<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerpen &#8211; Dr. Amir Faishol Fath</title>
	<atom:link href="https://amirfath.com/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://amirfath.com</link>
	<description>Pakar Tafsir Al-Quran &#38; CEO Fath Institute</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Dec 2020 05:39:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.3</generator>
	<item>
		<title>Di Atas Jembatan Gantung</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/di-atas-jembatan-gantung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 09:59:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1602</guid>

					<description><![CDATA[Di Atas Jembatan Gantung amirfath.com, Cerpen (25), Des 2020 &#8211; Pagi itu suasana perkampungan sangat sepi. Tidak seperti biasanya jalanan yang tadinya ramai dan terdengar suara anak-anak kecil di sana sini, kini benar-benar lengang. Memang waktu itu masih dalam bulan Ramadhan di mana mereka biasanya istirahat sesudah shalat subuh. Seorang Ustadz keluar bersama para santrinya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Di Atas Jembatan Gantung</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(25), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> Pagi itu suasana perkampungan sangat sepi. Tidak seperti biasanya jalanan yang tadinya ramai dan terdengar suara anak-anak kecil di sana sini, kini benar-benar lengang. Memang waktu itu masih dalam bulan Ramadhan di mana mereka biasanya istirahat sesudah shalat subuh. Seorang Ustadz keluar bersama para santrinya menelusuri gang-gang rumah yang sempit. Di sebuah jembatan kecil Ustadz itu berhenti sejenak. Pandangannya tertuju pada air yang mengalir di kali. Tiba-tiba Ustadz nampak terdiam. Para santripun terhenyak. Seakan ada pesan yang akan disampai. Beberapa lama Ustadz tidak berkata-kata. Para santri tetap memandang kepada Ustad. Seperti menunggu pesan yang akan di sampaikan. Namun kalimat dari bibir Ustadz tidak kunjung terucap.</p>



<p>“Anak-anaku” Kata Ustadz sambil memandang ke arah kali. “lihatlah air yang mengalir ini. Nampak keruh dan berbahu. Sampah nangkring di tepiannya, menyangkut kepada pohonan dan dinding kali. Kira-kira kalian mau gak mandi di kali ini?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Semua menjawab : “Tidak”. Dari ekspressi muka para santri bermacam-macam. Ada yang menutup hidungnya. Ada juga yang meringis karena saking jijiknya melihat air tersebut.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Subhanallah” gumam Ustadz. “Di sini kita belajar bahwa setiap yang kotor menjijikkan”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Benar pak Ustadz” kata santri serentak.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tapi pelajaran kita tidak berhenti di sini”&nbsp; Kata Ustazdz lebih lanjut.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Memangnya ada lagi Pak Ustadz?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya ada”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tambah lagi Pah Ustadz. Kita haus Ilmu”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Dingarkan baik-baik anak-anaku”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Para santri terdiam. Perhatian mereka fokus memandang wajah Ustadz. Mareka teringat pesan yang sering diulang Ustadz dalam setiap kesepatan: “al ‘uyuunu malaa’iqul kalam” (pandangan itu sendok pembicaraan). Bahwa ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati orang yang sombong. Allah tidak pernah menciptakan dua hati dalam diri seseorang. Maka tidak mugkin seorang dapat ilmu sekalipun dalam majelis taklim tetapi pikirannya sibuk dengan pekerjaan lain. Dalam diri mereka tergambar betapa ilmu itu sangat agung. Apalgi ilmu agama yang akan menjadi bekal menuju akhirat. Memang semua ilmu itu penting. Tetapi kenyataannya ada ilmu yang tidak diminati banyak orang yaitu ilmu agama. Adapun ilmu dunia orang-orang kafirpun berlomba mencarinya. Jadi untuk ilmu dunia tidak perlu di dorong, orang-orang dengan sendirinya sudah bersaing mendapatkannya. &nbsp;</p>



<p>“Ada pelajaran lain lagi wahai anak-anaku” Tegas Ustadz lagi.</p>



<p>Para santri masih tetap arahkan perhatian kepada Ustadz. Sekalipun kadang terganggu oleh sepeda motor yang lewat, tapi mereka tetap fokus.</p>



<p>“Bahwa kotoran itu sama dengan dosa”. Kata Ustadz lagi.</p>



<p>Para Santri terdiam seperti ada pertanyaan dalam benak mereka. “Maksudnya apa? Mengapa kotoran itu sama dengan dosa”. Lalu Ustadz melajutkan penjelasannya : “Anak-anakku Ketika Nabi Isra’ Miraj sempat melihat seorang yang didepannya ditawari dua piring daging. Satunya daging yang segar dan menggiurkan sementara satunya daging yang busuk penuh dengan ulat. Tetapi orang itu lahap makan daging yang busuk dan menjijikkan. Sementara daging segar dibiarkan. Lalu Malaikat Jibril menjelaskan bahwa itu adalah para penzina. Mereka mengambil pasangan yang kotor dan menjijikkan sementara para istri yang bersih dan halal diabaikan”.&nbsp;</p>



<p>“Oh, begitu toh maksudnya” kata para santri.</p>



<p>“Belum selesai di sini”. Kata Ustadz.</p>



<p>“Ada lagi Pak Ustadz” Kata para santri.</p>



<p>“Bahwa apapun jika setiap saat diisi kotoran dan dibiarkan kotor, lama kelamaan itu akan menjijikkan. Buktinya kalian tidak mau mandi di kali ini”.</p>



<p>“Benar Ustadz” kata Santri.</p>



<p>“ Sama dengan diri kita “ kata Ustadz lebih lanjut. “Kalau setiap hari diri kita ini diisi kotoran dan dosa-dosa lama kelamaan orang akan jijik”.</p>



<p>“ Allah Akbar “ kata para santri serentak.</p>



<p>Di sini para santri menemukan ilmu yang luar biasa. Hal yang selama ini tidak pernah mereka perhatikan ternyata di situ ada ilmu yang sangat dalam. Mereka teringat firman Allah yang berulang-ulang berpesan agar selalu melihat alam sekitar. Melihat langit dan bumi, melihat pohonan dan keadaan. Serta melihat kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa. Dalam semua itu sungguh ada hikmah yang tidak akan pernah kita temukan di buku-buku manapun. Selama ini banyak orang menyangka ilmu itu hanya dalam buku. Ketika tidak baca buku tidak dapat ilmu. Akibatnya setiap yang mereka lihat diabaikan begitu saja.</p>



<p>Dulu para ulama justru banyak yang menulis buku dari apa yang mereka lihat. Karenanya buku-buku mereka tebal dan menghidupkan jiwa. Sebab yang mereka tulis adalah sesuatu yang hidup. Imam Ar Razi hidup dalam tradisi ilmu kalam. Waktu itu sedang berlangsung perdebatan filosofis yang sangat mengandalkan kekuatan rasional. Maka buku-buku beliau penuh dengan kaidah-kaidah ilmu kalam. Istilah ilmu kalam ini untuk zaman sekarang memang kurang dikenal. Maksudnya adalah ilmu yang membahas masalah-masalah akidah dengan pendekatan akal. Maka siapapun yang ingin paham tafsir Imam Ar Razi dianjurkan agar belajar ilmu kalam.</p>



<p>Ada lagi tafsir yang ditulis dari sudut penjara. Seorang juru dakwah yang mengalami tekanan tidak saja secara fisik tetapi juga secara psikologis. Maka dari perasaannya yang menggelora membela kebenaran lahirlah tafsirnya yang menggerakkan iman. Inilah Ustadz Sayyed Qutub dengan kitab tafsirnya “fii zhilalil Quran” di bawah naungan Al Quran. Artinya bahwa apa yang kita lihat dan kita rasakan adalah sumber ilmu. Karenanya jangan mengabaikan sekecil apapun yang kita lihat di sekitar kita. Memang kebanyakan manusia hampir selalu menganggap remeh sesuatu yang sudah biasa mereka lihat. Seperti matahari, bulan, langit dan bumi. Padahal semua itu adalah hakikat yang luar biasa. Tetapi karena sudah dianggap biasa maka dibiarkan lewat begitu saja.</p>



<p>Itulah mengapa Allah swt. selalu bersumpah dalam Al Quran dengan makhluk-makhlukNya. Bersumpah dengan buah At Tin dan buah Az Zaitun, langit dan bumi, siang dan malam. Itu tidak lain supaya kita segera menyadari bahwa semua itu adalah kenyataan yang luar biasa. Seharusnya kita setiap saat memuji Allah swt. Tatapi sayang karena kelalaian akibatnya semua hakikat besar yang setiap saat terjadi di depan mata kita hilang begitu saja. Padahal Allah swt. mempunyai maksud besar dalam mempersaksikan segala kejadian. Yaitu agar kita selalu berterimaksih kepadaNya. Dalam Bahasa Al Quran berterimakasih ini disebut dengan syukur. Para ulama menyimpulkan bahwa tugas pokok seorang hamba Kadapa Allah swt. adalah bersyukur. Jika tidak mau bersyukur otomatis kufur. Itulah mengapa dalah Al quran Allah swt. menegaskan bahwa kata syukur sebagai lawab kata kufur : “lain syakartum la aziidan nakum wa lain kafartum inna adzaabi lasyadiid”. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fdi-atas-jembatan-gantung%2F&amp;linkname=Di%20Atas%20Jembatan%20Gantung" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fdi-atas-jembatan-gantung%2F&amp;linkname=Di%20Atas%20Jembatan%20Gantung" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fdi-atas-jembatan-gantung%2F&amp;linkname=Di%20Atas%20Jembatan%20Gantung" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fdi-atas-jembatan-gantung%2F&amp;linkname=Di%20Atas%20Jembatan%20Gantung" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tetangga</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/tetangga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 03:24:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1575</guid>

