<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ayat-Ayat Sirah &#8211; Dr. Amir Faishol Fath</title>
	<atom:link href="https://amirfath.com/category/ayat-ayat-sirah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://amirfath.com</link>
	<description>Pakar Tafsir Al-Quran &#38; CEO Fath Institute</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Dec 2020 04:52:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.3</generator>
	<item>
		<title>Pelajaran Berharga Dari Peristiwa Uhud</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/11/30/pelajaran-berharga-dari-peristiwa-uhud/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2020 11:04:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ayat-Ayat Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa uhud]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=937</guid>

					<description><![CDATA[Pelajaran Berharga Dari Peristiwa Uhud amirfath.com, Sirah (02), Nov 2020 &#8211;Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud). Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar). Kamy berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (3:165) Ayat di atas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Pelajaran Berharga Dari Peristiwa Uhud</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Sirah <strong>(02), Nov 2020 &#8211;</strong></span></strong><em>Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud). Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar). Kamy berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (3:165)</em></p>



<p>Ayat di atas menggambarkan kondisi umat Islam pada saat mengalami kekalahan perang Uhud. Mereka kehilangan tujuh puluh syuhada, dtambah lagi dengan sejumlah korban luka-luka. Padahal mereka berjuang di jalan Allah. Sementara musuh mereka orang-orang kafir berjuang di jalan syetan. Sebelumnya, pada saat perang Badr, mereka menang, dan bisa menggugurkan tujuh puluh orang, serta bisa menangkap tujuh puluh tawanan dari pasukan kafir. Mengapa kekalahan itu terjadidi Uhud, padahal jumlah mereka di Uhud, padahal jumlah mereka di Uhud lebih banyak dari pada di Badar? Ayat di atas menjawab pertanyaan ini.</p>



<p><strong>Kerapian Sistem “Sunnatullah”</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah swt. Berfirman: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada perang Badar) kamu berkata: dari mana kekalahan ini?” Maksudnya: mengapa kamu mempertanyakan kekalahanmu? Apakah kamu mengira bahwa kamu tidak akan pernah kalah sekalipun kamu lalai akan tugas-tugasmu? Apakah kamu tetap yakin bahwa Allah akan menolongmu, sementara kamu tidak komitmen dengan <em>sunnatullah</em>?&nbsp; Tidak, tidak demikian pemahaman yang harus kamu jalani dalam berjuang di jalan Allah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah swt. Telah meletakkan sisitemNya (baca: <em>sunnatullah</em>) di alam ini dengan sangat rapi. Siapa yang mengikuti sisitem ini dengan baik ia akan berhasil, dan siapa yang mengabaikannya ia akan gagal. Tidak ada langkah dan perbuatan kecuali harus seirama dengan sistem yang sudah ada. Termasuk dalam menjalankan tugas dakwah komitmen ini juga harus selalu dipertahankan, jangan sampai ada langkah apapun yang kemudian menyebabkan hancurnya semua usaha yang telah dibangun. Seorang aktifis dakwah harus selalu menyadari makna ini, karena tidak mustahil sebuah kesalahan kecil yang dianggap remeh, lama kelamaan akan menjadi besar.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ayat di atas setidaknya telah memberikan pelajaran, bahwa para aktifis dakwah harus selalu mempertahankan kualitas amal: amal secara <em>fardiyah</em> maupun amal secara <em>jamaiyah. </em>Menurunnya kualitas amal <em>fardiyah</em> tidak mustahil akan berdampak pada kualitas amal <em>jamaiyah</em>. Dan menurunnya kualitas amal <em>jamiayah</em> sudah barang tentu akan berdampak kepada masyarakat umum secara lebih luas. Dampak tersebut bila sudah terjadi, ia akan menimpa siapapun, tidak pandang bulu. Ayat di atas adalah gambaran kekalahan yang menimpa masyarakat sahabat di dalamnya ada Rasulullah saw.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perhatikan, siapa yang akan mengira bahwa masyarakat sekualitas sahabat dipimpin langsung oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. akan mengalami kekalahan? Tetapi ternyata itu terjadi, hanya karena kelengahan segelintir dari mereka. Lengah terpedaya oleh harta rampasan yang berserakan. Suatu tindakan yang kemudian membuat mereka lalai akan tugas yang harus mereka perjuangkan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seringkali terjadi memang, ketika kemenangan dicapai, orang tertipu dengan keberhasilan. Seakan perjalanan sudah selesai. Sehingga ia tidak hati-hati lagi seperti kehati-hatiannya dulu sebelum kemenangan dicapai. Lebih-lebih ketika harta melimpah seperti yang ditemukan pasukan kaum muslimin di Uhud, mereka seketika tertipu dengan secuil harta yang sebenarnya tidak ada apa-apanya dibanding dengan kenikmatan di surga. Ketertipuan itu membuat mereka lupa kepada pesan pertama Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, agar tetap bertahan pada posisinya sampai ada perintah lebih lanjut. Itulah yang kemudian terjadi, mereka kemudian kalah, buah dari kekalahan yang mereka perbuat. Karenanya Allah menegaskan: <em>qul huwa min indi anfusikum </em>(Katakanlah: “Itu (kesalahan) dirimu sendiri”).</p>



