<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dr. Amir Faishol Fath &#8211; Dr. Amir Faishol Fath</title>
	<atom:link href="https://amirfath.com/author/4mirf4th/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://amirfath.com</link>
	<description>Pakar Tafsir Al-Quran &#38; CEO Fath Institute</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Jul 2025 03:29:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.3</generator>
	<item>
		<title>APAKAH MEMPERINGATI TAHUN BARU HIJRIAH BID&#8217;AH</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/07/27/apakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2025 03:29:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3915</guid>

					<description><![CDATA[APAKAH MEMPERINGATI TAHUN BARU HIJRIAH BID&#8217;AH amirfath.com, Fiqih (27), Juli 2025 &#8211; pertanyaan :Pak Ustadz setiap tahun kami selalu mengadakan acara besar Tabligh Akbar untuk memperingati tahun baru Hijriah. Tiba-tiba akhir-akhir ini muncul pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa itu bidáh, apa pendapat Ustadz ? Jawaban:Mengatakan bahwa perayaan tahun baru Hijriah adalah bid’ah secara mutlak perlu diluruskan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>APAKAH MEMPERINGATI TAHUN BARU HIJRIAH BID&#8217;AH </strong></strong></strong><div><span style="background-color: rgba(0, 0, 0, 0.2);"></span></div></h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"><strong>Fiqih</strong></mark> <strong>(27), Juli 2025 &#8211;</strong></mark></strong> pertanyaan :Pak Ustadz setiap tahun kami selalu mengadakan acara besar Tabligh Akbar untuk memperingati tahun baru Hijriah. Tiba-tiba akhir-akhir ini muncul pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa itu bidáh, apa pendapat Ustadz ?  Jawaban:Mengatakan bahwa perayaan tahun baru Hijriah adalah bid’ah secara mutlak perlu diluruskan agar tidak terjebak pada pemahaman yang sempit terhadap konsep bid’ah dalam Islam. Mari kita bahas secara ilmiah dan berimbang. Pertama, apa Itu Bid’ah? Secara bahasa, bid’ah artinya sesuatu yang baru yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Adapun secara istilah, para ulama membaginya menjadi dua: (a). Bid’ah Hasanah (baik) yaitu hal baru yang tidak bertentangan dengan syariat dan memiliki manfaat. (b). Bid’ah Sayyi’ah (buruk) yaitu hal baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Imam An-Nawawi dalam kitbanya A; Majmu’Syarah Al Muhadzdzab, 1/24, mengatakan:“Al-bid’ah terbagi menjadi lima hukum: wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Dan ini tergantung pada bentuk dan tujuannya.” Artinya jika suatu hal yang baru brhubungan dengan wajib maka itu menjadi wajib, Misalnya mengumpulkan Al-Quran menjadi satu mushaf. Di zaman nabi Al-Quran secara tulisan masih terperncar-pencar dalam tupukan kayu, pelepah kurma, tulang belulang dan lain sebagainya. Tetapi dengan dikumpulkannya menjadi satu kitab yang utuh maka Al-Quran sekarang mudah dibaca. Bayangkan seandainya pengumpulan itu tidak terjadi, bisa jadi Al-Quran hilang. Memang itu tidak pernah dikerjakan nabi, dengan kata lain itu bidáh tetapi demi untuk menjaga agama ini maka itu harus dilakukan. Inilah yang disebut bidá yang hukumnya wajib. Demikian juga hukum lainnya sesuai dengan tingkat kebutuhan yang ada untuk menjaga tujuan syariah, bisa jadi bidáh itu hukumnya sunnah, mubah. Tetapi jika jelas bertentangan dengan syariah itu jelas hukumnya haram. Jadi tidak selamanya bidah itu dihukumi sesat. Adapun maksud hadits yang berbunyi : kullu bidátin dhalalah (semua bidáh adalah sesat) maka berdasarkan apa yang dinyatakan Imam An Nawawi di atas, jelas baksudnya adalah sebagian bidáh bukan semuanya. Sebab dalam kaidah bahasa Al Quran kata kuluu bisa bermkana ba’dh (sebagian).  Dalam surah Al Ahqaf : 25, Allah berfriman: udammiru kulla syaiin biamri rabbihaa (Ia menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya) Auat ini konteksnya adalah kaum Ad  yang diadzab, tetapi kenyataannya yang dihancurkan bukan semua alam semesta. Ini bukti bahwa kata kullu dalam ayat di atas maksudnya sebagian. Jika maksudnya adalah seluruhnya maka kita tidak akan menyaksikan lagi alam semesta ini.  Kedua, mengenai penetapan Tahun Hijriah Tahun Hijriah itu memang asalnya tidak ditetapkan oleh Nabi Muhammad, tetapi oleh Khalifah Umar bin Khattab bersama para sahabat di masa kekhalifahannya. Artinya, penetapan kalender Hijriah adalah ijtihad sahabat, bukan syariat yang baku sejak zaman Nabi. Namun demikian, ini adalah ijtihad yang disepakati karena memiliki kemaslahatan besar untuk umat Islam, seperti dalam administrasi, pengaturan zakat, ibadah puasa, dan haji. Kalapun mau dikategorikan bidáh penetapan tahun hijriah ini bisa dikatakan hukumnya wajib atau sunnah karena besarnya maslahat bagi umta Islam terutama dalam menjalan ibadah mereka sepanjang tahun. Ini jelas meperkuat pemahaman di atas bahwa tidak selamanya bidah itu haram dan menyebabkan masuk neraka tetapi ada juga bida’h yang hukumnya sunnah bahkan wajib. Sebab keberadaanya -sekalipun nabi sendiri tidak pernah mengadakannya- tidak saja sejalan dengan syariah, melainkan justru menguatkan syaraiah itu sendiri. Ketiga, Adapun perayaan Tahun Baru Hijriah sebut saja itu sekedar tradisi, sebab memang itu diadakan sebagai acara biasa seperti kita mengadakan hari ulang tahun kemerdekaan negara. Selam di dalam acara tersebut tidak ada program yang bertentangan dengan Syariat maka tidak bisa dihukumi bid;ah karena itu bukan ibadah mahdhah. Apalagi dalam perayaan yang dilakukan oleh umat Islam pada momen pergantian tahun Hijriah bukanlah bentuk ibadah ritual baru, tetapi lebih kepada momen refleksi, muhasabah, dan dakwah, seperti: Mengadakan tausiyah/kajian Islam, menyemarakkan masjid, mengingatkan pentingnya hijrah nilai, bukan hanya hijrah fisik, membangkitkan motivasi agar tahun berikutnya lebih baik dan produktif tentu ini memabawa kemaslahatan yang dalam Islam sangat dianjurkan. Ini sejalan dengan kaidah fikih : al ashlu fil aadaati al ibahatu maa lam yarid dalilun yadullu álat tahriim (Asal dari suatu adat (tradisi) adalah mubah (dibolehkan) selama tidak ada dalil yang melarangnya).  Dengan ini jelas bahwa perayaan tahun baru Hijriah adalah adat kebiasaan yang bisa menjadi sarana untuk berdakwah dan muhasabah, bukan ibadah yang ditetapkan secara khusus oleh syariat. Maka tidak tepat jika langsung dihukumi sebagai bidah dhalâlah (bid’ah yang sesat). Berdasrkan ini qiyaskan semua tradisi yang lain seperti Maulid Nabi, Nuzulul Qur’an, dan Isra’ Mi’raj— semua itu tidak tergolong bidáh yang terlarang selama tidak ada penyimpangan yang bertetangan dengan syriat. Kesimpulan, berdasrkan penjelasan di atas maka perayaan tahun baru Hijriah ada yang serupa tidak termasuk bidáah sayyi’ah, karena: tidak bertentangan dengan prinsip Islam tidak dimaksudkan sebagai ibadah baru melainkan sebagai budaya dan tradisi yang bisa menjadi sarana kebaikan dan pengingat hijrah Rasulullah saw. Apalagi memang tidak ada dalil khusus yang menunjukkan keharamannya. Maka, sikap yang tepat adalah membimbing umat agar mengisinya dengan hal-hal positif, bukan malah mengharamkan sesuatu yang tidak ada dalil pengharamannya secara tegas. (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )Wallâhu a’lam bish-shawâb.</p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F07%2F27%2Fapakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah%2F&amp;linkname=APAKAH%20MEMPERINGATI%20TAHUN%20BARU%20HIJRIAH%20BID%E2%80%99AH" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F07%2F27%2Fapakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah%2F&amp;linkname=APAKAH%20MEMPERINGATI%20TAHUN%20BARU%20HIJRIAH%20BID%E2%80%99AH" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F07%2F27%2Fapakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah%2F&amp;linkname=APAKAH%20MEMPERINGATI%20TAHUN%20BARU%20HIJRIAH%20BID%E2%80%99AH" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F07%2F27%2Fapakah-memperingati-tahun-baru-hijriah-bidah%2F&amp;linkname=APAKAH%20MEMPERINGATI%20TAHUN%20BARU%20HIJRIAH%20BID%E2%80%99AH" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>HUKUM BERMADZHAB</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/06/18/hukum-bermadzhab/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2025 04:27:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3912</guid>