					<description><![CDATA[Tetangga amirfath.com, Cerpen (24), Des 2020 &#8211; Hidup bertetangga memang ada saja persoalan, dulu masih saya di hostel salah seorang kawan saya dari Jordan selalu mengeluh mengenai perilaku tetangganya. Ketepatan kamarnya memangnya berdampingan, jendelanya berhadapan. Jadi apa saja yang berisik dari kamar tetangganya kedengeran. Lebih-lebih ketika tetangganya itu lagi mendemostrasikan kesukaannya, dengan menyetel lagu barat. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Tetangga</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(24), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> Hidup bertetangga memang ada saja persoalan, dulu masih saya di hostel salah seorang kawan saya dari Jordan selalu mengeluh mengenai perilaku tetangganya. Ketepatan kamarnya memangnya berdampingan, jendelanya berhadapan. Jadi apa saja yang berisik dari kamar tetangganya kedengeran. Lebih-lebih ketika tetangganya itu lagi mendemostrasikan kesukaannya, dengan menyetel lagu barat. Waduh langsung deh, kawan saya yang dari Jordan itu angkat emosi, dia datang dan menegurnya, kadang ia minta tolong kepada untuk menasihatinya. Sebab ketepatan tetangganya itu orang Indonesia.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tapi apa yang bisa saya lakukan, sementara anaknya itu memang mempunyai tabiat cowek, tidak suka mengindahkan nasihat orang lain. Menurutnya, apa yang ia lakukan itu paling benar, akhirnya yang menjadi korban kawan saya itu. Ya, kalau diusut-usut dari mana asal muasal kemusykilan itu, ternyata memang berangkat dari keperibadian masing-masing di antara mereka. Kawan yang Jordan ini ya, boleh disebut bahwa ia nampaknya sungguh-sungguh untuk menjalankan Islam. Baginya Islam itu bukan hanya ibadah ritual. Melainkan segala totalitas kehidupan, itu harus Islam. Karenanya kalau saya melihat sikapnya sehari-hari tidak ada yang bersifat main-main. Semuanya ia kalkulasi dengan ukuran pahala, semuanya ia terjemahkan dalam bentuk-bentuk akhlak dan mu’amalah yang islami.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nah dari sinilah, saya sering melihatnya hati-hati dalam berbagai hal. Sampai-sampai masalah music yang sebagian mengatakan itu masalah khilafiyah, bagi dia itu tidak perlu ditinjau dari segi khilafiyah atau tidak. Tetapi harus diliaht dari sisi “Fiqhul Waqi”<a href="#_ftn1">[1]</a> artinya menurut dia, mari kita bersikap sebagai umat Islam secara kolektif, bukan secara individual. Sebab kalau kita selalu bersikap secara individual, ya tentu saja kita akan segera melemparakan alasan bahwa masalah music itu para ulama berbeda pendapat. Maka tidak perlu di besar-besarkan, siapa yang mau menikmati silahkan, dan siapa yang tidak mau itu hak dia. Semuanya bebas menentukan sikapnya, ini kalau kita secara individual. Tapi coba katanya, kita sejenak merenungkan apakah benar cara bersikap seperti ini, apakah benar bahkan umat Islam, ummat yang individual. Artinya tidak perlu menjenguk dan merasa saudara kita yang sakit. Tidak perlu membantu saudara kita yang dibantai orang Hindu di Kashmir dan saudara kita yang di rampas haknya oleh kaum Yahudi di Palestina. Apakah benar seperti itu, tentu tidak kan. Nah, kalau fitrah kita sebenarnya tidak mengizinkan kita untuk berislam secara individual, berarti tidak bisa tidak kita harus berislam secara kolektif. Dan kalau begitu berarti pula kita harus mereasa tidak enak ketika sekarang-sekarang ini lagi gencar-gencarnya orang barat membantai umat Islam. Masak enak kita disini berdansa dengan music-musik barat itu. Sementara saudara kita di sebelah sana tidak mendapatkan apa yang harus mereka perebuat untuk kehidupannya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Wah, saya juga tersentuh ketika mendengar ungkapan itu. Sebab ternyata pendekatan yang ia lakukan sungguh pemdekatan yang berdasarakan kondisi social. Dan rupanya saat-saat seperti ini, pendekatan semacam itu sangat dibutuhkan. Sebab nampaknya umat Islam sanoai sekarang masih saja terpaku pada rangkaian-rangkaian khilafiyah yang tidak pernah selesai. Ya, kalau lebih diperjelas lagi, maksudnya bahwa uamt Islam yang diperntingkansekarang bersatu dalam satu barisan. Satu harapan, satu cita-cita dan satu pegangan. Adapun masalah cara rerserah, sebab itu sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi masing-masing.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tapi apakah ini mungkin? Ya, mungkin. Wong Rasulullah bisa kok menyatukan orang-orang yang asalnya kafir, masak kita tidak bisa bersatu. Wong kitasudah jelas muslim, caranya bagaimana? Ya kita ikuti secara detail bagaimana cara Rasulullah menyatukan shabat-sahabat nya. disini kita dituntut untuk memperlajari “sirah” Rasulullah dengan lebih mendalam lagi.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengapa harus cara Rasulullah? Apakah tidak mungkin kalau kita mengembangkan cara kita sendiri? ya, bisa saja tapi apakah kita yakin bahwa cara yang kita kembangkan itu akan mencapai titik kegemilangan seperti yang dicapai Rasulullah. Ya, kalau kita masih coba-coba ngapain kita cape-cape. Seperti kalau kita ditawarin dua hal, bahan mentah untuk dibuat mobil dan mobil yang sudah siap pakai. Masak kita memilih bahan yang mentah itu. Tentunyakan membuang waktu dan tenaga namanya. Itupun bahan mentang tersebut belum pasti bisa dibuat mobil seperti yang sudah jadi itu.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tapi ada salah seorang kawan saya nyeletuk dalam sebuah obrolan santai. Ia mengatakan bahwa kita sekarang sedang menjalani sebuah era baru, era ini kita kenal dengan kemoderanan. Makanya, ia meyebutkan, kita tidak perlu mengulang-ulang apa yang telah lewat, cara Rasaulullah itu katanya lebih lanjut, sudah berlalu. Dan itu hanya berlaku pada kondisi yang beliau hadapi. Maka tidak mungkin itu dipraktekan pada kondisi sekarang. Apalagi masyarakat dan tempatnya berbeda. Dan kita katanya kagi dengan semangat yang menggebu-gebu, sudah tahu bahwa itu hanya masalah system. Maka tidak perlu terikat pada sister Rasulullah secara ketat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Terus, system apa yang anda mau ikuti?” Kata saya</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya, kita bisa mengambil system dari Plato, Aristotelis dan lain sebagainya.” Ia menjawab</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Memangnya Plato itu orang modern?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tidak, orang lampau. Tapikan pemekirannya menghebuskan angina modern”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Jadi ajaran Rasulullah itu tidak mengehembuskan angina modern?” kawan saya dia,. Saya melanjutkan pembicaraan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Apa sih beratnya kalau anda mengutamakan system Rasulullah untuk anda jadikan pedoman? Bukankah Rasulullah telah berhasil secara nyata dalam dakwahnya? Dan itu telah diakui sejarawan dunia? Kalau Plato mana bukti keberhasilannya? Demokrasi? Apakah benar manusia merasa sejahtera dengan demokrasi? Coba anda adakan penelitian secara jujur? Ajukan data-data empiris?</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kawan saya itu tersenyum. Kepalanga mengagguk-angguk. Saya menangkap sebuah kesan, ternyata banyak gunanya juga ngobrol-ngobrol sesama tetangga.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun sekarang, saya telah kawin. Rumah saya ketepatan terletak di kawasan ‘Jin Nine Four’. Ettangga-tetangga saya rata-rata para pengungsi Afghanistan. Jadinya saya sulit untuk berkomunikasi dengan mereka, paling banter saya hanya bisa mengucapkan salam saat hendak menziarahinya dan saat berpapasan di tengah jalan.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Artinya cara berfikir yang didasarkan pada kenyataan yang ada</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Ftetangga%2F&amp;linkname=Tetangga" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Ftetangga%2F&amp;linkname=Tetangga" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Ftetangga%2F&amp;linkname=Tetangga" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Ftetangga%2F&amp;linkname=Tetangga" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tertidur</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/tertidur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 03:22:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1573</guid>