<p><strong>Kesalahan Diri Sendiri</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Firman Allah: <em>qul huwa min indi anfusikum, </em>menegaskan makna yang sangat dalam mengenai beberapa hal: Pertama bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Tidak pernah berbuat dzalim. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi mereka itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri”. (QS. Yunus 10:44).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di ayat lain Allah menceritakan bahwa umat terdahulu pernah diadzab karena perbuatan mereka sendiri: “Maka mereka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS. Al Ankabuut 29:40).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Maka setiap bencana dan malapetaka yang manusia alami asal muasalnya adalah perbuatan manusia itu sendiri: “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah dateng kepada mereka rsul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri (QS. Ar Rum 30:9)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kedua, bahwa setiap musibah yang menimpa manusia, itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Di sini nampak bahwa kualitas pekerjaan apapun sangat ditentukan oleh manusianya. Lebih-lebih bila pekerjaan tersebut tergolong <em>amal dakwah, </em>maka sungguh sangat menuntut keistiqamahan pelakunya dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah. Semakin sungguh-sungguh seorang aktifis dakwah dalam menjalani hakikat kehambaanNya kepada Allah, maka juga akan semakin produktif dakwah yang dijalaninya. Sebaliknya bila seorang aktifis mulai tertipu dengan gemerlap dunia seperti tertipunya pasukan Uhud pada saat menemukan tanda-tanda kemenangan, maka di situlah titik runtuhnya amal dakwah itu akan bermula.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Inilah pengertian dari firmanNya: <em>qul huwa min indi anfusikum. </em>Maksudnya: kegagalan itu dari dirimu sendiri, dirimu yang tertipu dengan gemerlap dunia, sehinggakemudian amal dakwah kau kesampingkan. Maka bila dakwah yang kau lakukan tidak &nbsp;memberikan keberkahan, melainkan malah menyeret fitnah dan kemunkaran itu asal-muasalnya adalah perbuatan pelakunya. Boleh jadi seseorang yang tadinya tulus berdakwah, tetapi kemudian setelah dunia mulai melimpah, ia berubah haluan, dunia malah menjadi tujuan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Orang yang seperti ini akan mendapatkan akibat dari perbuatannya sendiri, di mana akibat tersebut bisa jadi akan menimpa semua orang tak terkecuali, seperti kekalahan yang telah menimpa para dahabat dan Rasulullah dimedan Uhud.&nbsp;</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketiga, bahwa perjuangan seorang aktifis dakwah untuk tetap <em>istiqamah</em> dalam menjalani kewajibannya, adalah bagian dari <em>sunnatullah</em> yang harus selalu dipertahankan. Sedikit lengah dan tertipu oleh kepentingan sesaat, ia akan terjerembab ke dalam kegagalan. Dakwah yang diucapkan akan menjadi sekedar jargon tanpa jiwa. Akibatnya Allah Subhanallahu wa Ta’ala tidak akan menurunkan bantuanNya. Bila Allah menolak untuk membantunya, maka itu suatu tanda hilangnya keberkahan dalam kerja dakwah tersebut. Bila keberkahannya hilang, jangan harap amal dakwah yang ditawarkan akan menjadi bermanfaat, melainkan malah akan menjadi ancaman bagi pelakunya. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat”? amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shaf 61:2)</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perhatikan betapa kerja dakwah sangat menuntut masing-masing aktifisnya untuk senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kualitas kepribadiannya: baik sebagai hamba Allah yang tercermin dalam kekhusyukan ibadahnya, maupun sebagai aktifis yang selalu menjadikan dakwah sebagai medan utama perjuangannya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sini jelas, bahwa perjuangan di jalan dakwah menuntut ketabahan pelakunya dalam menjaga secara terus-menerus kualitas dirinya, kualitas ketaatannya kepada Allah dan kualitas amal dakwahnya. Kualitas yang benar-benar mencerminkan makna kesungguhan, keseriusan dan pengorbanan secara jujur (baca: itqaan) dalam menjalankan tugas-tugas dakwah yang dipikulnya. Inilah yang kita kenal dengan istilah: <em>al muhafadzah alaa jaudatil junuud </em>(memelihara kwalitas aktifis dakwah).</p>



