<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opini &#8211; Dr. Amir Faishol Fath</title>
	<atom:link href="https://amirfath.com/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://amirfath.com</link>
	<description>Pakar Tafsir Al-Quran &#38; CEO Fath Institute</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Sep 2022 05:49:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.3</generator>
	<item>
		<title>Raih Berkah Bulan Alquran</title>
		<link>https://amirfath.com/2022/05/06/puasa-membangun-jiwa-responsif-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 May 2022 02:37:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3320</guid>

					<description><![CDATA[Raih Berkah Bulan Alquran amirfath.com, Opini (35), April 2022 Para ulama menggelari Ramadhan sebagai Syahr al-Qur&#8217;an. Predikat tersebut tidak hanya berarti bahwa Alquran diturunkan pada bulan nan suci ini. Dengan sebutan itu, mereka mengajak umat Islam untuk sebaik mungkin meningkatkan interaksi dengan Kitabullah. Pengasuh Pondok Pesantren Fath Sukawangi, Bogor, Jawa Barat, Ustaz Amir Faishol Fath,mengatakan, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Raih Berkah Bulan Alquran</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(35), April 2022 </strong></span></strong>Para ulama menggelari Ramadhan sebagai Syahr al-Qur&#8217;an. Predikat tersebut tidak hanya berarti bahwa Alquran diturunkan pada bulan nan suci ini. Dengan sebutan itu, mereka mengajak umat Islam untuk sebaik mungkin meningkatkan interaksi dengan Kitabullah.</p>



<p>Pengasuh Pondok Pesantren Fath Sukawangi, Bogor, Jawa Barat, Ustaz Amir Faishol Fath,mengatakan, kemuliaan Ramadhan tidak terlepas dari Alquran. Ia pun mengimbau kaum Muslimin untuk berlomba-lomba membaca, mengkhatamkan, menghafal, serta merenungi ayat-ayat suci.</p>



<p>Disebut Syahr al-Qur&#8217;ankarena Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 185, yang menegaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran, ujar ahli ilmu tafsir Alquran itu.</p>



<p>Menurut Ustaz Amir, kesempatan di sepanjang bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan setiap Muslim untuk bisa lebih bersahabat dengan Alquran. Dai kelahiran Pulau Madura itu mengingatkan, salah satu rukun iman adalah memercayai kitab-kitab Allah. Salah satunya adalah Alquran.</p>



<p>Lantas, bagaimana cara membuktikan keimanan terhadap Alquran? Lebih jauh lagi, bagaimana meraih keberkahan selama Ramadhan dengan Alquran? Kaitannya dengan malam Lailatul Qadar seperti apakah? Untuk menjawabnya, berikut wawancara yang dilakukan wartawan Republika, Muhyiddin, bersama dengan pemimpin lembaga Fath Institute of Islamic Research ini, beberapa waktu lalu.</p>



<p>Bagaimana pendapat Anda mengenai predikat Ramadhan sebagai Syahr al-Qur&#8217;an?<br>Ya, bulan suci Ramadhan disebut sebagai Syahr al-Qur&#8217;an. Sebab, Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 185, Syahru Ramadhaanalladziii unzila fiihil Qur&#8217;aan. Artinya, Bulan Ramadan adalah yang di dalamnya diturunkan Alquran.</p>



<p>Nah, menariknya, di dalam Alquran ketika menyebut tentang puasa Allah tidak memakai kata Ramadhan. Allah hanya menggunakan at-ta&#8217;rif, yang menunjukkan makna definitif bahwa yang dimaksudkan- Nya adalah puasa Ramadhan. Di situ, Allah cukup ber firman, Kutiba &#8216;alaikumush shiyam. Namun, ke tika Allah menyebutkan kata Alquran, langsung disebut-Nya Ramadhan, yaitu ayat ke-185 dari surah al-Baqarah.</p>



<p>Apa makna di balik perbedaan itu?<br>Ya, mengapa yang satu menggunakan kata Ramadhandan yang lainnya tidak? Sebab, kalau puasa (wajib) semua orang sudah mengetahui bahwa pasti maksudnya adalah puasa Ramadhan. Namun, banyak orang yang tidak tahu bahwa Ramadhan adalah bulan Alquran.</p>



<p>Maka, seharusnya pada saat berpuasa otomatis seorang Mukmin mendekatkan diri dan bersahabat dengan Alquran. Jadi, pada bulan Ramadhan jangan hanya berpuasa. Sebab, seperti ditegaskan dalam firman-Nya, justru saat Ramadhan kita bisa meraih keberkahan dan meningkatkan rasa syukur ketika memperbanyak baca Alquran.</p>



<p>Itulah mengapa, pada penutup surah al-Baqarah ayat 185 Allah menyebutkan, Wala `allakum tasykuruun. Artinya, `agar kamu (Mukminin) bersyukur.&#8217;Ber arti, seorang dianggap mensyukuri nikmat Ramadhan ketika ia bersama Alquran. Inilah salah satu makna Ramadhan sebagai Syahr al-Qur&#8217;an.</p>



<p>Kesimpulannya, Ramadhan disebut Syahr al- Qur&#8217;ankarena di dalamnya permulaan Alquran diturunkan. Kemudian, Ramadhan juga menjadi mulia karena Alquran. Seandainya Allah tidak menurunkan Alquran pada Ramadhan, maka bulan tersebut tidak akan semulia ini.</p>



<p>Apa saja bentuk kedekatan seorang Mus- lim dengan Alquran selama Ramadhan ini?<br>Ada beragam. Tentunya, salah satunya adalah ketika seorang Muslim mengkhatamkan Alquran. Saya kira, dengan begitu ia sebenarnya baru saja menjalankan salah satu kewajiban di antara sekian banyak (kewajiban) sebagai konsekuensi imannya kepada Alquran. Kita tahu, rukun iman itu ada enam perkara.<br>Di antaranya adalah beriman kepada kitab-kitab Allah. Nah, di antara kitab Allah itu adalah Alquran.</p>



<p>Bagaimana konkretnya pembuktian iman itu?<br>Cara membuktikan iman kepada Alquran itu ada lima hal. Pertama adalah tilawah atau membaca. Kedua, al-hafzuyakni menghafal. Ketiga, al-fahmu, memahami. Keempat, al-amalyaitu mengamalkan pesannya. Yang kelima adalah ad- dakwah, yaitu mengajak orang kepada Alquran.</p>



<p>Jadi, membaca itu adalah salah satu dari kewajib an untuk membuktikan imannya seseorang kepada Alquran. Paham atau tidak paham, ketika ia membaca Al quran, otomatis akan langsung dihitung sebagai iba dah. Seperti disampaikan Nabi SAW, pembaca Alquran akan mendapatkan pahala per huruf (yang dibaca).</p>



<p>Jadi, itulah rahasia ibadah membaca Alquran.Dengan membacanya saja, itu sudah menjadi sesuatu yang sangat sakral, utamanya sebagai ibadah pada bulan Ramadhan ini. Makanya, para ulama, baik yang sibuk mengajar, memberi tahu kepada murid-mu ridnya untuk berhenti mengajar ketika sudah datang Bulan Alquran atau bulan Ramadhan.</p>



<p>Mereka meminta izin supaya bisa fokus kepada Alquran. Makanya, tidak heran kalau ada riwayat yang menyebutkan, Imam Syafii mengkhatamkan Alquran sebanyak 60 kali setiap Ramadhan. Jadi, seperti itulah para ulama dahulu. Mereka benar- benar bersahabat dengan Alquran. Mereka fokus kepada ibadah tilawah atau membacanya. Adapun ibadah memahami atau mendalaminya itu biasanya banyak dilakukan di luar Ramadhan.</p>



<p>Apa saja hikmah tadabur Alquran?<br>Bagi orang yang sudah belajar bahasa Arab, mengerti ilmu tafsir dan fikih, maka setiap ia membaca Alquran otomatis juga akan melakukan tadabur.Maka, semakin ia banyak membaca Alquran, kian banyak pula mendapatkan ilmu baru. Alquran ajaibnya di situ.</p>



<p>Saya mengatakan ini bukan karena saya sudah selevel ulama. Namun, saya sering belajar ilmu tafsir Alquran. Saya itu setiap membaca satu halaman juga selalu menemukan hal baru dari Alquran.Mene mukan makna baru yang belum pernah disadari saya sebelumnya.</p>



<p>Jadi, ketika membaca ayat-ayat tentang Ra madhan, misalnya, saya sebenarnya sudah membaca berkali-kali semua tafsirnya. Namun, saya selalu menemukan makna baru yang belum pernah saya temukan di tafsir.</p>



<p>Misalnya, ketika saya membaca surah al- Baqarah ayat 183 sampai 187 tentang Ramadhan.Saya menemukan, ternyata ini satu paket. Jadi, ayat ke-183 itu dibuka dengan Kutiba `alaikumush shiyaam dan ditutup dengan La `allakum tattaquun. Penutup ayatnya adalah tentang iktikaf, yang ditutup dengan La `allakum yattaquun.</p>



<p>Jadi, kegiatan puncak Ramadhan itu sebetulnya adalah iktikaf. Itu sudah satu paket dari Allah. Nah, inilah yang tidak pernah dibahas dalam umumnya buku-buku tafsir. Selama ini, yang dibahas hanyalah tentang Kutiba `alaikumush shiyaam.</p>



<p>Menurut Anda, apa tafsiran tentang ik- tikaf pada penutup ayat tentang Ramadhan itu?<br>Setelah saya merenungkan betapa indahnya Ramadhan, lalu mengapa iktikaf dibahas pada bagian penutup (ayat)? Sebab, berarti memang pada praktiknya Nabi Muhammad SAW pada 10 malam terakhir Ramadhan itu beriktikaf. Nabi SAW seumur hidupnya selalu beriktikaf pada bulan Ramadhan. Pada tahun Nabi SAW wafat, beliau juga beriktikaf 20 hari lamanya.</p>



<p>Ini yang belum pernah saya temukan di buku- buku tafsir mana pun. Ini benar-benar dari hasil tadabur tadi, dan subhanallah ternyata iktikaf merupakan acara puncak Ramadhan. Makanya, Allah langsung tutup (ayat itu) dengan La `allakum yattaquun,yaitu agar kamu (Mukminin) mencapai puncak takwa.</p>



<p>Inilah yang namanya tadabur. Kita tidak sekadar membaca Alquran, tetapi juga mengulang-ulang pencarian makna dalam Alquran.</p>



<p>Pada bulan Ramadhan, umat Islam juga selalu memperingati Nuzulul Qur&#8217;an. Apa saja nasihat Anda mengenai hal ini?<br>Tanggal turunnya Alquran memang menurut keterangan yang masyhur itu terjadi pada 17 Ramadhan. Sekalipun demikian, banyak kemudian pendapat-pendapat lain. Lalu, tanggal itu dihubungkan dengan turunnya Alquran pada Malam Lailatul Qadar.</p>



<p>Dari hasil penelitian saya dari melakukan tarjih, Alquran memang turun dua kali. Pertama, turun sekaligus dari Lauhul Mahfuzke langit dunia. Itu terjadi pada malam Lailatul Qadar. Inilah makna ayat surah al-Qadr, Innaa anzalnaahu fii Lailatil Qadr.</p>



<p>Adapun turunnya Alquran secara berangsur- angsur kepada Rasulullah SAW, yang dimulai dengan surah al-Alaq ayat satu hingga lima itu, terjadi pada 17 Ramadhan. Setelah itu, kemudian turun surah al-Qalam. Giliran yang ketiga, turun surah al-Muzammil. Adapun yang keempat adalah surah al-Muddassir.</p>



<p>Maka saya ingin mengajak teman-teman untuk mencoba merenungi proses turunnya Alquran ini.Perhatikan, ketika pertama kali diturunkan ada perintah untuk mencari ilmu, yaitu Iqra&#8217;. Kemudian, turun surah al-Qalam (menulis) yang menunjukkan bahwa ilmu itu harus ditulis.</p>



<p>Setelah itu, Allah kemudian menurunkan surah al-Muzammil, yang mengandung perintah untuk qiyamul lailatau shalat malam. Setelah itu, barulah kemudian Allah turunkan surah al-Muddassir, yaitu perintah untuk berdakwah.</p>



<p>Adakah konsekuensi untuk seorang Muslim yang tidak membaca Alquran pada bulan Ramadhan?<br>Ketika Allah berfirman, Syahru Ramadhaanalladziii unzila fiihil Qur&#8217;aan, maka Dia mengisyaratkan bahwa kemuliaan Ramadhan disebabkan oleh Alquran. Maka, ketika seseorang tidak membaca Alquran pada bulan Ramadhan, ia seperti tidak kebagian apa-apa selama bulan suci kecuali rasa lapar dan haus.</p>



<p>Karena itu, jika ingin puasanya lebih bermakna, harus bersama Alquran. Ketika seseorang bersama Alquran selama Ramadhan, ia telah bersungguh- sungguh memuliakan Ramadhan dengan Alquran.Itu sekaligus pula memuliakan dirinya sendiri sebagai ahlul Qur&#8217;an. Ia akan kebagian indahnya Ramadhan bersama Alquran.</p>



<p>Makanya ketika Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat ke-185, di situ Allah menutup ayatnya dengan Wala `allakum tasykuruun, yaitu agar engkau (Mukminin) bersyukur. Jadi, seakan- akan Allah mengatakan bahwa kalau engkau ingin mensyukuri nikmat Ramadhan, bersahabatlah dengan Alquran.</p>