					<description><![CDATA[HUKUM BERMADZHAB amirfath.com, Fiqih (22), Juni 2025 &#8211; Pertanyaan:Sebagian orang menolak bermadzhab dengan alasan bahwa kita cukup langsung merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah tanpa melalui pendapat para ulama mazhab. Bagaimana kita menyikapi perndapat ini? Jawaban:Pernyataan ini tampak benar secara lahiriah, namun keliru secara metodologi, historis, dan keilmuan. Berikut ini jawaban atas penolakan tersebut: (1). Bermadzhab [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>HUKUM BERMADZHAB </strong></strong></strong><div><span style="background-color: rgba(0, 0, 0, 0.2);"></span></div></h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"><strong>Fiqih</strong></mark> <strong>(22), Juni 2025 &#8211; </strong></mark></strong>  Pertanyaan:Sebagian orang menolak bermadzhab dengan alasan bahwa kita cukup langsung merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah tanpa melalui pendapat para ulama mazhab. Bagaimana kita menyikapi perndapat ini?  Jawaban:Pernyataan ini tampak benar secara lahiriah, namun keliru secara metodologi, historis, dan keilmuan. Berikut ini jawaban atas penolakan tersebut: (1). Bermadzhab bukan berarti mendewakan ulama. Bermadzhab adalah mengikuti metode dan ijtihad ulama mujtahid, bukan menganggap mereka maksum. Imam Syafi’i sendiri berkata: qawlii shawab yahtamilul khatha’wa qawlu ghairii hkatha’yahtamilish shawab (Pendapatku benar namun mungkin salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar).        (2). Bermadzhab adalah kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Mayoritas umat Islam sejak generasi salaf mengikuti salah satu dari madzhab yang mu’tabarah (diakui): Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Ini karena mereka tidak mampu berijtihad sendiri, sehingga mereka butuh taqlid (mengikuti) kepada yang lebih alim. Imam al-Nawawi berkata: “Orang awam tidak mempunyai mazhab. Mazhabnya adalah mazhab mufti yang memberikan fatwa kepadanya. Maka dia wajib mengikutinya”(al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 1/93) (3). Dalil bahwa mengikuti ulama adalah perintah Allah. Sebagimana dalam firman-Nya: fasaluu ahldz dzikri in kuntum laa ta’lamuun (Tanyakanlah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui) (QS. An-Nahl: 43). Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak tahu tidak boleh berijtihad sendiri, tetapi harus bertanya dan mengikuti ulama. Maka, mengikuti madzhab adalah aplikasi nyata dari ayat ini. (4). Realita keilmuan menunjukkan perlunya bermadzhab. Tidak semua orang mampu memahami bahasa Arab, ushul fikih, qawaid fiqhiyah, dan hadits-hadits yang saling tampak bertentangan. Bermadzhab membantu kita menghindari kesalahan dalam memahami dalil, sebab para imam mazhab sudah menjelaskannya dengan ijtihad ilmiah yang mendalam. (5). Menolak bermadzhab berarti membuka pintu kerusakan. Jika setiap orang bebas memahami dan mengamalkan agama langsung dari Al-Qur’an dan Hadis tanpa metode dan bimbingan, maka: Akan terjadi kekacauan hukum. Muncul seribu “madzhab” sendiri-sendiri yang saling bertentangan. Ini bertentangan dengan praktik umat Islam sepanjang sejarah. (6). Ulama Salaf dan Khalaf pun mengikuti Madzhab. Mayoritas ulama besar – baik ahli tafsir, ahli hadits, sufi, atau mutakallimin – mengikuti madzhab tertentu, karena mereka tahu pentingnya sistematika pemahaman hukum syariat.Kesimpulan dari apa yang telah dijelaskan di atas bahwa bermadzhab bukanlah keharusan mutlak dalam arti wajib secara individual, tetapi ia adalah kewajiban fungsional dan praktikal bagi setiap Muslim yang tidak mampu berijtihad sendiri. Menolak bermadzhab dengan semangat anti-ulama adalah bentuk kesombongan ilmiah dan kesesatan metodologis. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim:“Ilmu itu ada tiga tingkatan. Siapa yang masuk pada tingkatan pertama, ia akan sombong. Siapa yang masuk tingkatan kedua, ia akan tawadhu’. Siapa yang masuk tingkatan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak tahu apa-apa.”(Madarijus Salikin, 2/342). Karena itu banyak ulama yang sekalipun secara keilmuan mereka mampu beritihad tetapi mereka masih bermazhab, seperti Imam Bukhari bermazhab Syafii, Imam Ibn Taymiayh bermazhab Hanbali dan sebagainya.  (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran ).</p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F18%2Fhukum-bermadzhab%2F&amp;linkname=HUKUM%20BERMADZHAB" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F18%2Fhukum-bermadzhab%2F&amp;linkname=HUKUM%20BERMADZHAB" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F18%2Fhukum-bermadzhab%2F&amp;linkname=HUKUM%20BERMADZHAB" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F18%2Fhukum-bermadzhab%2F&amp;linkname=HUKUM%20BERMADZHAB" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MASALAH WANITA HAIDH MEMBACA AL-QURAN</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/06/17/masalah-wanita-haidh-membaca-al-quran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2025 00:21:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3909</guid>

					<description><![CDATA[MASALAH WANITA HAIDH MEMBACA AL-QURAN amirfath.com, Fiqih (21), Juni 2025 &#8211; Pertanyaan: Apa hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh dan orang junub?Jawaban: Diharamkan membaca Al-Qur;an bagi orang yang junub. Mayoritas ulama (jumhūr al-ulamā’) dari mazhab Hanafī, Mālikī, Syāfi’ī, dan Hanbalī sepakat bahwa orang yang junub tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an sampai ia mandi janabah. Ini berdasrkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>MASALAH WANITA HAIDH MEMBACA AL-QURAN</strong></strong></strong></h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"><strong>Fiqih</strong></mark> <strong>(21), Juni 2025 &#8211; </strong></mark></strong>  Pertanyaan: Apa hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh dan orang junub?Jawaban: Diharamkan membaca Al-Qur;an bagi orang yang junub. Mayoritas ulama (jumhūr al-ulamā’) dari mazhab Hanafī, Mālikī, Syāfi’ī, dan Hanbalī sepakat bahwa orang yang junub tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an sampai ia mandi janabah. Ini berdasrkan dalil-dalil berikut: Pertama, hadis dari Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Nabi saw. tidak terhalangi dari Al-Quran kecuali dalam keadaan Junub (kanan nabiyyu shallahu alaihi wa sallama laa yahjubuhuu ánil quran syaiun illal janaabatu) (HR. Abu Dawud no. 229, Ibnu Majah, Ahmad; hadits hasan menurut sebagian ulama). Kedua, kaidah umum yang mengatakan: Orang junub adalah dalam keadaan hadas besar, sehingga tidak boleh melaksanakan ibadah yang membutuhkan kesucian, termasuk tilawah Al-Qur’an. Perlu dicatat di sini bahwa yang dilarang adalah membaca secara lisan. Adapun mengingat (tilawah dalam hati) atau mendengarkan bacaan Qur’an tidak dilarang bagi orang junub. Adapun membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh hukumnya dua pendapat: Pertama. Menurut mayoritas Ulama hukumnya haram membaca Al-Qur’an, menurut Mazhab Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah melarang wanita haidh membaca Al-Qur’an secara lisan dengan dalil Hadis dari Ibnu Umar ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda: laa taqraul haaidh wa lal junubu syaian minal quraan (Wanita haidh dan orang junub tidak boleh membaca sedikit pun dari Al-Qur’an). (HR. Tirmidzi no. 131). Dalil berikutnya adalah qiyas kepada orang junub: Jika orang junub tidak boleh membaca Qur’an, maka wanita haidh — dalam hadas besar— juga dilarang. Alasannya bahwa haidh adalah hadas besar yang mengharuskan wanita mandi untuk bisa kembali beribadah. Alasan lebih lanjut untuk menjaga kemuliaan Al-Quran agar tidak dibaca oleh orang yang dalam kondisi tidak suci. Pendapat Kedua (Mazhab Hanafiyah dan sebagian Malikiyah): membolehkan wanita haidh membaca Al-Quran dengan syarat tidak menyentuhnya dan dalam kondisi darurat. Dalilnya sebagai berikut: (a) Hadis pelarangan wanita haidh membaca Al-Qur’an adalah dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan dasar hukum yang kuat. (b) Tidak adanya dalil qath’i (tegas) yang melarang secara langsung wanita haidh membaca Al-Qur’an. (c) Berbeda dengan junub, haidh tidak bisa dihindari dan berlangsung lama (5–15 hari), sehingga jika dilarang membaca Qur’an, wanita bisa kehilangan hafalan atau tidak bisa belajar, maka tidak bisa diqiyaskan kepada orang junub. (d) Dalam kondisi darurat (seperti ujian, pengajaran), wanita haidh boleh membaca Qur’an dari hafalan atau perangkat digital (tanpa menyentuh mushaf).Adapun hukum menyentuh Mushaf, mayoritas ulama melarang menyentuhnya tanpa wudhu, berdasarkan ayat: laa yamassuhuu illal muthahharuun (Tidak menyentuhnya kecuali yang disucikan) (QS. Al-Wāqi’ah: 79). Menurut jumhur, ayat ini menunjukkan bahwa mushaf hanya boleh disentuh oleh orang yang dalam keadaan suci. Maka wanita haidh dan orang junub tidak boleh menyentuh mushaf secara langsung. Namun, boleh membaca dari aplikasi HP, tablet, atau dari hafalan. Ringkasnya bahwa membaca Al Quran dengan menyentuh mushaf bagi orang junub haram berdasarkan hadits sahih, adapun bagi wanita haidh dibolehkan menurut sebagian pendapat dengan sayarat tidak menyentuh mushaf dan dalan kondisi darurat, sebagian yang lain membolehkan membaca dengan HP karena bukan mushaf, tetapi pendapat yang lain mengatakan bahwa ketika dibuka Al Quran dalam HP otomatis menjadi mushaf, adapaun mengingat dalam hati tidak tergolong membaca secara lafazh. Sebagai rekemendasi bagi yang junub: sebaiknya segara mandi agar bisa membaca Al-Qur’an. Bagi wanita haidh: sebaiknya tidak membacanya kecuali dalam kondisi darurat atau kebutuhan atau hajat syaríyah seperti menghafal, mengajar atau ujian. Jika ingin membacanya sebaiknya gunakan HP untuk hindari menyentuh mushaf secara langsung. Itupun lakukan sekedarnya kerana ada kaidah fikih ädh dharuratu tubiihul mahzhuraat”(kondisi darurat membuat boleh apa yang terlarang), tetapi pengertiannya tidak serta merta bebas melakukan itu secara terus menerus melainkan lakukanlah itu sekedarnya karena ada kaidah fikih “adh dharuratu tqaddar boqadariha”(darurat itu dibolehkan sekedarnya sesuia dengan hajat syariah). (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran). </p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-wanita-haidh-membaca-al-quran%2F&amp;linkname=MASALAH%20WANITA%20HAIDH%20MEMBACA%20AL-QURAN" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-wanita-haidh-membaca-al-quran%2F&amp;linkname=MASALAH%20WANITA%20HAIDH%20MEMBACA%20AL-QURAN" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-wanita-haidh-membaca-al-quran%2F&amp;linkname=MASALAH%20WANITA%20HAIDH%20MEMBACA%20AL-QURAN" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-wanita-haidh-membaca-al-quran%2F&amp;linkname=MASALAH%20WANITA%20HAIDH%20MEMBACA%20AL-QURAN" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MASALAH ISTIWA</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/06/17/masalah-istiwa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2025 00:17:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3904</guid>

					<description><![CDATA[MASALAH ISTIWA amirfath.com, Fiqih (20), Juni 2025 &#8211; Pertanyaan:Apa maksud itiwa-Nya Allah di atas Arsy ? Bagaimana cara memahamninya ?Jawaban:Ayat yang sering dijadikan dasar oleh sebagian kalangan untuk menetapkan sifat “bertempat” bagi Allah adalah ayat-ayat seperti firman Allah : Ar Rahmanu álal arsyis tawa (Allah Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy (QS. Taha: 5). Kaum mujassimah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>MASALAH ISTIWA</strong></strong></strong></h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"><strong>Fiqih</strong></mark> <strong>(20), Juni 2025 &#8211; </strong></mark></strong> Pertanyaan:<br>Apa maksud itiwa-Nya Allah di atas Arsy ? Bagaimana cara memahamninya ?<br>Jawaban:<br>Ayat yang sering dijadikan dasar oleh sebagian kalangan untuk menetapkan sifat “bertempat” bagi Allah adalah ayat-ayat seperti firman Allah : Ar Rahmanu álal arsyis tawa (Allah Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy (QS. Taha: 5). Kaum mujassimah atau mereka yang memahami teks ini secara harfiah menganggap bahwa Allah benar-benar bersemayam secara fisik di atas ‘Arsy. Di sini ketika mereka ditanya apakag arsy itu mahluk ataubukan? Mereka menjawab Allahun a’lam (Alah yang tahu). Padahal dalam definisi kemakhlukan dikatakan bahwa kullu majuudin siwallahi fahuwa makhluuqun (semua yang ada selain Allah itu adalah makhluk).</p>