<p><strong>Keharusan Memelihara Dan Meningkatkan Kwalitas Diri</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pengertian lebih lanjut dari makna ayat: <em>qul huwa min indi anfusikum</em> adalah bahwa kualitas diri merupakan faktor penentu dari berhasil tidaknya sebuah usaha apapun, lebih-lebih amal dakwah. Terutama ketika amal dakwah tersebut sudah berjalan, dan mulai merambah tanda-tanda keberhasilan. Di sini upaya pemeliharaan dan peningkatan kualitas diri sangatlah diperlukan. Sebab tanpa pemeliharaan dan peningkatan amal dakwah pasti akan mengalami penurunan. Bahkan tidak mustahil tumbuhnya gesekan-gesekan internal akan selalu terjadi. Dari, gesekan-gesekan ini kemudian muncul gelembung perpecahan yang pada gilirannya menghanyutkan hasil usaha yang sudah dibangun sekian lama. Perhatikan peristiwa perang Uhud yang tadinya umat Islam sudah mendekati kemenangan, namun akhirnya malah berbalik menjadi kekalahan, di mana sebab utamanya adalah: <em>qul huwa min indi anfusikum. </em>Artinya, mereka tidak bisa memelihara kualitas diri yang membuat mereka menang, padahal mereka pernah mencapainya di perang Badar dan dipermulaan perang Uhud. Anehnya kualitas diri tersebut malah mereka lepaskan, dan dari situlah kemudian mereka tidak memenuhi syarat untuk menang, karenanya mereka kalah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Oleh sebab itu, pemeliharaan dan peningkatan kualitas diri adalah merupakan keniscayaan untuk terus melanjutkan perjuangan dakwah. Sebab tidak mungkin sebuah perjalanan dakwah akan terus berlangsung dengan baik, apalagi meningkat, bila di tengah jalan para aktifisnya mengalami degradasi.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kerja dakwah adalah kerja yang tidak mungkin&nbsp; dipikul oleh segelimtir orang, melainkan harus dipikul bersama-sama. Karenanya yidak mungkin dalam hal ini hanya mengandalkan kerja keras sebagian orang lalu yang lain tidak mengimbanginya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dakwah menuntut keseimbangan secara utuh dalam segala dimensinya: dimensi spiritual, intelektual, material, dan moral. Seorang aktifis dakwah adalah seorang selalu memelihara hakikat ini secara seimbang dalam dirinya dan dalam kebersamaan dengan&nbsp; yang lain. Bila kesimbangan ini hilang, tentu akan terjadi ketimpangan. Dan dari ketimpangan ini kemudian muncul kegagalan. Kegagalan perang Uhud seperti yang ditegaskan dalam ayat di atas adalah contoh nyata yang sangat jelas.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sampaipun peperangan tersebut dipimpin langsung oleh Rasulullah saw, tetapi karena kesalahan sebagian dari mereka yang tidak sanggup memelihara kualitas diri, akhirnya mengakibatkan semuanya menjadi berantakan. Penyakit ini sering kali terjadi dalam perjalanan dakwah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bila diawal langkahnya para aktifis selalu semangat, tetapi ditengah perjalanan semangat membara itu seringkali kehabisan nafas. akibatnya dakwah menjadi korban. Karenanya Allah tutup ayat di atas dengan penegasan: <em>“. Innallaha ‘laa kulli sya’in qadiir</em> (sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). Itu untuk menggambarkan ketegasan <em>sunnatullah</em> (baca: sebab akibat). Bahwa Allah Maha Kuasa menjalankan sunnahNyatersebut secara sempurna. Tidak bisa ditawar-tawar. Siapa yang sungguh-sungguh mengikuti sunnah tersebut akan berhasil dan siapa yang mengabaikannya ia akan gagal sekalipun ia beriman kepadaNya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Manusia diciptakan oleh Allah bukan untuk menandingiNya. Sehebat-hebatnya manusia, ia tidak akan pernah mampu menandingi kekuasaanNya. Allah tetap Maha Kuasa dan manusia tetap maha lemah di hadapanNya. Maka ketika Allah membekali akal dan segala keilmuan kepada manusia itu semuanya tidak akan pernah mencapai level kekuasaanNya. Karenanya ia tidak bisa independen total dari Allah. Ia dengan segala pencapaiannya tetap harus tunduk kepadaNya. Lebih dari itu ia juga harus tetap memelihara ketundukan ini secara maksimal sampai ia lakukan ia akan berhasil tidak saja secara personal, melainkan juga secara sosial dalam kebersamaannya dengan yang lain. Sebaliknya bila ia gagal memelihara dan meningkatkan tingkat ketundukan yang pernah ia capai, ia pasti akan gagal, tidak saja di dunia melainkan juga di akhirat.</p>



<p><em>Wallahu a’lam bishshawab.</em></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F30%2Fpelajaran-berharga-dari-peristiwa-uhud%2F&amp;linkname=Pelajaran%20Berharga%20Dari%20Peristiwa%20Uhud" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F30%2Fpelajaran-berharga-dari-peristiwa-uhud%2F&amp;linkname=Pelajaran%20Berharga%20Dari%20Peristiwa%20Uhud" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F30%2Fpelajaran-berharga-dari-peristiwa-uhud%2F&amp;linkname=Pelajaran%20Berharga%20Dari%20Peristiwa%20Uhud" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F30%2Fpelajaran-berharga-dari-peristiwa-uhud%2F&amp;linkname=Pelajaran%20Berharga%20Dari%20Peristiwa%20Uhud" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nabi Nuh dan At Tadzawwuq Ad Da&#8217;awi</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/11/30/nabi-nuh-dan-at-tadzawwuq-ad-daawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2020 10:50:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ayat-Ayat Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[at tadzawwuq]]></category>
		<category><![CDATA[nabi nuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=928</guid>

					<description><![CDATA[Nabi Nuh dan At Tadzawwuq Ad Da&#8217;awi amirfath.com, Sirah (01), Nov 2020 &#8211; Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Nabi Nuh dan At Tadzawwuq Ad Da&#8217;awi</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Sirah <strong>(01), Nov 2020 &#8211;</strong></span></strong> <em>Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terangan-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhamu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun.</em></p>



