya mereka tahu mana yang baik untuk diikuti dan mana yang baruk untuk dijauhi. Ini sungguh suatu nikmat yang agung sebab nikmat ini diberikan setelah mereka diselamatkan dari kekejaman Fir’un dan dari ketenggelaman di laut merah. Pun dengan nikmat ini mereka akan bahagia di dunia dan akhirat. Allah swt. berfirman : . Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. &nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-47-53%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2047%20%E2%80%93%2053" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-47-53%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2047%20%E2%80%93%2053" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-47-53%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2047%20%E2%80%93%2053" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-47-53%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2047%20%E2%80%93%2053" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al Baqarah : 28</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-28/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:50:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3429</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 28 Teguran Bagi Orang Kafir Dr. Amir Faishol Fath كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (28) Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? Rahasia Urutan Ayat Pada ayat sebelumnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 28</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Teguran Bagi Orang Kafir</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr. Amir Faishol Fath</strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (28) </strong><strong></strong></p>



<p>Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?</p>



<p>Rahasia Urutan Ayat</p>



<p>Pada ayat sebelumnya Allah swt. menjelaskan tentang orang-orang yang rugi (khasiruun). Mereka adalah orang-orang yang tidak mau patuh kepada Allah. Mereka mengira dunia ini kekal selamanya. Karenanya mereka bekerja keras untuk urusan dunianya. Mereka gigih dan siap membayar mahal untuk mepersiapkan kehidupan dunia mereka. Sementara kehidupan akhirat mereka abaikan. Perhatikan bagaimana mereka berlomba-lomba dengan penuh kebanggan menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri. Sementara untuk belajar ilmu iman mereka anggap tidak penting. Bahkan mereka tidak mau mengeluarkan biaya sama sekali. Mereka tidak yakin bahwa sebentar lagi mereka akan mati. Mungkin sehali lagi, dua hari lagi atau sepekan lagi, atau sebulan lagi, atau setahun lagi. Dan kenyataan menunjukkan bahwa banyak orng-orang yang meninggal dunia pada saat masih muda. Intinya bahwa mereka kafir, tidak beriman kepada Allah dan hari Kimat. Karena itu mereka lalai dan sibuk mengejar masa depan yang rentan. Sementara masa depan akhirat yang pasti mereka kesampingkan. &nbsp;</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena itu pada ayat berikutnya Allah swt. menyayangkan mengapa mereka kafir. Mengapa mereka tidak mau patuh kepada Allah swt. Mengapa mereka membesar-besarkan dunia yang pasti hancur dan pasti akan mereka tinggalkan. Bukankah mereka kelak pasti akan kembali kepada Allah. Lalu apa yang akan mereka akan banggakan, jika ternyata kelak mereka menghadap Allah tidak membawa apa-apa. Tidak membawa amal salih yang Allah banggakan. Sungguh tidak ada sukses bagi mereka kafir, kereha seluruh kesibukan mereka hanyalah persiapan menuju neraka.</p>



<p>Mereka Tidak Punya Alasan</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah swt. berfirman : “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” Ini pertanyaan bukan untuk dijawab, tetapi menyayangkan mengapa mereka kafir (litta’jiib). Benar mereka sangat disayangkan, mengapa mereka tidak mau menggunakan akal mereka melihat bukti-bukti kekuasaan Allah. Sehingga mereka tidak tahu bagaimana cara hidup di muka bumi ini. Perhatikan bagaimana Allah swt. mengajak mereka agar melihat bukti-bukti keluasaan Allah pada ayat-ayat sebelumnya. Mereka diajak melihat penciptaan diri mereka, lalu penciptaan langit dan bumi (lihat ayat 21-22). Setelah itu mereka diajak agar meyakini kebenaran Al Quran (lihat ayat : 23-24). Namun ternyata mereka tetap membuat kerusakan di muka bumi. Mereka memutuskan tali silaturrahim yang Allah perintahkan. Maka pada ayat ini pembicaraan lebih serius lagi, yaitu mengani kehidupan dan kematian yang tidak mungkin mereka pungkiri.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di sini seakan Allah berkata kepada mereka yang kafir : Apa alasanmu menjadi kafir? Bukankah Aku telah membuatmu menjadi hidup dan membuatmu menjadi mati. Kamu tidak ada bisa berdaya kalau tida Aku hidupkan. Dan apapun tingkat keberhasilan yang kamu capai di dunia, suatu saat kamu pasti akan mengakhirinya. Bila ini kamu sadari secara mendalam kamu pasti akan beriman dan siap patuh kepadaKu. Namun sayang, banyak manusia tidak menyadari hakikat ini. Sehingga mereka lalai. Mereka terlena dengan uang. Mereka menganggap uang adalah segalanya. Sehingga mereka lebih siap patuh kepada siapa yang memberi uang dari pada kepada Allah yang memberikan kehidupan.</p>



<p>Seharusnya mereka segera menyadari akan hal tersebut dan berkata : bahwa aku tadinya tidak ada, lalu aku diadakan dari segumpal mani, lalu akau diproses oleh Allah dalam rahim ibuku sehingga akau menjadi manusia. Lalu aku dilahirkan ke dunia untuk menjalani hidup sampai waktu yang telah ditentukan. Di dunia, juga aku hidup karena pertolnganNya. Segala fasilitas hidup disediakan bagiku. Aku butuh oksigen dan netrogen untuk bernafas, ternyata telah disediakan oleh Allah secara cuma-cuma. Bayangkan, kalau setiap hari aku harus membayar semua itu, sungguh seluruh gajiku selama sebualan tidak akan cukup membyar biaya bernafas untuk sehari. Belaum lagi fasiltas mata untuk merlihat, jantung, ginjal dan lain sebagainya. Ditambah lagi sarana kaki dengannya aku bisa berjalan menuju tempat-tempat yang aku inginkan dengan mudah, padahal aku melihat banyak orang tidak punya kaki. &nbsp;Belum lagi nikmat mata dengannya aku bisa melihat, padahal banyak orang yang tdak punya mata. Masih kurang apa lagi. Pantaskah kemudian aku tidak beriman kepada yang menyediakan aku hidup. Sungguh suatu saat aku kelak pasti akan mempertanggungjawabkan semua ini. Setelah mati aku pasti akan dihidupkan kembali untuk dihsab. Sebab tidak mungkin Allah menciptakanku tanpa tujuan. Aku bikin perusahaan saja punya tujuan. Masak Allah menciptakan langit dan bumi tanpa tujuan? Lalu aku hidup di muka bumi seenak nafsuku? Tanpa ikut panduanNya? Lalu aku anggap bahwa Allah tidak pernah menurunkan panduan?</p>



<p>Dalam surah Al Mulk: 9-10, Allah swt. merekam kisah orang-orang kafir di neraka. Bahwa mereka masuk neraka karena melakukan tiga hal : (a) mendustkan para rasul Allah. Sebab mereka ingin hidup bebas tanpa tauran. Mereka ingin hidup dalam gelimang dosa tanpa batas. (b) Mereka menuduh Allah bahwa Allah tidak pernah mjenurjnkan wahyu. Meereka berkata bahwa Allah tidak pernah menurnkan wahyu kepada siapapun. (c) Mereka menuduh para rasul, behwa para rsaul itu adalah manusia-manusia sesat. Karena itu dalam pikiran mereka tidak perlu ikut rasul, sebab ikut rasul adalah tindakan yang sesat. Allah swt berfirman : “hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir). Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: &#8220;Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: &#8220;Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar&#8221;.</p>



<p>Mengapa dalam ayat ini disebut juga kematian sebagai dalil akan kekuasaan Allah swt.? Sebab manusia selama masih hidup seringkali tidak menyadari akan mahalnya nikmat hidup. Ia baru sadar ketika melihat kematian. Memang nikmat hidup tidak kelihatan, baru kelihatan setelah mati. Mirip dengan nikmat sehat, banyak orang tidak merasakannya. Baru terasa setelah mati. Karena itu Allah sebutkan dalam ayat hidup dan mati adalah dalil kekagunganNya. Dalam Al Quran Allah swt. menyebutkan peroses hidup manusia bahwa asal muasaalnya dari tanah “turab” (lihat QS Al Hajj :5), lalu tanah itu dibasahi sehingga mnenjadi tanah lempung “thin” (lihat Al Mu’minun:12) Lalu tanah lempung itu diaduk sehingga sangat melekat “thiunun laazib” (lihat Ash Shafaat :11). &nbsp;Lalu dikeringkan sehingga menjadi berbunyi sepertri tembikar “min shalshalin kal fakhkhaar” (lihat QS Ar Rahman : 14). Namun begitu manusia mati,ia mengalami proses yang sebaliknya : ruh keluar dari jasadnya, lalu jasad tersebut secara bertahap menjadi keras, lalu mengering seperti tembikar setelah itu kembali menjadi tanah seperti semula.</p>



<p>Kepada Allah Manusia Pasti Kembali&nbsp; &nbsp;</p>



<p>Pada bagian akhir ayat di atas lihatlah Allah menutup dengan firmannya : “wa ilaihi turja’uun” (kepadaNya kamu dikembalikan). Ayat seperti ini begitu banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an. Bahkan kita diajarkan agar mengucapakan “ innaa lillaahi wa inaa ilaihi raajiun” (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami pasti akan kembali kepadaNya) setiap kali kita mendengar ada musibah kematian. Allah berfirman : “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, &#8220;Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun&#8221; (QS. Al Baqarah : 156). &nbsp;</p>



<p>Dalam doa-doa Rasulullah saw. &nbsp;kita juga selalu diajarkan agar mengakui hakikat ini. Dalam doa bangun tidur kita membaca : “alhamdulillaahil ladzii ahyaana ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyur” (segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepadaNya kami pasti akan kembali). Dalam pagi hari kita membaca : “ashbahnaa wa ashbahal mulku lillaahi walhamdulillahi laa syariikalah wa ilaihin nusyuur” (kami telah masuk waktu pagi juga semua kerajaan telah masuk waktu pagi maka segala puji bagi Allah dan kepadaNya kami pasti kembali). Dalam doa sore hari kita membaca: “amsainaa wa amsal mulku lillaahi walhamdulillahi laa syariikalah wa ilaihil mashiir” (kami telah masuk waktu sore juga semua kerajaan telah masuk waktu sore maka segala puji bagi Allah dan kepadaNya kami pasti kembali).</p>



<p>Dalam penutupan ayat ini terkandung beberapa makna berikut : (a) bahwa akhir perjalanan manusia pasti akan kembali kepada Allah swt. untuk mempertanggung- jawabkan segala amalnya. Percaya atau tidak, hakikat ini pasti terjadi. Bagi yang percaya maka ia akan bersungguh-sungguh mengisi hidupnya di dunia dengan amal salih. Sebaliknya bagi yang ingkar ia akan sibuk dengan segala yang sia-sia dan dosa-dosa. (b) bahwa orang kafir sejak dulu sampai sekarang masih terus berusaha mengingkari hari Kiamat ini (baca : hari di mana manusia menghadap Allah swt). Imam Al Ghazali telah membantah secara detil dan mendalam semua alasan yang diajukan para filosuf dalam bukunya yang berjudul “tahaafutul falaasifah” (kerancuan para filosuf). Tapi semua alasan yang mereka ajukan intinya sama. Allah telah merekam alasan mereka dalam surah Al Jatsiyah: 24, Allah berfirman : &nbsp;&nbsp;“Dan mereka berkata: &#8220;Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa&#8221;, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (c) keyakinan ini akan membangun rasa aman bagi orang-orang briman. Bahwa segala kebaikan yang mereka amalkan selama ini tidak sia-sia. Karena mereka pasti akan mendapatkan balasan surga dari Allah swt. Pun juga membuat mereka tidak kecewa, sebab ternyata orang-orang kafir dan para pendosa kelak pasti akan mendapatkan hukuman neraka dari Allah swt. <em>Wallahu a’lam bishshawab</em>. &nbsp;&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-28%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2028" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-28%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2028" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-28%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2028" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-28%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2028" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al Baqarah : 87 &#8211; 88</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-87-88/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:48:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3427</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 87 &#8211; 88 Sikap Kaum Yahudi Terhadap Risalah dan Para Rasul Dr. Amir Faishol Fath وَلَقَدْ آتَيْنا مُوسَى الْكِتابَ وَقَفَّيْنا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّناتِ وَأَيَّدْناهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّما جاءَكُمْ رَسُولٌ بِما لا تَهْوى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقاً تَقْتُلُونَ (87) وَقالُوا قُلُوبُنا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 87 &#8211; 88</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Sikap Kaum Yahudi Terhadap Risalah dan Para Rasul </strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr. Amir Faishol Fath </strong><strong></strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَلَقَدْ آتَيْنا مُوسَى الْكِتابَ وَقَفَّيْنا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّناتِ وَأَيَّدْناهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّما جاءَكُمْ رَسُولٌ بِما لا تَهْوى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقاً تَقْتُلُونَ (87) وَقالُوا قُلُوبُنا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً ما يُؤْمِنُونَ (88)</strong></p>



<p>Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? Dan mereka berkata: &#8220;Hati kami tertutup&#8221;. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.</p>