<p>Maka jika dikatkan bahwa Allah bersemayan di atas makhlukNya tentu di sini akan terjadi masalah. Sebab akan dikatakan bahwa Allah butuh kepada makhlkNya. Jika dikatkan Allah butuh kepada makhlukNya maka jelas ini pemahamn yang salah. Maha suci Allah dari ketergantungan makhlukNya.<br>Karena itu Ahlussnah dari kalangan Al Asyáriyah dan Al Maturidiyah memilih untuk menta’wil ayat tersebut. Sebab tanpa menakwilkannya akan jatuh dalam pemahaman antropomorfis (penyerupaan Allah dengan makhluk), tentu dalam menakwil ayat-ayat tersebut tidak asal-asalan melainkan sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan prinsip-prinsip tauhid. (1). Prinsip, Allah Tidak Serupa dengan Makhluk: laisa kamitslihii syaiun (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya) (QS. Asy-Syura: 11). Ayat ini menjadi landasan utama bahwa Allah tidak memiliki bentuk, arah, tempat, atau gerakan sebagaimana makhluk. Maka, ketika ada ayat-ayat mutasyabihat seperti “istiwa ‘ala al-‘arsy”, maka ta’wil dilakukan untuk menjaga keesaan dan kesucian sifat Allah. (2). Prinsip ta’wil terhadap Makna “Istiwa” yaitu sebagai berikut: kata “istawa” secara bahasa Arab bersifat musytarak (mempunyai banyak makna). Ia bisa berarti: Tinggi (ʿalā), Berkuasa (istawlā), Tetap (istiqāma), dan Mengatur (qahr wa tasarruf). Maka, dalam konteks ayat “ar-Rahmanu ‘ala al-‘arsy istawa’, Ahl al-Ta’wil memaknai “istawa” sebagai: istawla artinya menguasai atau mengatur kekuasaan atas ‘arsy. Ini sesuai dengan tafsir sebagian ulama salaf seperti Imam al-Baqillani, Imam al-Qurthubi, dan al-Razi, serta ulama muta’akhirin dari kalangan Asy’ariyah. (3). Prinsip pengingkaran Tempat dan Arah bagi Allah. Para ulama besar seperti: Imam Abu Hanifah (w. 150 H) berkata:“Barang siapa berkata: Aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi, maka ia telah kafir, karena ia telah menetapkan tempat bagi Allah.”Imam al-Ghazali (w. 505 H) berkata:“Allah tidak berada di arah, tidak di atas dan tidak di bawah, tidak di kanan dan tidak di kiri, karena arah adalah sifat makhluk.”Imam al-Nawawi (w. 676 H) mengatakan:“Aqidah salaf adalah membiarkan (ayat-ayat mutasyabihat) sebagaimana adanya tanpa menyelami makna zahirnya, dan meyakini bahwa Allah Maha Suci dari arah, tempat, dan anggota tubuh.”(4). Dalil-Dalil Takwilan dari Al-Qur’an: Beberapa ayat yang menunjukkan bahwa Allah tidak terikat tempat: pertama, QS. Al-Hadid: 4: “Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” Jika Allah bersama makhluk di mana pun, bagaimana mungkin Dia hanya berada “di atas ‘arsy”? Kedua, QS. Ash-Shura: 11: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”Tempat, arah, dan bersemayam adalah sifat makhluk, maka tidak layak disandarkan kepada Allah. (5). Konsep “Bersemayam” dalam Konteks Kerajaan dan Kekuasaan. Dalam banyak ungkapan Arab klasik, kata “istiwa ‘ala al-‘arsy” dipakai untuk menunjukkan penguasaan seorang raja atas singgasananya, bukan duduk secara fisik. Misalnya:“Fulanun istawa ‘ala al-mulk” artinya: “Ia menguasai kerajaan”, bukan “ia duduk di atas kerajaan”. Demikian juga dalam konteks Allah, ‘arsy bukan tempat bagi Allah, tetapi simbol kebesaran dan kekuasaan-Nya atas seluruh makhluk (6). Pendapat Ulama-Ulama Besar, Imam Malik ketika ditanya tentang istiwa’, menjawab:“Istiwa itu ma’lum (dipahami dalam bahasa), bagaimana (kaifiyyah) itu majhul (tidak diketahui), was suálu ánhu bidátun (dan bertanya tentangnya adalah bid’ah).”Ini menunjukkan kehati-hatian dalam membahas ayat-ayat mutasyabihat. Ia tidak menetapkan makna jasmani. Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) mengatakan:“Jika Allah Maha Suci dari arah, maka tidak mungkin Dia duduk atau bertempat di atas ‘arsy.”(7). Konsep ‘Arsy dalam Perspektif Ahlussunnah: ‘Arsy adalah makhluk terbesar yang mencerminkan kemuliaan dan kekuasaan Allah. Dipastikan Allah tidak membutuhkan ‘arsy, bahkan ‘arsy butuh kepada Allah, sebagaimana seluruh makhluk lainnya.<br>Kesimpulan dari apa yang dibahas di atas: pertama, Pandangan bahwa Allah benar-benar bersemayam secara fisik di atas ‘arsy bertentangan dengan prinsip dasar tauhid dan kesucian Allah dari sifat-sifat makhluk. Karena itu Ahl al-Ta’wil menjawab ayat-ayat mutasyabihat dengan pendekatan ta’wil yaitu dengan: Menafsirkan istiwa dengan makna menguasai (istawlā), Kedua, menolak keyakinan bahwa Allah butuh tempat atau arah, karena itu adalah sifat makhluk, Ketiga, menguatkan akidah tanzih: Allah Maha Suci dari segala bentuk penyamaan dengan makhluk. Dengan demikian, menakwil ayat “istiwa” adalah cara untuk menjaga kemurnian tauhid, bukan untuk menolak nash, melainkan untuk menjaga kesesuaiannya dengan nash lain dan kaidah tauhid. (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-istiwa%2F&amp;linkname=MASALAH%20ISTIWA" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-istiwa%2F&amp;linkname=MASALAH%20ISTIWA" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-istiwa%2F&amp;linkname=MASALAH%20ISTIWA" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F17%2Fmasalah-istiwa%2F&amp;linkname=MASALAH%20ISTIWA" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>APA HUKUM MELAFALKAN NIAT ?</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/06/16/apa-hukum-melafalkan-niat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2025 09:41:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[badal haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3902</guid>

					<description><![CDATA[APA HUKUM MELAFALKAN NIAT ? amirfath.com, Fiqih (19), Juni 2025 &#8211; Pertanyaan:Pak Ustdaz, apa hukum melafalkan niat dalam ibadah seperti shalat, puasa, dan ibadah lainnya?Jawaban :Niat merupakan syarat sah dalam banyak ibadah, termasuk shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Dalinya adalah hadits nabi saw. innamal a’maallu bin niyyati wa innamaa likullimriin maa nawaa (sesungguhnya setiap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong><strong><strong>APA HUKUM MELAFALKAN NIAT ?</strong></strong></strong></h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color">amirfath.com, <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#5c198c" class="has-inline-color"><strong>Fiqih</strong></mark> <strong>(19), Juni 2025 &#8211; </strong></mark></strong> Pertanyaan:<br>Pak Ustdaz, apa hukum melafalkan niat dalam ibadah seperti shalat, puasa, dan ibadah lainnya?<br>Jawaban :<br>Niat merupakan syarat sah dalam banyak ibadah, termasuk shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Dalinya adalah hadits nabi saw. innamal a’maallu bin niyyati wa innamaa likullimriin maa nawaa (sesungguhnya setiap amal harus disertai dengan niat, dan setiap orang akan mendaptakan balasan atas amalnya sesuai dengan niatnya) (HR. Bukhari Muslim). Semua ulama sepakat bahwa niat tempatnya di hati. Tetapi pertanyannya apakah boleh melafalkannya? Sebagian ulama membolehkan melafalkan niat dengan lisan sebagai alat bantu hati untuk lebih menghadirkan maksud ibadah. Ini disarkan atas kaidah: maa yuíinu ilal mathluubi fahuwa mustahab (apa yang membantu kesempurnaan sebuah rukun maka hukumnya dianjurkan). Niat adalah rukun dalam setiap ibadah. Bila melafalkan niat akan membantu kesempurnaan niat dalam hati segingga seseorang dengannya menjadi lebih fokus, maka hukumnya dianjurkan. Inilah pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i dan sebagian dari mazhab Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa melafalkan niat dengan lisan adalah mustahab (dianjurkan), bukan wajib. Tujuannya adalah untuk membantu kehadiran hati, terutama bagi orang awam atau orang yang kesulitan menghadirkan niat dalam hati.</p>



<p>Contoh: Seseorang hendak shalat subuh, lalu mengucapkan “Ushallī fardha al-ṣubḥi adā’an lillāhi taālā.”’(aku berbiat shalat Subuh dua rakaat menghadap kiblat sebagai adaán karena Allah taálaa). Cara ini secara ekplisit tentu akan membantu kesempurnaan niat. Sebab niat itu harus ada beberapa unsur, pertama adanya kata ushalli untuk menunjukkan bahwa ia sedang berniat shalat bukan berniat puasa atau ibadah lainnya. Kedua, kara fardhu, untuk menunjukkanbahwa yang sedang diekerjakan adalah hal yang fardhu bukan sunnah. Ketiga, wa innamaa likullim ata adaán untuk menunjukan bahwa shalat yang ia kerjakana bukan qadhaan, Keempat, kata ash shubhi untuk menunjukkan baha ia sedang melaksnakan shalat subuh bukan shalat lainnya. Kemudian kata lillaahi taálaa untuk menunjukkan bahwa ia melakukan shalat tersebut ikhlash karena Allah bukan karena ingin dipuji. Jadi jelaslah bahwa semua ulama sepakat bahwa tempatnya niat dalam hati, adapun pelafalannya adalah sebagai pelengkap saja bukan niat itu sendiri.</p>



<p>Dalil utama bolehnya melafalkan niat adalah qiyas (analogi): yaitu dikiaskan kepada niat dalam Haji dan Umrah karena Rasulullah saw. ketika melaksanakan haji dan umrah melafakan niat dengan mengucapkan “labbaikallahumma umratan wa hajjan”. Hadistnya sahih dari Anas bin Malik ra., beliau berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw. ketika berihram mengatakan: Labbaika Allāhumma ‘umratan wa ḥajjan.”(HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengucapkan niat haji dan umrah secara lisan. Para sahabat pun mengikuti cara ini. Berdasarkan ini para ulama seperti Imam Nawawi dalam al-Majmū’ dan Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtāj menyatakan bahwa:“Jika dalam haji Nabi ﷺ melafalkan niat sebagai bentuk ibadah khusus, maka dalam ibadah lain seperti shalat, puasa, dan zakat, boleh melafalkan niat sebagai bentuk pendekatan kepada Allah dan bantuan untuk menghadirkan niat dalam hati.</p>



<p>Untuk lebih jelasnya bacalah penjelasan para ulama berikut: (a) Imam Nawawi (w. 676 H) mengatakan: “Disunnahkan melafalkan niat sebelum takbir dalam shalat menurut mazhab kami (Syafi’i), untuk membantu kehadiran niat dalam hati.”(al-Majmū’Syarḥ al-Muhadzdzab, 3/276). (b) Imam Ibn Qudamah (w. 620 H) – Mazhab Hanbali mengatakan:“Tempat niat adalah di hati. Tidak disyaratkan dilafalkan, tetapi jika dilafalkan tidak mengapa”. (al-Mughni, 1/280) (c) Imam Al-Ghazali (w. 505 H): “Melafalkan niat adalah untuk membantu kekhusyukan dan konsentrasi ibadah.”(Iḥyā Ulūm al-Dīn)<br>Kesimpulan dari apa yang kita bahas adalah : (a) Tempat niat adalah hati, dan itu yang menjadi syarat sah ibadah. (b) Melafalkan niat tidak wajib, tetapi boleh dilakukan dan dalam mazhab Syafii bahkan dianjurkan (mustahab) karena itu membantu kesempurnaan niat. (c) Dalil bolehnya melafalkan niat adalah qiyas kepada talbiyah dalam ibadah haji dan umrah, yang dilakukan secara terang-terangan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat. (d) Melafalkan niat dalam ibadah bukanlah bidáh munkarah juga tidak membatalkan ibadah, selama niat dalam hati telah benar dan sesuai. (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir&nbsp;Al&nbsp;Quran&nbsp;)</p>