<p><em>(QS. Nuh, 71: 5-10)</em></p>



<p>Salah satu gambaran dari at tadzawwuq ad daawi Allah pernah tunjukkan dalam pribadi Nuh, seperti yang tergambar dalam ayat di atas:</p>



<p><strong>1.Berdakwah Malam dan Siang</strong></p>



<p>Nabi Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaum ku malam dan siang”. Kata “malam dan siang” menunjukkan bahwa Nabi Nuh benar-benar berjuang di jalan dakwah terus menerus, tidak kenal lelah. Malam dan siang baginya bukan batasan waktu, melainkan hanyalah pergantian hari, dimana ia didalamnya terus berdakwah. Pernyataan tersebut bukan sekedar basa-basi, seperti yang diucapkan banyak orang, tetapi benar-benar mewakili kenyataan yang sebenarnya. Bahwa Nabi Nuh tidak mungkin berbohong. Sebab kalau ia berbohong Allah pasti membantah pernyataannya. Dalam ayat di atas tidak bakti atau membantahnya. Itu menunjukkan bahwa Nabi Nuh benar-benar berdakwah malam dan siang tidak kenal lelah.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dakwah memang tidak kenal batasan waktu. Siapa yang mengaku kenal batasan waktu. Siapa yang mengaku diri sebagai aktifis dakwah, hendaknya mengerti hakikat ini. Jika tidak dakwah hanya akan menjadi slogan yang diteriakkan dimana-mana. Syeikh Fathy Yakan dalam bukunya al isti’aab fii hayatid da’wah wad daa’iyah, h.28, pernah menggambarkan sikap seorang da’i yang tidak menjiwai makna ini: “Saya tahu sebagian aktifis dakwah tidak mau menerima tamu kecuali setelah membuat perjanjian sebelumnya. Jika ada yang datang menemuinya tanpa ada perjanjian sebelumnya, ia menolaknya, atau menyuruh keluarganya agar bilang tidak ada, padahal ia ada. Bisa anda bayangkan apa yang akan terjadi jika semua aktifis dakwah bertindak demikian. Saya juga tahu sebagian yang lain mematikan telponnya saat tidur siang, ia tidak mau pusing dengan apa yang terjadi. Sebagian yang lain tidak mau menerima sama sekali orang-orang yang dianggap bermasalah dan mencapekkan. Boleh jadi alasan mereka bisa diterima sedikit atau banyak. Tetapi yang pasti mereka telah gagal dalam berdakwah dan masyarakat akan menjauh dari mereka”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Benar, mereka telah gagal, karena mereka tidak mengerti tabiat dakwah. Mereka megira bahwa jalan dakwah jalan bersenang-senang. Dan kisah Nabi Nuh di atas setidaknya telah menolak presepsi ini, sekaligus memberikan contoh bahwa dakwah bukan pekerjaan sampingan, melainkan tugas utama yang menuntut seluruh waktu dan seluruh usia. Imam Hasan Al Banna mengatakan: alwajibaatu aktsar minal awqaat (kewajiban lebih banyak dari pada waktu). Artinya sekalipun seorang da’i menggunakan waktunya untuk kegiatan berdakwah, itu berarti kegiatan tersebut akan menjadi habis, me;ainkan akan semakin bertambah. Apalagi banyak waktu bolongnya, tentu akan semakin jauh dari keberkahan dakwah yang harus diraih. Disinilah rahasia mengapa Nabi Nuh mengajarkan kepada kita untuk berdakwah diseluruh waktu malam dan siang tanpa merasa lelah.</p>



<p><strong>2.Tidak Mudah Menyerah</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada pernyataan selanjutnya nampak bahwa Nabi Nuh menghadapi tantangan yang sangat berat. Nabi Nuh berkata: “Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jemari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”. Disini nampak bahwa Nabi Nuh menyadari secara mendalam bahwa tabiat kekafiran adalah menentang kebenaran. Maka seorang aktifis dakwah tidak boleh mudah menyerah. Segala ejekan dan penghinaan dihadapinya dengan tenang dan lapang dada. Ibarat sebuah pohon berbuah, sekalipun orang melemparinya dengan batu ia membalasnya dengan melempar buah-buahan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nabi Nuh, memang menghadapi tantangan yang sangat berat dari kaumnya: (a) mereka menjauh dan lari dari kebenaran (firara). (b) Mereka menutup telinga supaya tidak mendengar seruan. (c) Mereka menutup muka mereka dengan pakaian supaya tidak terpengaruh. (d) Mereka bertindak sombong dan bangga dengan dosa-dosa. Tetapi semua itu tidak membuat Nabi Nuh emosi. Nabi tetap mengajak ke jalan yang penuh dengan ampunan Allah yaitu: jalan keimanan, ketaatan dan ketakwaan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bandingkan dengan perjuangan Rasulullah SAW di Makkah, di saat kaum Quraisy menantangnya, mengejeknya, bahkan melemparkan kotoran binatang ke atas kepalanya yang mulia. Tetapi itu semua tidak membuat Rasulullah putus asa. Melainkan kian membuat semangatnya membara. Rasulullah tidak &nbsp;kehabisan akal, ia mengajak orang-orang yang datang ke kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Sampai kemudian bertemu dengan sekelompok pendatang dari kota Madinah (waktu itu disebut Yastrib). Dan dari merekalah kemudian kota Madinah kemudian menjadi basis utamanya umat Islam bangkit menaklukkan basik kaum kafir Makkah, kaum Yahudi di Khaibar, Kerajaan Romawi dan Persia. Semua ini menggambarkan betapa sukses dakwah Rasulullah SAW yang demikian gemilang adalah karena kegigihannya dalam mempertahankan risalah Islam, dan sikapnya yang tidak mudah menyerah terhadap berbagai tantangan dan cobaan yang dihadapinya.</p>