					<description><![CDATA[Tertidur amirfath.com, Cerpen (23), Des 2020 &#8211; Karena tertidur tadi pagi, akhirnya saya banyak meninggalkan kegiatan. Program kuliah sudah jelas terbengkalai. Hafalan Al-Qur’an yang biasanya saya setorkan juga hangus, urusan untuk mengecek proses untuk mendapatkan NOC (Number Of Clearance) ke kementrian Luar Negeri pun tertunda. Belum lagi masalah perpanjang kamar di hostel. Itu juga belum [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Tertidur</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(23), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> Karena tertidur tadi pagi, akhirnya saya banyak meninggalkan kegiatan. Program kuliah sudah jelas terbengkalai. Hafalan Al-Qur’an yang biasanya saya setorkan juga hangus, urusan untuk mengecek proses untuk mendapatkan NOC (Number Of Clearance) ke kementrian Luar Negeri pun tertunda. Belum lagi masalah perpanjang kamar di hostel. Itu juga belum saya lakukan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sementara tetangga saya tidak tahu bahwa saya sedang tidur. Padahal katanya, banyak kawan-kawan saya yang mengetok saya melalui telpon. Dan memang saya hari ini lagi banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan bersama mereka. Ya, apa boleh buat. Nasi telah menjadi bubur, saya tidak bisa mengulang kembali peristiwa yang telah lewat. Tapi, apapun dibalik semua itu, banyak pelajaran-pelajaran. Paling tidak pelajaran untuk berhati-hati pada kesempatan berikutnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Masalah hati-hati sebenarnya sudah lama saya sadari. Dan kejadian ini bukan pertama bagi saya, makanya saya sebelum tertidur tadi sudah berusaha untuk jalan-jalan. Sebelumnya saya sempatkan duduk di masjid sambil mengaji Al-Qur’an sampai terbit matahari. Tapi karena apa-apa kok tiba-tiba setelah saya mengantarkan istri ke tempat kuliah. Rasa kantuk datang, tak tertahan. Saya coba sejenak berusaha untuk tidak tidur. Saya segera meraih majalah Gatra. Naumn tak disangka-sangka, tahu-tahu saya menemukan diri saya sudah berada di waktu dzuhur.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sungguh perjalanan waktu yang begitu cepat, saya bergumam sambil menggelengkan kepala, dan memang demikian saya seringkali tidak sempat memikirkan hal itu. Dan saya yakin orang-orang selain saya juga sering mengalami demikian. Artinya, tiba-tiba ia tertangkap kedalam penyesalan-penyesalan. Di dalam otaknya seketika menggerundel sejuta ungkapan yang sebenarnya hampir bisa di katakana mustahil untuk dicarikan jalan keluarnya, mengapa saya tadi tidur? Seandainya saya tadi tidak tidur niscaya semuanya itu tidak akan terjadi? Mengapa saya tidak belajar sejak dulu? Sehingga sekarang setelah saya kawin banyak kesibukan yang harus saya kerjakan? Dan ini tidak kalah pentingnya dengan belajar? Mengapa saya tidak kawin kemarin saat saya ditawarkan oleh kawan saya? Padahal seandainya saya kawin saya yakin hidup saya akan tenang? Dan lain sebagainya. Yang sering orang ungkapan secara di sengaja saat-saat ia menyesali sesuatu.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seperti saya sekarang lagi menyesali masa lalu, mengapa saya tidak sejak kecil menghafal Al-Qur’an? Akibatnya sekarang saya menemukan banyak kesulitan. Karena otomatis, usia semakin tua, tidak saja hafal semakin lemah, melainkan kesibukan juga semakin banyak, yang tentu dalam banyak hal, menyita pikiran. Dengan demikian kemungkinan untuk menghafal Al-Qur’an seperti usai sekarang-sekarang ini, toh sekalipun bisa tapi menuntut kesungguhan yang lebih prima. Dan ini hampir bisa dikatakan tidak mungkin.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya barusan ketika bangun tidur, memang tiba-tiba di penuhi oleh perasaan yang bercampur dengan penyesalan. Apalagi saat itu istri saya belum kembali dari kuliah. Jadinya rasa kesepian semakin lengkap, dan untuk menutupi kesepian ini saya segera bangkit dan perhi ke Masjid untuk sholat Dzuhur, setelah sholat saya menemani tetangga unutk memperbaiki teleponnya yang lagi kurang bekerja dengan baik. Siapa tahu pahalanya bisa mengimbangi kekurangan amal saya hari ini.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak berapa lama istri saya datang, ia menampakkan kecapean. Ia masuk kamar dan langsung berbaring di tempat tidur, sementara saya belum makan siang., dan untuk minta tolong kepada istri saya, saya seperti terikan oleh perasaan yang tidak mengizinkan, jalan keluarnya saya membeli Cepati<strong><sup>(<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>) </sup></strong>di pasar. Lalu saya makan berdua dengan tetangga saya, sebab ketepatan istri juga lagi kurang sehat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sekarang istri saya sedang istirahat. Saya tidak boleh menganggunya, kalau saya masuk kamar saya berusah untuk berjalan dengan gaya ektra hati-hati. Saya hindari suara-suara yang sekiranya bisa membuat ia terbangun dari tidurnya, baru setelah ia bangun saya mulai mengajaknya ngobrol.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Mama mau jalan-jalan?” tanya saya “Kalau mama mau, papa temani kemana mama suka”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Aduh, Pa. kayanya mama masih capek” katanya, tapi memang saya melihat wajanya Nampak pucat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Jadi, mama mau dirumah saja?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Iya saja deh, Mama sekarang lagi ga mood nih. Untuk kemana-mana”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tapi mama tadinya bilang, mau beli Chicken Corn Soup. Ayo kalau mama mau, papa anterin”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Enggak usalah pa”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Kalau begitu, papa belikan untuk mama Chicken Corn Soup yang mama sukai”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ah, papa disini saja”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Maka lengkaplah saya hari ini dirumah, tidak kemana-mana. Bermula dari tertidur sampai membuat segalanya jadi loyo.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Wah, mulai sekarang saya harus pasang kuda-kuda untuk tidak tertidur lagi” saya bertekad</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Cepati makanan yang dari tepung gandum, berbentuk bundar. Dan merupakan tradisional rakyat Pakistan.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Ftertidur%2F&amp;linkname=Tertidur" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Ftertidur%2F&amp;linkname=Tertidur" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Ftertidur%2F&amp;linkname=Tertidur" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Ftertidur%2F&amp;linkname=Tertidur" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puasa</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/puasa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 03:21:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1571</guid>

					<description><![CDATA[Puasa amirfath.com, Cerpen (22), Des 2020 &#8211; Istri saya besok mau puasa, malam ini ia sibuk sekali, kerjanya menyiapkan makan malam dan sekaligus makan sahur. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; “Mama” kata saya “mau puasa apaan besok ma?” &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; “Biasa pa” jawabnya “Puasa Sunnah, besok kan hari senin” &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; “O, iyaa ya ma” &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Saya sejenak berfikir, dibenak terlintas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Puasa</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(22), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> Istri saya besok mau puasa, malam ini ia sibuk sekali, kerjanya menyiapkan makan malam dan sekaligus makan sahur.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Mama” kata saya “mau puasa apaan besok ma?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Biasa pa” jawabnya “Puasa Sunnah, besok kan hari senin”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “O, iyaa ya ma”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya sejenak berfikir, dibenak terlintas bayangan kataatan istri saya keapda Allah. Ia memang selalu saya lihat konsisten dalam beribadah, kalau datang waktu shalat ia tidak lagi menunda-nunda, ia langsung mengingatkan saya. Dan ia sendiri langsung mengerjakannya, bagaimanapun sibuknya saya menyaksikan kenyataan itu sungguh bahagia sekali. Di dalam hati terdetik rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang besar ini.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebab, kalau saya pikir-pikir saya kawaing memang untuk mendapatkan teman yang bisa memabntu saya dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan itu memang tujuan perkawinan bagi saya, pandangan ini mungkin agak berbeda dari pamdangan banyak orang. Namun saya melihat bahwa tujuan inilah yang benar karena kalau kita melihat rasulullah saw begitu memang cara kawinnya, didalam sejarah belum pernah disebutkan bahwa beliau kawin unutk keperntingan hawa nafsu. Toh sekalipun pada kenyataannya istri rasulullah berjumlah Sembilan namun tak satupun yang beliau kawin atas dorongan kepentingan pribadi. Sebut saja misalnya beliau kawin dengan Khadijah, kepentingannya bukan apa-apa, melainkan karena Khadijah adalah anak bangsawan yang terhormat, sehingga dengan demikian ia bisa menjaga keamanan Rasulullah dalam berdakwah, begitu juga beliau kawin dengan Aisyah, Hafshah dan seterusnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya Alhamdulillah mendapatkan seorang istri yang agaknya dan mudah-mudahan bisa memenuhi tujuan yang saya inginkan, dan saya benar-benar tersentuh oleh ketaatannya tiu. Tidak itu saja, saya juga secara perlahan merasa terbimbing kepada hal-hal yang lebih baik dan lebih meningkatkan keimanan. Satu hal misalnya, kalau saya dulunya jarang bangun untuk melaksanakan sholat malam, sekarang bisa dikatakan sering dan bahkan mungkin hampir tiap malam. Ini jelas suatu kemajuan, lebih-lebihbyang namanya shalat jama’ah di Masjid itu tidak perlu ditanyakan lagi. Dan ini bukan sombong lho, tetapi dalam rangkan mengungkan nikmat Allah. Sebab Allah dalam Al-Qur’an memerintahkan kepada kita, agar kita tidak segan-seagn menceritakan nikmat yang telah kita terima <em>wa’amma bini’mati rabika ahaddits <a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebelum subuh, istri saya bangun untuk sahur. Setelah itu ia shalat malam, dilanjutkan dengan mengaji Al-Qur’an sampai terbit fajar. Ketika adzan terdengar, saya segera berangkat ke Masjid,d isana saya sembahyang subuh berjama’ah, sementara istri saya sembahyang sendirian dirumah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Siang harinya istri saya, seperti biasanya kalau ia berpuasa, ia tidak bisa ngapa-ngapain. Pandangannya sayu, tubuhnya Nampak tak bertenaga kelihatannya mau tiduran saja. Tak ada yang bisa ia lakukan, kalaupun ia berusaha untuk baca buku, tapi itupun tidak langsung lama. Mungkin hanya seperempat jam, setelah itu ia tidur, saya tersenyum saja melihat istri saya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setelah ia bangun, saya mencoba menggodanya :</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Mama” kata saya “Kayfa hal<a href="#_ftn2">[2]</a> mama?” saya tersenyum dan mendekatinya. “Kucing juga bisa berpuasa, kalau tidur melulu”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ah papa” kata istri saya sambil menggeliatkan tubuhnya “papa godain mama terus sih, tidur kan ibadah pa saat kita puasa”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ibadah sih ibadah ma, tapi kalau kebanyakan tidurnya “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya, mama abru sepuluh menit pa tidur”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Sepuluh menit apaan ma, diam-diam mama meniru Ash-habul kahfi ya, yang mereka tidur tiga&nbsp; ratus lima puluh tahun. Namun mengakui nya sehari atau setengah hari saja”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Iya dong sekali-kali”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tapi jangan diterusin lagi ma, sekarang sudah hampir buka nih”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Masak ah pa”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Lihat jam nay dong!”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya segera melihat jam, ternyata waktu sudah menghampiri Maghrib, ia segera bangun dan shalat Ashar, setelah itu ia segera masuk dapur. Dilihatnya dapur kosong, tidak ada yang bisa dimasak.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Pa, kita mau buka apaa pa?” katanya sambil tergesa-gesa</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Memagnya kenapa ma?” kaat saya</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Dapurnya lagi sepi nih”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Wah, kalau begitu bagaimana kita ngerjain Kak Hikmah, kita ziarah ke sana, sekaligus kita minta buka disana”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Kalau kita restoran? Gimana menurut papa?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Restoran jauh am, lagian kita massih boke nih”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Okelah, mama setuju”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Akhirnya kami segera berangkat ke rumah Kak Hikmah, kakak kandung istri saya. Dan Alhamdulillah, ketepatan mereka lagi masak untuk makan malam. Maka pas lah rencana yang kami inginkan, selesai kami buka, kami ngobrol disana sampaui larut malam. Setelah itu kami pulang kerumah, ditengah jalan raya saya bertanya kepada istri saya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Mama” kata saya “apa yang mama arsakan dari puasa hari ini?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya Alhamdulillah mama merasa lebih tenang” jawabnya</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Lebih tenang gimana ma?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya, puasa kan sebenarnya adalah ibadah untuk mendidik hati kita, yaitu bagaimana supaya hati kita selalu jujur, bersih, bebas daris egala penyakit yang mengotorinya seperti dengki, hasud, dan lain sebagainya. Nah kalau kita terus menerus berpuasa, kan otomatis penyakit itu akan hilang, dan kalau penyakit itu hilang kita pasti akan tenang. Karenanya Allah mengisyaratkan bahwa tujuan puasa itu adalah untuk mencapai titik takwa. Itu apa rahasianya pa? itu tak lain karena hakikat terdalam dari ketakwaan, adalah ketenangan sang hamba. Begitu kan pa?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “mengapa begitu ma?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Kan memang demikian pa, artinya ketika seorang hamba telah mencapai titik takwa, ia ebrarti dekat kepada Allah, dan kalau ia dekat kepada Allah, ia otomatis akan tenang. Mengapa tidak pa, wong seorang yang edkat dengan presiden saja, ia merasa tenang kok dari berbagai ancaman polisi dan lain-lainnya. Nah, kita bisa bayangkan bagaimana kalau kita dekat degan Dzat yang menciptakan presiden itu, maka tentu lebih tenang. Dan tentu pula ketenangan ini lebih abadi”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Wah, diam-diam mama berfilsafat nih yee”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Iya dong”</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Artinya dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaknya kamu seanntiasa menyebutnya ( Q.s Adh-Dhuha 11 )</p>