<p></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F16%2Fapa-hukum-melafalkan-niat%2F&amp;linkname=APA%20HUKUM%20MELAFALKAN%20NIAT%20%3F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F16%2Fapa-hukum-melafalkan-niat%2F&amp;linkname=APA%20HUKUM%20MELAFALKAN%20NIAT%20%3F" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F16%2Fapa-hukum-melafalkan-niat%2F&amp;linkname=APA%20HUKUM%20MELAFALKAN%20NIAT%20%3F" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F06%2F16%2Fapa-hukum-melafalkan-niat%2F&amp;linkname=APA%20HUKUM%20MELAFALKAN%20NIAT%20%3F" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Terkecoh Dosa</title>
		<link>https://amirfath.com/2025/05/05/jangan-terkecoh-dosa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 May 2025 02:49:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3894</guid>

					<description><![CDATA[Jangan Terkecoh Dosa amirfath.com, Artikel (286),Mei 2025 Banyak orang menyangka ketika dimudahkan urusan dunianya, ia telah mencapai sukses. Padahal dalam hidupnya sehari-hari masih lebih menyukai dosa daripada ketaatan kepada Allah SWT. Ada seorang wanita yang baru saja insaf dan telah mulai memakai jilbab. Tidak lama setelah itu, usahanya bangkrut dan di saat yang sama ikatan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center">Jangan Terkecoh Dosa</h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color: rgb(92, 25, 140);" class="has-inline-color"><font style="background-color: rgba(0, 0, 0, 0); vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">amirfath.com, Artikel </font></font><strong style=""><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">(286),</font>Mei <font style="vertical-align: inherit;">2025 </font></font></strong></mark></strong>Banyak orang menyangka ketika dimudahkan urusan dunianya, ia telah mencapai sukses. Padahal dalam hidupnya sehari-hari masih lebih menyukai dosa daripada ketaatan kepada Allah SWT.</p>



<p>Ada seorang wanita yang baru saja insaf dan telah mulai memakai jilbab. Tidak lama setelah itu, usahanya bangkrut dan di saat yang sama ikatan rumah tangganya hancur.</p>



<p>Dengan kejadian tersebut, ia mengambil kesimpulan bahwa jilbab yang dikenakan telah membawa bencana bagi usahanya. Akibatnya, ia kembali ke masa lalunya, bebas membuka aurat dan hidup dalam kemasiatan tanpa batas.</p>



<p>Teman-temannya segera memberikan nasihat agar tetap bertahan dalam ketaatan. Bahwa apa yang ia alami hanyalah ujian, bukan karena hijrahnya ke jalan yang benar.</p>



<p>Namun semua nasihat diabaikan.&nbsp;Ia tetap memilih jalan dosa sebab baginya inilah jalan yang telah mengatarkannya kepada kesuksesan dunia.</p>



<p>Surah al-An&#8217;am telah memberikan jawaban atas permasalahan ini. Bahwa sukses dunia yang ia capai, sebenarnya bukan sukses hakiki. Tetapi itu hanya DP (<em>down payment</em>) untuk membuatnya semakin mudah melengkapi dosa-dosanya.</p>



<p>Di saat itu &#8211;kata Allah&#8211; mereka lupa nasihat kebenaran (<em>Falammaa nasuu madzukkiruu bihii</em>) (QS&nbsp;al-An&#8217;am: 44). Maksudnya, berbagai peringatan tidak mempan lagi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Mereka menutup telinga seperti kaumnya Nabi Nuh yang secara demonstratif menelungkupkan baju-baju ke atas kepala lalu menutupkan jari-jarinya ke telinga mereka supaya tidak bisa mendengar apa yang disampaikan Nabi Nuh.</p>
</blockquote>



<p>Mereka menutup telinga seperti kaumnya Nabi Nuh yang secara demonstratif menelungkupkan baju-baju ke atas kepala lalu menutupkan jari-jarinya ke telinga mereka supaya tidak bisa mendengar apa yang disampaikan Nabi Nuh (QS Nuh: 7).</p>



<p>Di sini, mereka berbuat dosa apa saja yang disukai nafsunya. Pada saat mereka berada di puncak dosa, Allah SWT datangkan kepada mereka hamburan dunia dengan segala kemewahannya (<em>Fatahnaa ‘alaihim abwaaba kulli syain</em>) (QS&nbsp;al-An&#8217;am: 44).</p>



<p>Kata &#8220;<em>fathanaa&#8221;</em>&nbsp;(Kami membuka) ini bukti bahwa Allah-lah yang membuka kemudahan dunia itu, bukan kehebatan mereka. Hanya saja mereka salah paham dengan beranggapan bahwa limpahan harta itu adalah sukses yang mereka capai.</p>



<p>Padahal tidak demikian, melainkan sebagai&nbsp;<em>istidraaj</em>&nbsp;(<em>Sanastadrijuhum min haitsu laa ya’lamuun</em>) (QS&nbsp;al-Qalam: 44).</p>



<p>Di sini, Allah SWT menyebutkan keterangan &#8220;<em>min haitus laa ya’lamuun&#8221;</em>&nbsp;(Tanpa mereka mengetahuinya). Maksudnya, mereka tidak tahu bahwa gelimang harta yang dicapai bersamaan dengan dosa-dosa yang mereka perbuat, sebenarnya adalah tahapan untuk mengantarkan mereka ke lubang azab yang pedih.</p>



<p>Karena itu, pada ayat berikutnya, Allah SWT menggambarkan bahwa justru nanti pada saat mereka sedang bersenang-senang dengan dosa, azab yang telah Allah SWT persiapkan seketika akan datang menimpa (<em>Hattaa idzaa farihuu bimaa uutuu akhadznaahum baghtatan faidzaa hum mublisuun</em>) (QS&nbsp;al-An&#8217;am: 44).</p>



<p>Kata &#8220;<em>farihuu&#8221;</em>&nbsp;(bersenang-senang) menunjukkan bahwa datangnya azab itu bukan di saat mereka sulit, melainkan justru&nbsp;ketika mereka sedang bersenang-senang terlena dalam gemerlap dosa.</p>



<p>Kata &#8220;<em>bimaa uutuu&#8221;</em>&nbsp;(apa yang mereka dapatkan) berupa kekayaan dan kemewahan harta, itu sebenarnya sengaja Allah SWT berikan bukan sebagai karunia kesuksesan melainkan sebagai fasilitas untuk memudahkan jalan dosa yang mereka inginkan.</p>



<p>Kata &#8220;<em>akhadznaa&#8221;</em>&nbsp;(Kami mengazab) menunjukkan kemurkaan-Nya, karena Allah SWT langsung yang turun tangan untuk mengazab.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Kata &#8220;bimaa uutuu&#8221; (apa yang mereka dapatkan) berupa kekayaan dan kemewahan harta, itu sebenarnya sengaja Allah SWT berikan bukan sebagai karunia kesuksesan melainkan sebagai fasilitas untuk memudahkan jalan dosa yang mereka inginkan.</p>
</blockquote>



<p>Kata &#8220;<em>baghtatan&#8221;</em>&nbsp;(secara tiba-tiba) menggambarkan bahwa azab yang Allah SWT turunkan tidak kenal kompromi dan tidak di sangka-sangka serta akan menimpa siapa saja yang Dia kehendaki.</p>



<p>Surah al-An’am tema pokoknya adalah hakikat tauhid.&nbsp;Bahwa tidak ada yang pantas dituhankan di muka bumi kecuali Allah SWT.</p>



<p>Diturunkan kepada Rasulullah&nbsp;SAW sekaligus langsung satu surah, untuk menunjukkan keagungannya sebagai satu kesatuan tak terpisahkan.</p>



<p>Berbeda dengan surah-surah lainnya yang tergolong&nbsp;<em>ath thiwal</em>&nbsp;(surah-surah panjang) yang diturunkan secara terpencar antar bagiannya, surah al An’am benar-benar istimewa diturunkan secara lengkap dalam satu malam.</p>



<p>Di saat yang sama di malam itu, sejumlah&nbsp;70 ribu malaikat turun dengan suaranya yang bergema memekikkan tasbih mengiringi turunnya surah al-An&#8217;am.</p>



<p>Memang tujuan pokok surah ini adalah meneriakkan hakikat tauhid dan menolak segala bentuk kemusyrikan, termasuk membantah kaum atheis dan orang-orang yang menolak patuh kepada-Nya.</p>



<p>Biasanya mereka menjadi atheis atau kafir karena terkecoh oleh gemerlap materialisme yang diraih. Mereka merasa cukup dengan gelimang benda-benda itu sebagai bekal hidup tanpa Allah SWT. Padahal, mereka sedang terpedaya dalam kesementaraan.</p>



<p>Surah al-An&#8217;am hadir untuk memberikan jawaban telak atas keterkecohan mereka dalam gemerlap materialisme supaya mereka tersadar dan kembali ke jalan tauhid.</p>



<p><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">sumber :</font></font> <a href="https://republika.id/posts/57734/jangan-terkecoh-dosa">https://republika.id/posts/57734/jangan-terkecoh-dosa</a></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F05%2F05%2Fjangan-terkecoh-dosa%2F&amp;linkname=Jangan%20Terkecoh%20Dosa" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F05%2F05%2Fjangan-terkecoh-dosa%2F&amp;linkname=Jangan%20Terkecoh%20Dosa" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F05%2F05%2Fjangan-terkecoh-dosa%2F&amp;linkname=Jangan%20Terkecoh%20Dosa" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2025%2F05%2F05%2Fjangan-terkecoh-dosa%2F&amp;linkname=Jangan%20Terkecoh%20Dosa" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fondasi Mendidik Anak pada Era Digital Ala Ustaz Amir Faishol Fath</title>
		<link>https://amirfath.com/2023/11/19/fondasi-mendidik-anak-pada-era-digital-ala-ustaz-amir-faishol-fath/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Nov 2023 23:15:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3887</guid>

					<description><![CDATA[Fondasi Mendidik Anak pada Era Digital&#160;Ala&#160;Ustaz Amir Faishol Fath amirfath.com, Artikel (284),November 2023 Bagi banyak orang tua, mendidik anak pada era digital, terasa lebih menantang dibanding pada era sebelumnya. Namun, menurut Juri Hafidz Indonesia Ustaz Dr Amir Faishol Fath, sejatinya cara mendidik anak pada zaman digital sama saja dengan cara mendidik anak pada zaman jahiliyah. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center">Fondasi Mendidik Anak pada Era Digital&nbsp;<em>Ala</em>&nbsp;Ustaz Amir Faishol Fath</h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color: rgb(92, 25, 140);" class="has-inline-color"><font style="background-color: rgba(0, 0, 0, 0); vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">amirfath.com, Artikel </font></font><strong style=""><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">(284),</font>November <font style="vertical-align: inherit;">2023</font></font></strong></mark></strong> Bagi banyak orang tua, mendidik anak pada era digital, terasa lebih menantang dibanding pada era sebelumnya. Namun, menurut Juri Hafidz Indonesia Ustaz Dr Amir Faishol Fath, sejatinya cara mendidik anak pada zaman digital sama saja dengan cara mendidik anak pada zaman jahiliyah.</p>