<p><strong>3.Menempuh Cara-cara Yang Bijak</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nabi Nuh ternyata tidak mencukupkan dengan hanya satu cara, perhatikan ceritanya: “Kemudian sungguh aku menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Setelah itu sungguh aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. Artinya setelah Nabi Nuh menyeru kaumnya dengan cara diam-diam beberapa lama, ia lalu menyeru mereka dengan terang-terangan. Tetapi dengan itupun mereka tetap tidak mau mendengar kebenaran. Nabi Nuh pun tidak segera menyerah. Ia segera mengambil cara yang ketiga, menggabung antara cara rahasia dan terang-terangan. Namun semua cara itu tidak bermanfaat bagi mereka. Hati mereka tertutup dan keras, lebih keras dari batu. Batu saja masih mungkin memancarkan air. Tetapi hati jika hati telah mencapai puncak kekerasan ia akan menolak segala kebenaran.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perhatikan Nabi berdakwah secara terus-menerus, selama sembilan ratus lima puluh tahun, namun kaumnya tetap tidak peduli dengan risalah yang dibawanya. Dari sini nampak bahws seorang aktifis da’wah harus benar-benar mampu menjiwai dan merasakan kelezatannya dakwah. Sebab jika tidak ia akan tergolong –menurut&nbsp; istilah Fathy Yakan- almutasaquhuun fii thariiqid da’wah (orang-orang yang berguguran di jalan dakwah). Mengapa? Sebab lama kelamaan dakwah hanya akan menjadi beban yang memberatkan perasaan dan pikirannya. Ketika beban dakwah terasa semakin berat hatinya akan semakin sempit.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sini keharusan merasakan lezatnya dakwah menjadi sebuah keniscayaan. Orang yang merasakan lezatnya dakwah, akan mampu membuat yang pahit menjadi manis, dan yang berat menjadi ringan. Segala tantangan dihadapinya dengan tenang, bijak dan tidak terburu-buru. Baginya sebuah keberhasilan bukan banyaknya pengikut tetapi bagaimana ini utama risalah tetap tegak sekaligus mayoritas menolaknya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Suatu hakikat yang tergambar dalam perjuangan Nabi dan pada akhir-akhir ini mulai terabaikan.</p>



<p><strong>4</strong> .<strong>Selalu Mengajak Beristighfar</strong></p>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Istighfar artinya memohon ampunan Allah SWT. pada ayat selanjutnya Nabi Nuh berkata: faqultus taghfiruu rabbakum innahuu kaana ghaffara (Maka Aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun). Istighfar adalah inti kehambaan kepada Allah. Seorang hamba yang selalu beristighfar ia akan bersih jiwanya. Tidak ada yang mematuhi hatinya kecuali kecintaan kepada Allah. Seluruh gerak dan perbuatannya hanyalah mencerminkan ketundukan total kepadaNya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Didalam Al Qur’an Allah SWT selalu merangkai istighfar dan ketundukkan kepada Allah (baca:taqwa) dengan kesejahteraan, kemudahan jalan hidup dan sebagainya. Dalam surat Hud: 3 Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya”. Dalam ayat lain: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada meeka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. 7:96). Lalu perhatikan rentetan ayat di atas dengan ayat sesudahnya: “Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sengan demikian menyeru kepada Istighfar adalah masalh yang sangat fundamental dalam dakwah. Ustadz Sayed Quthub mengatakan: bahwa hal yagng demikian adalah kaidah yang ditetapkan Al Qur’an dan sudah terbukti dalam sejarah umat terdahulu. Artinya siapa yang tidak mensucikan diri dan jauh dari ketaatan kepada Allah ia pasti celaka, tidak saja di dunia, melainkan juga di akhirat. Dan hanya dengan mentaati Allah kebahagiaan dunia dan akhirat akan tercapai. Kuncinya adalah istighfar.&nbsp; Abu Hurairah ra. Berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku membaca istighfar lebih dari tujuh puluh kali” (HR. Bukhari). Dalam riwayat lain: “seratus kali” (HR. Muslim). Perhatikan pentingnya istighfar. Dalam surat At Tahrim: 8, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim Rasululullah bersabda: “Allah lebih gembira terhadap taubat hambaNya dari pada seseorang diantara kamu yang mendapatkan untanya yang telah hilang di gurun sahara”. Bahkan dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: Allah membentangkan tanganNya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat maksiat di siang hari,&nbsp; dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat maksiat di malam hari. Dari sini nampak betapa taubat yang tercermin dalam istighfar adalah solusi segala persoalan kemanusiaan. Artinya bila manusia kembali ke jalan Allah engan bertaubat (baca: beristighfar) segalanya akan menjadi berkah. Dan sungguh karena keangkuhan dan kesombongan manusialah yang selama ini membuat kehancuran dan malapetaka terhadap kemanusiaan.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seorang aktifis dakwah yang benar-benar merasakan kelezatannya ia pasti akan menjiwai semua makna tersebut di atas, dan menjadikannya sebgai pijakan.</p>