<p>Bahkan, berdasarkan hasil tadabur saya, malam Lailatul Qadar berkaitan dengan Alquran, yaitu Innaa anzalnaahu fii Lailatil Qadr. Berarti, kalau kita ingin mendapatkan Lailatul Qadar, jangan lepas dari Alquran.</p>



<p>Maka, hendaklah kita menjadi ahlul Qur&#8217;an.Dalam hadis, dikatakan bahwa orang-orang atau keluarga yang bersama Alquran adalah istimewa dalam pandangan Allah. Mereka adalah orang- orang yang berhak mendapatkan bonus Ramadhan, yaitu Lailatul Qadar. Itulah hasil tadabur yang saya dapatkan. Semoga Allah memberkahi. (ed:hasanul rizqa)</p>



<p>&#8220;Tidak membaca Alquran pada bulan Ramadhan, ia seperti tidak kebagian apa-apa.</p>



<p>‘Ulama Ajarkan Khataman Tiga Kali’</p>



<p>OLEH: MUHYIDDIN</p>



<p>Nabi Muhammad SAW bersabda, Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya. Hadis itu rupanya menjadi prinsip hidup Ustaz Amir Faishol Fath. Keseharian dai tersebut tidak terlepas dari tadabur Alquran.</p>



<p>Menurut mubaligh kelahiran Pulau Madura itu, salah satu kenikmatan hidup adalah memiliki waktu untuk banyak-banyak membaca Alquran.Lebih lezat lagi apabila tadarus itu dilakukan dalam perjalanan dakwah.</p>



<p>Sebelumnya, saya ke Bali, kemudian ke Yogyakarta, dan sekarang ke Depok. Alhamdulillah, saya setiap hari, baik di mobil atau pesawat dan lain-lain, selalu membaca Alquran semampunya supaya saya enggakputus (dengan Alquran &#8211;Red), ujar Ustaz Amir kepada Republika, baru-baru ini.</p>



<p>Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada Ramadhan kini pakar ilmu tafsir itu memiliki agenda dakwah yang cukup padat. Namun, ia selalu menyem patkan waktu untuk mengaji.Ustaz Amir menargetkan dirinya dapat khatam Alquran sebanyak tiga kali.Dan itu yang diajarkan oleh para ulama, ucap CEO Fath Institute tersebut.</p>



<p>Ia menuturkan, pada zaman salaf terdapat ulama yang menamatkan bacaan Alquran sebanyak tiga kali.<br>Lantas, seorang murid bertanya, mengapa khatam sebanyak itu. Sang alim pun menjawab, khatam Alquran yang pertama diperuntukkan bagi almarhum ayahnya. Khataman kedua untuk almarhum ibunya. Adapun yang terakhir untuk dirinya sendiri.</p>



<p>Alhamdulillah di Ramadhan ini sesibuk apa pun saya juga berusaha mencapai seperti itu, ucapnya.</p>



<p>Ustaz yang akrab disapa Abi Amir ini lahir di Sumenep, pada tahun 1967.Pernah mondok di Pesantren al- Amien Prenduan, Madura. Pendidikan tinggi ditempuhnya di International Islamic University (IIU) Islamabad, Pakistan. Dari sana pula dirinya berhasil meraih gelar doktor bidang tafsir Alquran. Hingga tahun 2004, dirinya mengajar di kampus almamaternya itu.</p>



<p>Sejak 2005, Ustaz Abi Amir kemba li ke Indonesia. Sempat menjadi do sen Sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah, ia kemudian mengajar di STID Dirosat Islamiyah al-Hikmah Jakarta.</p>



<p>Selain sibuk berdakwah, pada Ramadhan tahun ini Ustaz Amir juga disibukkan dengan mengisi perkuliahan serta menulis karya di berbagai jurnal ataupun media massa.Pengasuh Pondok Pesantren Fath Sukawangi Bogor itu juga rutin membimbing para santrinya, khususnya dalam pengajian kitab Bidayatul Hidayahkarya Imam Ghazali.</p>



<p>Karena kitab itu berisi pendidikan akhlak untuk membangun pribadi yang saleh dalam beribadah kepada Allah, jelasnya. (ed:hasanul rizqa)</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" src="https://drive.google.com/uc?id=1ssdZ0Bsvdd2PC7VI4tFgZ7H0JVv-Cp4J" alt=""/><figcaption>sumber : Republika, Ahad, 24 April 2022 Hal. 5</figcaption></figure>



<p> </p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F05%2F06%2Fpuasa-membangun-jiwa-responsif-2%2F&amp;linkname=Raih%20Berkah%20Bulan%20Alquran" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F05%2F06%2Fpuasa-membangun-jiwa-responsif-2%2F&amp;linkname=Raih%20Berkah%20Bulan%20Alquran" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F05%2F06%2Fpuasa-membangun-jiwa-responsif-2%2F&amp;linkname=Raih%20Berkah%20Bulan%20Alquran" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2022%2F05%2F06%2Fpuasa-membangun-jiwa-responsif-2%2F&amp;linkname=Raih%20Berkah%20Bulan%20Alquran" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Miras</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/20/miras/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 04:11:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2908</guid>

					<description><![CDATA[Miras amirfath.com, Opini (33), Des 2021 &#8211; Miras singkatan dari minuman keras. Dikatakan keras karena dengannya seorang bisa hilang akal (mabok). Namanya banyak, bisa dikatakan minuman berlkohol atau khamer. Dalam Al-Quran minuman keras ini disebut khomer, dimbil dari kata khamara. Para ulama mengatakan ketika menjelaskan diharamkannya khamer “liannahuu khamaral aql” ( karena itu menghilangkan akal). [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Miras</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(33), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong> Miras singkatan dari minuman keras. Dikatakan keras karena dengannya seorang bisa hilang akal (mabok). Namanya banyak, bisa dikatakan minuman berlkohol atau khamer. Dalam Al-Quran minuman keras ini disebut <em>khomer</em>, dimbil dari kata <em>khamara</em>. Para ulama mengatakan ketika menjelaskan diharamkannya khamer “<em>liannahuu khamaral aql</em>” ( karena itu menghilangkan akal). Ada tiga ayat dalam Al Quran tentang miras masing-masing menegaskan kaidah penting : Pertama, surah al-Baqarah: 219, Allah berfirman :&nbsp; Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: &#8220;Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya&#8221;. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: &#8220;Yang lebih dari keperluan&#8221;. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. Dari ayat ini ada kaidah “dosa melegalkan miras lebih besar dari pada manfaatnya”. Dalam kata dosa ada makna <em>madaharat</em> (bahaya). Artinya sekalipun dari segi pemasukan menguntungkan tetapi kerusakan yang akan diakibatkan lebih besar dari keuntungan yang didapat. Boleh jadi karena miras jumlah pembunuhan semakin banyak, ini kerugian jiwa yang tidak bisa ditebus hanya dengan keuntungan materi. Atau rusaknya genearsi ke depan dengan merajalelanya miras, di mana mereka akan banyak melakukan tindakan yang membahayakan seperti perzinaan yang akan menyebabkan kehamilan di laur nikah, kekerasan yang dengannya banyak korban. Ini akan menambah beban biaya rumah sakit yang juga harus ditanggung oleh negara. Lebih dari itu dengan miras kecerdasan genarasi bangsa akan melemah, sehingga kelak akan lahir generasi yang bodoh. Akibatnya negara mudah diserahkan kepada penjajah. Ini kerugian yang lebih parah di mana tujuan dilegalkan miras untuk mengentaskan ekonomi malah negara secara keseluruhan menjadi ludes diserahkan kepada penjajah. Contoh dulu di masa jahiliah, <em>Darun Nadwah</em> sebagai pusat pemerintahan Quraisy yang paling bergengsi (kalau sekarang disebut parlemen) itu dijual dalam keadaan mabok hanya dengan sebotol khamer. Baru tahu bahwa pusat kekuasaan itu sudah pindah setelah sadar. Ya tidak mustahil di tengah generasi pemabok negara akan dijual dengan hanya segelas miras.</p>



<p>Kedua, surah al-Maidah : 90, Allah berfirman : &nbsp;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Dari ayat ini jelas ada kaidah “ khamer (miras) adalah najis dan termasuk perbuatan setan”. Jika miras merupakan perbuatan setan, tentu akal sehat menolaknya dalam bentuk apapun. Sebab setiap perbuatan setan pasti akan mencelakakan. Bukankah kita manusia yang dibekali akal oleh Allah SWT. Di antara tujuan syariat “<em>maqashidu al-syariah</em>” adalah untuk menjaga akal. Dengan miras gerakan hilang akal akan menyebar. Bila manusia bangsa ini hilang akal maka yang akan bekerja bukan manusia tetapi binatang yang berupa manusia. Inilah yang kata Allah “<em>ulaaika kal an’am balhum adhal </em>“ (mereka menjadi seperti binatang bahkan lebih sesat lagi). Benar, dengan hilangnya akal manusia tidak saja berperilaku seperti binatang melainkan akan malakukan tindakan yang melebihi binatang. Misalnya, belum pernah dalam dunia binatang ada pernikahan sesama jenis, tetapi kenyataannya dalam hidup manusia banyak yang menikah sesama jenis. Artinya dengan miras kerugian negara tidak saja berupa meterial melainkan juga kerugian kemanusiaan.</p>



<p>Ketiga, surah al Maidah : 91, Allah berfirman : &nbsp;Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dari ayat ini ada kaidah bahwa “tujuan setan memilih jalan miras adalah untuk membangun permusuhan antara manusia”. Artinya tidak ada setan yang bermaksud baik melainkan kerusakan. Kata “<em>yuridu</em>” berbetuk mudhare’ yang mengandung makna terus menerus berkehendak. Maka selama manusia di negeri tersebut pemabok selama itu pula setan mempermainkannya. Dalam ilmu tafsir kata <em>yuridu</em> disebut <em>takhshishul mumkin </em>(kehendak khusus untuk yang mungkin bisa dilakukan). Ini menunjukkan bahwa sebenarnya setan tidak mampu memaksa manusia melakukan dosa minum miras. Sebab kemampuan setan hanya berbisik “<em>alladzi yuwaswisu fii shudurinnas</em>”. Itu akan terjadi ketika manusia menyambut bisikan itu dengan menfasilitisi dan melegalkannya dalam bentuk undang-undang serta membebaskan siapa saja untuk mengkonsumsi miras di mana-mana. Dari sini secara bertahap manusia akan hilang akalnya. Ketika manusia hilang akal, maka segala kemungkinan kejahatan bisa terjadi termasuk melakukan permusuhan satu sama lain, sampai ke tingkat saling membunuh. Bila permusuhan seperti ini terjadi di sebuah negeri berapa kerugian yang harus ditanggung negara. Bukan untung yang didapat maliankan malah buntung. (wallahu alam bishshawab). &nbsp;&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmiras%2F&amp;linkname=Miras" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmiras%2F&amp;linkname=Miras" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmiras%2F&amp;linkname=Miras" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmiras%2F&amp;linkname=Miras" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelamatkan Demokrasi Indonesia</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/20/menyelamatkan-demokrasi-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 04:01:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2905</guid>

					<description><![CDATA[Menyelamatkan Demokrasi Indonesia amirfath.com, Opini (32), Des 2021 &#8211; Kata demokrasi selalu kita dengar setiap saat. Intinya bahwa negeri ini harus dikelola sesuai dengan keinginan rakyat. Bahwa rakyat ingin aman, damai dan sejahtera, itu pasti. Tugas pemimpin bukan sibuk dengan hawa nafsunya sendiri melainkan harus memikirkan bagiamana supaya rakyat cerdas dan sejahtera. Semakin rakyat cerdas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Menyelamatkan Demokrasi Indonesia</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(32), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong> Kata demokrasi selalu kita dengar setiap saat. Intinya bahwa negeri ini harus dikelola sesuai dengan keinginan rakyat. Bahwa rakyat ingin aman, damai dan sejahtera, itu pasti. Tugas pemimpin bukan sibuk dengan hawa nafsunya sendiri melainkan harus memikirkan bagiamana supaya rakyat cerdas dan sejahtera. Semakin rakyat cerdas dan sejahtera semakin sebuah negara menjadi <em>gemah ripah loh jinawi tata tentram kerta raharja</em>. Tidak ada negara di manapun yang dibangun untuk membuat rakyatnya sengsara. Ketika kata demokrasi dicetuskan pertama kali di Athena Yunai pada abada ke 5 SM, itu tidak lain untuk kepentingan rakyat. Bahwa rakyatlah pemilik negara bukan penguasa. Bahwa dipilihnya wakil rakyat sebagai petugas negara bukan untuk berkuasa melainkan untuk melayani rakyat. Karena itu muncul dalam pepatah Arab “<em>raisul qaum khadimuhum</em>” (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Kata <em>khadim</em> sebenarnya sangat tepat disadari oleh setiap pemimpin. Sebab dengan kesadaran fungsional sebagai “<em>khadim</em>” akan tertanam dalam dirinya sikap berkhidmah bukan sikap sombong merasa berkuasa.</p>