<p>Rahasia Urutan Ayat</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sudah dijelaskan bagaimana kaum yahudi adalah kaum yang suka melanggar janji. Tidak saja perjanjian kepada sesama mereka tetapi juga kepada para Rasul. Mereka telah mempunyai hati yang sangat keras sehingga sulit diberi nasihat. Semua peringatan tidak bisa masuk ke dalam hati mareka. Kok akan manusia biasa, para nabi saja yang menyampaikan pesan-pesan itu mereka tidak mau mendengarkannya. Toh kalaupun mereka awalnya nampak menerima, tetapi setelah itu mereka melanggarnya kembali. Begitulah sejarah kaum Yahudi, adalah sejarah genarsi yang penuh dengan pelanggaran-pelanggran terhadap janji. Dan dari saking terbiasanya melanggar janji sehingga mereka tidak merasa berdosa dengan pelanggaran-pelanggaran tersebut. Bahkan kebiasaan melanggar itu terus mereka pertahankan secara turun temurun, sampai kepada genarasi kaum Yahudi masa kini juga masih terus melanggar janji. Terutama ketika mereka terjepit, mereka buat perjanjian damai. Dan begitu mereka merasa kuat, perjanjian itu dilanggar lagi oleh mereka.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu pada ayat ini Allah swt. ingin menceritakan bagaimana kaum Yahudi sudah tidak mempan lagi mendengar nasihat para Nabi dan Rasul. Tidak saja kepada Nabi Musa, tetapi juga keopada semua nabi setelah Nabi Musa, sampai kepada Nabi Isa alaihimussalam. Dalam ayat Allah swt. menggunakan kata “ wa qaffaynaa min ba’dihi” itu artinya bahwa para rasul yang diutus setekah nabi Musa cukup banyak jumlahnya dan berdatangan secara terus menerus. Kata “qaffa” (berdatangan secara beruntun, tanpa terputus sama sekali). Jadi setiap kali diutus kepada kaum yahudi mengajarkan ajaran wahyu, mereka hanya sejenak patuh lalu setelah itu mereka melanggar lagi. Kemaksitan kembali meraja lela di tengah-tengah mereka. Lalu Allah utus lagi nabi yang lain lagi. Setelah itu mereka bejat lagi. Begitu seterusnya sampai datang Nabi Isa aliahissalam.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jadi antara Nabi Musa dan nabi Isa banyak nab-nabi yang Allah utus. Di antaranya : Yusya’, Asymaweih, Syam’un, Daud, Sulaiman, Syuieb, Armiya, Hazqiel, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakaria, Yahya dan seterusnya. Inilah makna ayat : “walaqad atainaa musal kitaaba wa qaffaynaa min ba’dihii bir rusul wa aatainaa iisabnu maryamal bayyinaati” (Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam).</p>



<p>Apa Di Balik Banyaknya Para rasul Yang Diutus</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Masih termasuk makna “wa qaffayna” bahwa para rasul yang diutus benar-benar berklanjutan. Tanpa menuggu waktu kosong, nabi dan rasul terus diutus ke tengah-tengah mereka. Bahkan sampai di zaman yang sama diutus juga rasul-rasul di termpat-tempat lain. Itupun tidak membuat kaum Yahudi sadar. Melainkan malah mereka semakin brutal. Dari sini kita paham bahwa diutusnya banyak Rasul ke tengah-tengah mereka bukan karena mereka dimuliakan, tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka sudah sangat keras hatinya sehingga berapapun para nabi yang didatangkan tetap tidak akan mempan masukkan pesan ke dalam hati mereka.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mereka adalah kaum materialistis yang sangat kental. Sehingga bagi mereka sesuatu dikatakan ada kalau ada bentuknya. Karenanya mereka tidak beriman kepada Allah kecuali harus ditampakkan. Dengarkan Allah merekam perkataan mereka kepada Nabi Musa:&nbsp; &#8220;Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya&#8221; (QS. Al Baqarah : 55). Bahkan tidak lama dari waktu turunnya pertolongan Allah, yaitu diselematkannya mereka dari sergapan Firun, mereka langsung minta agar dibuatkan tuhan berupa patung seperti patung-patung yang disembah kaum pada masa itu. Simaklah Allah bercerita tentang mereka dalam surah Al A’raf, 138 : &nbsp;Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: &#8220;Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)&#8221;. Musa menjawab: &#8220;Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)&#8221;. Bukti lain lagi bahwa kaum Yahudi sudah sangat kental jiwa materialismenya adalah bahwa ketika allah berikan kepada bantuan makanan langsung dari langit, mereka khawatir nanti bantuan tersebut terputus. Karena sandarannya alam gaib. Mereka ingin yang langsung mereka tanam sendiri di atas tanah. Karena itu lebih kelihatan sandarannya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Maka diutusnya Nabi Isa alaihissalam adalah dalam rangka membangun ruhani mereka. Karenanya Nabi isa didukung dengan bukti-bukti kenabian yang sangat kuat agar mereka segera menyadari akan pentingnya membangun ruhani dan menghancurkan paham materialism yang begitu kuat merasuki jiwa mereka. Allah telah mendukung diutusnya Nabi Isa dengan dua hal yang sangat menguatkan kenabiannya : <em>Pertama</em>,&nbsp; “al bayyinaat” yang artinya bukti nyata tentang kenabian Nabi Isa yang segala prosesnya berlangsung secara ghaib: kelhairannya, kenabiannya, mukjizatnya dan diangkatnya ke langit. Maka kenyataan ini ditonjolkan untuk mendongkrak kekentalan materialism dalam jiwa kaum yahudi sehingga mereka kembali beriman kepada yang ghaib. Kelahiran Nabi Isa sangat didukung oleh faktor ghaib, karena ia lahir tanpa ayah. Di angkatnya ke langit juga di dukung oleh faktor ghaib sehingga sampai sekarang mereka belum menemukan jawabannya. Pun banyak sekali mukjizat yang ditunjukkan oleh Nabi Isa, di mana semuanya didukung oleh faktor ghaib, di antaranya : disembuhkannya orang sakit, dihidupkannya orang mati, disebuitkannya makanan di rumah-rumah mereka dan lain sebagainya. &nbsp;</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <em>Kedua</em>, &nbsp;“ruhul quds” yang artinya laikat Jibril. Maksdunya bahwa Nabi Isa didukung oleh Malaikat Jibril setiap saat. Ke mana saja nabi Isa pergi selalu didmpingi Malaikat Jibril. Sebab nabi Isa selalu ternacam akan dibunuh oleh kaumnya. Maka malaikat Jibril senantiasa mendampinginya. Inilah makna ayat : “wa ayyadnaahu biruuhil qudus”. Benar semua Nabi didukung oleh Malaikat Jibril, tetapi pengertiannya sebatas menurunkan wahyu saja. Adapun khusus Nabi Isa lebih bermakna pendambingan secara ketat karenanya begitu Nabi Isa secara tiba-tiba dalam kondisi bahaya langsung malaikat Jibril menyelamatkannya dan langsung mengangakatnya ke langit dengan izin Allah swt.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Alasan ini diperkuat dengan ayat berikutnya yang menjelaskan bahwa kaum Yahudi setip kali kedatangan para Nabi yang tidak mereka sukai, mereka langsung melakukan beberapa sikap berikut : (a) mereka sombong “istakbartum”. Kata istikbar artinya sok merasa besar padahal sebenrnya ia kecil. Maksudnya ia memaksakan dirinya menjadi besar padahal itu di luar levenya. Allah tidak suka orang seperti ini karena yang berhak mengaku besar hanya Allah swt. Kaum yahudi sok merasa dirinya bisa hidup tanpa panduan Allah swt. Karenanya mereka setiap diberi risalah wahyu mereka menolak. Seakan mereka sudh cukup tanpa bimbingan wahyu. (b) mereka mendustkan para rasul “kadzdzbtum”. Dalam kata “kadzdzabtum” tergambar bahwa mereka langsung menutup diri dan menolak apa yang disampikan para rasul dan Nabi. Mereka menganggap bahwa apa yang disampaikan para rasul dan Nabi bukanlah sebuah kebenaran. Ini mereka perbuat karena kesombongan yang mereka miliki. (c) mereka membunuh para rasul dan Nabi “taqtuluun”. Sungguh tidak sedikit dari para rasul dan nabi yang mereka bunuh, seperti Nabi yahya dan Nabi Zakaria. Bahkan di antara rahsia diangkatnya Nabi Isa ke langit adalah karena mereka sedang berusaha membunuhnya, tetapi kemudian Allah buat salah seorang dari mereka menyerupai Nabi Isa, dan dialah yang dibunuh. Sementara nabi Isa seketiak itu langsung diangkat ke langit oelh Allah swt. Simaklah Allah swt. berfirman :&nbsp; Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina. dan karena ucapan mereka: &#8220;Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah&#8221;, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An Nisa’ : 156-158).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam ayat ada kata “la tahwaa”. Dalam pemilihan kata tersebut ada makna penting: (a) bila ia dimabil dari kata “hawa – yahwa” artinya jatuh ke bawah. (b) bila diambil dari kata “hawiya-yahwa” maka artiny condong ke syahwat. Keduanya sama mengantarkan kepada makna jatuh ke bawah. Karena orang yang bergelimang syahwat akan terpuruk hidup dan jatuh ke lembah kehinaan. Dengan ini tergambar bahwa kaum yahudi selelu memilih jalan hidupnya yang penuh dengan syahwat dan hawa nafsu. Itulah mengapa mereka sepanjang sejarah tidak pernah mulia, selalu mereka dalam lembah kehinaan dan berdarah-darah. Satu-satunya kaum yang tidak pernah punya operadaban adalah kaum yahudi. Kaum Yunani, Romawi dan Persia masih punya peradaban. Tetapi kaum yahudi tdiak sama sekali meninggalkan peradaban kecuali hanya peradaban membunuh dan membunuh.</p>



<p>Cara Kaum Yahudi Ngeles&nbsp;</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu pada ayat berikutnya Allah swt. menceritakan bagaimana kaum Yauhudi&nbsp; ngeles atau mencari-cari&nbsp; alasan atas kekfirannya dan tindakannya membunuh para rasul. Simklah Allah berfriman : “Dan mereka berkata: &#8220;Hati kami tertutup&#8221;. Perhatikan “ghulf” yang artinya : <em>Pertama</em>, kata “ghulf” berarti “mughllafah” yakni tertutup. Seperti buku yang ditutup rapat maka tidak bisa menerima tulisan sama sekali. Maka dengan ini mereka ingin merngatakan bahwa : “kami tidak butuh panduan risalah”. <em>Kedua</em>, kata ghulf artinya terstempel. Yakni tidak bisa menerima kebenaran sama sekali. Seperti kata “khatama” yang Allah gambarkan untuk orang kafir dalam firmannya : khatamallahu alaa quluubihim (Allah telah mengkunci mati hati mereka). Dengan alas ini kaum Yahudi ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa menerim hidayah karena faktor di luar kehendak mereka. Bukan karena keinginan dan perbuatan mereka sendiri. Padahal itu terjadi karena perbuatan yang mereka lakukan sendiri.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karenanya pada ayat berikutnya Allah langsung menjawabnya : “Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka”; Kata “bal” (tetapi) maksudnya sebagai jawaban atas pernyataan mereka. Bahwa apa yang mereka katakan tidak benar. Sebab mereka tidak menerima risalah bukan karena hati mereka tertutup dengan sednirinya, tetapi karena mereka sendiri yang menutup diri sehingga hidyah tidak bisa masuk ke dalam hati mereka. Dan kata “ la’anahumullah bikufrihim” menunjukkan bahwa mereka dilaknat karena kekafiran yang mereka pilih. Dilkanat artinya bahwa mereka dijauhkan dari rahmat Allah swt. jadi tidak ada lagi mereka rahmat dan kasih sayangNya. Itu terjadi karena mereka sendiri memlih kekafiran dan meninggalkan hidayah yang dibawa para rasul.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Itulah cara orang Yahudi ngeles. Mereka ingin menisbahkan kesesetan mereka karena dibuat oleh Allah. Mereka tidak meu mengakui nahwa kekafiran mereka dalah karena perbuatan mereka sendiri. Tidak, tidak demikian cara memahami tertutupnya hati. Sungguh hati mereka tertutup karena mereka sendiri yang memulai dengan kekafiran. Mereka tidak mau melihat bukti-bukti kebesaran Allah di alam ini. Mereka menolah mempelajari kebenaran wahyu. Mereka tidak mau menggunakan akal sehatnya sehingga mereka menjadi buta akan setiap bukti yang nyata. Lalu dari kekafiran yang mereka pilih tersebut, tertutuplah hati mereka. Bacalah beberapa ayat berikut sebagai dalil : (a) wallahu laa yahdil qawmal kaafiriin (dan Allah tidak akan memberikah hidayah kepada mereka yang masih tetap menjadi kafir). (QS. At Taubah : 37). (b) &nbsp;wallahu laa yahdil qawmadh dzaalimiin ( dan Allah tidak akan memberi8kan hidayah kepada mereka yang tetap bebruat dzalim) (QS. At Taubah : 19) (c) wallahu laa yahdil qawmal faasiqiin (dan Allah tidak akan memberikah hidayah kepada orang tetap berbuat fasik) (QS. At Taubah : 24). Ketiga ayat tersebut menjadi bukti bahwa tetrtutupnya pintu hidayah ada sebab yang mereka perbuat sendiri. Ayiotu karena mereka tetap memelih kekafiran, kedzaliam dan kefasikan sebagai jalan hidupnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu Allah menutup dengan firmanya : “maka sedikit sekali mereka yang beriman”. Maksudnya : mayoritas manusia tidak beriman. Dan sungguh sangat sedikit dari mereka yang beriman. Benar, tujuh milyar penduduk bumi hanya 1,3 milyar yang beriman. Itupun di antara 1,3 milyar sangat sedikit yang benar-benar patuh kepada Allah. Cara mengetahuinya secara sederhana mudah, cukup dengan melihat shaf shalat subuh di masjid. Begitulah memang kenyataan bahwa mayoritas manusia tidak suka ikuta Allah swt. Merka malah lebih suka ikut syetan yang tidak penah berbuat baik kepada mereka. &nbsp;Demikan juga kaum Yahudi, mayoritas dari mereka tetap memlih kekafiran. Sekalipun mereka tahu kebenaran risalah Islam dan kebenaran Rasulullah saw. mereka tetap meilih kekafiran karena gengsi. Dan sungguh sangat sedikit dari mereka kembali kepada iman.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-87-88%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2087%20%E2%80%93%2088" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-87-88%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2087%20%E2%80%93%2088" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-87-88%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2087%20%E2%80%93%2088" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-87-88%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2087%20%E2%80%93%2088" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al Baqarah : 63 &#8211; 64</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-63-64/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:47:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3425</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 63 &#8211; 64 Sikap Berpaling Dari Kebenaran Adalah Pribadi Kaum Yahudi Dr Amir Faishol Fath وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٢:٦٣] ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ&#160;ۖ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ [٢:٦٤] Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 63 &#8211; 64</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Sikap Berpaling Dari Kebenaran Adalah Pribadi Kaum Yahudi</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr Amir Faishol Fath</strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٢:٦٣] ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ&nbsp;ۖ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ [٢:٦٤]</strong></p>