<p><em>Wallahu a’lam bishshawab.</em></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F30%2Fnabi-nuh-dan-at-tadzawwuq-ad-daawi%2F&amp;linkname=Nabi%20Nuh%20dan%20At%20Tadzawwuq%20Ad%20Da%E2%80%99awi" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F30%2Fnabi-nuh-dan-at-tadzawwuq-ad-daawi%2F&amp;linkname=Nabi%20Nuh%20dan%20At%20Tadzawwuq%20Ad%20Da%E2%80%99awi" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F30%2Fnabi-nuh-dan-at-tadzawwuq-ad-daawi%2F&amp;linkname=Nabi%20Nuh%20dan%20At%20Tadzawwuq%20Ad%20Da%E2%80%99awi" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F30%2Fnabi-nuh-dan-at-tadzawwuq-ad-daawi%2F&amp;linkname=Nabi%20Nuh%20dan%20At%20Tadzawwuq%20Ad%20Da%E2%80%99awi" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sikap Responsif Nabi Sulaiman &#038; Burung Hud-Hud</title>
		<link>https://amirfath.com/2020/11/27/sikap-responsif-nabi-sulaiman-burung-hud-hud/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2020 06:46:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ayat-Ayat Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[burung hud-hud]]></category>
		<category><![CDATA[nabi sulaiman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://amirfath.com/?p=845</guid>

					<description><![CDATA[Sikap Responsif Nabi Sulaiman &#38; Burung Hud-Hud amirfath.com, Sirah (03), Nov 2020 &#8211; Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. Maka tidak lama [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="has-text-align-center wp-block-heading">Sikap Responsif Nabi Sulaiman &amp; Burung Hud-Hud</h1>



<p><strong><span style="color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, Sirah <strong>(03), Nov 2020 &#8211;</strong></span></strong> <em>Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahui; dan kubawa kepadamu dari negeri saba’ suatu berita penting yang diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan( Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar”. (QS. An Naml 20-26)</em></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sikap responsif adalah kesadaran akan tugas yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kepekaan yang tajam dalam menyikapi berbagai hal yang dihadapinya dan kepahaman makna tanggungjawab yang harus dipikul adalah ciri utama kepribadiannya. Ia merasa tidak enak jika suatu saat melalaikan kewajibannya. Perasaan berdosa selalu menghantuinya.</p>



<p>Karena itu, kapanpun, bagaimanapun dan dalam kondisi apapun ia selalu berusaha secara maksimal untuk melaksanakan tugasnya. Tugas apapun selama dalam kebenaran dan dalam koridor ajaran Allah. Bukan hanya kewajiban ibadah ritual melainkan juga ibadah sosial. Ayat di atas menggambarkan sikap responsif Nabi Sulaiman sebagai seorang pemimpin, dan sikap responsif burung Hud-hud sebagai anggota yang paham akan tugasnya.</p>



<p><strong>Sikap Responsif Nabi Sulaiman</strong></p>



<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Nabi Sulaiman dalam ayat di atas digambarkan sebagai pucuk pimpinan yang penuh sikap responsif kepada rakyatnya. Kata <em>tafaqqada </em>menunjukkan makna ini. Artinya pemeriksaan yang detil dan teliti. Cerminan dari besarnya rasa responsibilitas yang sangat dalam. Bukan sekedar basa-basi atau formalitas. Melainkan ia benar-benar memeriksa. Imam Al Asfahani menyebutkan bahwa <em>al fadq</em> artinya tidak ada setelah tadinya ada. <em>At tafaqqud </em>bermakna <em>ta’aurufu fuqdanisy syai’, </em>maksudnya upaya untuk tahu mengenai sesuatu yang hilang atau tidak hadir. Mengapa tidak hadir? Apa sebab ketidakhadirannya? (lihat, Al Ashfahani, <em>mufradat alfadzil qur’an, h. 641). </em>Sedemikian rupa sehingga seekor burung Hud-hud yang pada waktu itu nampak tidak hadir dipertanyakan. “<em>Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?</em></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hud-hud memang tidak hadir pada waktu itu. Sudah barang tentu bahwa ketidakhadirannya tidak ada yang tahu. Karenanya ketika Nabi Sulaiman bertanya tidak ada yang menjawab. Hal semacam ini bagi seorang pemimpin yang peka dan responsif bukan masalah kecil. Ketidakhadiran seorang anggota dalam sebuah pertemuan tanpa pemberitahuan sebelumnya adalah masalah yang harus mendapatkan teguran secara serius. Nabi Sulaiman benar-benar menunjukkan sikap keseriusannya. Simaklah pernyataannya: “<em>Sungguh aku akan mengadzabnya dengan adzab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya.”&nbsp; </em>Hukum pertama, adzab yang keras dan hukuman yang kedua menyembelihnya, keduanya mencerminkan besarnya pelanggaran tersebut, dan kesungguhan seorang pemimpin dalam menakar setiap kesalahan sesuai dengan porsinya. Boleh jadi sebuah kesalahan nampak kecil di depan mata manusia tetapi ketika itu menjadi kebiasaan, akibatnya fatal dan mengancam hidupnya sebuah bangsa.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perhatikan ketidakhadiran seekor Hud-hud di atas, secara sepintas itu kesalahan kecil, tetapi mengapa Nabi Sulaiman menentukan hukuman yang sangat keras bahkan hukuman mati. Di sini Nabi Sulaiman sebenarnya ingin menegakkan kedisiplinan dan kejujuran sebagai tonggak hidup tidak sebuah masyarakat. Bila keduanya tegak secara sempurna masyarakat akan kuat, aman dan sejahtera. Sebaliknya bila keduanya hilang, masyarakat akan resah, sengsara dan kacau balau. Perhatikan betapa jauh jangkauan berfikir Nabi Sulaiman. Makanya sekecil apapun yang mengarah kepada penggerogotan sikap disiplin dan kejujuran harus mendapat tindakan yang tegas.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Memberikan hukuman yang setimpal adalah kewajiban seorang pemimpin dalam setiap pelanggaran anggotanya. Ketidaktegasan dalam menegakkan hukum akan menyebabkan sikap main-main, kebiasaan berbuat maksiat dan keberanian melanggar aturan.</p>