<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Dikutip dari ungkapan Bahasa arab yang artinya : “apa kabar”</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpuasa%2F&amp;linkname=Puasa" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpuasa%2F&amp;linkname=Puasa" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpuasa%2F&amp;linkname=Puasa" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpuasa%2F&amp;linkname=Puasa" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Populer</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/populer/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 03:20:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1569</guid>

					<description><![CDATA[Populer amirfath.com, Cerpen (21), Des 2020 &#8211; Di dorong oleh cita-cita ingin populer, kawan istri saya itu berlagak yang aneh-aneh. Kemarin ia menulis artikel di majalah kampus, isinya menjelek-jelekkan ulama yang sudah jelas tak terbantah pengabdiannya kepada Islam. Hari sebelumnya, ia menentang islam dianggapannya islam itu agama yang terlalu mengikat kaum wanita. Masak dunia waniat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Populer</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(21), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> Di dorong oleh cita-cita ingin populer, kawan istri saya itu berlagak yang aneh-aneh. Kemarin ia menulis artikel di majalah kampus, isinya menjelek-jelekkan ulama yang sudah jelas tak terbantah pengabdiannya kepada Islam. Hari sebelumnya, ia menentang islam dianggapannya islam itu agama yang terlalu mengikat kaum wanita. Masak dunia waniat dibatasi katanya, ini kan melecehkan martabat kaum hawa. Ocehanya lebih lanjut, belum lagi sifat lainnya, sebelum itu ia menolak hadits-hadits yang sudah jelas shahih, dipandangnya hadits-hadits tersebut, terlalu mengucilkan kaum wanita, anehlah pokoknya. Hari ini lain lagi yang ia lakukan, ia menunjukkan artikelnya yang dimuat disebuah koran kepada orang-orang.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lebih aneh lagi, ia mempunyai ego yang tinggi. Ia tidak suka menerima nasihat atau pendapat orang lain, pernah suatu hari kakaknya diminta untuk menegurnya, ia malah ngambek. Ia tidak suka lagi datang kerumah kakaknya, dan kalau kakaknya memberikan pandangan dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an, atau perkataan para ulama yang shaleh, ia menolak semua itu dengan pendapat orang-orang yang tidak jelas surganya, seperti plato. Artistotelis dan lain sebagainya. &nbsp;</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Anehnya, ia mengaku muslimah. Tapi akhlaknya lebih buruk dari orang-orang yang tidak suka kepada Islam, lihat saja sikapnya ketika orangtuanya mengasi pandangan-pandangan untuk kemashlahatan dia di masa depan. Apa yang ia perbuat, ia malah tidak menghiraukan pandangan orangtuanya dengan sikap yang tidak sewajrnya di lakukan seorang anak. Lebih-lebih ia seorang wanita.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apa yang ia inginkan, kawan-kawannya bertanya-tanya kalau ingin populer, masak begitu caranya. Dr, Yusuf Al-Qardhawi populer, tapi ia tidak bersikap seaneh itu. Da kalau ia menginginkan contoh dari sorang wanita, lihat saja Zainab Al-Ghazali, ia juga populer. Tapi caranya yang ia lakukan tidak mengurangi ketaatannya keapda Islam. Wal hasil, rame sekali desas-desus yang muncul dari mulut kawan-kawannya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebagian kawannya menganalisa, bahwa ia mungkin ingin jadi tokoh feminize. Seperti Dr Rifat Hasan, tapi kawannya yang lain lagi segera mengomentari. Masak yang dicontoh orang yang begitu-begitu, ya jelas kalau sikapnya aneh-aneh. Coba, kalau yang dicontoh wanita-wanita shohabiyah. Itukan jelas syurganya, lho wong dia tidak ingin masuk syurga kok. Kata yang lain lagi, dia hanya ingin populer, titik.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Wah, macam-macam ya Pa. manusia?” Komentar istri saya ketika mendengar khusus kawannya itu.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya namanya manusia, ma” jawab saya “kalau enggak macam-macam, ya bukan manusia”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tapi menurut papa, gimana memandang khusus tersebut?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya, kasus itu adalah kasus yang sering terjadi. Dan itu wajar. Hanya tidak wajarnya, kalau itu terjadi pada seorang muslimah, mahasiswi Islam lagi. Ini yang menjadi persoalan”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Persoalannya dimana pa?” Istri saya pura-pura mengejar sepeerti seorang wartawati</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ah, mama kaya enggak tahu aja. Masak seorang yang mengaju Islam, pekerjaannya mempereteli Islam yang ia percayai, itukan aneh ma. Seperti seorang mengaku dirinya manusia tapi sikap-sikapnya seperti binatang, itukan jelas aneh. Oke, bolehlah ia beralasan untuk melakukan pembaharuan dalam Islam, tapi masak cara menghancurakan Islam. Seperti seorang yang ingin beruma tangga, tapi caranya ia memukul istrinya habis-habisan. Masak benar begitu? Ini jelas, merupakan cara yang tidak sesuai, dengan fitrah manusia. Siapapu&nbsp; yang berpikir normal, ia akan menolak cara bersikap semacam ini”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya agaknya mengakui kebernaran apa yangh saya katakana, kepalanya mengangguk-angguk.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Dan masalahnya lagi ma” saya melanjutkan pembicaraan “kalau ia mengaku muslimah, ia berarti dihati kecilnya ada cita-cita ingin masuk syurga. Apalagi ia mengaku bahwa ia ingin berbuat untuk Islam, ia tentu menginginkan kebahagiaan abadi. Dan ini papa yakin, tidak mungkin ia pungkiri sekalipun secara lisan ia bersikap ingkar. Sebab boleh jadi, ia masih dipengaruhi oleh hawa nafsunya. Karena gensi kek atau apa, yang jelas ia tetap mempunyai cita-cita ingin masuk syurga. Nah, sekarang anehnya ia tidak suka meniru kehidupan ahli syurga. Bahkan ia menolak hadits-hadits Rasulullah yang harus ia jadikan panutan, nah kalau begitu Islam seperti apa yang ia inginkan. Memangnya ia menerima wahyu, sehingga sehari-harinya ia menolak hadits-haditslah yang sudah jelas benar kedudukannya”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tapi kalau ia beralasan, bahwa ia berhak untuk memahami dan menafsirkan ayat-ayat sesuai dengan kehendak akalnya. Bagaimana komentar papa?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Wah kayanya mama benar-benar berbakat jadi wartawati, begini ma akal itu kemampuannya terbatas. Apalagi yang akan ditelurusri akal adalah nash-nash yang datangnya dari Allah. Itu tidak membutuhkan sekedar akal. Melainkan harus ada proses sebelumnya, bagaimana mungkin orang-orang yang jauh dari Allah, hisa memahami spirit firman Allah. Bagaimana seorang yang tidak sepernuh ya mentaati Allah, mau menyusun pemahaman dari Firman Allah. Ya, mungkin sih mungkin tapi kemungkinan tidak benarnya, bisa dikatakan seratus persen. Seperti seorang yang tidak pernah belajar berenang, kemudian ia memberanikan diri melompat dengan tangan kosong ke dalam lautan, tentu dong tenggelam. Nah, disini begitu juga masalahnya, dan itu baru lautan. Sekarang bagaimana kalau lautan itu adalah lautan Al-Qur’an, tentu sangat membutuhkan proses yang panjang, lihat saja bagaimana para mujtahid agung, seperti Imam Abu Hanifa, Imam Maliki, Imam Hambali, dan Imam Syafi’i. pelajari coba riwayat hidupnya, kita pasti akan menyaksikan bahwa mereka tidak sekedar mengandalkan kemampuan akal. Melainkan meraka sungguh mempunyai tingakt ketakwaan yang tinggi. Jauh lebiih tinggi dari kemampuan akalnya, lain dengan orang-orang sekarang ma. Baru saja menulis satu artikel,a tau sebuah bukum sduah mengaku oemikir. Mengaku pembaharu lagi, pemikiran dan pembaharuan apapun itu. Memangnya membaharui kehidupan hanya cukup dengan artikel, kalau begitu Rasululalh ngapain capek-capek berjihad. Artikel itu hanya satu cara terkecil untuk berdakwah,d an bukan satu-satunya ada yang paling pokok dari semua cara itu. Ialah revolusi akhlak dan disinilah rahasia keberhasilan dakwah Rasulullah”</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpopuler%2F&amp;linkname=Populer" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpopuler%2F&amp;linkname=Populer" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpopuler%2F&amp;linkname=Populer" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpopuler%2F&amp;linkname=Populer" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perempuan</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/perempuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 03:19:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1567</guid>