<p>Kesadaran <em>khidmah</em> nampak sekali pada kepemimpinan Islam pertama yang dicontohkan Rasulullah SAW. dan dilanjutkan oleh para <em>khulafaur rasyidin</em>.&nbsp; Nabi SAW. hadir di kota Madinah bukan saja sebagai nabi melainkan juga sebagai pemimpin. Keberagaman masyarakat Madinah yang terdiri dari berbagai suku dan agama sangat nabi sadari sejak dini. Karena itu dibuatlah piagam Madinah sebagai konsitusi hidup bermasyarakat. Sebagai pemimpin, nabi tidak menampilkan diri layaknya seorang raja atau penguasa, melainkan hadir di tengah mereka sebagai solusi semua permasalahan rakyatanya. Pernah suatu hari Nabi keliling di pasar di kota Madinah. Nabi menemukan banyak penipuan di antaranya barang yang rusak disembunyikan dalam tumpukan barang yang baik. Selain itu ketidak jujuran dalam timbangan. Di sini Allah turunkan surah al-Muthaffifin yang di dalamnya ada ancaman neraka bagi para penipu. Ini contoh bagaimana hadirnya seorang pemimpin untuk memberikan solusi bukan menambah beban bagi rakyat. Setelah Nabi wafat baru diketahui bahwa semasa hidunya setiap pagi Nabi selalu membantu seorang Yahudi yang buta dengan memberikan makan secara langsung. Ini contoh bahwa seorang pemimpin pelayan rakyat.</p>



<p>Abu Bakar al-Shidiq sebagai khalifah pertama telah mengikuti jejak Nabi. Begitu dibaiat jadi khalifah Abu Bakar langsung melanjutkan apa yang pernah Nabi kerjakan dalam melayani rakyat. &nbsp;Termasuk memberi makan kepada seorang yahudi buta tersebut. Dalam khutbah penobatannya Abu Bakar menyampaikan agar diluruskan jika ada perbuatan yang menyimpang dari al-Quran dan al-Sunnah. Demikian juga Umar bin Khaththab yang melanjutkan tugas kepemimpinan setelah Abu bakar. Umar selalu memastikan bahwa tidak ada satupun dari rakyatanya yang kelaparan. Umar sampai turun tangan sendiri menggendong gandum dari Baitul Mal &nbsp;untuk seorang ibu yang kelaparan bersama anaknya di sebuah gubuk di tengah padang pasir. Umar pernah berkata pada perutnya yang berbunyi karena kelaparan, silahkan wahai perut engkau berbunyi, aku tidak akan memberimu makan sampai semua rakyatku makan. Umar mengontrol langsung melalui petugas Baitul Mal bahwa tidak ada seorangpun dari rakyatnya yang membutuhkan zakat. Inilah tugas pengabdian seorang pemimpin yang lahir dari kesadaran “pemimpin adalah pelayan rakyat”. Bila rasulullah SAW, dipilih oleh Allah sebagai Rasul, maka Abu Bakar dan Umar dipilih secara musyawarah yang dalam istilah politik sekarang disebut pemilihan secara demokratis.</p>



<p>Benarkah musyawarah sama dengan demokrasi ? Bila Kembali kepada filosofi awal lahirnya demokrasi sebenarnya masyarakat Yunani dulu memaksudkan agar rakyat bermusyawarah dalam menentukan pemimpin mereka. Terlepas dari perdebatan mengenai sejarah dan ideologi yang melatar belakangi istilah demokrasi, namun sekarang kita memahami bahwa demokrasi sebenarnya adalah musyawarah rakyat dalam memilih siapakah yang akan memimpin mereka. Kata musywarah dalam al-Quran memang diperintahkan. Allah SWT. berfirman : <em>wa amruhum syuraa bainahum </em>(hendaklah mereka bermusyawarah dalam menyelesaikan urusan mereka). Sebab dengan musyawarah akan lebih berkah. Dalam hadits Nabi SAW. bersabda : <em>ma khaaba ma istsyara</em> (tidak akan menyesal atau rugi orang yang bermusywarah). Nabi sendiri telah menjadi contoh seorang pemimpin yang paling banyak bermusyawarah. Sampai-sampai nabi dalam urusan negara kadang minta pendapat istrinya seperti yang pernah terjadi dalam perjanjian Hudaibiyah. Dari sini kita tahu mengapa para ulama dan intelektual Islam pada saat mendirikan negara Indonesia menjadikan asas musyawarah sebagai sila keempat, yaitu “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Sila inilah yang kemudian menjadi dasar demokrasi di Indonesia.&nbsp;</p>



<p>Jadi, hakikat demokrasi di Indonesia sebenarnya berangkat dari sila keempat dari dasar negara Pancasila. Maka tidak cukup dalam memaknai demokrasi yang kita gelar hanya sebatas formalitas yang identik dengan mayoritas. Demokrasi Indonesia harus dijiwai asas musyawarah, yang dipimpin oleh hikmah melalui wakil-wakil rakyat. Dalam hal ini para wakil rakyat tidak boleh hanya sibuk mewakili kepentingan peribadi atau kepentingan partainya melainkan harus benar-benar berjiwa jujur mewakili kepentingan negara. Kata hikmah dalam sila keempat tersebut maksudnya kebenaran yang murni. Dalam Al-Quran Allah SWT, menyebutkan banyak sekali kata hikmah di antaranya dalam surah al-Baqarah, 129 : bahwa tugas seorang Nabi di antaranya mengajarakan hikmah. Para ulama tafsir menyebutkan maksud kata hikmah adalah hadits Nabi. Berkali-kali kata hikmah dalam al-Quran disandingkan dengan kata “al kitab” maksudnya al-Quran. &nbsp;Berdasarkan pengertian ini jelas bahwa hikmah yang dimaksud adalah kebenaran yang tidak dicampuri sedikitpun kepentingan sesaat. Maka apapun namanya “musyawarah” atau “demokrasi” harus tetap mengutamakan kebenaran yang membawa kemsalahatan bangsa dan negara.</p>



<p>Pertanyaannya adalah mengapa demokrasi Indonesia jika memang berdasarkan sila keempat dari Pancasila, mengapa sering melahirkan kekisruhan politik. Contoh yang paling hangat akhir-akhir ini kekisruhan di Partai Demokrat, periode sebelumnya Golkar dan sebagainya? Jawabanya adalah karena demokrasi yang sedang berlangsung bukan demokrasi yang sebenarnya, seperti yang diinginkan dalam Pancasila. Melainkan demokrasi kepentingan sehingga suara rakyat dibeli dengan uang. Partai-partai politik bekerja bukan berdasarkan kepentingan rakyat melainkan kepentingan oligarki. Dari sinilah kita melihat perebutan suara akan terus berlangsung dengan segala cara yang penting tujuan tercapai seperti yang dikatakan Macheaveli. Demokrasi dan musyawarah kini tidak lagi dipimpin oleh hikmah melainkan dipimpin oleh kepentingan dan hawa nafsu. Bila seperti ini wajah demokrasi kita maka tidak akan pernah mungkin melahirkan kebenaran sejati. Secara otomatis tidak akan pernah melahirkan pemimpin yang jujur dan benar-benar memikirkan keselamatan bangsa dan negara. Kekisruhan politik seperti ini dan yang selalu kita saksikan setiap pemilu atau pilkada adalah bukti bahwa kondisi demokrasi kita dalam keadaan sekarat. Saatnya para intektual dan ulama hadir untuk menyelamatkan demokrisai kita.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyelamatkan-demokrasi-indonesia%2F&amp;linkname=Menyelamatkan%20Demokrasi%20Indonesia" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyelamatkan-demokrasi-indonesia%2F&amp;linkname=Menyelamatkan%20Demokrasi%20Indonesia" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyelamatkan-demokrasi-indonesia%2F&amp;linkname=Menyelamatkan%20Demokrasi%20Indonesia" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmenyelamatkan-demokrasi-indonesia%2F&amp;linkname=Menyelamatkan%20Demokrasi%20Indonesia" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahalnya Sebuah Keadilan</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/20/mahalnya-sebuah-keadilan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 03:31:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2893</guid>

					<description><![CDATA[Mahalnya Sebuah Keadilan amirfath.com, Opini (32), Des 2021 &#8211; Banyak masalah di dunia yang sulit dibuktikan kasusnya. Padahal kasusnya jelas. Ada peristiwanya dan ada korbannya. Lalu karena pelakunya adalah pemegang kekuasaan atau mempunyai becking yang kuat, maka semua fakta dihilangkan. Setelah itu terjadi rekayasa pemutarbalikan fakta. Namun karena korban adalah pihak yang dianggap berlawanan maka [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Mahalnya Sebuah Keadilan</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(32), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong> Banyak masalah di dunia yang sulit dibuktikan kasusnya. Padahal kasusnya jelas. Ada peristiwanya dan ada korbannya. Lalu karena pelakunya adalah pemegang kekuasaan atau mempunyai becking yang kuat, maka semua fakta dihilangkan. Setelah itu terjadi rekayasa pemutarbalikan fakta. Namun karena korban adalah pihak yang dianggap berlawanan maka tidak ada kejujuran untuk menyelesaikan masalah. Lalu memberikan penjelasan bahwa kejahatan tidak terjadi. Setelah itu ia berkata bahwa jika memang ada kejahatan silahkan tunjukkan faktanya. Padahal semua fakta sudah ditutupi bahkan dihilangkan. Ibarat kawanan kambing melapor kepada singa bahwa saudaranya dimakan oleh sekelompok singa. Tentu yang terjadi buka solusi melainkan korban berikutnya. Kambing itu seketika dimakan juga. Hanya bedanya di alam manusia adalah mencari pembenaran dengan segala cara. Misalnya ia pura-pura tampil gagah dengan mengatakan kami akan tegakkan hukum jika ada buktinya, lalu pura-pura menantang dengan mengatakan silahkan cari faktanya, Jika ada kami akan tegakkan hukum seadil-adilnya. Padahal semua fakta telah dimusnahkan.</p>



<p>Inilah hukum dunia. Persoalannya bukan masalah fakta, melainkan masalah hati. Pada hakikatnya ia memang tidak mau memihak kepada kebenaran. Akibatnya ia tidak berniat untuk menyelesaikan masalah dengan seadil-adilnya. Coba katakanlah yang terkena kasus adalah anaknya sendiri, maka ia akan berusaha melakukan pembalaan dengan segala cara. Sebaliknya ketika memang niatnya untuk menjerumuskan lawan politiknya ke dalam kubangan kasus maka ia akan melakukan apa saja untuk supaya lawannya terjerat hukum. Jika tidak ada faktanya, maka dibuatlah fakta-fakta palsu. Begitulah perilaku pihak yang kuat ketika bertindak zalim. Supaya borok yang busuk itu tidak tercium maka digunakanlah segala kepintaran untuk membungkusnya. Berbagai dalih diucapkan padahal semua orang sudah tahu bahwa itu kebohongan belaka.</p>



<p>Di dunia memang sering berlaku hukum rimba, ketika tidak ada keadilan. Yang kuat makan yang lemah. Itulah mengapa Allah SWT. dalam Al-Quran selalu berbicara tentang keperkasaan diriNya. Itu supaya manusia takut kepadaNya. Namun karena tidak ada iman, atau imannya tersumbat oleh jabatan dan bayaran, akibatnya keperkesaan Allah dianggap sepele. Nasihat apapun tidak akan masuk ke dalam hatinya. Bahkan ia akan membalas dengan cemoohan. Lebih dari itu ia akan menggunakan bazer untuk melecehkan pemberi nasihat tersebut. Inilah yang kata Allah SWT. “ <em>wa idzaa khalaw ilaa syayaathinihim qaaluu innaa maakum innamaa nahnu mustahziuun</em>” (ketika mereka kembali berkumpul sesama setan mereka, mereka berkata kami tetap bersama kamu, kami hanya memperolok-olok mereka). Jadi memang sulit menyikapi manusia yang bermuka dua. Di satu sisi mereka seakan memihak kepada kebenaran di sisi lain mereka dengan terang-terangan merancang dan menggencarkan kezaliman. Ingat kezaliman itu tidak perlu ditutupi. Sebab semakin ditutupi semakin tercium bahu busuknya. Apapun pembelaan kezaliman tetap akan menyeruak bahunya.</p>



<p>Dalam hal ini memang tidak ada solusinya kecuali hanya takut kepada Allah SWT. bahwa Allah maha tahu. “ya’lamu khainatal a’yuni wa maa taukhfish shudur” (Allah mengetahui khianat mata dan apa yang tersembunyi dalam dada). &nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmahalnya-sebuah-keadilan%2F&amp;linkname=Mahalnya%20Sebuah%20Keadilan" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmahalnya-sebuah-keadilan%2F&amp;linkname=Mahalnya%20Sebuah%20Keadilan" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmahalnya-sebuah-keadilan%2F&amp;linkname=Mahalnya%20Sebuah%20Keadilan" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F20%2Fmahalnya-sebuah-keadilan%2F&amp;linkname=Mahalnya%20Sebuah%20Keadilan" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Korupsi</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/16/korupsi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2021 01:44:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2885</guid>