<p>Dari kebiasaan jelek tersebut akan lahir secara bertahap berbagai proses menuju kehancuran sebuah masyarakat, sebuah bangsa dan sebuah Negara. Bukti-bukti mengenai hal ini tidak terhitung dalam sejarah. Tetapi manusia sering kali tidak mau mengambil pelajaran dan suka mengulangi kesalahan masa lalu dengan tanpa merasa berdosa. Nabi Sulaiman memang tegas dalam menentukan hukuman, tetapi ia bukan tipe pemimpin diktator.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Alasan yang jujur dan logis masih bisa diterima. Nabi Sulaiman berkata: <em>Kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang. </em>Kata <em>sulthon </em>artinya kekusasaan, dan dalam ayat di atas dipakai untuk makna alasan yang kuat (<em>hujjah</em>), seperti dalam beberapa ayat berikut: <em>Alladzina yujadiluna fii ayaatillah bighairi sulthanin </em>(QS. Ghafir: 35) <em>&nbsp;fa’tuuna bisulthanin mubiin </em>(QS. Ibrahim: 10), <em>walaqad arsalna musa biayaatina wasulthanin mubiin </em>(QS. Ghafir: 23) (lihat Al Ashfahani, <em>mufradat alfadzil quar’an, </em>h.420).</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ini untuk menunjukkan betapa sebuah sikap dan perbuatan sekecil apapun harus berdasarkan alasan yang kuat, apalagi sikap tersebut berupa sebuah pelanggaran. Maka ia harus mempertanggungjawabkannya secara jujur. Bukan mencari-cari alasan, dengan menyembunyikan kebusukan di dalamnya. Setiap amal apapun –apalagi amal dakwah dijalan Allah. Karenanya bila suatu kaum hendak berda’wah di jalan Allah, maka yang pertama kali ia sempurnakan kepribadiannya. Kebersihan dirinya dan dari sinilah kelak sikap responsif akan muncul. Sikap responsif tidak akan pernah muncul dari pribadi yang kotor, penuh maksiat dan tidak bertanggungjawab. Dari sini hampak kedalaman makna ungkapan: <em>wasulthanin mubiin.</em></p>



<p><strong>Sikap Responsif Burung Hud-hud</strong></p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ustadz Sayyid Quthub menggambarkan bahwa Hud-hud tersebut bukan sembarang burung. Tidak seperti jutaan Hud-hud yang berkeliaran dimana-mana. Al Qur’an merekam kecerdasan dan sikap responsifnya yang luar biasa. Bahwa Hud-hud tersebut mempunyai kepribadian yang peka dan berkeinginan kuat (lihat Sayyed Quthub, <em>fii dzilail qur’an</em>, vol.5, h.2638). Bukan hanya itu cara bersikapnya pun mencerminkan kebijakan yang luar biasa. Ketika datang Hud-hud langsung mengajukan alasannya dengan penuh keyakinan:</p>



<p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahui, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan( Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk”.</em></p>



<p>Apa yang tergambar dari alasan Hud-hud adalah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Bahwa ia terlambat buakan apa-apa, melainkan dengan inisiatif sendiri sedang melakukan tugas yang sangat penting. Tugas yang dengannya kelak sebuah kaum menjadi tunduk kepada Allah. Dimana seandainya Hud-hud tidak melakukan itu, kaum tersebut akan terus tersesatjalan. Tidak menenmukan jati dirinya sebagai hamba Allah, melainkan hamba syetan dan matahari yang disembahnya. Perhatikan bagaimana sikap responsif burung Hud-hud yang demikian cerdas dan tajam ini telah menghentak kita semua. Allah merekamnya untuk menjadi pelajaran agar kita yang dibekali akal tidak kalah dengan burung Hud-hud dalam menegakkan kebenaran.</li></ul>



<p>Kecerdasan Hud-hud nampak dari segi cara memulai pembicaraan. Seketika ia berkata: <em>Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahui”. </em>Pembukaan ini menggambarkan pentingnya sebuah berita yang dibawanya. Disaat yang sama telah membuat Nabi Sulaiman terpanggil untuk mengetahui dan mengurungkan niatnya.</p>