<p>Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): &#8220;Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa&#8221;.</p>



<p>Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.</p>



<p>Rahasia Urutan Ayat</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ayat sebelumnya menjelaskan tentang agama-agama terdahulu, bahwa setelah datangnya Islam agama-agama tersebut otomatis berakhir. Sebab Islam menghapus syariat sebelumnya. Allah swt. berfirman : Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS:2/62) Maksud benar-benar beriman kepada Allah adalah juga beriman kepada RasulNya. Dan Rasul terakhir adalah Muhammad saw. Demikian juga amal salih, maksudnya adalah mengikuti Rasulullah saw. Bila ini yang mereka lakukan maka mereka akan mendapatkan ketenangan dan kebahagaiaan, tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat. Inilah maksud firmanNya : “mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Jadi selama mereka tidak ikut Islam, mnereka selamanya sia-sia seluruh amalnya. Tidak ada pahala sama sekali. Pun otomatis mereka tidak akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.</p>



<p>Silahkan mereka bekerja keras untuk memburu kebahgaiaan di balik kemegahan meterilaisme, maka selama tidak ikut jalan Islam pasti akan terus dihantui kegelisahan ruhani. Karenanya mereka menghalalkan segala cara untuk melupakan ketercekaman jiwa yang mereka alami. Khamer dan perzinaan yang sebenarnya diharamkan dalam ajaran yang mereka yakini, dengan mudahnya mereka langgar. Itu tidak lain karena mereka benar-benar dalam kegelisahan. Jadi sekalipun mereka mengaku memeluk agama yang mereka yakini pada hakikatnya mereka tidak menemukan ketenangan jiwa. Mereka terus berusaha memburu kebahagiaan itu. Tetapi sayang ruhani mereka kosong. Karena agama mereka tidak sasnggup menyelesaikan kegelisahan tersebut. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang bunuh diri. Itulah mengapa Allah swt. mengajarkan agar ikut Islam. Karena agama mereka tidak sanggup mengimbangi tuntutan zaman yang mereka hadapi. Kalau dalam bahasa HP agama tersebut harus diupgrade. Dan Islam adalah satu-sataunya agama yang sudah diupgrede oleh Allah swt. Karenanya kehadiran Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir disebut sebagai rahmatan lil alamiin. Sebab Islam yang dibeawa Rasulullah saw. akan memenuhi semua yang mereka butuhkan sepanjang zaman. Dan hanya dengan Islam mereka tidak akan mengalami kesedihan dan kegelisahan. Sayangnya mereka dalam</p>



<p>Lalu pada ayat ini Allah swt. menegur kaum Yahudi yang masih mau mempertahankan agama mereka. Sekalipun sudah banyak bukti-bukti kebenaran Islam dalam kitab suci mereka, mereka tetap betahan dengan kesalahan yang mereka buat sendiri. Dan ini turun temurun, dari sejak Nabi Musa masih hidup, mereka tidak mau patuh terhadap ajaran yang dibawa Nabi Musa. Apalagi sekarang di mana mereka telah dipenuhi dengki terhadap Islam, maka mereka tetap akan bersikap memusuhi terhadap Islam. Inilah makna ayat dalam surah Al Baqarah : 20, Allah swt. berfirman tentang sikap permusuhan orang Yahudi terhadap umat Islam: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”.</p>



<p>Sisi lain dari rahasia urutan ayat ini adalah bahwa jika pada ayat sebelumnya Allah swt. mengingatkan kaum Yahudi akan nikmat-nikmatNya yang telah diberikan kepada mereka, agar mereka tersadar dan kembali ikut Allah dan RasulNya, maka pada ayat ini Allah swt. menegur mereka agar jangan mengulangi kesalahan pendahulunya yang telah melanggar di hari Sabtu sehingga mereka dihukum oleh Allah dengan dijadikan mereka kera. Di sini seakan Allah Allah swt. berpesan kepada kaum Yahudi agar jangan mengulangi dosa tersebut, agar hukuman yang pernah Allah turunkan tidak menimpa mereka.</p>



<p>Ajakan Agar Bertakwa</p>



<p>Allah swt. berfirman : “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): &#8220;Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa&#8221;. Dalam ayat ini ada beberapa ajakan terhadap kaum Yahudi : Pertama, agar mereka mengambil pelajaran dari peristiwa penting di mana Allah swt. mengambil janji dengan pendahulu mereka. Janji untuk mengamalkan ajaranNya yang tertuang dalam kitab Taurat. Di dalamnya ada ajakan agar beriman kepada Rasulullah saw. Dan ketika itu Allah swt. mengangkat Gunug Thursina di atas kepala mereka. Untuk menunjukan betapa perjanjian ini sangat menentukan berlanjut tidaknya hidup mereka. Maksudnya jika mereka siap menjalankan dengan sungguh-sungguh ajaran Taurat maka gunung Thursina tidak jadi ditimpakan kepada mereka. Sebaliknya jika mereka menolak, maka gunung Thursina akan ditimpakan kepada mereka, dan secara otomatis sejak itu mereka musnah.&nbsp;</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kedua, agar mereka bersngguh-sunguh mengamalkan ajaran yang terdapat dalam Taurat. Kata “biquwwah: artinya maksimal kemampuan. Bukan asal-asalan, apalagi meremehkannya, lebih-lebih melanggarnya. Lebih parah lagi mengubah kandungannya. Dan mereka telah melakukan pelanggaran yang paling parah. Yaitu mengubah kandungan kitab Taurat. Allah swt. berfirman : “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat)” (QS. Al Maidah : 13) Mereka telah menyembunyikan kebenaran akan kenabian Rasulullah saw. Dan mereka mengetahui kebenaran Rasulullah saw. sebagai nabi sperti mereka mengetahui anak-anak mereka sendiri. Tetapi mereka menyembunyikan semua itu. Karena kedengkian dalam diri mereka. Allah swt. berfiman : “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui” (QS. Al Baqarah : 146). Termasuk makna “bi quwwah” adalah melaksanakannya dengan penuh keyakinan, sehingga merasakanmanfaatnya. Sebab ajaran Allah swt. pasti benar. Karena itu dalam Al Quran kita sering mendapatkan cerita bahwa para sahabat sering bertanya mengenai satu hal. Seperti kata “yas aluunaka” (mereka bertanya tentang sesuatu), ini menunjukkan bahwa para ahabt telah merasakan manfaat ajaran Allah swt, sehingga mereka terus meburu tambahan yang baru.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketiga, agar mereka selalu mengingat panduan hidup dalam kitab Taurat, dan bersungguh-sungguh mempelajarinya serta memahami maksudnya. Inilah makan ayat “wadzkuruu maa fiihi” (dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya (Taurat). Dalam kata “wadzkuruu” terkadung makna agar mereka merenungkan dengan fitrahnya bahwa tidak ada ajaran Allah yang sangat memberatkan sehingga mereka tidak mampu mengerjakannya. Semua ajaran Allah swt. sepanjang sejarah manusia selalu sesuai dengan kemampuan yang telah Allah berikan kepada mereka. Maka tidak ada alasan bagi mereka untuk menghindar lalu mengatakan tidak mampu. Karenanya Allah swt. menyediakan adzab neraka bagi mereka yang tidak mau melaksanakannya. Dan sudah terbukti bahwa di belahan sana banyak hamba-hamba Allah swt. yang mampu melaksanakan ajaranNya dengan sungguh-sungguh. Dan karena itu mereka tergolong bertakwa.</p>



<p>Di sini kita paham mengapa Allah swt. berfirman pada ayat berikutnya : “agar kamu bertakwa”. Maksudnya bahwa untuk mencapai takwa mereka harus bersungguh-sungguh menepati janji dan menjalankan ajaranNya. Sebab ilmu telah mereka dapatkan. Dan supaya ilmu merasup dalam jiwa, handaknya diamalkan. Bila amal sudah kokoh maka akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah swt. (al khsyyah). Bila rasa takut ini terhunjam dalam jiwa maka tumbuhkah semangat “muraqabatullah” (selalu sadar akan control Allah). Inilah hakikat takwa yang dimaksud dalam ayat. Dulu kaum Yauhudi tidak berhasil mencapai kualitas takwa ini. Sebab mereka saat melakukan perjanjian, dan mereka melihat langsung ada gunung di atas mereka, mereka takut gunung Thursina itu ditimpakan kepada mereka. Karena itu mereka bersujud bukan karena semangat takwa, melainkan karena takut tertimpa gunung. Itulah mengapa sujud mereka agak melihat ke atas. Takut, jangan-jangan gunung itu tiba-tiba jatuh. Dan karena ini sujud kaum Yahudi sampai sekarang dilakuakn dengan sambil melihat ke atas. Dan cara sujud seperti ini yang mereka ajarkan secara turun-temurun.</p>



<p>Tetapi Mereka Tetap Berpaling</p>



<p><a></a><a href="#_msocom_1">[A1]</a>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah swt. berfirman : “Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu”. Maksudnya bahwa dengan bersungguh-sungguh mengingat semua ajaran Allah swt. yang terdapat dal;am Taurat, mereka akan beriman kepada Rsaulullah saw. dan kepada Islam yang dibawanya. Sebab semua sifat Rasulullah saw. telah dijelaskan secara lengkap dalam kitab Taurat. Tapi sayang mereka dengan sengaj tidak mau mengingat ajaran Taurat tersebut. Bahkan mereka berusaha menyembunyikan dan menghilangkannya. Inilah maksud dari kata “tsumma tawallaiytum min ba’di dzalika” artinya bahwa mereka berpaling setelah kebenaran itu nampak di depan mata mereka. Karena itu mereka disebut oleh Allah swt. sebagai manusia yang kafir pertama kali. Karena mereka adalah manusia yang pertama kali mengetahui kebenaran tetapi mengingkarinya. Dan ini mereka lakukan hanya karena dengki. Karena itu Allah menyebutkan mereka telah menjual belikan ayat-ayat Allah untuk kepentingan dunia semata. Allah swt. berfirman : “Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa” (QS. Al Baqarah : 41). &nbsp;</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu Allah swt. berfriman : “maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi”. Dalam ayat ini ada dua kosa kata penting yang perlu dijelaskan : <strong><em>Pertama</em></strong><em>,</em> kata “al fadhl” artinya karunia. Maksudnya adalah pemberian tambahan atau bonus atas hak yang harus diterima. Contohnyam orang Arab mengatakan : “haadza haqquka, wa hadzaa fadhlun minnii” (ini hakmu dan ini bonus dariku). Nah pemberian tambahan ini disebut dengan “al fadhl”. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. besabda: bahwa tidak ada seorangpun yang masuk surga kerena amalnya. Lalu sahabat bertanya: termasuk engkau wahai Rasulullah saw.? Nabi menjawab : termasuk aku, kecuali Allah swt. melewatkan aku dengan ampuanan dan rahmatNya”. Perhatikan hadits ini menjelsakan bahwa tidak ada amal yang menjamin pelakunya masuk surga. Lalu dengan apa seseorang masuk surga? Di sini ada satu hal yang sering dilupakan yaitu pemberian tambahan atau bonus dari Allah swt. Inilah yang disebut dengan “al fadhl”. Yaitu bahwa seseorang masuk surga karena karunia tambahan tersebut dari Allah swt.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Kedua</em></strong>, kata “rahmah” (kasih sayang), yang dengannya Allah swt. membuka pintu taubat bagi hamba-hambaNya yang menyesali dosa-dosanya dan ingin kembali kepadaNya. Di sini Allah swt. menegaskan kaum kalau tidak karena karuniaNya (al fadhl) dan kasih sayangNya (ar rahmah) niscaya klaum Yahudi benar-benar dalam kerugian di dunia dan akhirat. Sungguh karena karunia dan rahmatNya Allah swt. mempertemukan mereka dengan Rasulullah saw. dan risalah Islam yang dibawaNya. Dan agama inilah yang telah Allah swt. jelaskan dalam kitab Taurat yang mereka pegang. Tetapi kerena mereka tetap meilih kekafiran, maka mereka pasti akan mengalami kerugian di dunia dan akhirat.&nbsp; Wallahu a’lam bishshawab.&nbsp;&nbsp; &nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-63-64%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2063%20%E2%80%93%2064" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-63-64%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2063%20%E2%80%93%2064" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-63-64%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2063%20%E2%80%93%2064" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-63-64%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2063%20%E2%80%93%2064" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al Baqarah : 81 &#8211; 82</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-81-82/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:45:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3423</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 81 &#8211; 82 Selogan Yang Mebuat Kaum Yahudui Berani&#160; Melawan Allah swt. Dr. Amir Faishol Fath وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 81 &#8211; 82</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Selogan Yang Mebuat Kaum Yahudui Berani&nbsp; Melawan Allah swt.</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr. Amir Faishol Fath</strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81) وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (82)</strong></p>



<p>Dan mereka berkata: &#8220;Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja&#8221;. Katakanlah: &#8220;Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?&#8221; (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.</p>



<p>Rahasia Urutan Ayat</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ayat sebelumnya menjelaskan prilaku tokoh-tokoh agama kaum Yahudi yang sangat berani kepada Allah swt. Mereka dengan terang-terangan mengubah teks wahyu yang Allah swt. turunkan. Hampir semua sifat-sifat Nabi saw. yang tertera dalam kitab suci mereka dihilangkan, dengan maksud supaya tidak ada orang yang beriman kepadanya. Kedengkian yang sangat kental terhadap Rasulullah saw. membuat mereka bertekad untuk membangun permusuhan abadi tidak saja kepada Risalah Islam yang dibawanya tetapi juga kepada umat Islam. Inilah makan firman Allah swt. : <em>wa lan tardhaa ‘ankal yahuudu wa lan nashaaraa hattaa tattabi’a millatahum</em> (Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka) (QS. 2:120). Keberanian berbuat dosa ini sebenarnya muncul dari dua sebab :</p>