					<description><![CDATA[Korupsi amirfath.com, Opini (31), Des 2021 &#8211;“The Power tend to corrupt” (kekuasaan cendrung berbuat korupsi), inilah ungkapan yang sangat popular tentang korupsi. Bahwa ketika seorang berkuasa, ditangannya segala kemampuan untuk berbuat apa saja. Termasuk menyembunyikan data kesalahan yang ia perbuat. Tinggal ia berhadapan dengan Yang maha kuasa yaitu Allah SWT. Dialah Allah penguasa yang sebenarnya. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Korupsi</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(31), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong>“<em>The Power tend to corrupt</em>” (kekuasaan cendrung berbuat korupsi), inilah ungkapan yang sangat popular tentang korupsi. Bahwa ketika seorang berkuasa, ditangannya segala kemampuan untuk berbuat apa saja. Termasuk menyembunyikan data kesalahan yang ia perbuat. Tinggal ia berhadapan dengan Yang maha kuasa yaitu Allah SWT. Dialah Allah penguasa yang sebenarnya. Dalam surah al-Mulk, 1 : “<em>biyadihil mulk wahuwa ala kulli syai in qadir</em>” (di tangaNya segala kerajaan, Dia bisa berbuat segala sesuatu). Dalam surah al-Buruj, 16 :&nbsp; “<em>fa’alun limaa yurid</em>” (Dia bisa berbuat apa saja). Dalam surah Ali Imran, 26 : “<em>tu’til mulka man tasyaa wa tanzi’ul mulka min man tasyaa</em>” (Engkau yang memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki). Dengan ayat-ayat ini seharusnya manusia sadar bahwa dirinya bukan penguasa yang sebenarnya. Bahwa sekecil apapaun dosa yang ia perbuat kelak pasti akan dihisab oleh Allah SWT. “<em>inna ilaina iyabahum tsumma inna alaina hisabahum</em>” (kepada Kami mereka pasti Kembali, dan Kami pasti akan menghisab mereka) (QS. Al-Ghasyiah : 25-26).</p>



<p>Korupsi tidak akan terjadi ketika seorang penguasa menyadari makna kekuasaan Allah tersebut. Bahwa dirinya dalam genggamanNya. Bahwa dirinya kelak di akhirat akan dihisab. Bahwa sekecil apapun dosa ada hitungannya, “<em>faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarahu, wa man ya’mal mitsqaala dzarrtin syarran yarahu</em>” (siapa berbuat baik sebesar atompun pasti akan diperhitungkan dan siapa berbuat buruk sebesar atompun pasti akan diperhitungkan) (QS. Al-Zalzalah : 7-8). Diceritakan dalam Riwayat yang masyhur bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz sempat didatangi seorang tamu. Lalu ia bertanya kepada tamunya : urusan apa gerangan yang membuat kamu datang ke sini. Urusan pribadi atau urusan negara? Tamu menjawab : urusan pribadi. Seketika Umar memadamkan semua lampu yang menyala, sehingga ruangan menjadi gelap gulita. Tamu bertanya, mengapa dipadamkan lampunya ? Umar menjawab, kita sedang akan membicarakan urusan pribadi, sementara lampu-lampu ini milik negara. Aku takut kelak dihisab oleh Allah SWT. Wahai Umar mengapa kamu menggunakan lampu milik negara padahal yang kamu urus adalah adalah kepentingan pribadi.</p>



<p>Umar bin Abdil Aziz adalah contoh seorang penguasa yang sangat berhati-hati dari korupsi. Sebagai khalifah ke delapan dari dinasti Umayah, Umar tidak mewariskan kekuasaan kepada anaknya. Tidak seperti khalifah sebelumnya yang cendrung memberikan kekayaannya kepada anak-anaknya. Umar tidak melakukan itu. Anak-anaknya dibiarkan menjadi pengusaha. Itulah yang terjadi, ketika kerajaan mengalami kebangkrutan ekonomi, anak-anak khalifah yang lain menjadi pengemis di pasar-pasar sementara anak-anak khalifah Umar hadir membackup ekonomi negara. Di sini ada pelajaran bahwa “korupsi mumpung berkuasa” tidak akan pernah membawa keberkahan melainkan justru kesengsaraan, tidak saja bagi kehidupan bernegara melainkan juga kehidupan keluarga. &nbsp;&nbsp;</p>



<p>Di tengah masyarakat yang korup pasti akan lahir penguasa yang korup. Bila masyarakat suka disogok, senang suaranya dibeli pada saat pemilu atau pilkada bisa dipastikan penguasanya akan cendrung korup. Jadi penguasa itu lahir dari lingkungan yang membentuknya. Dulu, Firun hadir sebagai penguasa karena di dukung oleh masyarakat yang zalim. Karena itu Firun sempat bertahan lama dalam kekuasaanya. Seorang ahli tafsir mengatakan : Tidak mungkin Firun bertahan dengan kezalimannya jika masyarakatnya adil.&nbsp; Namun di saat yang sama masyarakat cendrung ikut penguasanya. Jika penguasanya baik maka masyarakat akan baik. Dulu, Abu Bakar Ash Shidiq berkhurbah pada saat dilantik sebagai khalifah : “<em>athiunii ma atha’thullaha wa rasulahu, faiza ashaitullahha wa rasulahu fala tahaata lii alaikum</em>” (taatilah aku selama aku mentaati Allah dan RasulNya, sebaliknya jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tidak boleh kamu mentaati aku). Inilah <em>mindset</em> seorang pemimpimn yang anti korupsi. Abu Bakar sejak awal telah memastikan dirinya akan berlaku adil. Ia tidak akan berbuat maksiat. Ia takut kepada Allah. Lihatlah, di hari-hari pertama sebagai khalifah pada saat gajinya kurang, Abu Bakar pagi-pagi berangkat ke pasar untuk berdagang. Umar bin Khaththab menegur, wahai Abu Bakar, jika kamu sibuk di pasar kapan kamu akan mengurus rakyatmu. Abu Bajar menjawab, gaji saya tidak cukup. Umar langsung memutuskan agar gaji khalifah dicukupkan supaya fokus pada tugasnya mengurus rakyat. Inilah cara negara mencegah terjadinya korupsi, yaitu gaji petugas harus mencukupi kebutuhan pokok keluarganya. Namun jika gaji sudah dicukupkan, tetapi masih juga berbuat korupsi itu namanya penyakit. <em>Nauzu billah min zaalika</em>. &nbsp;Wallahu a’lam bishshawab.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fkorupsi%2F&amp;linkname=Korupsi" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fkorupsi%2F&amp;linkname=Korupsi" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fkorupsi%2F&amp;linkname=Korupsi" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fkorupsi%2F&amp;linkname=Korupsi" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahaya Hoaks</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/12/16/bahaya-hoaks/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2021 01:18:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=2882</guid>

					<description><![CDATA[Bahaya Hoaks amirfath.com, Opini (30), Des 2021 &#8211; Hoaks artinta berita bohong. Di zaman sosial media ini hoaks mudah menyebar berseleweran siang dan malam. Orang-orang beropreasi duapuluh empat jam hanya untuk memperoduksi hoaks. Tidak sedikit yang menjadikan hoaks sebagai sumber penghasilannya. Berbagai kepentingan bermain di dalamnya.  Ada kepentingan politik, ada pula kepentingan ekonomi, ada juga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Bahaya Hoaks</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(30), Des 2021 &#8211;</strong></span></strong> Hoaks artinta berita bohong. Di zaman sosial media ini hoaks mudah menyebar berseleweran siang dan malam. Orang-orang beropreasi duapuluh empat jam hanya untuk memperoduksi hoaks. Tidak sedikit yang menjadikan hoaks sebagai sumber penghasilannya. Berbagai kepentingan bermain di dalamnya.  Ada kepentingan politik, ada pula kepentingan ekonomi, ada juga yang tidak punya kepentingan tetapi ikut-ikutan menyebarkannya. Banyak yang jatuh dalam permusuhan karena hoaks, banyak juga yang terjerat hukum karena ikutan ngeshare. Apakah mereka tidak punya iman? Tidak, mereka adalah orang-orang beriman. Apakah mereka tidak takut kepada Allah ? Inilah pertanyaan yang harus dipastikan jawabannya. Sebab tidak mungkin orang yang takut kepada Allah ikut menyebarkan hoaks. “ <em>Ala yazhunnu ulaaika annahum mab’utusun, liyaumin azhim, yauma yaqumunnasi lirabbil alamiin</em>” (apakah mereka tidak yakin bahwa kelak pasti akan Allah bangkitkan kembali, di hari yang agung, pada hari di mana mereka pasti akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah pemilik alam semesta) (QS. Al-Muthaffifin: 4-7). Sungguh seandainya mereka mempunyai iman, niscaya mereka tidak akan melakukannya.</p>



<p>Ketika Nabi SAW. menyebutkan ciri-ciri pelaku hoaks istilah yang disebut adalah <em>munafiqun</em>. Nabi bersabda <a>“<em>ayatul munafiqi</em> <em>tsalats</em>” </a>(ciri orang munafik ada tiga). Dalam Al Quran ada surah khusus bernama “<em>al-Munafiqun</em>”. Suatu istilah yang diambil dari kata Arab “<em>nafaqal yarbu</em>”. Yarbu adalah nama binatang yang selalu membuat lubang dengan dua pintu. Bila ia masuk dari satu lubang, ia keluar dari lubang yang lain. Karena itu Imam Ibn Manzhur dalam kitabnya <em>lisan al-Arab</em> menyebutkan bahwa yarbu adalah binatang yang munafik “<em>nafaqal yarbu</em>”. Nabi SAW. menyebutkan munafik sebagai pelaku hoaks dengan tiga tanda “<em>ayatul munafiqi</em> <em>tsalats</em>”: (a) <em>iza haddatsa kazaba</em> (bila ia berbicara berdusta). Jadi setiap pembicaraan dusta apapun bentuknya, seperti membuli kebaikan saudaranya dengan menjelek-jelekkannya padahal itu tidak sesuai dengan fakta, itu termasuk hoaks. (b)<em> iza wa’ada akhlafa </em>(bila berjanji mengingkari). Termasuk hoaks adalah mengingkari janji. Jadi janji-janji yang diumbar ketika pilkada lalu diingkari setelah menjabat adalah perbuatan hoaks. (c) <em>iza’tumina khaana</em> (bila diberi amanah berkhianat). Artinya bila dipercaya untuk memegang suatu jabatan malah ia korupsi dan menipu jutaan rakyat ini juga termasuk bagian perbuatan hoaks.&nbsp;</p>



<p>Dalam surah al-Nur: 11, hoaks disebut dengan istilah “ifk”. Secara khusus istilah “ifk” ini terkait dengan berita bohong yang menimpa ibunda Aisya ra. Istri Rasulullah SAW. Abdullah bin Ubay bin&nbsp; Salul “<em>ra’sul munafiqin</em>” (kepala kaum munafik) adalah pembuat haoks tersebut. Sekalipun secara redaksi ungkapan yang ia ucapkan Bin Salul nampak tidak menuduh, namun dari situlah nyala api hoaks bermula. Bin Salul berkata : “<em>zaujatu shiahibika ma’a Sofwan</em>” (istri Nabimu berduaan bersama Sofwan)? Peristiwa ini terjadi ketika Aisyah ra. ikut Nabi dalam perang Bani Musthaliq.&nbsp; Sekembalinya, Aisyah tertinggal karena suatu hajat. Kebiasaan Nabi menugaskan sebagian sahabat berjalan paling belakang sebagai petugas swiping, untuk menyelamatkan barang tercecer atau membantu orang yang tertinggal. &nbsp;Saat itu petugas swiping adalah Sofwan bin Mu’athal. Ketepatan yang tertinggal adalah Aisyah ra. Ketika masuk kota Madinah terlihatlah Sofwan bersama Aisyah. Dari sini Bin Salul menggunakan kesempatan untuk membuat hoaks tersebut. &nbsp;Dari mulut ke mulut hoaks bin Salul itu berubah menjadi “ Aisya berzina dengan Sofwan”. Semakin meluas sehingga sebagian sahabat ada yang ikut menyebarkannya. Di antara mereka adalah Mushtih ra. yang hidupnya di bawah tanggungan Abu Bakar Ash Shidiq. Aisyah ketika itu sedang sakit. Ia tidak tahu apap-apa. Baru tahu ketika Ummu Mustih menemaninya buang air. Di tengah jalan kaki Ummu Mustih kesandung lalu terucap, “laknat Mustih”. Aisyah kaget, mengapa Ummu Mustih melaknat anaknya sendiri. Maka diceritakanlah tentang hoaks mengenai Aisyah yang sedang beredar dan Mustih termasuk yang menyebarkannya. Aisyah semakin kaget. Sebab dirinya memang benar-benar bersih. Nabi SAW. ketika itu masih menunggu wahyu yang akan mengklarifikasi hoaks tersebut. Maka turunlah ayat surah al-nur :11, yang menegaskan bahwa itu adalah hoaks “<em>ifk</em>” dan Aisyah adalah bersih dari perbuatan keji tersebut. Di sini Allah memberikan keterangan bahwa berbuat hoaks jangan dianggap ringan, tetapi adalah dosa besar, “<em>wa tahsabunahu hayyinan wahuwa indallahi azhim</em>” &nbsp;(kamu menganggap itu suatu yang ringan tetapi bagi Allah itu adalah besar) (QS. Al-Nur : 15).</p>