<p>Dalam kondisi dimana Nabi Sulaiman sedang konsentrasi untuk mendengarkan alasannya, Hud-hud mulai bercerita: <em>kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. </em>Di sini Hud-hud menekankan adanya kenyataan yang aneh. Seorang wanita memimpin sebuah kaum. Tersirat dari sini bahwa secara fitrah –sebagaimana ditangkap oleh Hud-hud- yang menjadi pemimpin puncak sebuah kaum seharusnya laki-laki. Para Nabi semuanya laki-laki. Nabi Sulaiman sebagai pemimpin pada waktu itu adalah laki-laki. Makanya ia buka laporanjya dengan menyebutkan: <em>Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka. </em>Secara tidak langsung Hud-hud telah mengkritisi kenyataan sosial kaum Saba’ tersebut yang nampak bertentangan dengan fitrahnya. Dari sini terlihat betapa tingginya sikap reponsif dang Hud-hud. Sehingga begitu Nabi Sulaman mengambil tindakan, ia menekankan dengan suratnya seperti terekan pada ayat lebih lanjut: (An Naml:31): <em>Wallata’lu alayya wa’tunni muslimiin </em>(janganlah kamu berlaku sombong kepadaku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri). Dengan itu kemudian yang menjadi pemimpin puncak adalah Nabi Sulaiman.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Hud-hud mengkritisi bahwa kekuatan politik wanita tersebut tegak bukan karena didukung oleh <em>fikrah </em>(risalah suci) melainkan oleh semata kekuatan harta. Simaklah Hud-hud berkata: <em>Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. </em>Fenomena politik seperti ini bagi Hud-hud bukan hanya sebuah kepemimpinan yang rapuh, melainkan ia tidak sepantasnya merajalela dan berlangsung lama. Sebab keberadaannya cenderung mengarah kepada kemungkaran. Dan itu sudah Hud-hud contohkan pada ayat selanjutnya bahwa mereka tidak menyembah Allah melainkan menyembah matahari. Berbeda dengan kerajaan Nabi Sulaiman yang memancarkan <em>risalah tauhid </em>(ketundukan total kepada Allah Sang Maha Pencipta langit dan bumi). Karena itulah sisi tersebut Hud-hud tekankan dalam laporannya, supaya kelak tidak berulang sebuah kepemimpinan yang hanya mengutamakan fondasi materialisme. Dan supaya yang menjadi <em>master plane </em>adalah kepemimpinan Nabi Sulaiman yang gagah, beribawa dan membawa risalah tauhid yang suci dan mulya.</li></ul>



<ul class="wp-block-list"><li>Hud-hud mengkritisi sikap kaum Saba’ dari sisi akidahnya, ia berkata: <em>Aku mendapat dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah) sehingga mereka tidak dapat petunjuk”.</em></li></ul>



<p>Disini Hud-hud menginformasikan bahwa kamu Saba’ itu tidak menyembah Allah Yang Menciptakan mereka, melainkan menyembah matahari. Mengapa? Hud-hud menjelaskan itu karena mereka mengikuti ajakan syetan, yang menyesatkan. Padahal syetan tidak pernah berbuat baik untuk mereka, bahkan berusaha keras: (a) agar manusia tidak mendapatkan petunjuk yang benar (b) mereka tidak menyembah Allah.</p>



<p>Tetapi mengapa mereka tetap terpedaya olehnya. Lain hanya Allah yang sudah jelas menyediakan segala yang mereka butuhkan. Dengar kata Hud-hud: <em>Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai ‘ Arsy yang besar”. </em>Terlihat dengan jelas sikap responsif Hud-hud yang demikian dalam untuk memperbaiki setiap penyimpangan akidah demi tersebarnya risalah tauhid. Benar, sekali lagi saya ingin mengutipucapan Ustadz Sayyed Quthub di sini, bahwa Hud-hud tersebut bukan sembarang burung, melainkan burung istimewa, tidak sama dengan jutaan burung Hud-hud lainnya yang beterbangan di berbagai penjuru.</p>



<p><em>Wallahu a’lam bishshawab.</em></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F27%2Fsikap-responsif-nabi-sulaiman-burung-hud-hud%2F&amp;linkname=Sikap%20Responsif%20Nabi%20Sulaiman%20%26%20Burung%20Hud-Hud" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F27%2Fsikap-responsif-nabi-sulaiman-burung-hud-hud%2F&amp;linkname=Sikap%20Responsif%20Nabi%20Sulaiman%20%26%20Burung%20Hud-Hud" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F27%2Fsikap-responsif-nabi-sulaiman-burung-hud-hud%2F&amp;linkname=Sikap%20Responsif%20Nabi%20Sulaiman%20%26%20Burung%20Hud-Hud" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2020%2F11%2F27%2Fsikap-responsif-nabi-sulaiman-burung-hud-hud%2F&amp;linkname=Sikap%20Responsif%20Nabi%20Sulaiman%20%26%20Burung%20Hud-Hud" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 14/84 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/22 queries in 0.007 seconds using Redis

Served from: amirfath.com @ 2025-09-02 17:47:25 by W3 Total Cache
-->