					<description><![CDATA[Perempuan amirfath.com, Cerpen (20), Des 2020 &#8211; “Perempuan lagi, perempuan lagi” istri saya bergumam. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Sehabis ia membaca koran, majalah dan jurnal, ternyata yang paling berkesan bagi istri saya itu adalah masalah perempuan. Sebab katanya hampir setiap halaman selalu masalah perempuan saja yang di bicarakan. Tak ada habis-habisnya, memangnya mau diapain siih perempuan ini? Katanya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Perempuan</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(20), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> “Perempuan lagi, perempuan lagi” istri saya bergumam.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sehabis ia membaca koran, majalah dan jurnal, ternyata yang paling berkesan bagi istri saya itu adalah masalah perempuan. Sebab katanya hampir setiap halaman selalu masalah perempuan saja yang di bicarakan. Tak ada habis-habisnya, memangnya mau diapain siih perempuan ini? Katanya lebih lanjut.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya melihat sikap istri saya itu cukup terharu. Banyangkan ia sebagai perempuan sudah Nampak bosan mengimuti permasalahan-permasalahan yang menyangkut dirinya. Dan kalau di pikir-pikir benar juga sikap istri saya itu. Sebab rupanya akhir-akhir ini orang membesar-besarkan persoalan apa yang menggerundel di otaknya. Tak perduli apa itu sekedar omong kosong. Yang penting ia keluarkan. Dalam bentuk seminar atau tulisan di majalah-majalah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Akhirnya apa yang disaksikan pembaca. Ya, mereka malah semakin bingung. Pemikrian yang mereka bisa ikuti, sebab masing-masing sudah memperkuat pemikiriannya dengan ayat. Dan kalau dilihat dari penulisannya, mereka bukan orang yang ahli dalam soal agama. Mereka rata-rata mempunyai keahlian disiplin ilmu-ilmu social. Hanya saja mereka kemudian mempergunakan keahliannya itu untuk menganalisa hal-hal yang berkaitan dengan agama. Khususnya masalah perempuan, akibatnya, banyak ayat-ayat yang mereka tinjau sudah tidak sesuai dengan kondisi social yang ada. Apalagi hadits Nabi, mereka malah menganggap bahwa hadits-hadits tersebut bagaimanapun sahihnya, masih sangat terbatas pada zaman di mana Rasulullah mengucapkannya. Di sini kelihatan letak samping siurnya persoalan itu. Maka wajar kalau kemudian istri saya kesal. Dan merasa bosan membaca hal-hal yang mereka tulis. Sebab menurutnya, dengan membaca gitu-gituan justru malah semakin bingung.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Belum lagi kalau melihat perilaku penulisnya. Mereka berbicara perempuan dalam Islam. Tetapi ia sebagai perempuan tidak memakai jilbab. Anehkan? Ya, perempuan muslimah model apa yang ia inginkan, kalau masalah jilbab yang sudah jelas tidak ada khilaf, ia tinggalkan? Mau perempuan model barat? Ya, kalau maunya seperti itu, tak perlu mengutip ayat sebagai dalil. Sebab orang barat itu tidak pernah berpikir untuk mengikuti pereintah Al-Qur’an.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tapi pa, memang kalau mengikuti pemikrian mereka itu justru mama semakin bingung” kata istri saya sambil merapikan majalah yang sudah ia baca.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Engga bingung bagaimana ma. Wong mereka berbicara judulnya saja Islam, tapi mereka tidak paham apa itu Islam” jawab saya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lho kalau mereka enggak mengerti Islam, mengapa bisa menulis tentang Islam?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya, menulis sih menulis. Tapi yang ditulis apa? Tujuan yang ingin dicapai dari tulisannya pun apa? Cara menafsirkan ayat juga bagaimana? Lihat saja bagaimana mereka berdalil dengan ayat-ayat itu? Mama tahu kan? Ayat-ayat itu mereka bawa ke mana-mana. Enggak ketahuan lagi apa yang sebenarnya dari konteks ayat tersebut. Jadi ketahuan lagi yang sebenarnya kita baca dari tulisan-tulisan mereka itu bukan lagi pemahaman ayat dan nash hadits. Melainkan penyelewengan terhadap makna ayat yang sebenernya. Maka wajar kalau mama semakin bingung. Sebab ayat yang mereka kutip itu hanya sebagai cover. Selebihnya adalah pergulatan otak mereka yang bingung. Nah karena mereka bingung, tulisannya pun ikut bingung. Akibatnya pembaca semakin bingung, disini ma rahasia mengapa para ulama kalau mau menafsirkan satu ayat saja, senantiasa mencuci rohani mereka terlebih dahulu. Mereka shalat dulu, setelah itu mereka membersihkan segala kemungkinan hawa nafsu yang kira-kira bisa mempengaruhi penafsirannya. Baru kemudian mereka memulai menafsirkannya. Itupun tidak sekedar menafsirkannya. Mereka masih berguru sana-sini, guru mereka pun tidak sekedar guru. Melainkan mereka juga mempertimbangkan tingkat keshalehannya. Begitu tradisi yang berlangsung di tengah-tengah ulama kita. Karena kalau kit abaca buku-buku mereka isinya benar-benar ilmu. Bukan semata khayalan, bukan perkira-perkiraan”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tapi Pa, apa yang membuat orang-orang sekarang kurang bersemangat untuk mengambil pendapat para ulama itu, alasannya karena para ulama itu bukan maksum. Beberapa pendapat yang mereka lontarkan juga kadang tidak benar, bagaimana itu Pa?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Mereka tidak maksum, itu benar. Mereka pernah bersalah dalam berpendapat juga benar, tapi masak lantas karena kesalahan yang sedikit itu, kita lempat pendapat-pendapat mereka yang sudah mereka sepakati. Sebab ma, masalahnya begini di dalam Islam ada hal-hal yang bisa berubah sesuai dengan kondisi dan tempat yang sedang dihadapai. Pun ada hal-hal yang sudah paten, tidak bisa berubah-ubah. Bagaimanapun keadaannya. Seperti masalah Jilbab, tidak lantas karena sekarang banyak wanita yang tidak memakai jilbab, kemudian hukum jilbab itu menjadi mubah. Tidak demikian berfikir kita, sebab kalau begitu terus-menerus lama Islam yang kita anut ini menjadi habis. Dan agaknya sekarang-seakrang ini mereka telah melakukan upaya untuk ke sana”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Maksudnya gimana pa?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya, lihat saja. Mereka mulai mengotak-ngatik masalah perempuan, temanya sih boleh saja yaitu bagaimana Islam meletakkan makhluk yang berenama perempuan ini. Tapi ketika kita melihat isinya, ternyata mereka ingin menghantam Islam. Dipandangnya bahwa Islam terlalu mengirat terhadap perempuan, padahal kalau mereka benar-benar mempelajari bagaimana Islam menyikapi perempuan, sungguh mereka akan kagum. Mereka akan tahu bahwa sebenarnya dalam Islam laki-laki dan perempuan itu sama derajatnya sebagai hamba Allah. Yang berbeda hanya fungsinya, sebab dengan demikian akan terjadi kerja sama yang seimbang. Dan ini benar memperlihatkan keadilan Allah. Sebab ternyata masing-masing itu sama-sama besar dan menuntut perngorbanan yang maksmimal. Dan seandainya kaum perempuan benar-benar mau menyasari akan fungsinya ini, niscaya dua puluh empat jam sehari semalam, tidak ada kesempatan untuk beristirahat. Barang sedikitpun, nah disini mama sekarang orang sering salah paham. Jadi persoalannya bukan terletak pada ajaran Islam, melainkan mereka sendiri yang membuat bingung. Sebab kuncinya, adalah mereka mau enggak melaksanakan Islam dengan sebenar-benarnya.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Dan kalau papa ditanya, apa sih fungsi-fungsi perempuan yang papa pandang besar itu?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ya, fungsi itu sesuai dengan kondisi dan fitrah keperempuanan yang mereka miliki. Seperti fungsi sebagai Ibu, sebagai istri, sebagai pribadi muslimah, sebagai hamba Allah, sebagai da’iyah dan lain sebagainya. Dan soal menyrobot sana sini, seperti merebut posisi kekuasaan politik, bekerja di kantor sebagai karier, itu sebenarnya termasuk dalam fungsi laki-laki. Sebab kalau itu sudah diserobot kaum perempuan, bahaya yang akan terjadi lebih besar. Sebut saja misalnya pertama, siapa yang akan mendidik anak-anak di rumah? Kalau itu bisa dijawab dengan cara mengundang guru privat atau bisa dikasihkan pembantu, berearti sautu saat kelak, generasi yang akan memenuhi negeri ini bukan generasi kaum ibu. Melainkan generasi pembantu. Mama bisa membayangkan bagaimana wajah generasi pembantu itu. Kedua, ini akibat dari yang tadi telah di sebutkan itu, yaitu kalau anak-anak sudah ditangani pembantu, berarli lama-lama hubungan anak dengan orang tua akan terputus. Kalau sudah terputus, besar kemungkinan akan lahir anak-anak durhaka terhadap orang tuanya. Dan begini memang apa yang sekarang diderita orang Barat. Mereka tak lagi mereka ada semacam, ikatan spiritual antara mereka dengan ayah-ibu mereka. Jadinya, mreka bersikap biasa-biasa saja, ketika ayah-ibu mereka di serahkan ke lembaga-lembaga jompo. Besarkan ma bahayanya? Okelah untuk sementara ini mereka belum rasakan. Tapi lama-lama akan terasa juga. Masak sih mereka tidak mau belajar dari kegagalan orang-orang barat? Eh , anehnya mereka malah ingin meniru-niru kegagalan itu? Sungguh itu suatu tindakan yang bodoh”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Apalagi bahaya nya pah?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ada, tapi ini dari segi social. Coba mama lihat ketika kaum perempuan itu merebut fungsi kaum laki-laki. Apa yang terjadi? Di mana-mana mama melihat kaum wanita berjejer dengan laki-laki, bertemu dengan&nbsp; laki-laki. Dan kalau mereka memakai jilbab, itu lumayan. Tapi, malah semakin banyak bertemu, kaum perempuan itu semakin pamir. Yang dipamirkan aurat lagi, akibatnya apa? Itulah seperti yang sering mama baca dan dengar. Di mana-mana, dikantor-kantor, di tempat kerja kaum perempuan itu, sering disebut apa yang disebut dengan kecelakaan seksual. Begitu bukan? Belum lagi masalah ikhtilat. Belum lagi masalah keharmunisan dengan suami berkurang, dan lain sebagainya. Coba, gerakan perempuan seperti apa yang mereka inginkan?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Gerakan pembinatangan kali pa?”</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fperempuan%2F&amp;linkname=Perempuan" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fperempuan%2F&amp;linkname=Perempuan" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fperempuan%2F&amp;linkname=Perempuan" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fperempuan%2F&amp;linkname=Perempuan" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembantu</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/pembantu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 03:18:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1565</guid>