<p>Menurut dia, tidak ada yang berubah.&nbsp;“Manusianya sama, itu-itu juga. Tidak ada yang berubah,” ujar Ustaz Amir dalam acara&nbsp;<em>talkshow</em>&nbsp;keluarga Barakah Parenthood in Digital Era, Islamic Book Fair 2023, di Jakarta, Ahad (24/9/2023).&nbsp;</p>



<p>Fondasi utama dalam mendidik anak, Ustaz Amir mengungkapkan, adalah membangun tauhid. Orang tua mengajarkan anak bergantung kepada Allah, mengingat&nbsp;<em>minallah, lillah,</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>ilallah</em>.&nbsp;“Anakku kamu dari Allah, kamu tidak ada tanpa Allah, maka kamu harus berbuat untuk Allah, lillah. Maka kamu akan menghadap Allah, ilallah. Nanti kamu akan bertemu Allah dan kamu akan dimintai pertanggung jawaban,” kata Pakar Tafsir Alquran ini.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-embed-handler wp-block-embed-embed-handler"><div class="wp-block-embed__wrapper">
https://youtube.com/watch?v=pOoT8uVvj60%3Fsi%3D2ECLJdaUModkQ7v-
</div></figure>



<p>Setelah fondasi utama itu dibangun, Ustaz Amir melanjutkan, anak mau berhadapan dengan apa pun, misalnya digital ataupun nondigital, maka dia akan aman. Sebab, anak tersebut sudah memiliki fondasi iman yang kuat.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, Ustaz Amir menceritakan, pada zaman jahiliyah Nabi Muhammad SAW hidup seperti anak remaja pada umumnya. Nabi Muhammad SAW pernah ingin menonton pesta pernikahan pada zaman jahiliyah, yang tentunya banyak hal yang membuka aurat di pesta tersebut.&nbsp;</p>



<p>Nabi Muhammad SAW sudah hadir di tempat itu. Tetapi begitu sampai, Nabi Muhammad SAW tertidur dan tidak bangun kecuali setelah matahari terbit dan sudah tidak ada orang sama sekali.&nbsp;</p>



<p>Hari berikutnya ada pesta itu lagi. Nabi Muhammad SAW ingin hadir kembali. Kemudian, Nabi Muhammad SAW tertidur lagi sampai matahari terbit.&nbsp;</p>



<p>Di balik kisah itu, Ustaz Amir mengungkapkan kalau ada tontonan di media sosial atau hal yang mengajak kepada dosa, anak jangan dimudahkan untuk memegang ponsel pintar.&nbsp; “Dikontrol, jangan dibebaskan, jangan kemudian dia disuruh nonton terus, sehingga boleh pegang itu, pegang ini, nonton ini, nonton itu, jangan. Jangan semua setiap hari pegang HP kecuali sudah dewasa,” katanya.</p>



<p>CEO Fath Institute ini juga menambahkan sudah dewasa juga harus dijaga imannya.&nbsp;“Anak remaja ini jangan kemudian boleh melihat apa saja, ingat bahwa kamu akan dihisab oleh Allah dan kamu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Jadi, sama saja pokoknya namanya digital atau tidak, biasakan anak ini untuk mengontrol diri,” ujar Ustaz Amir menjelaskan.&nbsp;</p>



<p>Di sisi lain, Ustaz Amir menyarankan untuk mengajari anak tentang sisi positif digital. Ustaz Amir memberi contoh dirinya bersama anak-anak Hafidz Indonesia.&nbsp;Dia menyebutkan banyak dari mereka yang belum bisa membaca Alquran.</p>



<p>Meski begitu, anak-anak tersebut bisa hafal Alquran, karena mereka diperdengarkan Alquran oleh bapak dan ibunya menggunakan&nbsp;<em>handphone</em>&nbsp;sehingga dengan mudah mereka menjadi penghafal Alquran.&nbsp;“‘<em>Kok</em>&nbsp;bisa pak ustaz, belum bisa baca hafal Alquran? Bisa. Pada zaman Nabi belum ada Alquran, belum tertulis, Nabi hafal Alquran pakai pendengaran,” katanya.&nbsp;</p>



<p>Jadi anak yang belum bisa membaca Alquran, Ustaz Amir menuturkan, biasakan mendengarkan Alquran secara digital sehingga dia hafal. Caranya adalah dengan bertahap.&nbsp;Misalnya, setiap satu ayat diulang-ulang sampai 100 kali sehingga anak kemudian hafal karena dalam penelitian bahwa setiap data yang diulang sampai 40 kali minimal, maka dia akan pindah dari otak kanan ke otak kiri.</p>



<p>Ketika diulang 500 kali maka itu akan melekat di otak kiri dan tidak akan lupa. Lalu, ketika diulang 1.000 kali, maka anak menjadi hafal seumur hidup.&nbsp;“Jadi menghafal ya begitu, digital membantu untuk bisa hafal. Bapak-ibunya hadir,” ujarnya.</p>



<p>Terakhir, Ustaz Amir juga berpesan kepada orang tua jangan asal memberikan ponsel kepada anak supaya mereka anteng. Itu bukan ibu-bapak yang baik. Bagi Ustaz Amir, ibu-bapak yang baik adalah yang mengontrol anaknya.</p>



<p>“Kalau ada seorang Ibu tidak rela ‘Pak Ustaz Aku tidak rela anakku kecelakaan, aku tidak rela jangan sampai anakku pecah otaknya, dijaga, dirawat’.&nbsp;<em>Nah</em>&nbsp;sama saja bu, ibu&nbsp;<em>ngasih</em>&nbsp;HP ‘Ini Nak HP, sana main’, ibu sama, dia telah menghancurkan anak sehingga anak ini menjadi rusak otaknya dan tidak bisa cerdas,” kata Ustaz Amir.</p>



<p>Menurut dia, sebaiknya&nbsp;gunakan teknologi digital sebagai sarana untuk menjadi kebaikan. Termasuk menjadi sarana penghafal Alquran dan itu sudah banyak buktinya.</p>



<p><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">sumber :</font></font> https://www.republika.id/posts/45870/fondasi-mendidik-anak-pada-era-digital-ala-ustaz-amir-faishol-fath</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Ffondasi-mendidik-anak-pada-era-digital-ala-ustaz-amir-faishol-fath%2F&amp;linkname=Fondasi%20Mendidik%20Anak%20pada%20Era%20Digital%C2%A0Ala%C2%A0Ustaz%20Amir%20Faishol%20Fath" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Ffondasi-mendidik-anak-pada-era-digital-ala-ustaz-amir-faishol-fath%2F&amp;linkname=Fondasi%20Mendidik%20Anak%20pada%20Era%20Digital%C2%A0Ala%C2%A0Ustaz%20Amir%20Faishol%20Fath" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Ffondasi-mendidik-anak-pada-era-digital-ala-ustaz-amir-faishol-fath%2F&amp;linkname=Fondasi%20Mendidik%20Anak%20pada%20Era%20Digital%C2%A0Ala%C2%A0Ustaz%20Amir%20Faishol%20Fath" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Ffondasi-mendidik-anak-pada-era-digital-ala-ustaz-amir-faishol-fath%2F&amp;linkname=Fondasi%20Mendidik%20Anak%20pada%20Era%20Digital%C2%A0Ala%C2%A0Ustaz%20Amir%20Faishol%20Fath" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ustaz Amir Faishol Fath, Raih Berkah Bulan Alquran</title>
		<link>https://amirfath.com/2023/11/19/ustaz-amir-faishol-fath-raih-berkah-bulan-alquran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Nov 2023 23:14:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3885</guid>

					<description><![CDATA[Ustaz Amir Faishol Fath, Raih Berkah Bulan Alquran amirfath.com, Artikel (283),November 2023 Para ulama menggelari Ramadhan sebagai Syahr al-Qur’an. Predikat tersebut tidak hanya berarti bahwa Alquran diturunkan pada bulan nan suci ini. Dengan sebutan itu, mereka mengajak umat Islam untuk sebaik mungkin meningkatkan interaksi dengan Kitabullah. Pengasuh Pondok Pesantren Fath Sukawangi, Bogor, Jawa Barat, Ustaz Amir [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center">Ustaz Amir Faishol Fath, Raih Berkah Bulan Alquran</h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color: rgb(92, 25, 140);" class="has-inline-color"><font style="background-color: rgba(0, 0, 0, 0); vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">amirfath.com, Artikel </font></font><strong style=""><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">(283),</font>November <font style="vertical-align: inherit;">2023</font></font></strong></mark></strong> Para ulama menggelari Ramadhan sebagai <em>Syahr al-Qur’an</em>. Predikat tersebut tidak hanya berarti bahwa Alquran diturunkan pada bulan nan suci ini. Dengan sebutan itu, mereka mengajak umat Islam untuk sebaik mungkin meningkatkan interaksi dengan Kitabullah.</p>



<p>Pengasuh Pondok Pesantren Fath Sukawangi, Bogor, Jawa Barat, Ustaz Amir Faishol Fath, mengatakan, kemuliaan Ramadhan tidak terlepas dari Alquran. Ia pun mengimbau kaum Muslimin untuk berlomba-lomba membaca, mengkhatamkan, menghafal, serta merenungi ayat-ayat suci.</p>



<p>“Disebut&nbsp;<em>Syahr al-Qur’an&nbsp;</em>karena Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 185, yang menegaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran,” ujar ahli ilmu tafsir Alquran itu.</p>



<p>Menurut Ustaz Amir, kesempatan di sepanjang bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan setiap Muslim untuk bisa lebih bersahabat dengan Alquran. Dai kelahiran Pulau Madura itu mengingatkan, salah satu rukun iman adalah mempercayai kitab-kitab Allah. Salah satunya adalah Alquran.</p>



<p>Lantas, bagaimana cara membuktikan keimanan terhadap Alquran? Lebih jauh lagi, bagaimana meraih keberkahan selama Ramadhan dengan Alquran? Kaitannya dengan malam Lailatul Qadar seperti apakah? Untuk menjawabnya, berikut wawancara yang dilakukan wartawan&nbsp;<em>Republika</em>,&nbsp;<strong>Muhyiddin</strong>, bersama dengan pemimpin lembaga Fath Institute of Islamic Research ini, beberapa waktu lalu.</p>



<p><strong>Bagaimana pendapat Anda mengenai predikat Ramadhan sebagai&nbsp;<em>Syahr al-Qur’an</em>?</strong></p>



<p>Ya, bulan suci Ramadhan disebut sebagai&nbsp;<em>Syahr al-Qur’an</em>. Sebab, Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 185, “<em>Syahru Ramadhaanalladziii unzila fiihil Qur&#8217;aan</em>.” Artinya, “Bulan Ramadan adalah yang di dalamnya diturunkan Alquran.”</p>