<p>Cara terbaik agar tidak jatuh dalam hoaks, adalah dengan merasa takut kepada Allah. Sadari bahwa itu adalah perbuatan dosa yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Maka semua penghasilan yang didapat dari profesi sebagai penyebar hoaks itu bukan hanya haram melainkan juga dosa besar. &nbsp;Dalam surah al-Hujurat: 6, Allah SWT. mengajarkan cara agar tidak terperangkap hoaks yaitu dengan “<em>tabayyun</em>”. Allah berfirman : “<em>in ja akum fasiqun binabain fatabayyanu</em>” (bila datang kepadamu berita dari orang fasik maka periksalah dengan teliti). Tabbayun artinya periksa, serta <em>cek and recek</em>.&nbsp; Sebab boleh jadi berita itu memang hoaks. Disebut secara khusus istilah “<em>fasiqun</em>” (fasik) sebab merekalah yang mudah menjadi pelaku hoaks. Berdasarkan ayat ini nampak bahwa pelaku hoaks dalam Islam tidak saja tergolong <em>munafiqun</em> tetapi juga <em>fasiqun</em>. Cerita turunnya ayat ini disebutkan oleh Ibn Katsir bahwa ketika itu Rasulullah SAW. mengutus Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith untuk menagih zakat kepada kaum Bani Musthaliq. Lalu dari jauh Uqbah melihat mereka sedang mengasah pedang. Serta merta Uqbah kembali dan membawa berita bahwa kaum Bani Musthaliq menolak bayar zakat dan bahkan mereka bersiap-siap untuk perang. Seketika Nabi SAW mengutus Khalid bin Al Walid agar mengecek (bertabayyun) kebenaran berita tersebut. Ternyata setelah dicek nampak bahwa mereka masih termasuk muslim sejati dan siap membayar zakat. Dari sini Allah menurunkan ayat al-Hujurat, 6 tersebut. Di antara pesannya adalah teguran seandainya tidak ditabayyun terlebih dahulu boleh jadi akan terjadi bahaya yang tidak kamu inginkan “<em>antushibu qauman bijahalatin fatushbihu ala ma faaltum nadimin</em>” Berdasarkan ayat ini jelas bahwa jalan keluar dari hoaks adalah “<em>tabayyun</em>”.&nbsp;&nbsp; Wallahu alam bisshawab.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fbahaya-hoaks%2F&amp;linkname=Bahaya%20Hoaks" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fbahaya-hoaks%2F&amp;linkname=Bahaya%20Hoaks" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fbahaya-hoaks%2F&amp;linkname=Bahaya%20Hoaks" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F12%2F16%2Fbahaya-hoaks%2F&amp;linkname=Bahaya%20Hoaks" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gelisah Karena Kurang Ibadah</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/01/04/gelisah-karena-kurang-ibadah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2021 12:29:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=2328</guid>

					<description><![CDATA[Gelisah Karena Kurang Ibadah amirfath.com, Opini (29), Jan 2021 &#8211; Setiap manusia menginginkan ketenangan jiwa. Berbagai cara mereka lakukan. Ada yang berusaha meraihnya dengan menumpuk-numpuk harta. Tapi setelah harta menumpuk ternyata ketenangan itu tak kunjung datang. Malah sebaliknya, uang yang disimpan ternyata membuatnya serba khawatir. Khawatir banknya bangkrut, atau dirampok, dan lain sebagainya. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Hasil [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong><strong>Gelisah Karena Kurang Ibadah</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(29), Jan 2021 &#8211;</strong></span></strong> Setiap manusia menginginkan ketenangan jiwa. Berbagai cara mereka lakukan. Ada yang berusaha meraihnya dengan menumpuk-numpuk harta. Tapi setelah harta menumpuk ternyata ketenangan itu tak kunjung datang. Malah sebaliknya, uang yang disimpan ternyata membuatnya serba khawatir. Khawatir banknya bangkrut, atau dirampok, dan lain sebagainya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil penelitian ilmiah membuktikan, bahwa penyakit yang justru sering dialami masyarakat yang hidup di negara-negara kaya adalah depresi dan kegelisahan. Ed. Diener, psikolog dan University of Illionis, pernah menenliti seratus orang Amerika Serikat terkaya. Ditemukan, mereka sebagian besar menderita secara kejiwaan. Kegelisahan selalu menjadi ancaman setiap saat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ada juga sebagian orang berusaha meraih ketenangan jiwa di balik karir atau jabatan yang gemilang. Kerja keras pun mereka lakukan dengan segala cara. Karena mereka yakin, bila sukses tercapai, mereka akan dipuja-puja dan banyak dikenal orang dan akan banyak kawan. Dalam presepsi mereka, popularitas, karir atau jabatan adalah suatu keniscayaan untuk membuatnya bahagia.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tapi kenyataan tak semudah yang mereka bayangkan. Dr. Paul Pearsail dalam penelitiannya bertahun-tahun menemukan, banyak orang justru menderita setelah mereka sukses. Dalam sebuah karyanya, cerpenis Sapardi Joko Damono, pernah melukiskan wajah sebuah rumah tangga modern yang bisa dikatakan sukses secara karir. Ia menuliskan: Seorang suami berkata, “Saya melihat rumah tangga saya bisa dikatakan sukses secara ekonomi. Saya seorang pegawai negri. Istri saya pengusaha. Ia sangat sibuk, sampai tak sempat memperhatikan saya. Akhirnya saya selalu tersinggung. Lalu saya pendam keinginan saya untuk membunuhnya. Biar ia mati di tangan saya, dan saya dijatuhi hukuman mati pula.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lain lagi ada sebagian orang berusaha menghabiskan waktu di balik rumah-rumah megah atau vila-vila yang indah, untuk mereih ketenangan jiwa. Rutinitas mereka berpindah-pindah dari satu negri ke negri lain, mencari pantai-pantai yang mempesona. Di sana mereka lepaskan kegelisahan sambil memandang luasnya lautan dan langit yang tak bertepi.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tapi ternyata usaha ini juga tak mampu menyelesaikan masalah. Banyak orang yang tidak bisa bertahan lama dalam kehidupan yang monoton seperti itu. Mereka ingin mencari tantangan. Sementara suasana yang mapan cenderung hanya memberikan rasa istirahat sejenak, setelah itu jenuh datang kembali.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pernah saya tawarkan kepada beberapa orang yang biasa merasakan hiruk pikuk kota Jakarta. Siapa yang mau digaji secara cukup, kerjanya hanya makan dan tidur di villa megah dikawasan Puncak? Semua menjawab, “Tidak mau!” Ini menunjukkan bahwa secara fitrah manusia mudah merasa jenuh dan bosan bila tak mempunyai aktivitas.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebuah kasus pernah terjadi seorang lelaki baya yang hampir pensiun. Dan ini bisa juga menimpa Anda yang mempunyai persepsi serupa. Lelaki itu berkata, “Setelah aku pensiun nanti, aku mau istirahat. Pagi-pagi aku bangun, minum kopi, baca koran, nonton TV dan lain sebagainya. Siang hari aku istirahat. Sore hari aku menonton TV lagi sambil tidur-tiduran, lalu istiahat.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana itu ia ciptakan sebagai kompensasi rasa lelahnya yang selama ini telah bekerja setiap hari, dari pagi hingga sore. Namun setelah pensiun, ternyata ia malah sering jenuh dengan suasana yang monoton. Ia merasa harus segera mencari kegiatan lain. Terbukti, di masyarakat kita, kini tak sedikit para pensiunan yang bekerja lagi, mengisi hari tua mereka.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ini menunjukkan, manusia selalu membayangkan ingin mendapatkan ketenangan hakiki. Tapi bayangan ketenangan itu seringkali lebih berupa kesenangan duniawi. Akibatnya, hampir setiap kesenangan yang mereka bayangkan tak sesuai dengan harapan mereka.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sementara, ada sebagian orang berusaha meraih ketenangan jiwa dengan car menyibukkan diri. Bila sedikit ada waktu kosong selepas kerja rutin di kantor, ia segera mencari kegiatan lain. Entah main golf, futsal, atau lainnya. Tapi ini juga tak selamanya menjadi solusi. Sebab, dengan terus bekerja, seseorang telah menjadikan tubuhnya sama dengan mesin. Lama kelamaan ia akan melemah dan loyo.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena itu, banyak sekali kasus bunuh diri terjadi di jepang, dengan alasan ketercekaman jiwa. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, angka bunuh diri di Jepang setiap tahun mencapai sedikitnya 30.000 jiwa. Bahkan, karena terlalu banyaknya kasus bunuh diri yang dilakukan manusia modern, di banyak situs internet, bisa kita temukan ada yang mengajarkan cara melakukan bunuh diri dengan cepat.</p>



<p><strong>Kebutuhan Jiwa</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari gambaranringkas di atas, tersimpulkan bahwa untuk mengurus jiwa, kita tak bisa melakukannya dengan sederhana. Yang perlu diingat, jiwa kita ini ada yang menciptakannya. Maka tak mungkin kita isi jiwa kita seenak nafsu. Kita harus belajar kepada Sang Pencipta. Upaya apapun untuk mengisi jiwa, jika tak sejalan dengan tuntunan Sang Pencipta, manusia pasti akan menderita.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam urusan sederhana saja, sebut misalnya, kita membeli mobil. Kita tentunya butuh buku panduan (<em>guidebook</em>) cara menjalankan kendaraan itu dengan baik. Sangat tidak mungkin jika buku panduan itu kita ambil dari pabrik mobil berbeda. Begitu pula dengan jiwa. Sangat takmungkin kita memberi kebutuhan jiwa kita seenak hati.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk itu, Allah SWT Sang Pencipta telah menurunkan buku bimbingan, yaitu Al Qur’an. Tak cukup dengan Kitab itu, Allah utus pula seorang Rasul atau Nabi sebagai instruktur dan panutan bagaimana seharusnya melaksanakan kandungan buku suci tersebut.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Itulah makna ayat dalam surah ‘Abasa [80] ayat 20. “<em>Kemudian Dia memudahkan jalannya.” </em>Para ulama tafsir menilai, maksud “mempermudah jalan” adalah bahwa Allah tak hanya menyediakan segala kebutuhan fisik manusia. Baik berupa air, udara, maupun makanan, tapi lebih dari itu, Allah telah sediakan kebutuhan jiwa mereka. Diutusnya para Nabi dan Rasul adalah untuk mengajarkan cara memberi makan kepada jiwa.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebab, kebutuhan jiwa mereka. Diutusnya para Nabi dan Rasul adalah untuk mengajarkan cara memberi makan kepada jiwa. Sebab, kebutuhan jiwa tidak bisa dibuat sesuka hati. Kebutuhan jiwa harus diperoleh secara talaqqi dari Sang Pencipta secara harfiah. Jangan diubah-ubah, ditambah-tambahi, atau dikurangi. Nabi SAW menegaskan, “<em>Barangsiapa melakukan hal yang baru dalam urusan agama (ibadah) dan tak mempunyai dasar hukum, maka ia ditolak.” </em>&nbsp;(HR. Bukhari Muslim)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Begitilah tegasnya Islam dalam urusan menjaga jiwa. Sebab, jiwa adalah inti manusia. Dan manusia hanya menjadi rangka mati tanpa jiwa. Karena itu, mengurus jiwa harus dilakukan sungguh-sungguh dan srius. Lebih dari itu, lakukan langkah-langkah efektif dengan mengikuti tuntunan Allah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perlu diingat, makanan jiwa bukanlah materi. Sebab jiwa bersifat spiritual, dan ia butuh makanan yang spiritual pula. Untuk mendapatkan hakikat spiritual, manusia tak bisa mereka-reka dengan otaknya yang sangat terbatas dan serba relatif. Tapi harus kembali kepada Sang Pencipta Yang Maha Benar.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mereka-reka kebutuhan jiwa, akan membuat manusia terjebak dalam kelelehan tanpa akhir. Akibatnya ia akan putus asa. Itulah sebab utama mengapa manusia modern banyak yang melakukan bunuh diri.</p>