					<description><![CDATA[Pembantu amirfath.com, Cerpen (19), Des 2020 &#8211; Omong punya omong ternyata masalah pembantu akhir-akhir ini termasuk masalah yang serius di sekitar kawan-kawan saya. Ya, seriusnya macam-macam, ada yang mengeluh karena pingin pembantu. Ada yang merasa tidak puas dengan pembantunya, dan ada yang tidak mampu mengaji pembantunya. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Sementara program kuliah bagi kami pelajar, harus berjalan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Pembantu</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(19), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> Omong punya omong ternyata masalah pembantu akhir-akhir ini termasuk masalah yang serius di sekitar kawan-kawan saya. Ya, seriusnya macam-macam, ada yang mengeluh karena pingin pembantu. Ada yang merasa tidak puas dengan pembantunya, dan ada yang tidak mampu mengaji pembantunya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sementara program kuliah bagi kami pelajar, harus berjalan terus. Dan disaat yang sama urusan rumah dari yang berkaitan dengan masalah dapur sampai masalah anak, itu juga harus ada yang mengurus. Maka boleh dikatakan hal yang satu ini sudah menjadi keharusan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Salah seorang kawan saya, pernah mencoba mengambil pembantu dari orang asing, karena ketepatan ia lagi belajar di Pakistan. Tapi ada ceritanya, ia merasa tidak cocok. Macam-macam deh alasannya. Yang jelas sekarang dia sedang mencari seorang pembantu dari negeri sendiri. Indonesia.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kawan saya yang lain lagi, punya pembantu dari Indonesia. Tapi agaknya dia terlalu ketat menyikapi pembantunya, mungkin dalam pemahaman dia, seorang pembantu itu derajat kemanusiaannya lebih rendah. Dikontrol sedetail-detailnya, di curigai, di periksa segala hak miliknya, dicari-cari kesalahannya. Wah, pokoknya tidak ada yang benar dari segala apa yang ia lakukan. Akibatnya, kawan saya ini bingung sendiri, setiap masuk rumah ia merasa sumpek setiap kali bertemu dengan pembantunya itu.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dan anehnya, kalau anaknya menangis pembantunya yang dimarahi. Padahal memang tabiat anak kecil menangis, lebih aneh lagi pembantunya itu sering dilarang masak, nyuci pakaiaan dan lain sebagainya. Sementara itu semua adalah pekerjaannya. Akibatnya pembantunya ini bingung, mau ngapain ia dirumah. Mau tidur tidak enak, mau makan juga tidak enak, dan sungguh ia mereasa tersiksa. Perasaannya terenyuh, bagai ditusuk-tusuk tak terpikirkan seperti yang ia ceritakan kepada istri saya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya kadang tidak mengerti terhadap sikap kawan yang satu ini. Mengapa ia bersikap demikian? Padahal kalau ia mau menganggap pembantu itu sebagai keluarga sendiri. justru akan mengangkat derajatnya. Dan memangnya demikian Islam mengajarkan, pernah suatu hari sahabat Anas bin Malik bercerita tentang bagaimana sikap Rasulullah selama ia menjadi pembanu beliau. Anas menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah sedikitpun menyakiti, atau menyinggung hatinya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sungguh saya tidak habis pikir, mengapa justru yang bersikap demikian ini adalah orang Islam. Mereka sholatnya baik, puasanya juga dijalani bahkan hajinya pun tak ketinggalan. Tapi masih saja terperangkap dalam berbagai hal yang sebenarnya tidak mencerminkan kesempurnaan semua ibadah itu.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apalagi kalau saya membaca berita-berita surat kabar. Di sana ternyata tidak sedikit cerota-cerita mengenai bagaimana penderitaan seorang pembantu. Sebut saja misalnya, para pembantu yang dikirim dari Indonesia ke Saudi Arabia. Lebih khusus lagi ke Makkah, di samping Ka’bah lagi. Apa kata berita itu, sungguh sangat menyedihkan. Sebagian dari mereka ada yang diperkosa secara paksa. Sebagian yang lain ada yang sengaja di siksa. Tidak dikasih gajinya, tidak diperbolehkan melihat dunia yang luas ini. Sebagian yang lain ada yang diam-diam melarikan diri. Dan minta tolong ke perwakilan Indonesia disana, untuk segera di pulangkan kekampungnya. Sebagian yang lain ada yang tidak mendapatkan pintu untuk lari, akhirnya ia terpaksa melompat jendela dan meninggal dunia.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ya, apa boleh buat. Sebab ternyata umat Islam masih banyak yang belum memahami Islam sempurna, mereka masih paham bahwa Islam itu hanya Sholat, puas, zakat dan haji, titik. Tidak ada lagi, dan kalau mereka telah melaksanakan semua itu, dianggapnya telah sempurna Islamnya. Terserah, ia mau berzina, mencuri, korupsi, menyakiti orang lain, dan lain sebagainya. Ini sungguh pemahaman yang keliru, karena dibalik ibadah itu semua masih ada yang namanya akhlaq mulia. Dan itu malah justru yang menjadi tujuan dari disyariatkannya ibadah-ibadah tersebut.</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpembantu%2F&amp;linkname=Pembantu" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpembantu%2F&amp;linkname=Pembantu" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpembantu%2F&amp;linkname=Pembantu" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fpembantu%2F&amp;linkname=Pembantu" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ujian</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/ujian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 03:16:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1563</guid>