<p><strong><em>Pertama</em></strong>, karena hati mereka sudah keras sekeras batu bahkan lebih keras lagi (lihat QS. 2:74). Kerasnya hati tersebut terjadi karena dosa-dosa yang menumpuk dan dibiarkan. Lama-lama tumpukan dosa itu menjelma jadi “raan”. Allah berfirman : <em>kallaa bal raana ‘alaa qulubihm maa kaanuu yaksibuun</em> (Sekali-kali tidak (demikian), sungguh apa yang telah mereka perbuat itu telah menjadi “raan” yang menutupi hati mereka) (QS. 83:14). Dari sini hati mereka mebnjadi tertutup. Inilah makna firman Allah swt. ketika menggambarkan hati orang-orang kafir : “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (QS. 2:7). Akibatnya mereka tidak pernah tersentuh oleh peringatan apapun. Maka kesadaran akan keagungan Allah dalam diri mereka tidak ada. Akibat lebih kanjut mereka menganggap bahwa bahasa Allah swt. sama saja dengan bahasa manusia, bisa diubah-ubah seenak nafsunya. Itulah mengapa mereka berani mengubah ayat-ayat Allajh swt. dan menyembunyikan kebenaran yang terdapat dalam kitab suci yang Allah turunkan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Kedua</em></strong>, karena persepsi yang salah. Dan persepsi ini didapat dari selogan-selogan yang mereka buat. Seperti selogan bahwa mereka adalah anak-anak Allah yang terpilih. Maka dari sini lahir pemahaman bahwa mereka mendapatkan kedudukan khusus di sisi Allah swr. melebihi bangsa-bangsa atau umat-umat lainnya. Pun dengan pemahaman ini mereka menganggap rendah selain mereka. Bahkan mereka merasa tidak berdosa jika melakukan pembunuhan terhadap siapapun yang mereka kehndaki. Itulah yang terjadi di Pelestina yang sampai sekarang masih terus berlangsung. Bila satu dari saudara mereka terbunuh mereka berteriak bahwa itu melanggar hak-hak asasi manusia (HAM). Tetapi bila mereka melakukan pembunuh secara massal terhadap ribuan umat Islam Palestina, mereka tidak merasa berdosa sama sekali.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu pada ayat ini Allah swt. menjelaskan selogan mereka yang lain lagi. Di mana dengan selogan ini mereka semakin berani berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka mengatakan bahwa : sebesar apapun dosa yang mereka perbuat, tidak akan dihukum oleh Allah swt. Toh, kalaupun mereka kelak di akhirat masuk nerakan, itu tidak lebih dari sekedar sentuhan saja yang tidak akan membuat mereka tersiksa.&nbsp;</p>



<p>Selogan Mereka Tentang Siksa Neraka</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah swt. merekam pernyataan kaum Yahudi yang membuat mereka semakin berani berbuat dosa apapun. Dengarkan Allah swt. berfirman : <em>“wa qaaluu lan tamassanan naaru illaa ayyaamam ma’dudah”</em>&nbsp; (Dan mereka berkata: &#8220;Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja&#8221;). Dari ayat ini tergambar kesalahan persespi mereka tentang adzab yang Allah swt. persiapakan bagi hamba-hambaNya yang berdosa dari beberapa indicator berikut:</p>



<p><strong><em>Pertama</em></strong>, mereka menggunakan kata “al massu” bukan “al lamsu”. Ada perbedaan mendasar antara kedua kata tersebut. Kata al massu artinya sekedar sentuhan tanpa merasakan sesuatu atau bisa dikatakan sentuhan tipis yang hampi-hampir mebuat objkenya tidakan merasakannya. Maka seorang yang menyentuhkan sebagian jarinya kepada orang lain dengan sentuhan yang sangat tipis sehingga orang disentuhnya tidak merasakan apa-apa, itu disebut “al massu”. Lain halnya dengan al lamsu, yang di dalamnya terkandung makna menyentuh sekaligus membuatnya merasakan sentuhan tersebut. Dengan pemeilihan kata yang sangat selektif tersebut, sebenarnya kaum Yahudi ingin menggambarkan bahwa api neraka tidak akan menyentuh mereka sama sekali. Lebih kanjut mereka ingin meyakinkan orang lain bahwa dosa apapu yang mereka perbuat tidak akan pernah menjerembabkan mereka ke dalam hukuman yang penuh penderitaan. Sebab mereka adalah bangsa pilihan dan sangat istimewa. Di sini mereka seakan ingin mengatakan kepada seluruh kaum Yahudi: “Berbuatlah kalian apa saja, kalian tidak akan pernah terkanak hukuman. Toh sekalipun ada hukuman, itu hanya disentuhkan saja secara formalitas. Dan kalian tidak akan pernah merasakan ketersiksaan”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Kedua</em></strong>,&nbsp; mereka menyebutkan durasi waktu yang sangat singkat dengan mengatakan : <em>ayyamam ma’dudah</em>&nbsp; (beberapa hari tertentu saja). Maksudnya tidak sampai berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun. Padahal dalam Al Quran Allah swt. menggambarkan bahwa sehari di neraka seperti seribu tahun di dunia. Simaklah Allah swt. berfirman : Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu (QS. 22:47). Kata “ayyam” mengambarkan durasi waktu yang sangat singkat. Dengan istilah tersebut mereka seakan mengatakan : kalaupun ada hukuman dari Allah di akhirat, hukuman tersebut hanya berlangsung beberapa hari saja. Sebelum terasa pedihnya adzab tersebut sudah berakhir. Maka dengan persepsi ini mereka merasa aman dari adzab. Karena merasa sudah terjamin bahwa hukuman itu tidak akan membuat mereka menderita.&nbsp; Adapun kata “ ma’dudah” adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan angka paling sedikit. Tidak ada yang lebih sedikit darinya. Dengan istilah lain disebut “aqallul aqal” (paling sedikitnya yang sedikit). Kebalikannya adalah istilah “al katsiir” (banyak). Maka jika lebih dari dua sudah dianggap “al katsir”. Karenanya dalam bahasa Arab, kata benda yang digunakan untuk menunjukkan jumlah banyak atau lebih dari dua disebut “jama’”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Maka dengan menggunakan&nbsp; kata “ayyamam ma’dudah” kaum yahudi ingin mengatakan bahwa adzab yang kelak ditimpakan kepada mereka hanyakah sangat sedikit dan sangat singkat. Sekedar basa-basi, pun sekedar untuk menunjukkan bahwa mereka juga terkenak adzab. Dalam suarah Yusuf kita mendapatkan penggunakan kata “ma’dudah” untuk menunjukkan harga yang sangat-sangat murah. Bahwa Nabi Yusuf pada waktu itu dijual dengan harga sangat murah. Sebab penjualnya atau atau orang yang mendapatkannya adalah seorang yang zuhud, tidak cinta harta. Maka hampir-hampir dikatakan tidak ada harganya sama sekali. Allah swt. menggambarkan proses transaksi tersebut dengan berfirman : wa syarawhu bi tsmanin bakhsin dzraahima ma’dudah wa kaanuu fiihi minaz zaahidiin” (Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf) (QS. 12:20). Jadi dengan penjelasn ini bisa dikatakan bahwa dalam persepsi kaum yahudi adzab itu hampir-hampir tidak ada, kalapun ada hampir-hampir tidak terasa sama sekali kepedihannya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Ketiga</em></strong>, mereka menggunakan redaksi “an nafyu wal itsbat” (penafiyan dan penetakan) untuk memastikan bahwa hanya itu yang terjadi, tidak ada pilihan lain. Seperti redaksi penggambaran tentang makanan ahli neraka, Allah swt. berfirman : <em>wa laa tha’aamun illa min ghisliin</em> (tidak ada makanan sedikitpun kecuali hanya darah dan nanah) (QS. 69:36). Dengan redaksi ini mereka ingin meyakinkan diri mereka dan para pendukungnya agar jangan takut siksa neraka. Sebab sebenarnya hukuman itu –menurut mereka- hanya sekedarnya saja. Tidak akan sampai membuat mereka menderita. Berdsarkan ini mereka setelah itu tidak takut berbuat dosa. Dosa apa saja, sebesar apapun mereka perbuat. Merekalah dalang segala bentuk kerusakan di muka bumi.</p>



<p>Lebih dari itu bahwa dalam redaksi ini mereka menggunakan kata “lan” yang artinya tidak mungkin sama sekali. Bentuk penafiyan seperti ini adalah bentuk yang paling ekstrim. Di mana mereka sudah memastikan lebih dahulu bahwa tidak mungkin sama sekali terjadi penghukuman atas mereka kecuali yang demikian ringan. Maka dengan ini nampak bahwa mereka seakan telah mengatur Allah swt. Dengan kata lain, mereka merasa bahwa segala keputusan Allah dalam kendali mereka. Inilah kesombongan yang nyata. Pun dengan ini jelas bahwa mereka sangat bodoh dan telah dikuasi oleh syetan. Sehingga apa saja yang dikatakan syetan, mereka ikuti dengan sesungguh-sungguhnya. Maka Allah swt.segera mengajarkan RasulNya agar memberikan jawaban demikian :&nbsp; Katakanlah: &#8220;Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?&#8221; Namun ternyata itu hanya pengakuan dusta mereka. Mereka mengarang sendiri pernyataan itu. Sungguh kelak mareka pasti akan mendapatkan akibatnya.</p>



<p>Dari jawaban yang Allah ajarkan tersebut ada beberapa catatan penting : (a) Kaum Yahudi dalam penyataannya itu hanyalah pengakuan belaka. Tidak ada dasar wahyu sekali. Mereka tidak mempunyai jaminan dari Allah atas pengakuan yang mereka buat. Maka mereka pasti akan diadzab oleh Allah swt. (b) Jika memang benar bahwa Akllah telah berjanji demikian atas mereka, Allah pasti akan memberitahukan itu kepada RasulNya. Tetapi malah yang Allah jaminkan adalah adzab yang pedih atas mereka. Dan Allah swt. tidak akan pernah mengingkari janji. (c) Akhlak Rasulullah saw. yang mulia dalam berdilog dengan mereka, dengan menggunakan ucapan yang lembut. Seharusnya Nabi mengatakan : “semua perkataan kalian adalah dusta tidak ada dasarnya dan itu juga kebohongan terhadap Allah swt”. Namun ternyata Nabi menjawab dengan bnaik dan lembut : “..Kamu telah mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”</p>



<p>Dan kaum Yahudi benar-banar tahu bahwa selogan yang mereka buat itu adalah karangan yang tidak ada dasarnya sama sekali. Tetapi mereka lakaukan itu untuk membodohi pendukung mereka yang tidak tahu apa-apa “ummiyuun”.&nbsp; Pun juga mereka lakukan itu untuk menipu orang-orang beriman. Tetapi semua itu dijawab oleh Allah dan RasulNya: “(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya”.&nbsp; Di sini jelas bahwa siapa saja yang inkar kepada Allah dan rasulNya, tak perduli dari bangsa manapun, ia pasti masuk neraka. Sebaliknya siapa saja yang mjentaati Allah dan rasulnya dan beramal salih, maka ia akan masuk surga dan akan kekal di dalmnya. <em>Wallahu a’lam bishshwab</em>.&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-81-82%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2081%20%E2%80%93%2082" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-81-82%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2081%20%E2%80%93%2082" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-81-82%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2081%20%E2%80%93%2082" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-81-82%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2081%20%E2%80%93%2082" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al Baqarah : 38 &#8211; 39</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-38-39/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:43:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3421</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 38 &#8211; 39 Rahasia Diturunkannya Manusia Ke Bumi Dr Amir Faishol Fath قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (38) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39) Kami berfirman: &#8220;Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 38 &#8211; 39</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Rahasia Diturunkannya Manusia Ke Bumi</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr Amir Faishol Fath</strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (38) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39)</strong></p>



<p>Kami berfirman: &#8220;Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati&#8221;.Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.</p>



<p>Rahasia Urutan Ayat</p>



<p>Pada ayat sebelumnya Allah swt. telah menejelaskan dosa atau kesalahan yang diperbuat oleh Adam alaihisslam, tetapi tidak menjelaskan apa bentuk kesalahan yang telah dilakukannya. Sebab itu akan dijelaskan di tempat lain dalam Al Quran. Pun juga redaksi ayat lebih menekankan kepada penegasan nabi Adam sebagai Khalifah di bumi, karena itu sangat dihindari penyebutan tentang dosa.Pun karena itu Allah swt. tekankan bahwa syetan telah menggelincirkannya dari surga. Jadi kesalahan itu sekalipun telah diperbuat oleh Adam alaihissalam, tetapi oleh Allah swt. disandarkan kepada syetan. Di sini nampak betapa Allah swt. tetap menjaga ketinggian derajat Adam sebagai manusia pertama dan sekaligus sebagai khalifah. Toh juga kesalahan itu lebih berupa kesalahan kecil yang tidak berdampak pengrusakan kepada tatanan hidup dan kemanusiaan. Namun demikian Adam alaihissalm tetap merasa berdosa. Dan karena itu ia segera bertaubat kepada Allah swt.</p>