<p><strong>Dzikrullah</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak mungkin manusia menipu jiwanya. Silahkan cari cara-cara untuk menghindar dari kebutuhan jiwa yang hakiki. Pasti, jiwa akan meronta-ronta. Jiwa tak membutuhkan apa-apa, selain ibadah. Dan inti setiap ibadah adalah dzikrullah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karenanya, ketika menjelaskan rahasia shalat. Allah berfirman, “<em>Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tiada Tuhan (yang haq) selain Aku. Maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” </em>&nbsp;(QS. Thaha [20]: 14)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengapa shalat disyariatkan untuk mengingat Allah? Imam Ibn Asyur dalam tafsirnya menjawab, sebab dengan shalat seeorang akan menyadari hakikat kehambaannya di depan Sang Pencipta. Kesadaran semacam ini, dalam istilah hadits Nabi SAW disebut sebagai <em>ihsan</em>. “<em>Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan melihat-Nya. Bila tak melihat-Nya, sadari bahwa Dia melihatmu</em>.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam surah Al-Mu’minun [23] ayat 2, disebutkan ciri seorang mukmin hakiki. Di antaranya, menegakkan shalat dengan khusyu’. Terlihat, shalat bukan semata dikerjakan oleh fisik, tapi harus juga melibatkan jiwa, agar khusyu’.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ibn Taimiah dalam <em>Majmu’ al-Fatawa</em> menjelaskan, tanpa khusyu’, shalat akan kehilangan kualitasnya. Karena itu, Ibn Taimiah menilai, khusyu’ merupakan syarat diterimanya shalat. Alasannya, Allah telah menjelaskan bahwa untuk mencapai kebahagiaan, seorang mukmin harus mengerjakan shalat dengan khusyu’. Artinya, bila shalatnya tidak khusyu’, maka kebahagiaan tak akan dicapai.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Itulah rahasia mengapa dalam surah al-Ma’un [107] ayat 4 Allah berfirman, “<em>Maka celakalah orang-orang yang shalat</em>. <em>Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya.” </em>Dari sini terjawab, mengapa banyak orang shalat tapi masih saja berbuat maksiat. Itu karena shalatnya baru fisik, sementara jiwanya kosong.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jelas, jiwa membutuhkan ibadah. Dan hakikat ibadah adalah <em>dzikrullah</em>. Bila seorang muslim menegakkan ibadah dengan sungguh-sungguh, penuh penjiwaan dan khusyu’, maka ia akan mencapai ketenangan. Inilah makna ayat “<em>Ingatlah, bahwa hanya dengan dzikrullah hati akan tenang.”</em> (Qs. Ar-Ra’d [13]: 28)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam surah Thaha [20] ayat 124, Allah berfirman, “<em>Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”</em></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jelaslah sudah, betapa <em>dzikirullah</em> merupakan jalan satu-satunya menuju ketenangan jiwa. Bila ketenangan dicapai, maka ia akan terjaga dari dosa-dosa. Inilah maknanya firman Allah, “<em>Sesungguhnya shalat pasti mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” Wallahu a’lam bishshawwab.</em></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fgelisah-karena-kurang-ibadah%2F&amp;linkname=Gelisah%20Karena%20Kurang%20Ibadah" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fgelisah-karena-kurang-ibadah%2F&amp;linkname=Gelisah%20Karena%20Kurang%20Ibadah" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fgelisah-karena-kurang-ibadah%2F&amp;linkname=Gelisah%20Karena%20Kurang%20Ibadah" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fgelisah-karena-kurang-ibadah%2F&amp;linkname=Gelisah%20Karena%20Kurang%20Ibadah" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikah, Kenapa Takut?</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/01/04/menikah-kenapa-takut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2021 12:16:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=2319</guid>

					<description><![CDATA[Menikah, Kenapa Takut? amirfath.com, Opini (28), Jan 2021 &#8211; Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas, menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan institusi rumah tangga, mengapa kita takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong>Menikah, Kenapa Takut?</strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(28), Jan 2021 &#8211;</strong></span></strong> Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas, menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan institusi rumah tangga, mengapa kita takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita beralasan  ada resiko yang harus dipikul setelah menikah, bukankah perzinaan juga punya segudang resiko? Bahkan resikonya lebih besar. Bukankah melajang ada juga resikonya?</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hidup,bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan kedunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya sering ngobrol, dengan kawan-kawan yang masih melajang, padahal ia mampu untuk menikah. Setelah saya kejar alasannya, ternyata semua alasan itu tidak berpijak pada fondasi yang kuat. Ada yang beralasan untuk mencari ilmu dulu, dan lain sebagainya. Berikut ini kita akan mengulas mengenai mengapa kita harus segera menikah? Sekaligus di celah pembahasan saya akan menjawab atas beberapa alasan yang pernah mereka kemukakan untuk membenarkan sikap.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menikah itu Fitrah</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah Taala menegakkan sunnah-Nya di alam ini atas dasar berpasang-pasangan. Wa min kulli syai’in khalaqnaa zaujain, dan segala sesuatu kami ciptakan pasang-pasangan (Adz-Dzariyaat: 49). Ada siang ada malam, ada laki ada perempuan. Masing-masing memerankan fungsinya sesuai dengan tujuan utama yang telah Allah rencanakan. Tidak ada dari sunnah tersebut yang Allah ubah, kapanpun dan dimanapun berada. Walan tajida lisunnatillah tabdilla, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah (Al Ahzab: 62). Walau tajida lisunnatillah tahwiila, dan kamu tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu. (Al-Isra: 77)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dan melanggar sunnah itu berarti kita telah meletakkan diri kita pada posisi bahaya. Karena tidak mungkin Allah meletakkan sunnah tanpa ada kesatuan dan keterkaitan dengan sistem lainnya yang bekerja secara sempurna secara universal. Manusia dengan kecanggihan ilmu dan peradabannya yang dicapai, tidak akan pernah mampu menggantikan sunnah dengan cara lain yang dikarang otaknya sendiri. Mengapa? Sebab, Allah swt. telah membekali masing-masing manusia dengan fitrah yang sejalan dengan sunnah tersebut. Melanggar sunnah artinya menantang fitrahnya sendiri.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bila sikap menentang fitrah ini terus menerus dilakukan, maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia itu sendiri. Secara kasat mata, diantara yang paling tampak dari rahasia sunnah berpasang-pasangan ini adalah untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dari masa ke masa sampai titik waktu yang telah Allah tentukan. Bila institusi pernikahan dihilangkan, bisa dipastikan bahwa manusia telah musnah sejak ratusan abad yang silam.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mungkin ada yang nyeletuk, tapi kalau hanya untuk mempertahankan keturunan tidak mesti dengan cara menikah. Dengan pergaulan bebas pun bisa. Anda bisa berkata demikian. Tetapi ada sisi lain dari fitrah yang juga Allah berikan kepada masing-masing manusia, yaitu: cinta dan kasih sayang, mawaddah wa rahmah. Kedua sisi fitrah ini tidak akan pernah mungkin mencapai dengan hanya semata pergaulan bebas. Melainkan harus diikat dengan tali yang Allah ajarkan, yaitu pernikahan. Karena itulah Allah memerintahkan agar kita menikah. Sebab itulah yang paling tepat menurut Allah dlam memenuhi tuntutan fitrah tersebut. Tentu tidak ada bimbingan yang lebih sempurna dan membahagiakan lebih daripada bimbingan Allah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah berfirman fankihuu, dengan kata perintah. Ini menunjukkan pentingnya hakikat pernikahan bagi manusia. Jika membahayakan, tidak mungkin Allah perintahkan. Malah yang Allah larang adalah perzinaan. Wala taqrabuzzina, dan janganlah kamu mendekati zina (Al-Israa: 32). Ini menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan adalah haram, apalagi melakukannya. Mengapa? Sebab Allah menginginkan agar manusia hidup bahagia, aman, dan sentosa sesuai fitrahnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mendekati zina dengan cara apapun, adalah proses penggerogotan terhadap fitrah. Dan sudah terbukti bahwa pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana. Tidak saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia, melainkan juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri. Tidak jarang kasus seorang ibu yang membuang janinnya keselokan, ke tong sampah, bahkan dengan sengaja membunuhnya, hanya karena merasa malu menggendong anaknya dari hasil zina. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perhatikan bagaimana akibat yang harus diterima ketika institusi pernikahan sebagai fitrah diabaikan. Bisa dibayangkan apa akibat yang akan terjadi jika semua manusia melakukan cara yang sama. Ustadz Fuad Shaleh dalam bukunya liman yuriddiz zawaj mengatakan “Orang yang hidup melajang, biasanya sering tidak normal: baik cara berpikir, impian, dan sikapnya. Ia mudah terpedaya oleh syetan, lebih dari mereka yang telah menikah.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Menikah Itu Ibadah</strong></p>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Dalam surat Ar-Rum: 21, Allah menyebutkan pentingnya mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta. Ini menunjukkan bahwa dengan menikah kita dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari bukti kekuasaan Allah swt.&nbsp; dalam sebuah kesempatan Rasulullah saw. lebih menguatkan makna pernikahan sebagai ibadah, “Bila seorang menikah berarti ia telah melengkapi separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada paruh yang tersisa.” (HR. Baihaqi, hadits Hasan)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Belum lagi dari sisi ibadah sosial. Dimana sebelum menikah kita lebih sibuk dengan dirinya, tapi setelah menikah kita bisa saling melengkapi, mendidik istri dan anak. Semua itu merupakan lapangan pahala yang tak terhingga. Bahkan dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga moralnya dari hal-hal yang mendekati perzinaan. Al-Qur’an menyebut orang yang telah menikah dengan istilah muhshan atau muhsannah (orang yang terbentengi). Istilah ini sangat kuat dan menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum menikah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasaan Allah membantu tercapainya sifat takwa. Dan menjaga diri dari tindakan moral, maka tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ternyata Anda setiap hari bisa menegakkan ibadah shalat, dengan tenang tanpa merasa terbebani, mengapa Anda merasa berat dan selalu menunda &nbsp;untuk menegakkan ibadah pernikahan, wong ini ibadah itupun juga ibadah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Pernikahan dan Penghasilan</strong></p>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Seringkali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil. Setiap hari ia harus mengeluarkan biaya yang cukup besar dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia?</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang seorang sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya penghasilan.&nbsp; Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah saya baca. Rasulullah saw. bila didatangi seorang sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa penghasilan yang diperoleh perbulan, melainkan apa yang ia punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaian ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Al-Qur’an.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apa yang tergambar dari kenyataan tersebut adalah bahwa Rasulullah saw. tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai masalah melainkan sebagai pemecah persoalan. Bahwa pernikahan bukan sebuah beban, melainkan tuntutan fitrah yang harus dipenuhi. Seperti kebutuhan Anda terhadap makan, manusia juga butuh untuk menikah. Memang ada sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya seperti yang terkumpul dalam buku Al-ulamaul uzzab alladzina aatsarul ilma ‘alaz zawaj. Tetapi, itu bukan untuk diikuti semua orang itu adalah perkecualian. Sebab, Rasulullah saw. pernah melarang seorang sahabatnya yang ingin hanya beribadah tanpa menikah, lalu menegaskan bahwa ia juga beribadah tetapi ia juga menikah. Disini jelas sekali bagaimana Rasulullah saw. selalu menuntun kita agar berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa merasakan beban sedikit pun.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap para jejaka muda maupun tua dalam memasuki wilayah pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika menikah adalah keharusan membangun rumah, memiliki kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya dimana itu semua menuntut biaya yang tidak sedikit. Tetapi kenyataannya telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan tahun yang lalu, bahwa banyak dari mereka yang menikah sambil mencari nafkah. Artinya, tidak dengan memapankan diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dan ternyata mereka bisa hidup dan beranak-pinak. Dengan demikian kemapanan ekonomi bukan persyaratan utama bagi seseorang untuk memasuki dunia pernikahan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan setelah pernikahan. Artinya, untuk meraih jatah rezeki tersebut pintu masuknya adalah menikah dulu. Jika tidak rezki itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui (An-Nur: 32). Adalah jaminan langsung dari Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan pernikahan. Artinya, masalah rezeki satu hal dan pernikahan hal yang lain lagi.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai Ridha Allah dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Qurthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan RidhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, diantaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan “(HR. Turmudzi dan Nasa’i)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat” (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas. Dimana Allah takkan pernah membiarkan hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun pernikahan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Persoalannya sekarang, mengapa banyak orang berkeluarga yang hidup melarat? Kenyataan ini mungkin membuat banyak jejaka berfikir dua kali untuk menikah. Dalam masalah nasib kita tidak bisa menegalisir apa yang terjadi pada sebagian orang. Sebab, masing-masing ada garis nasibnya. Kalau itu pertanyaannya, kita juga bisa bertanya: Mengapa Anda bertantya demikian? Bagaimana kalau Anda melihat fakta yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya melarat dan ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur? Dari sini bahwa pernikahan bukan hambatan, dan kemapaman penghasilan bukan sebuah persyaratan utama.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal. Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggug jawabanya. Berzina pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina. Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang, tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, karena masing-masing dari suami istri saling melengkapi dan saling menopang. Ditambah lagi bahwa masing-masing ada jatah rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang suami yang bisa keluar dari kkesulitan ekonomi karena jatah seorang istri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang jatah rezkinya ditopang oleh anaknya. Perhatikan bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling menopang dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi ekonomi.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Pernikahan dan Menuntut Ilmu</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seorang kawan pernah mengatakan,ia ingin mencari ilmu terlebih dahulu, baru setelah itu menikah. Anehnya, ia tidak habis-habisnya mencari ilmu. Hampir semua universitas ia cicipi. Usianya sudah begitu lanjut. Bila ditanya kapan menikah, ia menjawab: saya belum selesai mencari ilmu: lau anffaqta kullaha lan tashila illa ilaa ba’dhiha, seandainya kau infakkan semua usiamu –untuk mencari ilmu-, kau tidak tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya. Dunia ilmu sangat luas. Seumur hidup kita tidak akan pernah mampu menelusuri semua ilmu. Sementara menikah adalah tuntunan fitrah. Karenanya, tidak ada aturan dalam Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu manikah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu. Benar, hubungan mencari penghasilan. Tetapi banyak sarjana yang telah menyelesaikan program studinya bahkan ada yang sudah doktor atau profesor, tetapi masih juga pengangguran dan belum mendapatkan pekerjaan. Artinya, menyelesaikan periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan penghasilan. Sementara pernikahan selalu mendesak tanpa semuanya itu. Di dalam Alqur’an maupun sunnah, tidak ada tuntunan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu atau mencari harta. Bahkan, banyak ayat dan hadits berupa panggilan untuk segera menikah, terlepas apakah kita sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bebagai pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak menghalangi seorang dalam mencari ilmu. Banyak sarjana yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah. Begitu juga banyak yang gagal. Artinya, semua itu tergantung kemauan orangnya. Bila ia menikah dan tetap berkemauan tinggi untuk mencari ilmu, ia akan berhasil. Sebaliknya, jika setelah menikah kemauannya mencari ilmu melemah, ia gagal. Pada intinya, pernikahan adalah bagian dari kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya. Perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia berjuang juga menegakkan rumah tangga yang Islami.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang sangat mengagumkan dalam masalah pernikahan. Beliau menikah dengan sembilan istri. Padahal beliau secara ekonomi bukan seorang raja atau konglomerat. Tetapi semua itu Rasulullah jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas kerasulannya terbengkalai. Suatu indikasi bahwa pernikahan bukan hal yang harus dipermasalahkan, melainkan harus dipenuhi. Artinya, seorang yang cerdas sebenarnya tidak perlu didorong untuk menikah, sebab Allah telah menciptakan gelora fitrah yang luar biasa dalam dirinya. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Masing-masing orang lebih tahu dari orang lain mengenai gelora ini. Dan ia sendiri yang menanggung perih dan kegelisahan gelora ini jika ia terus&nbsp; ditahan-tahan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk memenuhi tuntutan gelora itu, tidak mesti harus selesai study dulu. Itu bisa ia lakukan sambil berjalan. Kalaupun Anda ingin mengambil langkah seperti para ulama yang tidak menikah (uzzab) demi ilmu silahkan saja. Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para ulama itu? Jika tidak Anda telah rugi dua kali: ilmu tidak maksimal, menikah juga tidak bila para ulama uzzab karena saking sibuknya dengan ilmu sampai tidak sempat menikah, apakah Anda telah mencapai kesibukan para ulama itu.sehingga Anda tidak ada waktu untuk menikah?. Dari sini jika benar-benar ingin ikut jejak ulama uzzab , yang diikuti jangan hanya tidak menikahnya, melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga. Agar seimbang.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Kesimpulan</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita pindah dari pengertian “pernikahan sebagai beban” ke “pernikahan sebagai ibadah”. Seperti kita merasa senang menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban. Apapun kondisi ekonomi kita bila keharusan menikah telah tiba “jalani saja dangan jiwa tawakkal kepada Allah”. Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil manari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah tangga seejati.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina. Mereka begitu berani mengerjakan itu semua padahal perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia melainkan lebih dari itu dibenci Allah. Bahkan Allah mengancam mereka dengan siksaan yang pedih. Melihat kenyataan ini, seharusnya kita lebih berani berlomba menegakkan pernikahan, untuk mengimbangi mereka. Terlebih Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luasa biasa bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya dengan membangun pernikahan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Wallahu a’lam bishshawab.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fmenikah-kenapa-takut%2F&amp;linkname=Menikah%2C%20Kenapa%20Takut%3F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fmenikah-kenapa-takut%2F&amp;linkname=Menikah%2C%20Kenapa%20Takut%3F" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fmenikah-kenapa-takut%2F&amp;linkname=Menikah%2C%20Kenapa%20Takut%3F" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F04%2Fmenikah-kenapa-takut%2F&amp;linkname=Menikah%2C%20Kenapa%20Takut%3F" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Barisan Dakwah Itu Harus Solid</title>
		<link>https://amirfath.com/2021/01/02/barisan-dakwah-itu-harus-solid/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2021 22:41:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=2267</guid>