					<description><![CDATA[Ujian amirfath.com, Cerpen (18), Des 2020 &#8211; Istri saya hari ini mempunyai ujian. Sejak hari-hari kemarin saya melihatnya sebuk sekali. Kesana kemari ia membawa buku. Siang hari, baisanya ia istirahat, saat itu ia gelisah, pandangannya melotot saja kea tap. Seperti ada yang dipikirkan. Seperti ada pekerjaan yang belum selesai. Ia tidak bias tidur. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Melihat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Ujian</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(18), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> Istri saya hari ini mempunyai ujian. Sejak hari-hari kemarin saya melihatnya sebuk sekali. Kesana kemari ia membawa buku. Siang hari, baisanya ia istirahat, saat itu ia gelisah, pandangannya melotot saja kea tap. Seperti ada yang dipikirkan. Seperti ada pekerjaan yang belum selesai. Ia tidak bias tidur.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melihat gelagat itu, saya segera menyapa, “ Apa yang dioikirkan saying ? “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ia tidak menjawab pertanyaan saya. Ia hanya melihat saya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya kemudian segera melemparkan sebuah usulan, “ Mama.. mama saying “, saya ngusap-ngusap keningnya, “ kalau memang tidak bias tidur, mama sebaiknya mandi saja. Mama mungkin kecapean karena panas. Atau mama mungkin tegang karena besok ujian. Kalau begitu mama sebaiknya membaca pelajaran yang belum mama siapkan. Dan nanti jika ngantuk, tidur saja. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mama tidak mau mandi pa “, jawabnya. “ mama takut sakit. Mama sekarang pingin bicara saja. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ia kemudian meraih kertas catatannya. Sambal tiduran ia berusaha untuk bias menguasai materi yang akan diuji besok pagi. Saya pun ikut tegang. Karena saya memahami bahwa kondiri psikologis istri saya, saat-saat hendak menjalani ujian, sangat sensitive. Syaa tidak boleh mengganggunya sedikitpun. Saya tidak boleh menyentuh perasannya dengan hal-hal apapun. Segala urusan dapur untuk selama itu, terpaksa harus saya tangani sendiri. Namun –Alhamdulillah- setiap kali saya meyodorkan masakan yang asal jadi, istri saya menikmatinya dengan ceria. Saya bahagia sekali.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tapi dalam diri saya, masih saja muncul raca curiga. Semacam piiran bahwa istri saya itu hanya pura-pura makan, untuk sekedar memuaskan hati saya. Padahal ia tidak merasa nikmat ketika makan masakan saya. Maka saya yakin bahwa ia masih belum kenyang. Saya yakin bahwa ia diam-diam masih menyimpan rasa lapar. Akhirnya sya mencari jalan keluar, bagaimana supaya iabelajar sambal ngemil-ngemil, makan makanan ringan mengerjakan sesuatu. Saya segera berangkat ke market terdekat. Di sana saya mencari makanan ringan kesukannya. Saya membeli “ Crisp “ makanan yang terbuat dari kentang goring, yang selalu ia nikamti setiap ia membaca buku. Untuk buah-buahan yang ia sukai saya membeli pisang dan anggur. Seperti untuk sarapan besok pagi sebelum ia berangkat ujian, saya membeli “ Cron Flaks “ bahan makanan yang terbuat dari jagung. Kemudian untuk selingan nanti saat menjawab soal-soal ujian, saya membeli manisan penyegar “ Menthol “.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melihat sikap saya yang demikian itu, istri saya menaruh curiga.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Papa kok lain hari ini ? “ katanya “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ya dong. Mama besok kana da ujian. Mama harus segar. Mama harus makan enak. Biar miskin asal puas ma.. “ uajr saya samil meijet-mijet tubuhnya yang letih.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Papa tidak cape ya ? “ Ia segera mengalihkan pembicaraan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ah, mama kaya tidak tahu aja. Cape itu tidak terasa ma, kalau dibarangi rasa ikhlas. Dalam pekerjaan apa saja. Apalagi pekerjaan yang berkenaan dengan kewajiaban keluarga. Makannya dalam menuntut ilmu kita harus ikhlas. Bukan belajar karena ujian. Dengan demilian kita tidak akan merasa capek. Kita lihat bagaimana para ulama terdahulu mencari ilmu. Mereka sungguh menderita. Sehingga mereka ada yang berangkat dari kota Madinah ke Messir, dengan kendaraan yang sederhana sekali, yang&nbsp; menelan waktu berhari-hari, hanya untuk mengecek kebenaran sebuah hadits. Lain lagi cerita Imam Bukhuri, bagaimana capeknya beliau ketika pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengumpulkan hadits-hadits sahih. Semuanya butuh tenaga. Semuanya butuh pengorbanan. Yang kalau kita tidak menjalaninya dengan ikhlas kita akan rugi dua kali. Di bunia hanya dapat capeknya, diakhirat tidak mendapat pahala apa-apa”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya terdiam. Ia seakan merenungi pembicaraan saya itu. Saya terus saja memijat-mijat tubuhnya “.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mama tidak usah tegang karena ujian. “ Sambung saya lagi. “ Ini baru ujian dunia mma.. Artinya mama menjalaninya sengan bias-bisa saja. Tidak usah terlalu ngebet. Agar tidak tegang. Ya, kalau dapat ekselen Alhamdulillah kita syukuri. Kalau tidak ya, kita sabar. Kita ulangi lagi. Sebab dunia itu bukan final. Melainkan ia hanya proses menuju kesempurnaan yang hakiki. Dan dengan kesadaran yang demikian kita tidak akan terlalu bangga dengan segala apa yang kita peroleh di dunia. Sebab kita tahu bahwa semuanya itu adalah tanggung jawab. Dan kita kelak pasti akan mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah di hari kiamat. Karenanya, mari kita menjalani segala sesuatunya dengan tenang. Bijak. Dan penuh kesungguhan. Itu saja sebenarnya konsep bagaimana menjalani dunia”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya agaknya mulai menerima pandangan-pandangan yang saya lemparkan itu. Ia muali bersikap tenang. Catatnnya ia mulai baca kembali dengan konsentrasi. Saya gembira sekali melihat perubahan itu. Saya biarkan ia belajar sampai menjelang tengah malam. Keesokan harinya, selesai sholat subuh, ia belajar lagi. Dan saya menyiapkan sarapan pagi. Seusai sarapan saya menemaninya menuju tempat jemputan bis universitas dan saya hanya bias berdo’a “ Semoga Allah membuka hatinya, membuka pikirannya, dan mengkaruniani taufiq kepadanya dengan kesuksesan yang gemilang. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fujian%2F&amp;linkname=Ujian" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fujian%2F&amp;linkname=Ujian" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fujian%2F&amp;linkname=Ujian" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fujian%2F&amp;linkname=Ujian" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Operasi</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/operasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 03:15:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1561</guid>

					<description><![CDATA[Operasi amirfath.com, Cerpen (17), Des 2020 &#8211; Ujian datang lagi dari Allah untuk istri saya, beberapa bulan lalu Allah telah mengujinya dengan keguguran. setelah itu rasa pusing dan sakit perut selalu datang. Kali ini lain lagi, dokter menentukan agar istri saya dioprasi karena infeksi darah “ bertholin “. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; “ Operasi ? “ saya bertanya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Operasi</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(17), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> Ujian datang lagi dari Allah untuk istri saya, beberapa bulan lalu Allah telah mengujinya dengan keguguran. setelah itu rasa pusing dan sakit perut selalu datang. Kali ini lain lagi, dokter menentukan agar istri saya dioprasi karena infeksi darah “ bertholin “.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Operasi ? “ saya bertanya kepada dokter .</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ya, “ Jawab dokter dengan tenang.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya terdiam sejenak. Istri saya segera saya bawa ke luar. Di halaa rumah sakit kami berunding. Mempertimbangkan keputusan sang dokter. Istri saya agak pucat. Saya coba menenangkannya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mama “ kata saya, “ mama tenang saj ya, kita terima semua apa yang ditakdirkan Allah kita dengan lapang dada. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya masih saja terdiam saya memandang bangunan rumah sakit itu seakan menakutkan. “Navy Hospital” begitu sebutan yang terkenal dari rumah sakit itu. Dalam pikiran saya terbayang sebuah rumah sakit, yang dulu pernah mengoprasi ibu saya. Waktu itu saya masih kevil. Saya tidak mengerti apa-apa. Saya melihat ayah, kakek dan nenek tertegun. Wajah mereka tegang. Sedikit demi sedikit, air mata nya menetes. Sementara saya bermain-main di taman rumah sakit itu. Saya tidak tahu kalau ternyata saat itu sedang berlangsung sebuah operasi untuk ibu saya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sekarang saya sedang di tanah rantau. Jauh ayah, jauh ibu. Saya hanya berdua dengan istri saya. Keputusan dokter tidak bias tidak harus saya jalani.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mama, “ kata saya lagi, “ mama sabar ya. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ya pa, “ jawabnya, “ mama harus menerima takdir ini dengan pasrah dan sabar. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mama, “ saya berusaha untuk menghiburnya, “ kalau kita pikir-pikir, kita masih ringan ma, disbanding ujian yang diderita orang itu. “ Saya menunjuk kea rah seorang pasien yang sedang digotong. Kedua tangannya habis diamputasi. Karena hangus akibat setruman listrik yang demikian dahsyatnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya sejenak menarik nafas. Pandangannya terpaku pada pasien yang sedang dirangkul itu. Nampaknya ia mulai berubah. Wajahnya yang tadi agak pucat sekarang sudah agak tenang.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mama, “ kata saya lebih lanjut, “ sebenarnya penyakit yang diderita seseorang itu ma, merupakan ujian dari Allah. Maka kalau seorang itu adalah orang yang saleh, penyakit yang ia derita merupakan bukti kecintaan Allah kepadanya. Dan begitu memang apa yang terdapat dalam sebuah riwayat. Disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa kalau Allah cinta pada seorang hamba-Nya. Ia langsung memerintahkan mulai katanya, untuk menguji sang hamba yang dicintai itu. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya nampaknya semakin tegang. Wajahnya semakin terlihat ceria. Ia seakan siap menerima kenyataan. Apapun yang terjadi.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Dan lagi ma, “ sambung saya, “ Rasulullah bersabda, bahwa penyakit yang mama derita itu, akan mencuci dosa-dosa yang pernah mama lakukan. Karenanya, kita menjenguk orang sakit, kita disunnahkan mengucapkan kepada pasien “ thahuur “. Artinya semoga allah mensucikan dosa-dosamu. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ oh, begitu ya pa ? “ kata istri saya “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ya, bagitu memang Islam mengajarkan ini kepada kita. Karenanya ma, kalau kita membaca cerita-cerita para sahabat, kita banyak tahu bahwa mereka berlomba-lomba untuk menerima ujian semacam ini. Sebab bagi mereka, ujian penyakit ini adalah tanda dari hakikat iman yang mereka miliki. Coba mama simak cerita ini : pernah suatu hari seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW. Sahabat ini tiba-tiba menangis di hadapan beliau. Ketika di tanya oleh Rasulullah, ia menjawab bahwa ia ragu atas keiman yang selama ini ia miliki. Ia bertanya kepada Rasulullah, apakah ia betul-betul muslim atau munafiq. Dan apa yang membuatnya keraguan seperti ini adalah karena selama ia beriman ia belum pernah mendapat ujian dari Allah berupa penyakit. Akhirnya ia bimbang. Karena ia yakin secara mendalam, bahwa Allah pasti mengujinya kalau ia benar-benar beriman.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ O, memang demilian ya pa ? “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Iya. Dan ini baru satu contoh. Di sana banyak lagi contoh-contoh yang lebih menarik. Mama bias baca kisah Khalid bin Walid. Suatu hari ia mau menceraikan istrinya karena sang istri tidak pernah sakit. Alasannya, karena si Khalid ragu atas keimanan istrinya. Apakah ia benar-benar mukminah atau bukan. Sebab kalau ia seorang mukminah ia pasti diuji oleh Allah dengan sebuah penyakit. Namun ketika Khalid mengajaknya ke Khalifah Umar, untuk melakukan perceraian, Allah menunjukkan bukti keimanannya. Istri Khalid jatuh. Kakinya kesandung batu. Di sana Khalid baru yakin, bahwa istrinya benar-benar mukminah.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya tersenyum. Wajahnya ceria sekali. Ia seakan tak bimbang lagi menerima kenyataan. Ia ampaknya siap dioprasi. Seperti apa yang telah diputuskan oleh dokter.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di hari itu juga, operasi akan dilaksanakan. Saya melihat istri saya dibawa oleh tim dokter kesebuah ruangan khusus. Saya segera mengikuti dari belakang. Ruangan itu bertangga-tangga. Angker. Tapi bersih. Di sana-sini ada hiasan dinding yang menggambarkan suasana kerjaan cina pada ratusan tahun yang silam. Gambar-gambar itu sungguh menambah angkernya ruangan yang saya lalui. Belum lagi pakaian para dokter yang putih-putih. Setiap kali mereka lewat di depan saya, mereka seakan menyebarkan bahu obat yang menakutkan. Saya terus memasuki liku-liku yang menuju ke ruangan khusu itu.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika istri saya di bawa masuk, saya ditahan oleh para dokter. Saya diminta untuk menunggu di luar. Saya menunggu sambal membaca Al-Qur’an. Hati saya berdebar-debar. Harap-harap cemas. Tapi saya sudah tawakkal kepada Allah. Saya sudah pasrah dan siap menerima apa yang akan Allah takdirkan kepada saya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setelah empat jam saya menunggu, dokter memberitahukan kepada saya, bahwa operasi telah selesai. Istri saya selamat. Dan ia boleh dibawa pulang. Saya bahagia sekali. Saya bersyukur kepada Allah. Saya segera memasuki ruangan tempat istri saya dioperasi. Begitu saya menemuinya, ia tersenyum. Wajahnya yang ceria, seakan memberikan ucapan selamat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Selamat mama, Alhamdulillah! !” saya membalas isyaratnya itu. Lalu saya membawa pulang.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Foperasi%2F&amp;linkname=Operasi" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Foperasi%2F&amp;linkname=Operasi" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Foperasi%2F&amp;linkname=Operasi" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Foperasi%2F&amp;linkname=Operasi" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Majalah</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/12/23/majalah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 03:14:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=1559</guid>