<p>Lalu pada ayat ini Allah swt. menjelaskan perintah kepada Adam dan Hawwa agar keluar dari surga dan segera turun ke bumi. Di sini seakan Allah swt. mengatakan : Hai Adam dan Hawwa, sekarang tibalah saatnya kamu sekalian turun ke bumi untuk melaksanakan tugas kekhilafahan, sebab kamu telah selesai masa magang di surga, dan kamu selama di surga telah mengalami tabiat hidup yang akan kamu alami di bumi, yaitu kamu akan berhadapan dengan perintah dan larangan. Pun kamu juga telah mengalami bahwa dalam proses itu harus berhadapan dengan godaan syetan. Dan kamu telah digelincirkan olehnya. Sekarang kamu harus mendapatkan akibat dari kesalahan yang telah kamu perbuat, yaitu turunlah ke bumi. Untuk apa turun ke bumi? Untuk merasakan langsung kehidupan di bumi. Dan memang asalnya kamu diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. Di bumi itulah kamu saatnya menunjukkan peranan tersebut. Bila kamu dan keturunanmu ikut Aku, maka kamu akan bahagia. Tetapi bila tidak, kamu akan menghadapi hukuman yang sebenarnya kelak di akhirat.</p>



<p>Perintah Turun Ke Bumi</p>



<p>Teks perintah Allah kepada Adam dan Hawwa, agar turun ke bumi sebagai berikut : &nbsp;“Kami berfirman: &#8220;Turunlah kamu semua dari surga itu!”. Perintah ini dalam tekas aslinya berbunyia : qulna ihbuithuu. Kata ihbiuthuu, untuk jama’ (orang banyak). Padahal yang diperintahkan hanya berdua Adam dan Hawwa. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dalam redaksi ini menggunakan kata jama’ karena termasuk di dalamnya keturunan Adam yang telah Allah swt. persiapkan dalam diri Adam. Lalu Allah berfirman : Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati&#8221;.</p>



<p>Di sini kita paham seakan Allah mengatakan : Turunlah kamu sekalian ke bumi untuk menjalankan peranmu sebagai khalifah, dan kamu akan mengalami langsung apa yang telah kamu alami selama masa magang di surga. Kamu dan keturunanmu akan berhadapan dengan perintah dan larangan. Apa yang Aku perintahkan kerjakanlah, dan apa yang Aku larang jauhilah. Pun kamu akan berhadapan langsung dengan syetan dan kawan-kawannya. Di sana kamu akan benar-benar diuji apakah kamu akan tetap bertahan patuh kepada Ku atau malah sebaliknya. Ingat semua apa yang akan kamu perbuat di bumi akan ada akibatnya. Jika itu baik maka akibatnya surga. Dan jika itu buruk maka akibatnya neraka. &nbsp;</p>



<p>Apapun, perintah Allah kepada Adam dan Hawaa sudah terjadi. Inilah saatnya manusia turun ke bumi, dan inilah saatnya manusia akan berhadapan langsung dengan syetan. Dan Allah swt. telah membangun perjanjian dengan manusia agar jangan ikut syetan. Sebab tugas kepemimpinan di bumi hanya bisa ditegakkan oleh orang-orang yang patuh kepada Allah swt. Di sini seakan Allah mengatakan : Wahai manusia, Aku telah berjanji denganmu hendaklah jangan ikut syetan. Dan kamu telah punya pengalaman bahwa tidak ada syetan yang baik. Pun kamu juga tahu bahwa kamu berbuat salah adalah karena godaan syetan. Semua syetan adalah musuhmu. Maka jangan sampai terpedaya oleh tipu dayanya. Dan tetaplah ikut panduan yang Aku turunkan. Sebab hanya dengan ikut Aku kamu akan sukses sebagai khalifah di bumi.</p>



<p>Dari sini jelas bahwa diturunkannya Adam dan Hawwa ke bumi ada hubungannya dengan manhaj (aturan hidup) yang harus dijalankan oleh manusia. Bahwa Allah swt. menciptakan langit dan bumi ada tujuannya. Yaitu sebagai sarana untuk beribadah kepadaNya. Bahwa untuk menggunakan sarana ini ada panduannya. Karena itu Allah turunkan wahyu sebagai pedoman. Bahwa untuk menjalankan panduan ini harus ada pelaksananya, maka ditentukanlah manusia sebagai khalifah (pelaksana panduan Allah dalam mengelola segala fasilitas hidup yang Allah sediakan). Berdasarkan ini jelas bahwa kisah adanya larangan di surga dan godaan iblis agar melanggar larangan tersebut, dan terperangkapnya manusia dalam dosa, lalu tersadarnya dari dosa dengan cara betaubat, itu merupakan potret yang akan terus berulang dalam hidup manusia di bumi. Maka sungguh merupakan rahmat Allah kepada manusia ketika diturunkan di bumi, ia sudah berbekal pengalaman sebelumnya. &nbsp;</p>



<p>Buah Kepatuhan</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah swt. berfirman : “Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu” &nbsp;ini adalah bukti kasih sayang Allah swt. Bahwa Allah swt. tidak akan membiarkan manusia tanpa petunjukNya. Benar, Allah swt. maha penyayang. Sebelumnya Allah swt. telah menempatkan di surga. Lalu setelah bebruat salah Allah swt. mengajarkannya agar betuabat sebagai jalan keluar dari dosa. Pun Allah swt. mengajarkannya bacaan yang sebaiknya pada saat bertaubat. Lebih dati itu Allah berjanji akan menerima taubatnya. Maka demikian juga setelah manusia diturunkan ke bumi. Allah swt. memberikannya panduan wahyu. Dengannya manusia tahu apa yang halal dan apa yang haram.</p>



<p>Lalu Allah swt. menjelaskan buah kepatuhan terhadap panduan wahyu. Allah swt. berfirman : “maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati&#8221;. Dari ayat ini jelas bahwa ada dua buah yang didapat oleh manusia selama mereka melaksanakan panduan dari Allah : (a) falaa khawfun alaihim (tidak kekhwatiran atas mereka). Kata khawf artinya kekhawtiran akan terjadinya keburukan di masa yang akan datang. Maka dengan ini seakan Allah swt. mengatakan : bila mereka ikut petunjukKu, mereka akan aman. Sebab Aku maha kuasa. Aku bisa berbuat apa saja yang aku mau. Tidak ada yang mustahil bagiku. Tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa izinKu. Mereka pasti aman di dunia pun mereka pasti aman di akhirat. (b) wa laa hum yahzanuun (dan tidak pula mereka bersedih hati). Kata al Huzn artinya hilangnya sesuatu yang ia sukai. Di sini seakan Allah swt. mengatakan : jika mereka ikut Aku, mereka tidak akan sedih. Mereka akan selalu puas dengan apa yang mereka dapatkan. Mereka tahu bahwa apa yang Aku takdirkan adalah yang terbaik. Maka apapun yang menimpa mereka, akan selalu diterima dengan lapang dada. Karena itu mereka tidak akan pernah sedih.</p>



<p>Di sini ada pelajaran penting bahwa masyarakat yang bersih dari dosa akan selamat dari cekaman ketakutan dan kekhawatiran akan masa depan. Dan inilah fitrah manusia. Bahwa seorang yang tidak menipu dan tidak berbuat dzakim akan selalu merasa aman. Sebaliknya para penjahat akan selalu ketakutan. Dan biasanya asal muasal dosa adalah karena terlalu besarnya cinta dunia (materilistis). Kini kita hidup di sebuah zaman yang serba materialistis.Tabiat kaum materiliastis adalah ketergantungan yang besar terhadap benda-benda. Sementara tabiat benda selalu datang dan pergi. Dari sini mereka selalu tercekam oleh perasaan serba khawatir dan takut akan masa depan. Mereka takut kehilangan harta mereka sehingga berbuat bakhil Pun mereka selalu sedih setiap kali harta mereka habis. Akibatnya mereka tidak pernah merasa aman. Sungguh tidak ada kebahgaiaan bagi kecuali bergangtung kepada Allah yang maha kaya. Dan inilah hakikat tauhid, yang Allah ajarkan sebagai panduan pokok manusia.</p>



<p>Buah Kekafiran</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada ayat berikutnya, Allah swt. menggambarkan yang sebaliknya, bahwa orang-orang yang tidak mau ikut Allah mereka pasti sengsara. Allah swt. berfirman : “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Kafir artinya menutupi. Orang-orang kafir berusaha menutupi apa yang sudah ada. Sebab sesuatu yang tidak ada tidak perlu ditutupi. Allah swt. yang jelas adaNya ditutupi oleh mereka. Padahal mereka secara fitrah telah mengakui bahwa Allah benar adaNya. Dalam surah Az Zukhruf : 87 Allah swt. berfirman : &nbsp;Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: &#8220;Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: &#8220;Allah&#8221;, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?. Dalam surah Al ankabut: 61, Allah swt. berfirman : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: &#8220;Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?&#8221; Tentu mereka akan menjawab: &#8220;Allah&#8221;, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istilah kafir digunakan dalam Al Quran untuk menggambarkan pribadi yang berusaha menutuip kebenaran Allah swt. Karena itu mereka tidak mendaptakan hidayah. Bagi mereka sama saja, diberi nasihat atau tidak, mereka tetap tidak mau beriman. Allah swt. berfirman dalam surah Al Baqarah : 6 :&nbsp; Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Akibat dari tindakan mereka ini adalah neraka dan mereka kekal di dalamnya. Inilah makna ayat&nbsp; di atas : “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ada dua perbuatan yang mereka lakukan untuk membuktikan kekafiran: (a) kafaruu, tidak beriman kepada Allah, mengingkari adanya akhirat, maka mereka tidak pernah berpikir untuk memehami firmanNya. Pun mereka tidak pernah terlintas memmpelajari pandanNya. Akibatnya mereka mengarang panduan sendiri, sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Mereka membuat tuhan sendiri berupa patung-patung dan benda yang mereka yakini sebagai kuatan. (b) kadzdzabuu bi ayaatina (mereka mendustakan ayat-ayatNya). Mereka mendustakan bukti-bukti kekuasaan Allah di alam ini. Mereka mendustakan para rasul yang membawa risalah Allah swt. Mereka mendustakan ayat-ayat yang Allah firmankan dalam Al Quran. Akibatnya mereka tidak tahu mencontoh siapa. Pun mereka tidak punya pijakan kebenaran mutlak. Sebab mereka berdiri di atas akal mereka yang plin-plan. Karena itu mereka selalu tercekam kegelisahan. Hidup mereka serba galau. Tidak ada kebahagiaan sama sekali. Itulah sebabnya mengapa mereka lari ke tempat-tempat hiburan. Tidak sedikit dari mereka yang harus mabok untuk menghilangkan akal mereka. Pun tidak sedikit dari mereka yang bunuh diri.</p>



<p>Ini baru di dunia, mereka tersiksa sedemikian rupa. Adapun di akhirat mereka pasti masuk neraka. Inilah makna ayat di atas : “mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Teks aslinya berbunyi : <em>ulaa ika ashhaabun naar</em>. Kata ashhaab jamak dari shahib artinya yang rindu kepada shabatnya. Seakan neraka rindu kapada orang yang akan menghuninya. &nbsp;Karenanya setiap dimasukkan ke dalam neraka, para penghuninya, neraka berkata : masih ada lagi “ hal min maziid (lihat QS. Qaf : 30). Ini menggambarkan betapa neraka sangat gembira ketika mendapatkan tubuh orang-orang kafir, para pendosa dilemparkan ke dalamnya. Sampai-sampai seakan neraka merasa nyaman bersamanya, ditemani olehnya. Inilah makna <em>ulaa ika ashhabun naar</em>.&nbsp; &nbsp;</p>



<p class="has-text-align-center">.&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-38-39%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2038%20%E2%80%93%2039" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-38-39%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2038%20%E2%80%93%2039" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-38-39%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2038%20%E2%80%93%2039" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-38-39%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2038%20%E2%80%93%2039" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al Baqarah : 74</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-74/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:39:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3419</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 74 Perumpamaan Hati Kaum Yahudi Lebih Keras dari Batu Dr. Amir Faishol Fath ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74) Kemudian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 74</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Perumpamaan Hati Kaum Yahudi</strong> <strong>Lebih Keras dari Batu</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr. Amir Faishol Fath</strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74)</strong></p>



<p>Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sekeras batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.</p>



<p>Rahasia Urutan Ayat</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ayat-ayat sebelumnya menggambarkan betapa sangat banyak bukti-bukti nyata yang menunjukkan keagungan Allah swt. dan kemahaperksaanNya di hadapan Bani Israil. Bukti-bukti tersebut ditunjukkan melalui mu’jizat Nabi Musa alaihissalam. Seperti terbelahnya laut Merah, dan mereka bisa melewati belahan tersebut sehingga selamat dari ancaman kaum Firiun. Diangkatnya gunung di atas kepala mereka, dan mereka melihatnya dengan nyata, dijadikannya kera semua dari mereka yang melanggar di hari Sabtu, dan dihidupkannya kembali seorang yang terbunuh untuk memberitahukan siapa pembunuhnya, seperti yang diceritakan dalam peristiwa sapi. Ini semua sudah sangat cukup –bahkan lebih dari cukup- untuk membuat seseorang beriman kepada Allah swt. dan RasulNya. Namun ternyata kaum Yahudi itu tetap tidak mau beriman. Berbagai sikap justru menunjukkan bahwa mereka semakin jauh dari risalah yang dibawa Nabi Musa alaihissalam. Apa sebabnya?</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jawaban atas pertanyaan ini ada pada ayat-ayat berikutnya seperti yang kita kutip di atas. Yaitu bahwa hati mereka memang sangat keras, sekeras batu. Bahkan lebih keras lagi. Sehingga tidak ada nasihat apapaun yang bisa masuk ke dalamnya. Kok akan nasihat, berbagaii mukijzat yang sangat mencengankan saja tidak bisa menyentuh hati mereka sedikitpun. Itu benar-benar membuktikan bahwa dari hati mereka tidak bisa diharapkan sama sekali kebaikan. Sebab sekeras-keras batu masih mungkin ada manfaatnya: bisa memancarkan mata air, bisa digunakan untuk bangunan dan lain sebagainya. Dari sini jelas bahwa semua yang Allah ciptakan sekeras apapun masih bisa diambil manfaatnya. Kecuali hati yang keras, maka tidak bisa diharapkan darinya kebikan apapun.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Inilah gambaran hati kaum Yahudi. Mereka memang tidak punya hati. Kalaupun mereka punya, hati mereka sangat keras. Tidak akan pernah menerima nasihat apapun. Karena itu mereka suka melanggar janji. Dan bahkan tidak punya prikemanusiaan sama sekali. Bayangkan mereka membunuh siapa saja. Sampaipun anak-anak kecil yang tidak berdosa mereka bunuh secara membabi buta. Orang-orang tua, kaum wanita yang tidak berdaya, semua mereka bunuh. Kok akan mereka, para nabi saja yang diutus kepada mereka, sepanjang sejarah banyak yang sudah mereka bunuh. Dan di kota Madinah kaum Yahudi telah berusaha untuk membunh Rasulullah saw. berkali-kali, tetapi dengan kehendak Allah swt. usaha mereka selalu gagal. Ini membuktikan makna ayat di atas bahwa hati mereka benar-benar sangat keras, lebih keras dari pada batu.</p>