<p>Nah, menariknya, di dalam Alquran ketika menyebut tentang puasa Allah tidak memakai kata&nbsp;<em>Ramadhan</em>. Allah hanya menggunakan&nbsp;<em>at-ta&#8217;rif</em>, yang menunjukkan makna definitif bahwa yang dimaksudkan-Nya adalah puasa Ramadhan.</p>



<p>Di situ, Allah cukup berfirman, “<em>Kutiba &#8216;alaikumush shiyam</em>.” Namun, ketika Allah menyebutkan kata&nbsp;<em>Alquran</em>, langsung disebut-Nya&nbsp;<em>Ramadhan</em>, yaitu ayat ke-185 dari surah al-Baqarah.</p>



<p><strong>Apa makna di balik perbedaan itu?</strong></p>



<p>Ya, mengapa yang satu menggunakan kata&nbsp;<em>Ramadhan&nbsp;</em>dan yang lainnya tidak? Sebab, kalau puasa (wajib) semua orang sudah mengetahui bahwa pasti maksudnya adalah puasa Ramadhan. Namun, banyak orang yang tidak tahu bahwa Ramadhan adalah bulan Alquran.</p>



<p>Maka, seharusnya pada saat berpuasa otomatis seorang Mukmin mendekatkan diri dan bersahabat dengan Alquran. Jadi, pada bulan Ramadhan jangan hanya berpuasa. Sebab, seperti ditegaskan dalam firman-Nya, justru saat Ramadhan kita bisa meraih keberkahan dan meningkatkan rasa syukur ketika memperbanyak baca Alquran.</p>



<p>Itulah mengapa, pada penutup surah al-Baqarah ayat 185 Allah menyebutkan, “<em>Wala ‘allakum tasykuruun</em>.” Artinya, ‘agar kamu (Mukminin) bersyukur.’ Berarti, seorang dianggap mensyukuri nikmat Ramadhan ketika ia bersama Alquran. Inilah salah satu makna Ramadhan sebagai&nbsp;<em>Syahr al-Qur’an</em>.</p>



<p>Kesimpulannya, Ramadhan disebut&nbsp;<em>Syahr al-Qur’an&nbsp;</em>karena di dalamnya permulaan Alquran diturunkan. Kemudian, Ramadhan juga menjadi mulia karena Alquran. Seandainya Allah tidak menurunkan Alquran pada Ramadhan, maka bulan tersebut tidak akan semulia ini.</p>



<p><strong>Apa saja bentuk kedekatan seorang Muslim dengan Alquran selama Ramadhan ini?</strong></p>



<p>Ada beragam. Tentunya, salah satunya adalah ketika seorang Muslim mengkhatamkan Alquran. Saya kira, dengan begitu ia sebenarnya baru saja menjalankan salah satu kewajiban di antara sekian banyak (kewajiban) sebagai konsekuensi imannya kepada Alquran.</p>



<p>Kita tahu, rukun iman itu ada enam perkara. Di antaranya adalah beriman kepada kitab-kitab Allah. Nah, di antara kitab Allah itu adalah Alquran.</p>



<p><strong>Bagaimana konkretnya pembuktian iman itu?</strong></p>



<p>Cara membuktikan iman kepada Alquran itu ada lima hal. Pertama adalah tilawah atau membaca. Kedua,&nbsp;<em>al-hafzu&nbsp;</em>yakni menghafal. Ketiga,&nbsp;<em>al-fahmu</em>, memahami. Keempat,&nbsp;<em>al-amal&nbsp;</em>yaitu mengamalkan pesannya. Yang kelima adalah&nbsp;<em>ad-dakwah</em>, yaitu mengajak orang kepada Alquran.</p>



<p>Jadi, membaca itu adalah salah satu dari kewajiban untuk membuktikan imannya seseorang kepada Alquran. Paham atau tidak paham, ketika ia membaca Alquran, otomatis akan langsung dihitung sebagai ibadah. Seperti disampaikan Nabi SAW, pembaca Alquran akan mendapatkan pahala per huruf (yang dibaca).</p>



<p>Jadi, itulah rahasia ibadah membaca Alquran. Dengan membacanya saja, itu sudah menjadi sesuatu yang sangat sakral, utamanya sebagai ibadah pada bulan Ramadhan ini. Makanya, para ulama, baik yang sibuk mengajar, memberi tahu kepada murid-muridnya untuk berhenti mengajar ketika sudah datang Bulan Alquran atau bulan Ramadhan.</p>



<p>Mereka meminta izin supaya bisa fokus kepada Alquran. Makanya, tidak heran kalau ada riwayat yang menyebutkan, Imam Syafii mengkhatam Alquran sebanyak 60 kali setiap Ramadhan.</p>



<p>Jadi, seperti itulah para ulama dahulu. Mereka benar-benar bersahabat dengan Alquran. Mereka fokus kepada ibadah tilawah atau membacanya. Adapun ibadah memahami atau mendalaminya itu biasanya banyak dilakukan di luar Ramadhan.</p>



<p><strong>Apa saja hikmah tadabur Alquran?</strong></p>



<p>Bagi orang yang sudah belajar bahasa Arab, mengerti ilmu tafsir dan fikih, maka setiap ia membaca Alquran otomatis juga akan melakukan tadabur. Maka, semakin ia banyak membaca Alquran, kian banyak pula mendapatkan ilmu baru. Aquran ajaibnya di situ.</p>



<p>Saya mengatakan ini bukan karena saya sudah selevel ulama. Namun, saya sering belajar ilmu tafsir Alquran. Saya itu setiap membaca satu halaman juga selalu menemukan hal baru dari Alquran. Menemukan makna baru yang belum pernah disadari saya sebelumnya.</p>



<p>Jadi, ketika membaca ayat-ayat tentang Ramadhan, misalnya, saya sebenarnya sudah membaca berkali-kali semua tafsirnya. Namun, saya selalu menemukan makna baru yang belum pernah saya temukan di tafsir.</p>



<p>Misalnya, ketika saya membaca surah al-Baqarah ayat 183 sampai 187 tentang Ramadhan. Saya menemukan, ternyata ini satu paket. Jadi, ayat ke-183 itu dibuka dengan “<em>Kutiba ‘alaikumush shiyaam</em>” dan ditutup dengan “<em>La ‘allakum tattaquun</em>.” Penutup ayatnya adalah tentang iktikaf, yang ditutup dengan “<em>La ‘allakum yattaquun</em>.”</p>



<p>Jadi, kegiatan puncak Ramadhan itu sebetulnya adalah iktikaf. Itu sudah satu paket dari Allah. Nah, inilah yang tidak pernah dibahas dalam umumnya buku-buku tafsir. Selama ini, yang dibahas hanyalah tentang “<em>Kutiba ‘alaikumush shiyaam</em>.”</p>



<p><strong>Menurut Anda, apa tafsiran tentang iktikaf pada penutup ayat tentang Ramadhan itu?</strong></p>



<p>Setelah saya merenungkan betapa indahnya Ramadhan, lalu mengapa iktikaf dibahas pada bagian penutup (ayat)? Sebab, berarti memang pada praktiknya Nabi Muhammad SAW pada 10 malam terakhir Ramadhan itu beriktikaf. Nabi SAW seumur hidupnya selalu beriktikaf pada bulan Ramadhan. Pada tahun Nabi SAW wafat, beliau juga beriktikaf 20 hari lamanya.</p>



<p>Ini yang belum pernah saya temukan di buku-buku tafsir manapun. Ini benar-benar dari hasil tadabur tadi, dan subhanallah ternyata iktikaf merupakan acara puncak Ramadhan. Makanya, Allah langsung tutup (ayat itu) dengan “<em>La ‘allakum yattaquun</em>,”yaitu agar kamu (Mukminin) mencapai puncak takwa.</p>



<p>Inilah yang namanya tadabur. Kita tidak sekadar membaca Alquran, tetapi juga mengulang-ulang pencarian makna dalam Alquran.</p>



<p><strong>Pada bulan Ramadhan, umat Islam juga selalu memperingati Nuzulul Qur’an. Apa saja nasihat Anda mengenai hal ini?</strong></p>



<p>Tanggal turunnya Alquran memang menurut keterangan yang masyhur itu terjadi pada 17 Ramadhan. Sekalipun demikian, banyak kemudian pendapat-pendapat lain. Lalu, tanggal itu dihubungkan dengan turunnya Alquran pada Malam Lailatul Qadar.</p>



<p>Dari hasil penelitian saya dari melakukan&nbsp;<em>tarjih</em>, Alquran memang turun dua kali. Pertama, turun sekaligus dari&nbsp;<em>Lauhul Mahfuz&nbsp;</em>ke langit dunia. Itu terjadi pada malam Lailatul Qadar. Inilah makna ayat surah al-Qadr, “<em>Innaa anzalnaahu fii Lailatil Qadr</em>.”</p>



<p>Adapun turunnya Alquran secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW, yang dimulai dengan surah al-Alaq ayat satu hingga lima itu, terjadi pada 17 Ramadhan. Setelah itu, kemudian turun surah al-Qalam. Giliran yang ketiga, turun surah al-Muzzammil. Adapun yang keempat adalah surah al-Muddassir.</p>



<p>Maka saya ingin mengajak teman-teman untuk mencoba merenungi proses turunnya Alquran ini. Perhatikan, ketika pertama kali diturunkan ada perintah untuk mencari ilmu, yaitu “<em>Iqra’</em>.” Kemudian, turun surah al-Qalam (menulis) yang menunjukkan bahwa ilmu itu harus ditulis.</p>



<p>Setelah itu, Allah kemudian menurunkan surah al-Muzzammil, yang mengandung perintah untuk&nbsp;<em>qiyamul lail&nbsp;</em>atau shalat malam. Setelah itu, barulah kemudian Allah turunkan surah al-Muddassir, yaitu perintah untuk berdakwah.</p>



<p><strong>Adakah konsekuensi untuk seorang Muslim yang tidak membaca Alquran pada bulan Ramadhan?</strong></p>



<p>Ketika Allah berfirman, “<em>Syahru Ramadhaanalladziii unzila fiihil Qur&#8217;aan</em>,” maka Dia mengisyaratkan bahwa kemuliaan Ramadhan disebabkan oleh Alquran. Maka, ketika seseorang tidak membaca Alquran pada bulan Ramadhan, ia seperti tidak kebagian apa-apa selama bulan suci kecuali rasa lapar dan haus.</p>



<p>Karena itu, jika ingin puasanya lebih bermakna, harus bersama Alquran. Ketika seseorang bersama Alquran selama Ramadhan, ia telah bersungguh-sungguh memuliakan Ramadhan dengan Alquran. Itu sekaligus pula memuliakan dirinya sendiri sebagai&nbsp;<em>ahlul Qur’an</em>. Ia akan kebagian indahnya Ramadhan bersama Alquran.</p>



<p>Makanya ketika Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat ke-185, di situ Allah menutup ayatnya dengan&nbsp; “<em>Wala ‘allakum tasykuruun</em>,” yaitu agar engkau (Mukminin) bersyukur. Jadi, seakan-akan Allah mengatakan bahwa kalau engkau ingin mensyukuri nikmat Ramadhan, bersahabatlah dengan Alquran.</p>



<p>Bahkan, berdasarkan hasil tadabur saya, malam Lailatul Qadar berkaitan dengan Alquran, yaitu “<em>Innaa anzalnaahu fii Lailatil Qadr</em>.” Berarti, kalau kita ingin mendapatkan Lailatul Qadar, jangan lepas dari Alquran.</p>