					<description><![CDATA[Barisan Dakwah Itu Harus Solid amirfath.com, Opini (27), Jan 2021 &#8211; “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” Dalam Al Qur’an ada satu surah namanya Ash Shaf artinya barisan yang kokoh. Dalam shalat berjamaah disyaratkan barisan (shaf) harus lurus. Karena ketidak lurusan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong>Barisan Dakwah Itu Harus Solid</strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(27), Jan 2021 &#8211;</strong></span></strong> <em>“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”</em></p>



<p>Dalam Al Qur’an ada satu surah namanya Ash Shaf artinya barisan yang kokoh. Dalam shalat berjamaah disyaratkan barisan (shaf) harus lurus. Karena ketidak lurusan shaf akan menyebabkan hati bercerai-berai. Pada ayat di atas, kita temukan kata shaffa yang artinya barisan pasukan umat Islam harus lurus dan kokoh, Ka’annahum bunyaanun Marshush (mereka seperti bangunan yang kuat, tidak tergoyahkan).</p>



<p><strong>Amal Yang Paling Dicintai Allah</strong></p>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Imam Al Qurthuby meriwayatkan, bahwa ayat di atas turun ketika para sahabat bertanya: “<em>Law Na’lam Ayyul A’maali Ahabbu Ilallahi La’amilnaahu”, </em>(seandainya kami tahu amal yang paling Allah cintai, niscaya kami akan melakukannya), lalu turunlah ayat di atas. Benar, ayat ini berkenaan dengan masalah barisan perang, tetapi pada dasarnya semua barisan sama. Baik itu barisan dalam shalat maupun barisan dalam dakwah, apalagi dalam perang, itu harus solid. Karena itu Rasulullah saw. selalumengingatkan sebelum shalat agar barisan (shaf) diluruskan. Bahkan Rasulullah saw tidak pernah memulai shalatnya sampai semua barisan (shaf) benar-benar rapi. Perhatikan betapa makna solidaritas barisan ini benar-benar sangat penting, sebagai cerminan ketaatan bagi orang-orang yang beriman.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari firman Allah di atas: “<em>Innallaha Yuhibbu”, </em>nampak bahwa Allah benar-benar sangat mencintai barisan yang solid. Artinya, sekalipun seseorang banyak melakukan ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi jika dalam akhlaknya sehari-hari merusak persatuan umat Islam, itu semua tidak akan membuat Allah cinta kepadanya. Perhatikan Allah mengakitkan cintaNya dengan solidaritas barisan, bahwa untuk meraih cinta Allah,seorang hamba harus bersatu dengan saudaranya. Tidak boleh saling menjatuhkan, menjelekkan, karena perbedaan fikih atau jamaah, apalagi saling membunuh. Karenanya kita menemukan contoh-contoh yang sangat mengagumkan dari tradisi para ulama, bahwa mereka sekalipun berbeda mazhab fikih, mereka saling menghormati di antara mereka. Imam Ahmad mengatakan: “<em>Aku tidak akan menjelekkan orang-orang yang mengatakan, bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu’ sekalipun itu sependapat dengan aku”. </em>Imam Syafi’ie tidak membaca qunut ketika menjadi imam di tengah masyarakat yang bermadzhab Hanafi. Ketika di tanya mengapa ia tidak membaca qunut, padahal baginya sunnah muakkadah dalam shalat subuh, Imam Syafi’ie menjawab;”Aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifa”. Perhatikan, betapa ulama benar-benar memahami bahwa perbedaan fikih tidak boleh menyebabkan lahirnya fanatisme buta, bahkan harus saling menghormati antar satu dengan lain. Ini antara berbagai madzhab, bahwa soliditas keutamaan itu harus ditegakkan, apalagi dalam satu jamaah dakwah yang jelas-jelas semuanya berbuat untuk menegakkan ajaran Allah swt.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengapa solidalitas barisan ini termasuk amal yang paling dicintai Allah?&nbsp;</p>



<p>Pertama. Bahwa dari solidalitas akan lahir kekompakan. Dari kekompakan akan lahir sinergi yang berkesinambungan. Bukankah kita hidup di alam ini karena sinergi yang utuh antar seluruh unsur yang Allah ciptakan di dalamnya. Dalam ilmu biologi itu di kenal dengan istilah ekosistem. Perhatikan bahwa semua proses dalam hidup kita sehari-hari sangat membutuhkan soliditas. Dalam tubuh kita, kita temukan bahwa semua organ bekerjasama dengan soliditas sehingga kita merasakan nikmatnya. Sungguh tidak terbayang apa yang akan kita rasakan jika masing-masing organ dalam tubuh kita bekerja sendiri-sendiri dan bercerai-berai. Berdasarkan ini, nampak soliditas itu fitrah. Dan kita semua tidak akan pernah menghindarinya. Sekali menghindar kita pasti akan menderita, bahkan itu akan menyebabkan malapetaka bagi kemanusiaan. Karena itu menegakkan soliditas dalam usaha apa saja –apalagi dalam usaha dakwah- adalah suatu keniscayaan. Maka, sungguh berdosa ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah, sementara dalam menegakkan ajaranNya tidak solid, apalagi saling membunuh antar sesamanya.</p>



<p>Kedua. Soliditas barisan adalah bagian dari iman. Perhatikan ayat sebelumnya, Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk berfirman: “Limaa Taquuluuna Maa Laa Taf’aluun”, artinya (wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apayang tidak kalian lakukan). Maksudnya, mengapa kalian mengaku beriman jika kalian tidak mau bersatu dalam barisan yang kokoh. Ini menarik untuk kita tekankan. Sebab, fenomena perpecahan di kalangan umat Islam kini di anggap biasa. Padahal menurut ayat di atas menegakkan persatuan yang solid adalah ciri utama keimanan. Dengan kata lain, bahwa tidak ada artinya iman yang dimiliki seseorang jika kemudian saling bermusuhan sesama mu’min. Bahkan dalam surah Al Hujurat: ayat ke 10, Allah berfirman: “Innamal Mu’minuuna Ikhawatun”, kata innama dalam pandangan ulama tafsir bermakna lilhashr maksudnya “identifikasi”. Artinya, bahwa orang yang beriman identik dengan persaudaraan. Maksudnya, tidak pantas seseorang mengaku beriman jika kemudian tidak bersaudara satu dengan lainnya. Sama dengan ayat dia atas, bahwa tidak pantas seseorang mengatakan bahwa dirinya beriman jika dalam prakteknya tidak bersatu dalam barisan yang kokoh.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketiga. Bahwa tidak solid dalam barisan dakwah adalah perbuatan dosa. Perhatkan, Allah berfirman pada ayat sebelumnya:”Amat dibenci oleh Allah bahwa kamu mengatakan apa-apayang tidak kamu kerjakan”. Lalu Allah menegaskan bahwa sanagt suka kepada orang-orang yang berjuang di jalanNya dengan barisan yang solid. Artinya, bahwa syarat untuk mendapatkan cinta Allah, bukan hanya semata berjuang di jalanNya, tetapi juga harus bersatu dalamsatu barisan yang solid. Ini pemahaman yang banyak disalah pahami oleh umat Islam, sehingga mereka tidakmau bersatu dengan umat Islam lainnya,. Padahal shalatnya masih sama, kiblatnya juga masih sama, Allah yang disembahpun juga masih sama. Akibatnya mereka mudah di adu domba. Tidak sedikit dari nyawa orang Islam yang melayang hanya karena perang saudara.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagai Satu Bangunan Yang Kokoh</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada ayat berikutnya Allah berfirman: “Ka’annahum Bunyaanun Marshush”, (mereka seperti bangunan yang kokoh). Apa artinya:</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pertama. Bahwa masing-masing bahan bangunan itu berkualitas baik. Tidak mungkin bangunan itu tegak kokoh jika batu batanya rapuh atau kualitas pasir dan semennya tidak baik. Begitu juga dalam dakwah,bahwa masing-masing individu harus mempunyai iman dan keikhlasan yang benar-benar berkualitas. Di sini peran tarbiyah harus dioptimalkan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kedua, bahwa bahan-bahan bangunan itu bukan hanya baik secara individual, melainkan harus bisa disinergikan dengan bahan-bahan lainnya. Artinya, bahwa kualitas masing-masing aktifis dakwah hendaknya bukan hanya baik secara individu, melainkan ia mampu bersinergi dengan orang lain. Itulah rahasia mengapa Allah mengumpamakan dengan bangunan. Bahwa seorang muslim tidak cukup hanya menjadi soleh sendirian, melainkan ia harus bersinergi untuk membuat orang lain beramal saleh. Dalam rangka ini sangat dibutuhkan soliditas barisan dakwah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketiga. Bahwa bangunan dikatakan kokoh bila bertahan lama, dan tidak mengalami kerapuhan di tengah musim apapun, baik panas ataupun hujan.begitu juga barisan dakwah dikatakan solid bila ia tetap utuh, tidak terpengaruh dengan rayuan dan godaan apapun. Pun juga tetap istiqamah memegang prinsip sekalipun situasi dan kondisi memaksanya harus berubah. Ia tidak pernah bubar barisan. Itulah rahsia mengapa Allah Swt mengumpamakan dengan bangunan yang kokoh. Karena bangunan akan melindungi dan bisa memberikan rasa aman kepada penghuninya bila ia kokoh dan solid.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Wallahu A’alam Bisshawab</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F02%2Fbarisan-dakwah-itu-harus-solid%2F&amp;linkname=Barisan%20Dakwah%20Itu%20Harus%20Solid" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F02%2Fbarisan-dakwah-itu-harus-solid%2F&amp;linkname=Barisan%20Dakwah%20Itu%20Harus%20Solid" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F02%2Fbarisan-dakwah-itu-harus-solid%2F&amp;linkname=Barisan%20Dakwah%20Itu%20Harus%20Solid" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2021%2F01%2F02%2Fbarisan-dakwah-itu-harus-solid%2F&amp;linkname=Barisan%20Dakwah%20Itu%20Harus%20Solid" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bersungguh – Sungguh &#038; Profesional (Itqaanul) Beramal Dalam Dakwah</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/29/bersungguh-sungguh-profesional-itqaanul-beramal-dalam-dakwah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2020 10:50:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=2251</guid>