<p>Mengapa Hati Yang Disebut?</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah swt. berfirman : “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras”, di sini Allah swt. menyebutkan “hati” (al qalbu) jamaknya (al quluub), bukan jiwa (an nafs) sebab yang paling berpengaruh terhadap prilaku adalah hati. Bila hati tenang dan tentram, maka nampak dari wajah seseorang keceriaan dan senyum yang sumeringah. Sebaliknya bila hati kalut dan penuh luka, maka yang nampak dari wajahnya adalah kesedihan dan kegalauan. Dan tidak sedikit orang yang mengalami sakit secara jasamni karena dampak dari sakit hati. Bahkan lebih parah lagi, banyak juga orang yang bunuh diri karena kegalauan yang sangat mencekam dalam hati.</p>



<p>Dengan kata lain, hati adalah raja dalam tubuh. Dialah yang mengendalikan semua anggota tubuh. Karena itu letak niat dalam hati. Sebab dari situlah semua gerak anggota tubuh dikendalikan. Hati yang penuh dengan iman maka seluruh tubuh akan mencerminkan prilaku keimanan. Sebaliknya hati yang penuh dengan niat jahat dan kebusukan, maka akan lahir darinya prilaku yang kasar dan kejam. Dalam surah Az Zumar:23, Allah swt. menggambarkan hakikat ini dengan sangat jelas bahwa hati yang penuh dengan iman akan bergetar ketika dibacakan ayat-ayat suci Al Quran, dan merasa tenang ketika berdzikir kepadaNya simaklah Allah swt. berfirman :</p>



<p><strong>اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مُّتَشَابِهاً مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىا ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَآءُ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ</strong></p>



<p><em>“</em><em>Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun</em><em>”</em><em>.</em></p>



<p>Sudah pasti jika semua anggota tubuh bergetar karena Al Quran, itu sebenarnya muncul dari getaran hati yang lembut sehingga mudah tersentuh oleh ayat-ayat Al Quran yang demikian dahsyat menyelusup ke dalamnya. Berdasarkan ini jelas bahwa ketika prilaku seseorang sangat kasar dan sulit gemetar ketika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran, itu karena hatinya keras. Demikianlah kerasnya hati kaum Yahudi sehingga tidak ada ucapan para nabi yang mereka dengarkan. Pun tidak ada risialah Allah yang mereka patuhi. Apalagi perkataan manusia biasa. Maka benar jika Allah swt. dalam ayat ini menjelaskan mengenai kerasnya hati mereka, karena dari hatilah semua perubahan terjadi. Berdasarkan ini pula, bahwa seorang yang berdkawah di jalan Allah swt. tidak cukup hanya berbekal sentuhan logis dalam menjelaskan risalh Allah swt. tetapi juga harus berbekal sentuhan hati. Maka apa yang datang dari hati pasti akan masuk ke hati. Ingat bahwa ketika hati seseorang tersentuh maka ia akan mudah terpengaruh. Dan dari keterpengaruhan tersebut akan lahir perubahan prilaku.</p>



<p>Bahaya Hati Yang Keras</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu Allah swt. memberikan perumpamaan bahwa hati yang keras boleh jadi sekeras batu bahkan lebih keras lagi. Allah swt. berfirman : “sekeras batu bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah.”. Dalam perumpamaan ini Allah swt. menggunakan batu sebagai perumpamaan. Karena batu adalah simbol ciptaan Allah yang keras. Tetapi kerasnya batu bukan berarti tidak ada manfaatnya. Melainkan ia dengan sifatnya yang keras masih bisa menjalankan fungsinya sebagai batu. Contoh misalnya, sebuah bangunan sangat membutuhkan batu sebagai fondasinya. Dan seandainya tidak ada benda sekeras batu, maka bangunan itu tidak akan tegak.</p>



<p>Dalam ayat ini disebutkan beberapa sisi kebaikan batu sebagai benda yang keras : (a) Allah swt. berfirman : “diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya”. Maksudnya bahwa tidak mustahil dari batu-batu itu terpancar air sungai yang mengalir ke berbagai plosok negeri untuk memberikan penghidupan bagi tumbuh-tubuhan dan binatang-binatang (b) Allah swt. berfriman : “dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya”, artinya ada juga batu yang membelah dirinya untuk memancarkan mata air yang bening dan bisa diminum oleh banyak manusia. Seperti yang dilakukan Nabi Musa dengan mukijzatnya bisa membuat batu memancarkan air minum bagi kaumnya. Apa bedanya antara yang pertama dan kedua? Yang pertama menggunakan istilah “yatafajjaru minhul anhaar” (mengalir darinya sungai-sungai) sementara yang kedua menggunakan istilah “ yasysyaqqaqu fayakhruju mihul maa’ (batu itu membelah dirinya lalu keluarlah mata air). Jadi makna yang pertama adalah airnya yang mendatangi orang-orang sekampung melalui sungai-sungai, sementara yang kedua adalah orangnya mendatngi mata air tersebut seperti sumu dan lain sebagainya. (d) Allah swt. berfirman : “dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah” Ini bukti bahwa batu-batu itu juga bergetar takut kepada Allah swt. Inilah makna ayat :</p>



<p>سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ&nbsp;ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [٥٧:١]</p>



<p><em>Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</em></p>



<p>Di sini seakan Allah swt. mengatakan bahwa sekeras-kerasnya batu, masih ada manfaatnya dan patuh kepada Allah swt. ia juga bergetar sehingga jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah karena takut kepadaNya. Padahal batu itu tidak punya hati untuk memahmi ayat-ayat Allah swt. Maka sungguh memalukan jika manusia yang punya hati malah tidak patuh kepadaNya.</p>



<p>Kapan Hati Menjadi Keras?</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hati sebagaimana tempat bersarangnya iman dan keyakinan juga boleh jadi menjadi tempat bersarangnya kegersangan dan kekafiran. Rasulullah saw. bersanda :</p>



<p><strong>&#8221; ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب &#8220;</strong></p>



<p>Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada sekerat daging. Bila daging tersebut baik maka semua tubuh akan menjadi baik. Dan bila daguing tersebut buruk maka semua tubuh akan menjadi buruk. Ketahuilah bahwa sekerat daging itu adalah hati.</p>



<p>Maka ketika hati selalu bersama Allah, ia menjadi lembut dan penuh dengan kebaikan. Dari kebaikan itu datanglah kasih sayang. Dari kasih sayang muncullah akhlak mulia. Sebaliknya bila hati lupa dzikir kepada Allah swt. maka ia menjadi gersang.Lalu setelah itu ia mengeras secara perlahan. Selanjutnya ia akan sibuk dengan dosa-dosa. Lama ke lamaan ia terlepas dari Allah swt. dan yang ada dilamnya hanya benda-benda dan materi. Akibatnya ia tidak tertarik sama sekali kepada segala yang ghaib, seperti pahala, indahnya ibadah kepada Allah dan lain sebagainya. Sebab ia telah terseting unuk semata benda-benda. Dari sinilah ia terus mengeras seperti tabiat benda yang keras dan kasar.</p>



<p>Lebih lanjut ia akan mudah berbuat dzalim, tidak saja kepada dirinya sendiri tetapi juga kepada orang lain. Karena ktika iman sudah tercerabut dari hati, maka secara ebrasamaan akan tercerabut juga iman yang telah mengalir dalam mata, sehingga ia suka memandang yang haram, pun tercerabut juga iman yang telah mengalir dalam tangan, sehingga ia suka mengmbil yang haram, juga tercerabut iman yang ada dalam kaki, sehingga menjadi berat melangkah ke masjid, dan malah ringan melangkah ke tempat judi dan tempat-tempat maksiat lainnya. Sebab ia sudah sangat jauh dari keimanan, dan sangat dekat kepada yang nampak-nampak (baca: materialisme). Dan ingatlah bahwa ketika semua bentuk materilisme telah menguasai hati seseorang, ia otomtis akan keras hatinya. Inilah yang sebenarnya dialami oleh kaum Yahudi. Mereka benar-benar terkungkung dalam kubangan bena-benda, sehingga tidak mau percaya kepada yang ghaib. Itulah sebabnya mengapa mereka ketika di ajak oleh Nabi Musa agar menyembah Allah mereka malah mengatakan : &nbsp;</p>



<p>وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ [٢:٥٥]</p>



<p>Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: &#8220;Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya&#8221;.</p>



<p>Nahkan mereka malah menuat patung tuhan berupa sabi, lalu mereka sembah. Inilah yang diceritakan dalam kisah Samiri. Allah swt. berfirman :</p>



<p>وَلَقَدْ جَاءَكُم مُّوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ [٢:٩٢]</p>



<p>Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.</p>



<p>Dalam ayat berikut Allah swt. menggabrkan lebih jelas lagi bagaimana patung-patung materialisme telah mendarahdaging dalam hati kaum Yahudi. Allah swt. berfirman :</p>



<p>وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا&nbsp;ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ&nbsp;ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ [٢:٩٣]</p>



<p>Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): &#8220;Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Kami mendengar tetapi tidak mentaati&#8221;. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: &#8220;Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).</p>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td></td></tr></tbody></table></figure>



<p>Akibat Kerasnya Hati</p>



<p>Bila hati menjadi keras, otomatis seseorang keluar dari kemanusiaanya dan menjadi binatang yang berwajah manusia. Dalam kondisi ini semua potensi akal sehat menjadi mati (tidak berfungsi sama sekali). Maka di saat yang sama mata dan pendengaran menjadi kosong dari makna kemanusiaan. Benar ia bisa melihat dan mendengar, tetapi dari penglihatan dan pendengarannya itu tidak ada yang bisa diambil manfaatnya. Melainkan malah ia mebuat kerusakan di muka bumi. Dan karena didalmnya bepadu antara potensi kemanusiaan dan potensi kebinatangan maka kerusakan yang ia perbuat jauh lebih ganas dari apa yang diperbuat biantang.</p>



<p>Benar, melebihi binatang karena ternyata sepanjang sejarah belum pernah ada binatang yang mampu melakukan kerusakan yang selevel kerusakan tersebut. Ambil saja singa, kita tahu bahwa sejahat-jahat singa belum pernah ada yang memakan mangsanya sampai seribu mangsa dalam sehari. Tetapi manusia bila menjadi bejat ia bisa membunuh sesama manusia sampai ribuan nyawa dalam sehari seperti yang terjadi di Mesir, Siria, Iraq dan Palestina. Contoh lain lagi kucing misalnya. Seburuk-buruk seekor kucing ia hanya mampu mencuri sekerat daging. Tetapi manusia bila bejat maka ia bisa berbuat apa saja, sampai mencuri uang kebih tujuh triliunpun bisa. Inilah makna ayat di atas : “lebih keras dari batu” dan ini lebih diperjelas &nbsp;dalam surah Al A”raf 179 Allah swt. berfirman :</p>



<p>&nbsp;وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ&nbsp;ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا&nbsp;ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ&nbsp;ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [٧:١٧٩]</p>



<p>Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.</p>



<p>Agar Hati Menjadi Lembut</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tabiat hati, harus lembut, sebagaimana batu tabiatnya harus keras supaya bisa melakukan fungsinya. Bila hati keras, maka ia telah keluar dari tabiatnya. Dan bila hati kelaur dari tabuatnya, maka yang akan terjadi keruskakan. Lain halnya batu, ia memang harus keras untuk bisa menjalankan fungsinya. Oleh sebab itu maka supaya hati selelau lembut Allah swt. memberikan pesan pada penutup ayat, dengan berfirman : “Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. Ini maksudnya sebagai berikut : (a) Ingatlah selalu bahwa Allah swt. mengetahui semua perbuatan kalian. Maka lakukanlah apa saja yang sukai dan jauhilah apa yang Allah benci, sebab hanya dengan ini hatimu akan menjadi lembut. Ingat bahwa Dialah Allah yang telah menciptakan hati. Dan Dialah yang maha mengetahui tabiat hati. Maka hanya dengan cara ini hati bisa bekerja sesuai dengan tabiatnya yang hakiki. (b) Yakinlah bahwa suatu saat kita akan dihisab oleh Allah swt. dan tidak mungkin kita membohongiNya, karena Allah telah mengetahui sekecil apapun yang kita kerjakan. Maka lakukanlah apa yang anda paling suka untuk dibawa ke akhirat kelak dan dipertanggungjawabkan di depan Allah swt. Dan tinggalkanlah segera apa yang anda tidak suka untuk dibawa ke akhirat. Sebab hanya dengan cara ini hati anda menjadi lembut dan penuh berkah. Wallahu a’lam bishshawab.</p>



<p class="has-text-align-center">. </p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-74%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2074" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-74%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2074" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-74%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2074" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-74%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2074" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al Baqarah : 65 &#8211; 66</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-65-66/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:37:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3417</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 65 &#8211; 66 Pelanggaran Di Hari Sabtu Dr. Amir Faishol Fath وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65) فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (66) Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: &#8220;Jadilah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 65 &#8211; 66</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Pelanggaran Di Hari Sabtu</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr. Amir Faishol Fath</strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65) فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (66)</strong></p>