<p>Maka, hendaklah kita menjadi <em>ahlul Qur’an</em>. Dalam hadis, dikatakan bahwa orang-orang atau keluarga yang bersama Alquran adalah istimewa dalam pandangan Allah. Mereka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan bonus Ramadhan, yaitu Lailatul Qadar. Itulah hasil tadabur yang saya dapatkan. Semoga Allah memberkahi.</p>



<p>‘<strong>Ulama Ajarkan Khataman Tiga Kali</strong>’</p>



<p>Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” Hadis itu rupanya menjadi prinsip hidup Ustaz Amir Faishol Fath. Keseharian dai tersebut tidak terlepas dari tadabur Alquran.</p>



<p>Menurut mubaligh kelahiran Pulau Madura itu, salah satu kenikmatan hidup adalah memiliki waktu untuk banyak-banyak membaca Alquran. Lebih lezat lagi apabila tadarus itu dilakukan dalam perjalanan dakwah.</p>



<p>“Sebelumnya, saya ke Bali, kemudian ke Yogyakarta, dan sekarang ke Depok. Alhamdulillah, saya setiap hari, baik di mobil atau pesawat dan lain-lain, selalu membaca Alquran semampunya supaya saya enggak putus (dengan Alquran &#8211;Red),” ujar Ustaz Amir kepada&nbsp;<em>Republika</em>, baru-baru ini.</p>



<p>Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada Ramadhan kini pakar ilmu tafsir itu memiliki agenda dakwah yang cukup padat. Namun, ia selalu menyempatkan waktu untuk mengaji. Ustaz Amir menargetkan dirinya dapat khatam Alquran sebanyak tiga kali. “Dan itu yang diajarkan oleh para ulama,” ucap CEO Fath Institute tersebut.</p>



<p>Ia menuturkan, pada zaman salaf terdapat ulama yang menamatkan bacaan Alquran sebanyak tiga kali. Lantas, seorang murid bertanya, mengapa khatam sebanyak itu. Sang alim pun menjawab, khatam Alquran yang pertama diperuntukkan bagi almarhum ayahnya. Khataman kedua untuk almarhum ibunya. Adapun yang terakhir untuk dirinya sendiri.</p>



<p>“Alhamdulillah di Ramadhan ini sesibuk apa pun saya juga berusaha mencapai seperti itu,” ucapnya.</p>



<p>Ustaz yang akrab disapa Abi Amir ini lahir di Sumenep, pada tahun 1967. Pernah&nbsp;<em>mondok&nbsp;</em>di Pesantren al-Amien Prenduan, Madura. Pendidikan tinggi ditempuhnya di International Islamic University (IIU) Islamabad, Pakistan. Dari sana pula dirinya berhasil meraih gelar doktor bidang tafsir Alquran. Hingga tahun 2004, dirinya mengajar di kampus almamaternya itu.</p>



<p>Sejak 2005, Ustaz Abi Amir kembali ke Indonesia. Sempat menjadi dosen Sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah, ia kemudian mengajar di STID Dirosat Islamiyah al-Hikmah Jakarta.</p>



<p>Selain sibuk berdakwah, pada Ramadhan tahun ini Ustaz Amir juga disibukkan dengan mengisi perkuliahan serta menulis karya di berbagai jurnal ataupun media massa. Pengasuh Pondok Pesantren Fath Sukawangi Bogor itu juga rutin membimbing para santrinya, khususnya dalam pengajian kitab&nbsp;<em>Bidayatul Hidayah&nbsp;</em>karya Imam Ghazali.</p>



<p>“Karena kitab itu berisi pendidikan akhlak untuk membangun pribadi yang saleh dalam beribadah kepada Allah,” jelasnya.</p>



<p><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">sumber :</font></font> <a href="https://republika.id/posts/47373/visi-risalah-kenabian-dan-palestina">https://www.republika.id/posts/27327/ustaz-amir-faishol-fath-raih-berkah-bulan-alquran</a></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Fustaz-amir-faishol-fath-raih-berkah-bulan-alquran%2F&amp;linkname=Ustaz%20Amir%20Faishol%20Fath%2C%20Raih%20Berkah%20Bulan%20Alquran" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Fustaz-amir-faishol-fath-raih-berkah-bulan-alquran%2F&amp;linkname=Ustaz%20Amir%20Faishol%20Fath%2C%20Raih%20Berkah%20Bulan%20Alquran" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Fustaz-amir-faishol-fath-raih-berkah-bulan-alquran%2F&amp;linkname=Ustaz%20Amir%20Faishol%20Fath%2C%20Raih%20Berkah%20Bulan%20Alquran" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Fustaz-amir-faishol-fath-raih-berkah-bulan-alquran%2F&amp;linkname=Ustaz%20Amir%20Faishol%20Fath%2C%20Raih%20Berkah%20Bulan%20Alquran" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Visi Risalah Kenabian dan Palestina</title>
		<link>https://amirfath.com/2023/11/19/visi-risalah-kenabian-dan-palestina/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Nov 2023 23:08:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3883</guid>

					<description><![CDATA[Visi Risalah Kenabian dan Palestina amirfath.com, Artikel (282),November 2023 Tampak sekali bahwa visi risalah kenabian ada hubungannya dengan Palestina dan Masjid al-Aqsha yang ada di dalamnya. Dalam surah al-Isra ayat 1, Allah SWT menggandeng antara Masjid al-Haram di Makkah dengan Masjid al-Aqsha dalam satu ayat. &#8220;Subhaanallazdii asraa bi’abidhii lailan minal misjidil haram ilal masjidil aqshalladzii baaraknaa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center">Visi Risalah Kenabian dan Palestina</h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color: rgb(92, 25, 140);" class="has-inline-color"><font style="background-color: rgba(0, 0, 0, 0); vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">amirfath.com, Artikel </font></font><strong style=""><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">(282),</font>November <font style="vertical-align: inherit;">2023</font></font></strong></mark></strong> Tampak sekali bahwa visi risalah kenabian ada hubungannya dengan Palestina dan Masjid al-Aqsha yang ada di dalamnya. Dalam surah al-Isra ayat 1, Allah SWT menggandeng antara Masjid al-Haram di Makkah dengan Masjid al-Aqsha dalam satu ayat.</p>



<p>&#8220;Subhaanallazdii asraa bi’abidhii lailan minal misjidil haram ilal masjidil aqshalladzii baaraknaa haulahu&#8221;. Ayat ini menggambarkan tentang peristiwa agung, yaitu Isra dan Miraj Rasulullah&nbsp;SAW.&nbsp;Allah SWT memberangkatkan Rasul-Nya dari Masjid al-Haram di Makkah ke Masjid al-Aqsha di Palestina.</p>



<p>Lalu setelah itu, Allah SWT menaikkannya ke langit lapis ke tujuh,&nbsp;kemudian ke Sidratil Muntahaa, suatu tempat tertinggi yang tidak ada seorang pun sampai ke sana, baik dari kalangan malaikat maupun manusia, kecuali Rasulullah&nbsp;SAW.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Dalam peristiwa ini, Allah SWT menunjukkan Masjid al-Aqsha dan Palestina bukan hanya bagian dari sejarah umat Islam, melainkan juga bagian dari iman mereka, karena telah tergabung dalam satu ayat yang tidak mungkin terpisahkan.</p>
</blockquote>



<p>Dalam peristiwa ini, Allah SWT menunjukkan Masjid al-Aqsha dan Palestina bukan hanya bagian dari sejarah umat Islam, melainkan juga bagian dari iman mereka, karena telah tergabung dalam satu ayat yang tidak mungkin terpisahkan.</p>



<p>Kata &#8220;alladzii barakanaa haulahuu&#8221; (yang diberkahi sekelilingnya) maksudnya adalah Palestina dan wilayah asy-Syam pada umumnya. Karena memang di sanalah tempat turunnya wahyu sepanjang sejarah kenabian. Di sana pulalah para nabi berdakwah.</p>



<p>Hal ini menjadi bukti bahwa urusan Masjid al-Aqsha dan Palestina adalah amanah bagi hamba-hamba Allah SWT, sebagai yang paling berhak menerima keberkahan tersebut.</p>



<p>Di saat yang sama pada malam Isra itu, Masjid al-Aqsha menjadi pusat muktamar terbesar sepanjang sejarah manusia karena dihadiri semua nabi dan rasul yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.</p>



<p>Mengapa ini tidak terjadi di Masjid al-Haram Makkah? Mengapa Rasulullah&nbsp;SAW dimampirkan di Masjid al-Aqsha padahal bagi Allah SWT sangat bisa mengangkatnya langsung ke langit?</p>



<p>Ini isyarat bahwa urusan Masjid al-Aqsha dan Palestina adalah visi risalah perjuangan kenabian Rasulullah&nbsp;SAW.</p>



<p>Belum lagi perintah shalat yang pertama-tama wajib menghadap ke Masjid al-Aqsha.&nbsp;Padahal Ka&#8217;bah berada di Makkah tempat Rasulullah&nbsp;SAW&nbsp;diutus.</p>



<p>Ini juga isyarat bahwa Masjid al-Aqsha dan Palestina yang diberkahi adalah bagian dari ibadah umat Islam. Nabi&nbsp;SAW memerintahkan umatnya agar melakukan ibadah&nbsp;di tiga masjid: Masjid al-Haram Makkah dengan pahala sekali shalat sama dengan&nbsp;100 ribu kali, Masjid Nabawi Madinah dengan pahala sekali shalat sama dengan 1.000 kali, dan Masjid al-Aqsha dengan pahala shalat sama dengan&nbsp;500 kali (HR Bukhari).</p>



<p>Lebih dari itu, diturunkannya surah ar-Rum (Romawi) di Kota Makkah memberikan isyarat bahwa di antara perlawanan yang akan dihadapi umat Islam untuk membebaskan Palestina adalah Romawi. Sebab, ketika itu Palestina di bawah jajahan Romawi yang kini bermetamorfosa menjadi Amerika dan Barat.</p>



<p>Dalam surah ar-Rum, Allah SWT banyak menyebutkan bukti-bukti kebesaran-Nya. Banyak sekali pengulagan kata &#8220;<em>wa min ayaatihii&#8221;</em>&nbsp;(di antara tanda-tanda kebesaran-Nya), seakan Allah SWT mengatakan bahwa semua wujud di alam ini adalah ciptaan-Nya dan tunduk kepada-Nya, maka tidak ada kekuatan meterialisme sebesar apapun yang bisa menandingi kebesaran-Nya.</p>



<p>Karenanya orang-orang beriman setiap kali membaca surah ar-Rum akan semakin optimistis untuk mencapai kemenangan di hadapan kekuatan benda apapun.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Setelah hijrah ke Madinah, beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun ke-9 hijrah, Nabi SAW memimpin langsung perang Tabuk yang berhadapan dengan Romawi. Ternyata Tabuk itu kelak menjadi persinggahan pasukan Islam untuk membuka Palestina.</p>
</blockquote>



<p>Setelah hijrah ke Madinah, beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun ke-9 hijrah, Nabi SAW memimpin langsung perang Tabuk yang berhadapan dengan Romawi. Ternyata Tabuk itu kelak menjadi persinggahan pasukan Islam untuk membuka Palestina.</p>



<p>Di saat yang sama, Nabi&nbsp;SAW membuka Tayma yang berada di jalur pantai dengan perjanjian bila pasukan Islam melewatinya hendaklah dibekali logistik dan persenjataan. Ini juga kelak di kemudian hari digunakan pasukan Islam untuk menuju Palestina.</p>