					<description><![CDATA[Bersungguh – Sungguh &#38; Profesional (Itqaanul) Beramal Dalam Dakwah amirfath.com, Opini (26), Des 2020 &#8211; “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading"><strong>Bersungguh – Sungguh &amp; Profesional (Itqaanul) <strong>Beramal Dalam Dakwah</strong></strong></h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Opini <strong>(26), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> <strong><em>“</em></strong><em>Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaanpayah.” (QS. Al-Mulk, 67 : 3-4)</em></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kata <strong><em>itqaan</em></strong> artinya teliti, sungguh-sungguh, serius, rapi dan sempurna. Tidak ada di dalamnya main-main. Dalam bahasa Inggris bisa dikatakan perfect. Semua perbuatan Allah mutqin. Maka ciptaanNya sangat sempurna. Ayat di atas menggambarkan salah satu contoh dari kesempurnaan ciptaan Allah. Imam Ash Suyuthi menulis sebuah buku berjudul Al Itqaan dii uluumil Qur’an. Dan siapapun yang membaca buku ini, benar-benar tahu bahwa buku tersebut mencerminkan judulnya. Apa saja yang berkenaan dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an dibahasa Imam Suyuuthi secara mendalam. Tidak hanya itu, buku ini sangat lengkap, mencakup berbagai pembahasan yang berkenaan dengan Ulumul Qur’an. Para ulama mengatakan bahwa buku inilah yang paling pertama dan sempurna membahas tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al Qur’an. Siapapun yang ingin memahami seluk-beluk Al Qur’an, sangat dianjurkan –kalau tidak mau dikatakan diwajibkan- membaca buku ini.</p>



<p><strong>Allah SWT Tidak Pernah Main-main</strong></p>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Ayat di atas menggambarkan betapa Allah swt. dalam menciptakan langit benar-benar rapi dan seimbang. Tidak cacat sedikitpun. Perhatikan Allah menantang siapa saja, untuk melihat dan melihat lagi. Lihatlah dengan kaca mata biasa atau lihatlah dengan kaca mata tehnologi yang paling canggih. Itu akan membuktikan bahwa penciptaan langit benar-benar sempurna. Dari ayat ini nampak beberapa makna yang penting untuk kita garis bawahi dalam pembahasan ini:</p>



<p><strong>Pertama,</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bahwa Allah swt. tidak pernah main-main dalam segala ciptaanNya. Setiap ciptaan Allah di alam semesta ini adalah mengagumkan. Maka sungguh tidak masuk akal jika kemudian manusia main-main. Tidak bersungguh-sungguh mentaati Allah swt. coba renungkan, alasan apa untuk kita main-main? Akal sehat yang mana yang mengatakan bahwa semua ciptaan yang demikian agung ini tujuannya hanya untuk tertawa-tawa,makan-minum-tidur? Sebegitu serius Allah menciptakan langit, lalu kemudian manusia yang diam dibawahnya tidak pernah memperhatikannya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kalaupun memperhatikannya dan melakukan penelitian untuknya tetapi semua penelitian itu tidak untuk mengenal penciptaNya, melainkan hanya sekedar untuk menjadi dokumentasi pengetahuan belaka. Yang lebih celaka lagi, adalah justru setelah menyaksikan keagungan angkasa raya, malah mengatakan semua itu terjadi dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakanNya? Benarkah kerapian sistem yang demikian luar biasa ini terjadi dengan sendiriNya? Akal sehat yang mana yang mau menerima pernyataan bahwa itu terjadi dengan sendirinya?</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di dalam Al Qur’an Allah swt. selalu mengingatkan tentang bukti-bukti keagungan ciptaanNya, supaya manusia tahu bahwa tidak mungkin itu terjadi tanpa ada yang menciptakannya. Dalam surat Ar Rahman Allah swt. secara khusus mengulang-ulang pertanyaan untuk mengunggah akal manusia. Mengunggah agar melihat bahwa semua itu karena Allah swt. yang mengaturnya. Bahkan petanyaan-pertanyaan itu diulang sampai 31 kali. Dan di antara yang Allah sebutkan adalah penciptaan langit, Allah berfirman:<em> Dan Allah telah meninggikanlangit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Ar Rahman 7-9)</em></p>



<p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em>Sungguh luar biasa keseimbangan yang Allah tegakkan. Karena itu Allah berpesan dalam ayat ini: Jangan sekali-kali kamu melanggar keseimbangan ini. Sebab sedikit kita melanggar, pasti akan membawa malapetaka, tidak saja kepada lingkungan dimana kita hidup, tetapi juga kepada diri kita sendiri. Akibat lebih jauh, Allah sangat murka kepada orang-orang yang asal-asalan berbuat di muka bumi.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Asal-asalan maksudnya tidak mau ikut aturan yang Allah letakkan. Kemurkaan Allah –kalau tidak segera dibalas dengan taubat- tentu pada gilirannya dilanjutkan dengan adzabNya. Itulah yang pernah Allah tunjukkan kepada kaum Aad, Tsamud dan kaum Fir’aun. Perhatikan betapa setiap perbuatan yang didasarkan atas main-main pasti akan membawa malapetaka terhadap kemanusiaan. Karena itu tidak ada pilihan dalam menjalani kataatan kepada Allah kecuali bersungguh-sungguh dengan penuh keseriusan tanpa sedikitpun main-main.</p>



<p><strong>Kedua,</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bahwa Allah menantang “challange” siapapun untuk benar-benar mengecek kerapian ciptaanNya. Mengapa? Supaya manusia tahu bahwa semua itu tidak pantas dibalas dengan main-main, karena itu seorang mu’min dalam menegakkan ibadah kepada Allah jangan asal-asalan. Dalam pembukaan surah Al Mu’minun ketika Allah swt. menyebutkan ciri-ciri orang beriman hakiki, menyebutkan di antaranya bahwa shalat harus khusyu’ (alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’un) bukan asal shalat. Imam Ibn Taymiyah mengatakan dalam bukunya Majmu’ Fatawa bahwa khusyu’ dalam shalat merupakan kwalitas yang harus dicapai. Sebab Allah swt. dalam surat Al Mu’minun tersebut menjadikannya sebagai syarat untuk mencapai kebahagiaan. Artinya seseorang tidak akan bisa meraih kebahagiaan jika shalatnya tidak khusyu’ .</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam banyak ayat mengenai shalat, Allah swt. selalu menggunakan kata <em>aqaama – yuqiimu </em>yang artinya menegakkan. Dalam pembukaan surat Al Baqarah misalnya Allah berfirman: <em>wayuqiimuunash shalaata. </em>Mengapa Allah tidak berfirman <em>wayashalluuna?</em> Imam Al Jashshash dalam tafsirnya Ahkamul Qur’an membahas rahasia ungkapan ini secara mendalam dan panjang lebar. Kesimpulannya bahwa di dalam kata <em>qaama-yuqiimu </em>terkandung makna keharusan menegakkan dengan serius dan sungguh-sungguh.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Maksudnya bahwa seseorang dalam menegakkan shalat harus benar-benar memenuhi hak shalat, rukun dan khusyu’nya, ketepatan waktunya, dikerjakan secara berjamaah di masjid, wudhu’nya pun sebagai syarat sahnya shalat juga benar. Tempat dan pakaian harus bersih dan suci. Semua itu adalah gambaran dari kesungguhan seseorang dalam menegakkan shalat.</p>



<p><strong>Keharusan Itqaan Dalam Berdakwah</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bila dalam ayat di atas Allah swt. menunjukkan bahwa segala ciptaannya sangat rapi, itu menunjukkan bahwa tidak benar seseorang dalam menyembah Allah asal-asalan. Apalagi dalamberdakwah kepadaNya, yang segala gerak dan arahnya sangat berkaitan dengan selamat tidaknya orang banyak. Maksudnya bila seseorang berdakwah ke jalan yang salah, berapa banyak manusia yang tersesat karenanya. Sebaliknya bila seseorang berdakwah ke jalan yang benar, maka sungguh begitu banyak manusia yang akan menikmati buah keselamatan karenanya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Para ulama terdahulu terkenal dengan keitqaanannya dalam mencari ilmu. Mendokumentasikan dan mengamalkannya. Berbagai buku yang mereka tulis dalam berbagai bidang: tafsir, hadits, kedokteran, sejarah dan sebagainya semua mencerminkan bahwa itu semua merupakan buah kerja kerasa yang sangat serius. Bukan kerja main-main dan asal-asalan. Bahwa itu lahir dari spirit kesadaran amanah yang kelak dihari Kiamat pasti akan mereka pertanggungjawabkan. Mereka takut kalau ternyata ilmu yang mereka berikan salah. Karena itu banyak kisah-kisah yang sangat mengesankan dan mengagumkan tentang perjuangan mereka dalam berdakwah dan mencari Ilmu.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Disebutkan bahwa Imam Al Ahmad bin Hanbal pernah berjalan kaki sejauh 30 ribu mil untuk mencari hadits. Disebutkan bahwa Iman Ibn Hibban belajar hadits dari 2000 syaikh.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di lapangan dakwah kita tidak bisa melukiskan dengan kata-kata bagaimana agungnya pengorbanan para sahabat, para tabiin dan para ulama untuk mengajarkan dan menyebarkan ajaran Allah di muka bumi. Tidak terhitung darimereka yang mati syahid dalam berbagai pertempuran karena membela agama Allah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tidak sedikit dari para ulama yang meninggalkan tanah air mereka untuk mengajarkan hukum-hukum Allah SWT. Bahkan banyak dari mereka yang meninggal dunia di tempat yang jauh dari negeri kelahiran mereka. Bila kita teliti dari perjuangan Rasulullah saw. para sahabat dan para salafush shaleh dalam berdakwah, ada beberapa ciri yang menunjukkan keitqaan yang mereka lakukan Antara Lain:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li><strong>Mereka benar-benar serius mencari ilmu dan mengajarkannya. Mereka tahu bahwa agama ini tidak mungkin tegak tanpa pemahaman yang benar. Karenanya masalah ilmu bagi para ulama adalah fondasi utama yang harus dicapai sebelum langkah-langkah lainnya.</strong></li><li><strong>Mereka benar-benar paham Islam secara komprehensif, karenanya mereka mengajarkan agama Islam secara utuh, bukan sepenggal-sepenggal.</strong></li><li><strong>Mereka benar-benar berkorban waktu, pikiran, tenaga dan bahkan jiwa raga dalam berusaha menyebar ajaran Allah.</strong></li><li><strong>Mereka benar-benar jujur dalam berdakwah. Artinya mereka tidak hanya mengajak orang lain mentaati Allah, melainkan mereka sendiri bersungguh-sungguh mengamalkannya.</strong></li><li><strong>Mereka benar-benar paham bahwa dakwah bukan hanya bicara dan pidato, melainkan kesungguhan bergerak secara kolektif dan kerja sama, dalam bentuk organisasi yang rapi.</strong></li><li><strong>Mereka benar-benar berusaha menyatukan umat Islam, bukan memecah belah di antara mereka. Sebab mereka tahu bahwa keberkahan dan pertolongan Allah akan turun ketika umat ini bersatu. Pun mereka tahu bahwa dakwah yang benar adalah ajakan istiqamah mengamalkan Islam, bukan ajakan fanatik kepada golongan.</strong></li><li><strong>Lebih dari itu, mereka benar-benar ikhlas dalam beramal menyebarkan Islam. sebab mereka tahu bahwa kunci sukses dalam mendapatkan kemengangan adalah ikhlash. Pun merekatahu bahwa Allah tidak akan menurunkan bantuanNya tanpa keikhlasan.</strong></li></ol>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lebih jauh bahwa syetan tidak akan mampu menghalang-halangi langkah-langkah dakwah selama para pelaku dakwah berjiwa ikhlash. Inilah beberapa ciri itqaan dalam berdakwah, dari sini nampak bahwa keharusan membangun spirit itqaan dalam beramal di lapangan maupun dakwah adalah prinsip yang tidak bisa disepelekan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Wallahu a’lam bishshawab</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F29%2Fbersungguh-sungguh-profesional-itqaanul-beramal-dalam-dakwah%2F&amp;linkname=Bersungguh%20%E2%80%93%20Sungguh%20%26%20Profesional%20%28Itqaanul%29%20Beramal%20Dalam%20Dakwah" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F29%2Fbersungguh-sungguh-profesional-itqaanul-beramal-dalam-dakwah%2F&amp;linkname=Bersungguh%20%E2%80%93%20Sungguh%20%26%20Profesional%20%28Itqaanul%29%20Beramal%20Dalam%20Dakwah" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F29%2Fbersungguh-sungguh-profesional-itqaanul-beramal-dalam-dakwah%2F&amp;linkname=Bersungguh%20%E2%80%93%20Sungguh%20%26%20Profesional%20%28Itqaanul%29%20Beramal%20Dalam%20Dakwah" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F29%2Fbersungguh-sungguh-profesional-itqaanul-beramal-dalam-dakwah%2F&amp;linkname=Bersungguh%20%E2%80%93%20Sungguh%20%26%20Profesional%20%28Itqaanul%29%20Beramal%20Dalam%20Dakwah" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 21/138 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 4/14 queries in 0.007 seconds using Redis

Served from: amirfath.com @ 2025-09-02 17:48:32 by W3 Total Cache
-->