<p>Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: &#8220;Jadilah kamu kera yang hina&#8221;. Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.</p>



<p>Rahasia Urutan Ayat</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada ayat sebelumnya menjelaskan pribadi kaum Yahudi yang selalu melanggar ajaran Allah swt. Mereka bukan saja menolak tetapi juga membunuh para Nabi yang Allah swt. utus kepada mereka. Kalaupun tidak membunuh, mereka malah membuat ajaran tandingan, seperti yang diperbuat Samiry dengan menciptakan patung sapi Sapi lalu dijadikan sesembahan. Padahal waktu itu Nabi Musa dan nabi Harun alaihimassalam masih ada bersama mereka. Jadi kesimpulannya adalah bahwa kaum yahudi adalah kaum yang tidak punya peradaban, kecuali hanya melanggar dan melanggar ajaran wahyu yang telah Allah swt. turunkan. Lebih jauh mereka berana mengubah-ubah ajaran wahyu. Kalau saja kepada Allah swt. mereka berani apalagi kepada manusia. Berdasarkan fakta sejarah maka jelas jika dikatakan bahwa kaum Yahudi adalah udentik dengan keburukan.</p>



<p>Dan kalau boleh pinjam istilah yang Allah swt. sebutkan untuk anak Nabi Nuh alaihissalam yang sudah keterlaluan berbuat buruk sampai-sampai Allah swt. mengatakan “ innahuu amalun ghari shaalih”. Artinya sesungguhnya (anakmu wahai Nuh) adalah perbuatan yang buruk. Jadi anak Nabi Nuh alaihissalam telah dianggap oleh Allah swt. sebagai perbuatn buruk itu sendiri. Mengapa? Karena saking menyatunya dengan keburukan itu, sehingga tidak ada sama sekali yang nampak darinya kecuali keburukan. Itu pribadi, adapaun yang berupa kelompok adalah kaum Yahudi. mereka adalah keburukan. Semua yang mereka perbuatn adalah keburukan. Sepnajang sejarah perbuatan kaum Yahudi tadak ada baiknya kecaulia kerusakan di muka bumi. Karenanya Allah swt. mengingatkan kaum Yahudi yang hidup doi zaman nabi agar jangan mengulangi kembali kerusakan yang telah diperbuat para pendahulu mereka.</p>



<p>Di antara bentuk pelanggaran yang Allah swt. ingatkan adalah pelanggaran yang mereka perbuat di hari Sabtu. Bahwa di hari Sabtu seharusnya mereka tidak boleh mencari nafkah dengan cara apapun. Lalu tiba-tiba mereka mensiasati aturan tersebut dengan cara yang mereka karang sendiri. Boleh jadi di mata mereka cara licik itu biasa-biasa saja, bahkan mereka menganggapnya itu kalaupun dosa, merupakan dosa kecil. Tetapi bagi Allah swt. itu adalah pelanggaran yang besar. Karena itu mererka langsung diadzab oleh Allah swt. dengan adzab yang memalukan. Dan inilah yang diceritakan secara singkat dalam ayat ini. Singkat ceritanya, seperti sebuah isyarat yang disisipkan untuk menjadi bukti dan contoh bahewa kaum Yahudi adalah kaum yang memang berani melanggar ajaran Allah swt. Tetapi jika dijelaskan ceritanya cukup panjang. Namun isyarat ini sangat penting untuk dibahas karena didalamnya benayk mengandung pelajaran, agar orang-orang yang beriman tidak terjebak dalam lubang yang sama. Bahwa ajaran Allah swt. sesederhana apapaun dio mata manusia jangan dibaikan. Karena itu atruan yang paten dan serius. Sungguh siapapun yang dengan sengaja meremehkan ajaran Allah swt. ia pasti akan berhadapan denganNya, tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat.</p>



<p>Kisah Peristiwa Hari Sabtu</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Alllah swt. berfirman : “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu”. Mengapa hari Sabtu? Ada apa di hari Sabtu? Ceritanya adalah bahwa Allah swt. menciptakan langit dan bumi selama enam hari. Dan kalau kita perhatikan dalam istilah bahasa Arabnya, semua nama-nama hari ada hubungannya dengan angka. Seperti Ahad, hari pertama, diambil dari kata wahid artinya satu. Hari Senin, dari kata istnain, artinya dua. Hari Selasa, dari kata tslatsatun artinya tiga, Rabu, dari kata arba’atun, artinya empat, Kamis dari kata khamsatun artinya lima. Adapun hari Jumat adalah hari ke enam, tidak diambil dari angka. Tetapi diambil dari kata jama’a artinya berkumpul. Karena di hari itu berkumpul semua nikmat Allah swt.: nikmat selesainya segala penciptaan, Dan nabi Adam sebagai pemimpin di muka bumi juga selesai penciptaannya di hari Jumat. Karenanyahari Jumat adalah hari berkumpuylnya hamba-hamba Allajh swt. untuk mendengarkan Khutbah dan menegakkan shalat Jumat. Itulah mengapa hari Jumat disebut juga sebagai hari raya bagi umat Islam. Lalu pada hari ke tujuh, semua wujud sudah sudah stabil, tidak ada akfitas penciptaan lagi. Itulah mengapa hari itu disebut hari Sabtu. As Sabt artinya al inqitha’ ‘anil amal (berhentinya semua keperjaan). Dari sini kita paham mengapa syariat untuk kaum Yahudi adalah bahwa setiap hari Sabtu mereka tidak boleh bekerja mencari nafkah dengan cara apapun. Hari Sabtu khusus ibadah dan semua aktifitas mencari nafkah dihentikan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apa yang kemudian penting dibahas di sini adalah sebuah peristiwa besar yang pernah terjadi di hari Sabtu. Ceritanya begini: disebutkan bahwa sekelompok kaum yahudi ada yang tempat tinggalnya di tepi laut. Dan mata pencaharian mereka yang paling pokok adalah mencari ikan. Cobaannya adalah bahwa di hari-hari biasa ikannya agak sulit ditangkap, karena harus terjun ke tengah laut, berhadapan dengan gelombang yang ganas. Sementara setiap hari Sabtu ikan-ikan itu menepi ke pantai dan mudah ditangkap. Sayangnya hari Sabtu adalah harui istirahat. Tidak boleh melakukan kegiatan bisnis apapun dengan cara apapun. Karena kondisi ini mereka mencari ide bagaimana mensiasati aturan ini. Ide bagaimana supaya tetap menjalankan ibadah tetapi di saat yang sama mendapatkan ikan. Maka muncullah pikiran membuat tambak.Lalu mereka setuju dengan pendapat ini.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Salah seorang dari mereka ada yang tidak setuju. Ia mengatakan ini tetap tidak boleh. Dan siapapun yang menyetujui serta mendukung pendapat ini harus menaggung resikonya. Namun mereka tidak mau mendengarkan nasihat ini. Mereka tetap melaksanakan ide yang mereka inginkan. Akibatnya Allah swt. murka kepada mereka. Dan karenanya Allah swt. mengazdab mereka dengan mashakh (mengubah sifat dan bentyuk mereka menjadi makhluk lain). Allah swt. bercerita tentang kejadian ini dalam surah Al Araf : 163-164 : Allah swt. berfirmna : “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: &#8220;Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Benar, setekah itu Allah swt. mengadzab mereka. Adapun seorang yang tadinya memberikan nasihat dan teguran, diselamatkan oleh Allah swt. Allah swt. benar-benar mengubah jasad mereka menjadi kera. Dan biasanya seorang yang dimasakh ia hanya bisa bertahan tiga hari. Setelah itu mati. Allah swt. berfirman tentang kejadian ini dalam surah yang sama pada ayat berikutnya 165-166 : Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: &#8220;Jadilah kamu kera yang hina.</p>



<p>Ajaran Allah swt. Semuanya Serius</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penjelasan di atas menunjukkan bahwa setiap ajaran Allah swt. adalah serius. Dan harus dijalankqan dengan penuh kesungguhan. Saman saja, baik itu berurusan dengan dunia apalagi berurusan dengaqn akhirat. Peristiwa hari Sabtu telah memberikan pelajaran betapa urusan dunia dan urusan agama bagi Allah sama saja. Semuanya harus dijalankan dengan penuh kesungguhan. Jangan karena urusan dunia lalu tidak mau ikut aturan Allah. Tidak, tidak demikian seorang muslim. Islam diturunkan bukan hanya untuk mengatur urusan ritual, tetapi juga untuk mengatur urusan keduniaan.</p>



<p>Perhatikan Allah swt. murka kepada kaum Yahudi karena mereka tidak patuh dalam aturan yang berkaitan dengan urusan dunia. Banyak orang Islam tidak memahami hakikat ini. Sehingga mereka hanya mengambil Islam secara ritual saja. Dalam cara shalat, cara puasa, cara haji, mereka ikut Islam, Tetapi dalam urusan bisnis mereka banyak yang tidak hati-hati sehingga tidak takut menggunakan cara riba, seperti orang-orang kafir lakukan. Padahal mereka tahu itu haram dan dosa besar. Dalam urusan Negara juga demikian. Banyak para pemimpin muslim, tidak mau bersungguh-sungguh menjalankan aturan Allah swt. maka tidak mustahil jika Allah swt. murka. Bertahun-tahun umat Islam berdoa minta bantuan kepada Allah swt. tetapi malah yang turun bukan pertolongan, tetapi peringatan demi peringatan. Itu tidak lain karena umat Islam belum siap dibantu. Sebab Islam yang mereka jalankan baru sebatas ritual saja. Sementara Islam sebagai aturan dalam seluruh aspek kehidupan tidak mereka ikuti. Sungguh masih banyak wanita muslimah yang menutup aurat hanya ketika menegakkan shalat saja. Sementara dalam keseharian mereka dengan sengaja mempertontonkan auratnya.</p>



<p>Contoh lain lagi, bahwa Allah swt. tidak suka kepada sang hamba yang hanya serius menjalankan urusan ritualnya, sementara urusan dunianya tidak mau ikut Allah swt. lihatlah dalam surah Jum’at, 9-10, Allah swt. berfirman : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. Dalam kedua ayat ini jelas ada dua urusan sama-sama diperintahkan, satunya urusan ibadah ritual dan satunya urusan dunia. Tetapi keduanya sama-sama ajaran Allah swt. Pertama, Allah tidak suka anda sebagai hamba berdagang pada saat shalat Jumat ditegakkan. Karena itu para ulama fikih mengambil kesimpulan hokum bahwa itu haram melakukan perniagaan pada saat shalat Jumat ditegakkan. Kedua, Allah juga tidak suka setelah anda menegakkan shalat Jumat, masih berlama-lama di masjid meninggalkan perniagaan anda. Maka pada saat tiba waktu shalat segera tinggalkan perniagaan anda “<em>idza nudiya lishshalati fas’aw ilaa dzkrillah wa dzrul bai’</em>” dan setelah shalat ditegakkan segera kembalilah ke lapangan perniagaan anda “ <em>faidzaa qudhiyatish shalaati fan tasyiruu fil ardhi wabtaghuu min fadhlillaahi</em>”.</p>



<p>Pelajaran Di Balik Hukuman</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah swt. berfirman : “Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. Dalam ayat ini jelas bahwa Allah swt. memberikan hukuman setelah sebelumnya terbukti ada kesalahan. Dan sebuah perbuatan dikatakan salah setelah sebelumnya diturunkan syar’at. Itulah rahasia diutusnya nab0nabi dan rasul, yaitu untuk menyambapikan syarat Allah swt. Sebab dalam kaidah hukuman dikatakan : “Tidak ada hukuman tanpa adanya kesalahan. Dan tidak ada kesalahan tanpa adanya teks aturan”. Kaidah ini benar, dan Allah swt. berfirman :</p>



<p>وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا [١٧:١٥]</p>



<p>dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul</p>



<p>Jadi sebenarnya Allah swt. tidak mensyariatkan hukuman, melainkan mensyariatkan aturan. Adapun hukuman itu tujuannya untuk mendorong agar mereka ikut aturan sekaligus untuk mencegah agar mereka tidak melanggar. Maka sebuah hukuman tidak akan dijalankan selama tidak ada pelanggran. Inilah makna “nakaalan” dalam ayat di atas, yaitu bahwa hukuman diadakan sebagai pencegahan dari berbuat salah. Maka jika sebuah pelaggaran telah benar-benar terjadi, disitulah hukuman harus ditegakkan. Supaya yang melanggar tidak mengiulangi lagi, pun supaya yang belum melanggar berhati-hati jangan sampai melakukan pelanggaran.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam ayat ini, ada tiga target yang ingin dicapai dari diturunkannya sebuah hukuman : <strong><em>Pertama</em></strong>, “nakaalan limaa baina yadayhaa”. Maksudnya sebagai adzab bagi kaum Yahudi yang hidup di masa itu. Supaya mereka merasakan akibat dosa yang telah mereka perbuat. Bahwa Allah swt. tidak pernah main-main dalam syriatnya. Dalam surah Al Mulk : 18, Allah swt. menggambarkan betapa pedihnya adzab yang telah Allah turunkan kepada umat-umat terdahulu yang telah melanggar ajaranNya. Ini untuk menunjukkan bahwa Allah swt. tidak pernah main-main dalam hukumanNya. Allah swt. berfirman : &nbsp;</p>