					<description><![CDATA[Majalah amirfath.com, Cerpen (16), Des 2020 &#8211; Pagi ini istri saya tidak seperti hari-hari lainnya. Ia tiba-tiba menghadirkan setumpuk majalah dan seonggok sarapan di depan saya. Wajahnya ceria sekali. Seakan ada hal baru yang ingin ia sampaikan kepada saya. Saya waktu itu masih agak kecapean. Karenanya saya terus saja berbaring di atas tempat tidur. Namun [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Majalah</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Cerpen <strong>(16), Des 2020 &#8211;</strong></span></strong> Pagi ini istri saya tidak seperti hari-hari lainnya. Ia tiba-tiba menghadirkan setumpuk majalah dan seonggok sarapan di depan saya. Wajahnya ceria sekali. Seakan ada hal baru yang ingin ia sampaikan kepada saya. Saya waktu itu masih agak kecapean. Karenanya saya terus saja berbaring di atas tempat tidur. Namun istri saya tak berhenti-berhenti menggoda saya. Ia mengajak saya untuk segera bangkit. Saya masih saja belum menghiraukan rayuannya itu. Sementara ia menggoda lagi dan menggoda lagi. Akhirnya saya bangun juga. Saya segera mencuci muka dan duduk di dekat sarapan yang telah dipersiapkan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Pa, di majalah ini bagus-bagus deh isinya “, istri saya nyeletuk, sambal menunjukan majalah yang ia bawa.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Tentang apa sih ma ? “ kata saya sambal menikmati sarapan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ini pa, tentang bagaimana penderitaan seorang ibu, ketika suaminya tidak suka membantu menyelesaikan urusan rumah tangga yang bias ia kerjakan. Di sini banyak deh contoh-contoh yang menarik. Diantaranya yang paling menarik adalah dari Rasulullah SAW sendiri. Disebutkan bahwa Rasulullah itu menjahit baju sendiri, memperbaiki sandal sendiri dan lain sebagainya. Sementara sekarang, banyak kan suami-suami yang main lempar saja kepada istrinya. Dan dia tidak tahu-menahu, bagaimana capeknya istrinya, ketika nyuci popok, nasak di dapur, nyuci pakaian, membersihkan kamar dan lain-lainnya. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mama pingin nyinggung papa ya ? “ kata saya bergurau “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ah, papa gimana sih, masa mama nyinggung papa. Papa kan tidak begitu. Papa kan sering membantu urusan-urusan mama di rumah. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya senyum saja. Tapi agaknya istri saya memang berusaha untuk menghibur saya pagi ini. Hanya lebih ilmiyah. Kalau kemarin-kemarinnya, ia memang selalu menghibur saya. Tetapi untuk kali ini, jujur yang ia lakukan lain lagi. Kali ini ia lebih kreatif, lebih menarik dan lebih mengundang perhatian. Mula-mulanya saya biasa-biasa saja. Tapi lama-lama, ketika saya melihat dia begitu semangat membaca artikel demi artikel, akhirnya saya tertarik juga. Saya terkesan dengan caranya yang cukup berfariasi. Kadang ia tertawa geli, kadang ia sedih dan kadang ia tersentuh begitu dalam. Sehingga ia terhendak dan tidak bias memberi komentar apa-apa.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mama, “ saya segera memotong bacannya, “coba deh ceritakan kepada papa, poin mana yang menurut mama paling menyentuh ? “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ini apa, tentang uangkapan Zainab istri Syuriah kepada suaminya di malam pertama, “ jawabnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mengapa ma ? “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Sebab ini merupakan ‘Memorandum Of Understanding’ pa. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Coba deh bacakan. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya langsung membuka halama yang berjudul “ Mengapa Tidak Buat MOU ( Memorndum Of Understanding) ?. “ Disini istri saya berhenti. Lalu membacakan kalimat itu.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang asing bagimu. Karena itu, aku tidak mengenalmu sama sekali. Terangkanlah kepadaku apa yang kamu sukai. Apa yang kamu sukai akan ku laksanakan dan apa yang kamu tidak sukai akan kujauhi.. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ ini memorindumnya pa, “ kata istri saya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Terus bagaiman cerita selanjutnya, setelah Zainab menyatakan memorandum itu ?” kata saya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ya, hasilnya mantap deh pa. dalam cerita itu diungkapkan bahwa Syuraih merasa bahagia. Coba ini mama bacakan bagaimana syuriah merasa bahagia. Coba ini mama bacakan bagaimana Syuriah menuturkan kebahagiannya kepada sahabat-sahabatnya. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Istri saya membaca cerita selanjutnya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Syuraih bercerita kepada sahabt-sahabatnya tentang keistimewahan mendiang istrinya. “ Di mataku hari ini penampilan Zainab sungguh lebih baik dari hari-hari kemarin. Sungguh aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberiku berkah dengan istri yang shalihah. Aku bangga mendapatkannya. Selama hidup bersamanya aku tidak pernah marah. “ Tutur syuraih dengan mata berbinar-binar.”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya terkesan sekali menyimak cerita tersebut. Dan sejenak saya terdiam sambil menyandarkan tubuh ke bantal. Istri saya pun demikian. Saya melihat di pipinya setetes air mata tiba-tiba melompat begitu saja.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Mama, “ Saya mencoba mengganti suasana, “ apa sekarang yang paling mama rasakan setelah membaca cerita itu? “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ini aoa “ kata istri saya, sambil sejenak berfikir.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Apa ?”</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Ya, Semacam kesadaran bahwa selama ini mama masih belum maksimal untuk meniru pribadi seperti Zainab. Artinya mama masih belum ada apa-apanya di bandingkan Zainab “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Nah di sini ma pentingnya bagaimana kita harus meniru hidup para sahabat dan para shahabiyat. Dan untuk ini kita harus selalu membaca cara hidup mereka. Kita membaca dari mana saja yang menceritakan seluk-buluk hidup mereka. Sebab dengan demikian kita akan semakin dekat dengan mereka. Nah kalau kita semakin dekat dengan mereka, kita juga akan semakin dekat dengan Rasulullah. Dan ingat ma, bahwa meniru cara hidup Rasulullah adalah jalan satu-satunya untuk menjadi Ahli Surga. Bukankah kita semua pingin masuk surge. “</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “ Iya, ya pa. “ Istri saya terkagum. Matanya menatap kosong ke luar jendela. Sementara majalah di tangannya masih terus dipegang erat-erat.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fmajalah%2F&amp;linkname=Majalah" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fmajalah%2F&amp;linkname=Majalah" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fmajalah%2F&amp;linkname=Majalah" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F12%2F23%2Fmajalah%2F&amp;linkname=Majalah" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 19/136 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 4/14 queries in 0.007 seconds using Redis

Served from: amirfath.com @ 2025-09-02 17:47:36 by W3 Total Cache
-->