<p>Di antara pesan Alquran yang sangat menyentuh hati adalah pesan surah Ali Imran yang&nbsp;secara urutan setelah surah al-Baqarah. Surah al-Baqarah tema pokoknya adalah tentang kepemimpinan,&nbsp;sedangkan surah Ali Imran membahas tentang keteguhan sikap.</p>



<p>Hasil&nbsp;<em>tadabbur</em>&nbsp;secara mendalam ternyata maksud nama surah Ali Imran (keluarga Imran) adalah istri Imran yang benar-benar bernazar agar janinnya kelak setelah lahir akan dijadikan penjaga Masjid al-Aqsha (<em>inni nadzartu laka maa fii bathnii muharran</em>).</p>



<p>Secara tidak langsung, sikap istri Imran ini adalah simbol keteguhan prinsip dan perlawanan terhadap penjajahan Romawi yang secara lalim telah menjajah Palestina. Seakan ia mengatakan, silakan Romawi bertindak semena-mena, tetapi Masjid al-Aqsha tidak boleh sejengkal pun jatuh ke tangan penjajah.</p>



<p><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">sumber :</font></font> <a href="https://republika.id/posts/47373/visi-risalah-kenabian-dan-palestina">https://republika.id/posts/47373/visi-risalah-kenabian-dan-palestina</a></p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Fvisi-risalah-kenabian-dan-palestina%2F&amp;linkname=Visi%20Risalah%20Kenabian%20dan%20Palestina" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Fvisi-risalah-kenabian-dan-palestina%2F&amp;linkname=Visi%20Risalah%20Kenabian%20dan%20Palestina" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Fvisi-risalah-kenabian-dan-palestina%2F&amp;linkname=Visi%20Risalah%20Kenabian%20dan%20Palestina" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F11%2F19%2Fvisi-risalah-kenabian-dan-palestina%2F&amp;linkname=Visi%20Risalah%20Kenabian%20dan%20Palestina" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hakikat Rezeki dan Ridha</title>
		<link>https://amirfath.com/2023/09/29/hakikat-rezeki-dan-ridha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dr. Amir Faishol Fath]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Sep 2023 00:40:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://amirfath.com/?p=3879</guid>

					<description><![CDATA[Hakikat Rezeki dan Ridha amirfath.com, Artikel (281),September 2023 Setiap orang harus mempunyai kepribadian yang sudah Allah SWT titipkan kepadanya. Dari kepribadian tersebut, Allah SWT sediakan rezekinya. Karena itu, janganlah seseorang ikut-ikutan kepribadian orang lain. Jadilah Anda sebagai pribadi yang sebenarnya. Tidak perlu Anda meniru pribadi orang lain. Sebab, masing-masing orang membawa nasibnya sendiri-sendiri. Tidak semua [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading has-text-align-center">Hakikat Rezeki dan Ridha</h1>



<p><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color: rgb(92, 25, 140);" class="has-inline-color"><font style="background-color: rgba(0, 0, 0, 0); vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">amirfath.com, Artikel </font></font><strong style=""><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">(281),</font>September<font style="vertical-align: inherit;"> 2023</font></font></strong></mark></strong> Setiap orang harus mempunyai kepribadian yang sudah Allah SWT titipkan kepadanya. Dari kepribadian tersebut, Allah SWT sediakan rezekinya.</p>



<p>Karena itu, janganlah seseorang ikut-ikutan kepribadian orang lain. Jadilah Anda sebagai pribadi yang sebenarnya. Tidak perlu Anda meniru pribadi orang lain. Sebab, masing-masing orang membawa nasibnya sendiri-sendiri.</p>



<p>Tidak semua nasib orang lain bisa dipaksakan menjadi nasib Anda. Orang yang suka meniru orang lain, ia tidak akan pernah menemukan dirinya sendiri.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Tidak semua nasib orang lain bisa dipaksakan menjadi nasib Anda. Orang yang suka meniru orang lain, ia tidak akan pernah menemukan dirinya sendiri.</p>
</blockquote>



<p>Ingat bahwa Allah&nbsp;SWT telah menyiapkan rezeki bagi masing-masing makhluk-Nya. &#8220;<em>Wa maa min daabbatin fil ardhi illaa ‘alallahi rizquhaa&#8221;&nbsp;</em>(QS Hud: 6).</p>



<p>Kata &#8220;<em>dabbah&#8221;</em>&nbsp;diartikan dengan binatang melata. Bila binatang melata saja terjamin rezekinya, apalagi manusia sebagai makhluk yang paling mulia di muka bumi. &#8220;<em>Walaqad karramanaa banii aadama&#8221;&nbsp;</em>(QS&nbsp;al-Isra: 70).</p>



<p>Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW menyebutkan tentang burung yang keluar di pagi hari perutnya kosong, lalu pulang di sore hari perutnya kenyang (<em>Taghduu khimaasha wa taruuhu bithaanaa</em>) (HR Turmidzi).</p>



<p>Ini bukti bahwa sekalipun burung-burung itu tidak mempunyai lapangan kerja, rezekinya tetap terjamin. Jadi tidak usah khawatir kelaparan. Semua sudah dipastikan rezekinya oleh Allah SWT.</p>



<p>Dalam hadis Qudsi, Allah SWT menyebutkan bahwa telah mengharamkan terhadap diri-Nya berbuat zalim. &#8220;<em>Inni harramtuzh zhulma ‘alaa nafsii&#8221;</em>&nbsp;(HR Muslim). Artinya, jika ada orang kelaparan itu bukan faktor langit, tetapi karena ulah manusia sendiri yang berbuat zalim.</p>



<p>Maka selama rezeki itu di tangan Allah SWT, tenanglah. Apalagi Allah SWT menegaskan bahwa di langit itulah rezekimu. &#8220;<em>Wa fis samaai rizqukum&#8221;</em>&nbsp;(QS&nbsp;adz-Dzariyat: 22).</p>



<p>Dari sini kita paham bahwa tugas kita hanyalah berusaha. Adapun hasilnya biarkan Allah SWT yang mengatur.</p>



<p>Allah SWT menegaskan bahwa kewajiban manusia hanyalah berusaha, bukan memaksa Allah ikut kemauannya. &#8220;<em>Wa an laisa lil insaani ilaa maa sa’aa&#8221;</em>&nbsp;(QS&nbsp;an-Najam: 39).</p>



<p>Di sini kita mengerti mengapa harus beriman kepada takdir. Bahwa apa pun yang menimpa kita, baik atau buruk, itu adalah takdir Allah SWT. Tugas kita hanya ridha terhadap apa yang telah ditakdirkan dan yakin bahwa apa yang Allah SWT takdirkan pasti baik. Dengan cara seperti ini hati kita akan tenang.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Tugas kita hanya ridha terhadap apa yang telah ditakdirkan dan yakin bahwa apa yang Allah SWT takdirkan pasti baik.&nbsp;Dengan cara seperti ini hati kita akan tenang.</p>
</blockquote>



<p>Jadi ketenangan itu bukan karena fasilitas. Akan tetapi karena keridhaan kita terhadap takdir-Nya. Semakin seorang hamba ridha dengan apa yang Allah SWT takdirkan, maka ia akan semakin bahagia.</p>



<p>Kapan seorang hamba ini akan terus terombang-ambing dalam kegelisahan?</p>



<p>Ketika ia suka membanding-bandingkan nasib dirinya dengan nasib orang lain, maka ia akan terus mengalami kekecewaan terhadap takdir Allah SWT, karena ia melihat nasib dirinya lebih rendah dari apa yang didapatkan orang lain.</p>



<p>Sungguh seandainya ia ridha dengan apa yang Allah SWT berikan kepadanya dan menerima semua ketentuan-Nya dengan lapang dada, maka ia akan tenang dan bahagia.</p>



<p>Dulu para sahabat menjadi generasi terbaik karena keridhaan mereka terhadap apa yang Allah SWT berikan, apapun beratnya. Mereka ridha dengan takdir-Nya yang harus mereka jalani.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Sungguh seandainya ia ridha dengan apa yang Allah SWT berikan kepadanya dan menerima semua ketentuan-Nya dengan lapang dada, maka ia akan tenang dan bahagia.</p>
</blockquote>



<p>Mereka berlomba untuk tidak mengeluh atas semua kondisi yang mereka alami. Luka dan perih yang mereka rasakan pada saat perang, entah tangan yang patah atau panah menancap ke tubuh, atau biji mata yang tercungkil, itu semua tidak membuat mereka mengeluh atau berkata &#8220;aduh&#8221; sedikit pun. Mereka ridha menerima ketentuan dengan sepenuh hati.</p>



<p>Imam Ibnul Jauzi mengatakan, para pendahulu kita adalah orang-orang yang berlomba untuk tidak mengeluh atas takdir yang menimpa mereka. &#8220;<em>Innas salafa yatasabuquuna allaa yataawwah&#8221;</em>.</p>



<p>Karena itu, dalam surah al-Bayyinah: 8, Allah SWT memberikan gelar atas mereka sebagai pribadi yang ridha dan diridhai.&nbsp;&#8220;<em>Radhyallahu ‘ahum wa radhuu ‘anhu&#8221;</em>&nbsp;(Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.</p>



<p>Sifat ridha ini selalu kita ucapkan setiap kali kita menyebut nama para sahabat tersebut. Itulah mengapa kita diajarkan agar setiap hari mengucapkan zikir khusus sekaligus ikrar dengan mengucapkan:</p>



<p>&#8220;<em>Radhiitu billahi rabbaa wabil islammi diinaa wa bimuhammadain nabiyyaw warasuuulaa&#8221;</em>&nbsp;(Aku ridha dengan Allah sebagai Tuhanku, aku ridha dengan Islam sebagai agamaku, dan aku ridha dengan Rasulullah sebagai rasulku) dan siapa yang membaca ini dijamin masuk surga (<em>wajabat lahul jannah</em>). (HR Abu Daud).</p>



<p><font style="vertical-align: inherit;"><font style="vertical-align: inherit;">sumber :</font></font> https://www.republika.id/posts/45352/hakikat-rezeki-dan-ridha</p>
<p><a class="a2a_button_facebook" href="https://www.addtoany.com/add_to/facebook?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F09%2F29%2Fhakikat-rezeki-dan-ridha%2F&amp;linkname=Hakikat%20Rezeki%20dan%20Ridha" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_whatsapp" href="https://www.addtoany.com/add_to/whatsapp?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F09%2F29%2Fhakikat-rezeki-dan-ridha%2F&amp;linkname=Hakikat%20Rezeki%20dan%20Ridha" title="WhatsApp" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_telegram" href="https://www.addtoany.com/add_to/telegram?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F09%2F29%2Fhakikat-rezeki-dan-ridha%2F&amp;linkname=Hakikat%20Rezeki%20dan%20Ridha" title="Telegram" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a><a class="a2a_button_copy_link" href="https://www.addtoany.com/add_to/copy_link?linkurl=https%3A%2F%2Famirfath.com%2F2023%2F09%2F29%2Fhakikat-rezeki-dan-ridha%2F&amp;linkname=Hakikat%20Rezeki%20dan%20Ridha" title="Copy Link" rel="nofollow noopener" target="_blank"></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 7/158 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/29 queries in 0.265 seconds using Redis

Served from: amirfath.com @ 2025-08-20 14:22:11 by W3 Total Cache
-->