<p>وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ [٦٧:١٨]</p>



<p>Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Kedua</em></strong>, “wa maa khalfahaa” maksudnya hukuman itu sebagai peringatan bagi klaum Yahudi yang hidup di zaman sesudahnya, yaitu pada zaman Rasulullah saw. Hingga sekarang, sampai hari Kiamat. Peringatan agar mereka tidak mengulangi lagi kesalahan pendahulunya yang telah diadzab oleh Allah swt. Berdasarkan ini nampak bahwa peristiwa di hari Sabtu itu telah diwariskan kisahnya secara turun-temurun, yakni orang tuanya menceritakan kepada anaknya, lalau anaknya menceritakan kepada anaknya dan setrusnya, sampai kepada Yahudi di zaman Rasulullah saw. dan bahkan sampai sekarang. Jadi peristiwa di hari Sabtu itu kaum Yahudi benar-benar tahu, seperti mereka mengetahui anaknya sendiri, dan secara terus menerus itu disampaikan dalam pertemuan mereka, supaya mereka belajar dari masa lalunya. Tetapi mereka ternyata tetap tidak mau mengambil pelajaran.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong><em>Ketiga</em></strong>, “wa maw”idhatan lil muttaqiin” maksudnya sebagai nasihat bagi hamba-hamba Allah yang beriman kepada Rasulullah saw. dan bertakwa kepadaNya. Nasihat supaya mereka tidak ikut-ikutan kaum Yahudi dalam menyikapi risalah Allah swt. bahwa setiap sayriat yang datang dari Allah swt. adalah benar dan harus diikuti secara sungguh-sungguh, apapun kaitannya, baik itu berkaitan dengan urusan dunia apalagiurusan agama. Semua ajaran Allah swt. adalah pedoman hidup. Islam yang diajarkan Allah swt. adalah untuk mengatur semua aspek kehidupan manusia. Dari urusan cara masuk kamar mandi sampai urusan Negara. Maka salah orang yang mengatakan bahwa Islam hanya untuk urusan ritual di dalam masjid. Rasulullah saw. telah mencontohkan bahwa beliau tidak hanya menjadi imam shalat di masjid, tetapi beliau juga memimpin pasukan dan bahkan memimpin Negara. Beliau mengirim surat kepada raja-raja Ramawi dan Persia bukan atas nama semata sebagai nabi dan peribadi, melainkan juga atas nama sebagai pemimpin. Karena itu Raja Ramawi dan Persia, memperhitungkan kehaduiran surat tersebut. Inilah pelajaran yang sangat mahal, bahwa umat ini tidak akan berdaya kecuali harus mengambil ajaran Allah secara utuh dan menjalankannya secara maksimal, baik itu ajaran yang berkaitan dengan keduniaan apalagi berkaitan dengan keagamaan. <em>Wallahu a’lam bishshawab</em>.</p>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td></td></tr></tbody></table></figure>



<p class="has-text-align-center">. </p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-65-66%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2065%20%E2%80%93%2066" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-65-66%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2065%20%E2%80%93%2066" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-65-66%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2065%20%E2%80%93%2066" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-65-66%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2065%20%E2%80%93%2066" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al Baqarah : 57 &#8211; 60</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/06/22/al-baqarah-57-60/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2022 01:35:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3415</guid>

					<description><![CDATA[Al Baqarah : 57 &#8211; 60 Nikmat-nikmat Lainnya Yang Allah Ingatkan Kpada Kaum Yahudi  (Bag. 3) Dr Amir Faishol Fath وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (57) وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">  Al Baqarah : 57 &#8211; 60</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Nikmat-nikmat Lainnya Yang Allah Ingatkan Kpada Kaum Yahudi  (Bag. 3)</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Dr Amir Faishol Fath</strong></p>



<p class="has-text-align-right"><strong>وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (57) وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (58) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (59)</strong><strong> </strong><strong>وَإِذِ اسْتَسْقى مُوسى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتا عَشْرَةَ عَيْناً قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُناسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (60)</strong><strong></strong></p>



<p>Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu &#8220;manna&#8221; dan &#8220;salwa&#8221;. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: &#8220;Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: &#8220;Bebaskanlah kami dari dosa&#8221;, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik&#8221;. Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik. Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: &#8220;Pukullah batu itu dengan tongkatmu&#8221;. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (QS. 2:57-60)</p>



<p>Rahasia Urutan Ayat</p>



<p>Ayat sebelumnya masih menyebutkan beberapa nikmat yang pernah Allah swt. berikan kepada Bani Israil (baca: kaum Yahudi). Tetapi mereka membalasnya dengan kemusyrikan. Mereka malah menyembah patung sapi. Ajaran Nabi Musa as. Mereka tolak. Dan baru saja Allah swt. menceritakan bagaimana mereka minta kepada Nabi Musa as. agar bisa melihat Allah swt. di depan mata mereka. Dan ini meraka jadikan syarat untuk beriman. Maka dengan permintaan yang salah besar ini langsung Allah swt. mengadzab mereka dengan petir. Dan seketika mereka mati. Lalu Allah swt. menghidupkan mereka kembali, agar mereka bersyukur. Tetapi mereka tetap tidak bersyukur, padahal mereka benar-benar menyaksikan bagaimana mereka hidup lagi sesudah mati.</p>



<p>Lalu pada ayat berikutnya Allah swt. menyebutkan nikmat-nikmat yang lain lagi, suapaya mereka tersadar. Namun ternyata mereka tetap juga tidak menyadari betapa agungnya nikmat-nikmat tersebut. Mereka tetap membalas dengan kekafiran. Bahkan mereka memusuhi orang-orang yang telah beriman kepada Allah swt. dan RasulNya. Benar kata Allah swt. bahwa hati mereka telah mati. Allah swt. berfirman : Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (2: 74) Mari kita simak apa saja nikmat-nikmat lebih lanjut yang telah diberikan kepada mereka.</p>



<p>Beberapa Nikmat Lainnya</p>



<p><strong><em>Pertama</em></strong>, Allah swt. memberikan kepada mereka naungan berupa awan. Di saat mereka sedang dalam kebingungan, di tengah hamparan padang pasir antara Negeri Syam dan Mesir, di sebuah tempat namanya “At Tieh”. Mereka benar-benar di bawah terik yang sangat panas. Pada saat itu Allah swt. megirimkan awan agar menaungi mereka dari sengatan matahari yang ganas. Allah swt. berfirman :&nbsp; “Dan Kami naungi kamu dengan awan”. Di sini Allah swt. seakan mengatakan : ingatlah ketika kalian di tengah padang pasir di bawah terik yang ganas, dan tidak ada satu helaipun daun tempat kalian berteduh, lalu Aku lindungi kalian dengan awan. Masihkah kalian tidak mau bersyukur?&nbsp;</p>



<p><strong><em>Kedua</em></strong>, Allah swt. memberikan kepada mereka makanan khusus dan sangat istimewa berupa “almann” dan “As Salwa”. Al Mann adalah semacam manisan yang rasanya seperti madu, turun dari langit, lalu mereka menadahnya, untuk mereka makan. Dengannya mereka mendapatkan energi. Asy Syikh Asy Sya’rawi menceritakan dalam tafsirnya bahwa sampai sekarang makanan “al mann” ini masih ada di salah satu wilayah di Iraq. Ia turun seperti turunnya embun dan menempel di daun-daun. Biasanya turun antara waktu fajar sampai terbit matahari. Pada saat itu orang-orang berdatangan membawa hamparan plastik untuk menadah. Lalu pohon-pohon itu digoncang, sehingga “almann” itu berjatuhan ke plastik yang mereka hampar. Adapun “as salwa” berupa burung-burung yang gemuk, tidak ketahuan dari mana datangnya, tiba-tiba berkumpul di situ, siap ditangkap dan disembelih. Dagingnya empuk dan lezat. Allah swt. berfiman : “dan Kami turunkan kepadamu &#8220;manna&#8221; dan &#8220;salwa&#8221;. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu”.</p>



<p>Dengan nikmat ini pun mereka juga tidak bersyukur. Malah mereka berpandangan negative terhadap nikmat makanan tersebut. Mereka mengatakan : ingin makanan hasil dari apa yang mereka tanam sendiri. Bukan yang dari langit, karena mereka takut jangan-jangan nanti itu tidak turun lagi. Karenanya Allah swt. menegaskan pada ayat berikutnya : &nbsp;“dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.</p>



<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, Allah swt. memberikan kesempatan kepada mereka untuk masuk Baitul Maqdis, setelah mereka dalam kebingungan di tengan padang pasir selama empat puluh tahun. Itupun mereka tinggal masuk, tanpa melalui peperangan. Kecuali hanya masuk dengan memohon ampun. Allah swt. berfirman : “Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: &#8220;Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: &#8220;Bebaskanlah kami dari dosa&#8221;, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik&#8221;.</p>



<p>Di sini jelas sekali bahwa Allah swt. telah memebrikan jalan keluar bagi merka dari kesulitan yang mereka hadapi, dengan dengan syarat yang sangat ringan, yaitu : msuklah dengan bersujud, dan meminta ampun kepadaNya. Namun ternyata mereka masuk ke negeri itu dengan telentang, meninggalkan sujud dan mereka mengubah ucapan yang Allah ajar yaitu : haththa ‘annaa dzunuubana” yang artinya gugurkanlah dosa-dosa kami, diganti oleh mereka dengan kata “hinthah” yang artinya gandum. Di sini nampak baha mereka bukan tidak mampu patuh, tetapi memang mereka ingin dengan sengaja tidak patuh kepada Allah swt. Karena inilah Allah swt. menyebutkan mereka telah bebruat dzalim terhadap diri mereka sendiri. Simaklah Allah swt. berfirman pada ayat berikutnya : “Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik”.</p>



<p><strong><em>Keempa</em></strong>t, Alah swt. memberikan kepada mereka air di saat semua mata air kering. Dan mereka tercekam kehausan di tengah padang pasir. Lalu mereka minta kepada Nabi Musa agar memohon kepada Allah supaya diturunkan air. Lalu Nabi Musa berdoa, dan Allah swt. mengabulkannya. Allah swt. memerintahkan Nabi Musa agar memukul batu dengan tongkatnya. Maka memancarlah air dari betu tersebut denga dua belas mata air sesuai dengan jumlah suku yang ada. Lalu masing-masing suku mengambil air pada sumber air yang telah ditentukan. Sebuah mukjizat yang luar biasa, bayangkan batu yang keras, di mana secara akal tidak mungkin memancarkan air, tiba-tiba dengan pukulan tangkat Nabi Musa memancar air sesjumlah suku yang ada, agar tidak berebut dan terhindar dari pertumpahan darah.&nbsp; Allah swt. berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: &#8220;Pukullah batu itu dengan tongkatmu&#8221;. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan”.</p>



<p>Perhatikan bagaimana penderitaan mereka dengan hilangnya persediaan air minum. Ini menunjukkan bahwa mereka telah berada di puncak kekeringan. Sebab biasanya mereka masih punya persediaan air untuk menyiram tanaman. Lalu secara bertahap itu menjadi semkain habis sehingga tidak cukup kecuali hanya untuk diminum sendiri dan memberikan minum binatang piaraan mereka. Lalu setelah itu bumi kian menegring sehingga mereka tidak mendapatkan setetes airpun untuk diminum sendiri. Perhatikan betapa mereka benar-benar dalam kondisi sangat parah, tercekam rasa haus. Pada saat seperti ini, Allah swt. mengabulkan doa sang Nabi, sehingga dengan mukjizat dari Allah, terpancar air dari batu yang secara akal tidak mungkin ada air di situ. Semua mereka melihat bahwa itu pertolongan Allah swt. Pun mereka menyaksikan bahwa itu bukti kenabian. Tetapi mereka tetap membalas nikamt-nikmat tersebut dengan kekafiran.</p>



<p>Kekafiran Yang Dikunci Mati</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sungguh dari penjelasan di atas nampak bahwa kaum Yahudi itu sudah terkunci hatainya. Mengapa : (a) Allah swt. telah memberikan kepada mereka nikmat-nikmat, yang semua itu adalah apa yang mereka minta. Tetapi setelah dipenuhi oleh Allah swt. mereka malah membalas dengan kekafiran. Lebih dari itu mereka melihat langsung nikmat-nikmat tersebut dengan mata kepala mereka, tetapi itupun tidak membuat mereka tersentuh lalu beriman. Malainkan malah mereka semkain berani melakukan kemusyrikan. Mereka malah menyembah patung sapi yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (b) Allah swt. tidak memberikan tugas kepada mereka kecuali apa yang mereka mampu. Perhatikan Allah swt. tidak menyuruh mereka agar berperang merebut Palestina, melainkan hanya memerintahkan mereka masuk ke negeri Palestina dengan memohon ampun, tanpa melalui pertempuran. Eh, malah mereka tidak mau memohon ampun, justru ucapan minta ampun yang Allah swt. ajarkan, diubah oleh mereka menjadi kata lain yang artinya gandum. Selain itu perintah Allah kepada mereka adalah agar masuk ke Baitul Maqdis dengan bersujud, dan mereka mampu melakukan sujud ini. Tatapi mereka malah masuk dengan telentang. Ini semua menunjukkan bahwa mereka memenag tidak mau patuh. Seandainya pelanggaran itu mereka perbuat dengan alasan bahwa mereka tidak mampu itu masih bisa diterima. Tetapi ternyata memang kekafiran itu telah terkunci dalam hati mereka.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (c) Allah swt. masih terus memenja mereka dengan nikmat-nikmat, padahal mereka terus membalas dengan kekafiran. Mengapa? Mereka mengira itu karena mereka adalah bangsa pilihan. Padahal tidak, itu adalah : (1) Bukti kesabaran Allah dan RasulNya menunggu sampai kapan mereka mau bertaubat, supaya kelak ketika Allah swt. mengadzab mereka dengan siksaan yang pedih mereka tidak punya alasan. (2) Bukti kasih sayang Allah, yang memberikan kesempatan kepada hamba-hambaNya bertaubat. Padahal Allah mampu untuk seketika mengzdab mereka dengan dosa-dosanya seperti dulu Allah pernah mengadzab kaum Aad dan Tsamud. Wallahu a’lam bishshwab.&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-57-60%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2057%20%E2%80%93%2060" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-57-60%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2057%20%E2%80%93%2060" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-57-60%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2057%20%E2%80%93%2060" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F06%2F22%2Fal-baqarah-57-60%2F&amp;linkname=Al%20Baqarah%20%3A%2057%20%E2%80%93%2060" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 0/153 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching using Redis (Request-wide modification query)

Served from: amirfath.com @ 2025-08-31 09:12:21 by W3 Total Cache
-->